
'TING TONG.'
dengan sangat antusias Shofi bergegas membuka pintu. ternyata tamu yang ditunggu-tunggu pun datang juga.
Ada Lastri, Laras, Kanaya dan Revan. pria paruh baya itu datang dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Laras, istrinya. fisiknya sudah tidak seperti dulu lagi.
padahal masih jelas dalam ingatan Shofi tentang sosok Revan dua puluh tujuh tahun yang lalu, saat dirinya berkunjung kerumah Shofi untuk menemui Freya.
Tampan dan Humoris, ya itulah Revan. namun kini badannya tampak kurus karena penyakit paru-paru yang dideritanya.
Shofi pun langsung mempersilahkan para tamunya itu untuk masuk.
" ternyata rumahmu dekat-dekat sini juga ya, Shof. padahal kami sering mendapat pesanan catering di komplek ini lho."
seru Lastri seraya menyapu pandangannya keseluruh isi rumah.
" o ya ? mungkin waktu itu kita belum ditakdirkan untuk bertemu, Tri."
sahut Shofi tersenyum.
" kok sepi, Tan ? Atreya sama Aaron mana ?"
tanya Laras seraya ikut mengedarkan pandangannya.
" ada, masih pada dikamarnya. lho, anakmu yang satunya tidak ikut, ras ?"
tanya Shofi saat menyadari Laras hanya membawa anak bungsunya, Kanaya.
" kinar masih bekerja, Tan. jadi ia tidak bisa ikut kemari."
jawab Laras.
" oh. iya tidak apa-apa. kalau begitu ayo, kita langsung saja ke ruang makan !"
ucap Shofi menuntun tamunya menuju meja makan yang berbentuk persegi panjang besar dengan ukiran khas Jepara dan memiliki empat pasang kursi saling berhadapan.
tak lama kemudian atreya keluar dari kamarnya. ia langsung menghampiri para tamu neneknya itu diruang makan dengan menyalaminya terlebih dulu.
" selamat malam."
sapa Atreya.
" selamat malam, cantik."
balas Laras tersenyum lalu melirik ke arah Revan yang duduk disebelahnya.
" lihatlah !! mirip sekali kan dengan Freya ?"
bisiknya.
Revan menatap Atreya dengan seksama. pikirannya kembali ke masa lalu, mengingat wajah Freya yang selalu terpahat sempurna dihatinya.
" Freya, akhirnya aku bisa melihat lagi mata indahmu melalui mata anakmu."
gumam Revan dalam hati dengan tatapan jeli ke arah atreya yang tengah berusaha memindahkan tubuhnya dari kursi roda ke atas kursi makan dengan bantuan Shofi.
" hi, nama kamu siapa ?"
sapa Atreya kemudian pada Kanaya yang duduk bersebelahan dengan dirinya.
" aku kanaya, kak."
jawab Kanaya tersenyum menatap atreya.
Lantas Aaron datang menyusul kearah meja makan dengan mengenakan kaos berkerah dan celana pendek berbahan jeans. sebenarnya ia malas sekali datang, namun tidak enak hati dengan Shofi. ditambah perutnya yang sudah keroncongan dan tidak mau diajak kompromi lagi.
" sini, nak. duduklah disini !"
sapa Lastri.
Aaron pun hanya mengangguk dan tersenyum. lalu menjatuhkan tubuhnya duduk disamping Lastri dan berhadapan dengan Kanaya.
" Aaron, ini suami dan anak dari tante Lastri. om Revan dan Kanaya namanya."
ucap Shofi memperkenalkannya pada Aaron.
Aaron memandangi Revan dan Kanaya secara bergantian seraya menganggukan kepalanya.
Revan tersenyum melihat Aaron.
" kau mirip sekali dengan Kevan, nak Aaron."
ucap Revan.
Aaron hanya tersenyum menanggapinya. sementara Atreya nampak menyipitkan kedua matanya memperhatikan sorot mata Revan yang tengah memandangi Aaron.
