
Hari itu Shofi datang sendiri dan berniat untuk melamarkan Kinara untuk cucunya, Aaron. Memang Aaron sengaja tidak ikut karena dikhawatirkan emosi Revan yang mungkin bisa kembali meledak bila bertemu lagi dengan Aaron.
Awalnya Revan tidak terima dengan apa yang telah Shofi ceritakan tentang perbuatan Aaron terhadap Kinara. Revan malah justru akan membawa kasus ini ke kantor polisi. Namun Shofi memohon agar tidak membawa aib keluarga itu ke ranah hukum selama masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Toh Aaron sendiri sudah mau mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan ingin menikahi Kinara.
Laras kembali mengingatkan Revan tentang kebaikan keluarga itu selama ini, akhirnya Revan berfikir ulang untuk melaporkan Aaron ke kantor polisi karena bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah baru.
ia pun mau menerima dan berdamai dengan keadaan. Revan menyetujui dan menerima lamaran Aaron untuk mempersunting putrinya, Kinara.
Dan setelah melakukan perundingan antar keluarga, maka keduanya sepakat untuk melangsungkan pernikahan Aaron dan Kinara dalam waktu satu bulan kedepan.
“ Laras, kau tak perlu mengkhawatirkan masalah pernikahan mereka. Biar aku saja yang urus semuanya.”
Ucap Shofi.
“ tapi tan—“
“ sudah. Kalian tidak perlu memikirkan tentang tempat atau apapun itu. Semua sudah aku atur semua. Aku telah memilih WO terbaik dikota ini untuk mengurus semuanya.”
Revan menarik nafasnya dengan berat. Ia tidak pernah menyangka bahwa disaat putrinya akan menikah, kondisi perekonomiannya seperti ini. Sungguh memilukan. Namun untungnya memiliki calon besan sebaik Shofi yang tidak pernah mempermasalahkan tentang itu.
Tapi tiba-tiba terbersit dalam ingatannya tentang Freya.
“ Freya, lihatlah anak-anak kita akan menikah. Kita memang tidak berjodoh. Tapi sepertinya Kinara dan Aaron akan berjodoh. Semoga kamu dan Kevan merestui anakku untuk menjadi istri dari anak kalian.”
Lirih Revan dalam hatinya.
“ terima kasih. Tante begitu baik dengan kami. Kami tidak bisa membalas kebaikan tante Shofi pada kami selama ini.”
Ucap Laras.
" tidak. justru aku lah yang seharusnya berterimakasih pada kalian yang mau memaafkan kesalahan cucuku, Aaron."
Laras pun hanya tersenyum. lalu memeluk tubuh Shofi.
" sama-sama, Tante."
lirih Laras seraya mengusap lembut bahu Shofi.
Tak lama kemudian Shofi pun berpamitan hendak pulang. Setelah Shofi sudah pergi, Kinara yang sedari menguping pembicaraan mereka dikamar akhirnya keluar.
“ Ma, Pa. kenapa kalian menerima lamaran mereka tanpa meminta pendapatku terlebih dulu ? aku sendiri yang akan menjalaninya, dan aku tidak mau menikah dengan cucu nenek Shofi.”
" kin, kalau kamu menolak menikah dengan aaron, lantas kamu mau menikah dengan siapa ? bagaimana kalau didalam perutmu itu kini ada janin anaknya Aaron ? kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya."
kata-kata Revan membuat Kinara kembali mengingat itu. ia Benar-benar bingung dan frustasi. rasanya seperti mimpi saja dan ia ingin segera terbangun dari mimpi buruknya.
" saran mama dan papa, menikahlah dengan Aaron. mama memang belum mengenal Aaron lebih dekat. tapi mama tau bibit bebet bobot keluarganya. jaman sekarang jarang sekali ada laki-laki gentleman seperti Aaron. mau mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas perbuatannya."
tutur Laras seraya menepuk bahu Kinara yang sedang bimbang, namun tidak punya pilihan lain.
Kinara sesaat memejamkan mata. sudut matanya terlihat mengeluarkan cairan bening yang kini mengalir deras.
" Ma, masih jelas dalam ingatan Kinara bagaimana laki-laki itu menyentuh tubuh Kinara dengan kasar. kinara tidak mau menikah dengannya. kin takut, ma."
ucap Kinara menangis dalam pelukan sang mama. Laras berusaha menenangkan putrinya dengan mengelus-ngelus punggung Kinara. sungguh, hati ibu mana yang tidak bisa ikut merasakan kepedihan dan luka anak kandungnya sendiri.
" apa kau mau papa melaporkan Aaron ke polisi ? begitu yang kau mau ? baik itu akan papa lakukan. papa juga marah dan benci dengan anak itu. tapi bagaimana jika kamu hamil, nak? siapa yang akan bertanggung jawab ? dan kalaupun tidak hamil, bagaimana dengan masa depanmu ? papa sebenarnya juga bingung. tapi melihat kondisi seperti ini, papa harus berfikir jernih dan bertindak lebih arif."
tutur Revan dengan suaranya yang mulai berat karena menahan air matanya agar tidak jatuh.
Kinara sangat paham dengan maksud pernyataan ayahnya itu. karena untuk kasus seperti ini, pastilah pihak wanita yang dirugikan. perlahan kinara mendorong Laras untuk melepaskan pelukannya.
" baiklah, pa. beri kin waktu untuk berpikir. kin akan mencoba berdamai dengan keadaan ini. semoga ini memang yang terbaik untuk Kinara."
lirih Kinara seraya menghapus sisa air mata dipipi dengan punggung tangannya.
Revan pun mengangguk pelan. begitu juga dengan Laras yang akhirnya bernafas lega.
" iya, sayang. kami hanya ingin yang terbaik untukmu."
imbuh Laras seraya mengecup kening Kinara.
.
.
.
ada Kinara nih 😍