In Your Love

In Your Love
siapa kinara



Kinara Larasati Putri A. gadis ini seorang lady escort. Tapi, dia bukan dalam arti negatif. Dia terpaksa memilih pekerjaan itu karena ingin membantu melunasi utang papa dan mamanya.


Dia bekerja, tapi bukan melakukan hal macam-macam. Teman-teman sekampusnya menganggap dia perempuan nggak benar hingga tidak ada yang mau berteman dengannya. sampai akhirnya ia bertemu dengan Atreya, gadis lumpuh yang mau berteman baik dengan kinara. mungkin karena atreya belum tau saja profesi Kinara selain sebagai mahasiswi dikampus yang sama dengannya.


selain sebagai lady escort atau biasa dengan sebutan purel itu, Kinara juga bekerja sebagai cleaning servis dikantor milik Aaron, namun tidak setiap hari bekerja, hanya seminggu tiga kali saat jadwal kuliahnya kosong.


Kinara hanya bisa terdiam saat Atreya dan Aaron pergi.


" mungkin atreya tidak akan mau berteman denganku lagi."


gumamnya dalam hati seraya memperhatikan punggung Aaron yang mendorong kursi roda atreya menjauh darinya menuju parkiran didepan gedung karaoke itu.


" Kin, kenapa masih berdiri disitu ? bukannya tadi mau ijin pulang ?"


suara seseorang bernama Nadia membuyarkan semuanya. ia teman seprofesinya Kinara.


" eh, iya nad. trims ya sudah mau menggantikan. Papaku kambuh lagi, aku harus segera pulang."


ucap Kinara.


" pulanglah, kin."


jawab Nadia seraya menepuk bahu Kinara.


Kinara pun bergegas pulang. karena tadi saat ia sedang menemani pelanggannya bernyanyi, tiba-tiba Kanaya adiknya menelpon. memberitahu bahwa papanya sakit lagi.


***


" bagaimana keadaan papa, Nay ?"


tanya Kinara pada Kanaya setibanya didepan pintu rumahnya yang sederhana itu.


" papa lagi dikamar, kak. ia sedang tidur. keadaannya sudah tenang setelah diberi obat."


ucap Kanaya sang adik.


kinara langsung bergegas menuju ke kamar, ia tampak cemas dengan kondisi sang papa yang akhir-akhir ini kesehatannya sering naik turun. ternyata papa Kinara itu adalah Revan. (baca novel sebelumnya IN A BROKEN HEART TO FIND YOU)


Perusahaan Revan memiliki banyak hutang hingga gulung tikar dan akhirnya menjual perusahaannya pada Aaron melalui kuasa hukum Revan. namun meski telah menjual semua aset perusahaan, rumah pribadi dan harta kekayaan lainnya, masih saja belum bisa menutup utang-piutang nya dengan pihak bank.


Kinara masuk ke kamar ayahnya. disana sudah ada Laras, sang mama.


" ma, apa sebaiknya papa dibawa ke rumah sakit saja ?"


tanya Kinara menatap Laras yang matanya masih terlihat sembab itu.


" ujung-ujungnya pasti harus di operasi, Kin. kita belum siap dana untuk itu."


ucap Laras membuang napasnya kasar.


" maaf, ma. tabungan Kinara belum cukup untuk biaya operasi papa. tapi kin janji akan terus berusaha mencari uang agar papa bisa dioperasi."


Kinara meraih tangan Laras. buliran air matanya tiba-tiba jatuh mengenai kedua pipinya yang merah karena menahan kesedihannya. Laras menepis air mata anaknya itu dengan kedua tangannya.


" iya, kin. mama hanya bisa mendoakan niat baikmu. karena mama tau, bebanmu itu sungguh berat, nak. setiap bulan kau harus membayar cicilan bank, belum biaya kuliahmu dan sekolah Kanaya, adikmu. dan untuk sehari-hari, mama dan nenekmu hanya mengandalkan dari catering saja. maafkan mama dan papa yang telah gagal dan membuat anak-anaknya menjadi susah seperti ini."


ucap Laras sendu. kelopak matanya mulai berkaca-kaca namun segera ditepis oleh punggung tangannya.


Kinara langsung memeluk Laras seraya menepuk-nepuk lembut punggung mamanya itu.


" sabar ya Ma, tidak ada istilah gagal jika kita masih ada kemauan untuk bangkit. Orang gagal adalah orang yang tidak pernah bangkit dari kegagalan. kita harus semangat ya, ma. Kinara dan Kanaya selalu ada bersama kalian."


tiba-tiba kanaya datang, ia memanggilkan Laras karena ada tetangganya yang datang malam-malam begini hendak memesan catering untuk besok siang ada acara arisan dirumahnya.


" mama tinggal dulu, kamu temani papamu disini ya, Kin. takutnya nanti bangun dan ia meminta sesuatu."


ucap Laras beranjak dari kamarnya diikuti Kanaya.


menyadari Kinara didekatnya, Revan perlahan membuka kedua matanya.


" kin."


lirihnya.


" iya, Pa. maaf Kinara telah mengganggu tidur papa ya ?"


Revan menggeleng kan kepalanya.


" tidak, nak."


lirihnya seraya membasahi bibirnya yang tampak kering dengan lidahnya.


" papa mau minum ?"


ucap Kinara membungkukkan badan, lalu mengambil gelas berisi air mineral diatas nakas samping tempat tidur. disangganya leher Revan oleh tangan Kinara agar posisinya sedikit tegak.


" terimakasih, sayang."


ucap Revan setelah menyeruput minumnya dengan menggunakan sedotan.


" iya, pa. apa dada papa masih sakit ?"


" tidak, nak. papa sudah baik-baik saja."


ucapnya seraya memandangi wajah putrinya.


" papa harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak pikiran. "


Revan hanya tersenyum, lalu meraih tangan Kinara keatas dadanya.


" papa mau makan ? kin ambilkan dulu ya."


ujar Kinara hendak beranjak.


" papa masih kenyang, kin. papa hanya ingin melihat kamu menikah dan bahagia."


kedua mata Kinara langsung terbelalak mendengar ucapan papanya itu.


" menikah ?"


gumam kinara dalam hati.


" apa kamu sudah memiliki kekasih ?"


tanya Revan menatap serius.


Kinara memutar-mutar kedua bola matanya. wajah cantik oriental itu terlihat bingung. tak pernah terbersit dibenaknya untuk memiliki seorang kekasih lagi disaat kondisi keluarganya dalam keadaan seperti ini.


" sebaiknya papa istirahat ya, supaya besok lebih baik lagi."


ucap Kinara mengalihkan arah pembicaraan.


" tapi kin--"


.


.


.


.