" om Revan sepertinya kenal dekat dengan mom dan dad ya ?"
tanya atreya.
mendengar itu Revan langsung mengalihkan pandangannya pada Atreya. wajahnya terlihat guratan kepanikan.
" emh. ya, te...tentu aku mengenal mereka. mereka adalah teman baikku."
jawabnya sedikit ragu.
" ayo sekarang makanlah dulu ! nanti makanannya keburu dingin."
ucap Shofi mengakhiri obrolan.
akhirnya ritual makan malam pun dimulai. mereka nampak menikmati makan bersama dengan sesekali diselingi obrolan-obrolan ringan.
terkecuali Aaron yang hanya memilih diam sedari tadi. entah kenapa dari awal ia merasa malas menjamu mereka kalau bukan karena sang neneknya lah yang menjadi alasannya.
Aaron mengedarkan pandangannya seraya mengunyah suapan terakhir dimulut hingga kedua matanya berhenti pada sosok Kanaya dihadapannya.
" nenek apa tidak salah lihat, menyuruhku menikahi gadis ingusan seperti dia ? umurnya saja masih jauh dibawah atreya."
umpat Aaron dalam hati memperhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai batas perut atasnya karena terhalang meja makan.
" Aaron, ayo tambah lagi ! makanmu sedikit sekali. biasanya nambah dua kali. "
ucap Shofi membuyarkan semuanya.
Aaron langsung mengalihkan pandangannya kepada sang nenek.
" tidak. aku sudah merasa kenyang."
jawab Aaron seraya mengusap bibirnya dengan tissue.
Atreya terlihat mentertawakan kakaknya itu.
Aaron langsung menatap tajam pada atreya hingga ia akhirnya mengakhiri tawanya.
" iya, maaf kak. aku tidak bermaksud menertawakan mu."
lirih Atreya menggigit bibir bawahnya.
kini giliran yang lainnya yang tertawa ringan melihat tingkah kakak beradik itu.
" nenek bikin aku malu saja."
gumam Aaron dalam hatinya merasa kesal.
***
setelah acara makan malam usai, semuanya berkumpul diruang tamu.
Shofi, Lastri dan Laras asik berbincang-bincang membahas tentang rencana Shofi yang akan membuka restoran, namun belum jelas ia hendak membuka restoran makanan jenis apanya.
sementara Atreya tak lama kemudian mengajak Kanaya untuk menonton diruang tv.
tinggallah Aaron dan Revan yang duduk dikursi teras rumah.
" nak, Aaron. dengar-dengar perusahaan mu sekarang sudah mulai maju ya ?"
tanya Revan seraya menepuk bahu Aaron yang tengah asik memainkan ponselnya.
" ah belum, om. masih perlu belajar banyak."
sahut Aaron.
" om percaya kamu bisa membuat perusahaan itu kembali maju. om bisa lihat dari potensi yang kamu miliki. tidak seperti om yang malah menghancurkannya."
ucap Revan menundukkan pandangannya.
Aaron mengerutkan keningnya seraya memperhatikan raut wajah Revan yang terlihat bersedih. seperti ada rasa penyesalan yang begitu dalam.
" apa om ini--"
Aaron menyempitkan kedua matanya sebelum melanjutkan kata-katanya. ia terlihat mengingat-ingat sesuatu seraya menatap ke arah Revan.
" anda Revan Adiguna Putra ? pemilik sebelumnya ?"
ucap Aaron melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus karena mengingat nama itu.
Revan langsung mengangkat wajahnya.
" iya, nak."
ucapnya getir.
Aaron membulatkan kedua matanya dengan sempurna. ia tidak menyangka bahwa Revan yang dihadapannya itu adalah pemilik perusahaannya yang terdahulu.
" om tau tentang kamu sejak membaca nama panjangmu disurat perjanjian jual beli itu. Aaron Gildan Mark O'Neill. siapa yang tidak mengenal keturunan O'Neill dikalangan pembisnis dunia."
ujar Revan terkekeh seraya mengusap-usap bahu Aaron.
" om bisa saja."
balas Aaron tersenyum sekilas.
selama proses balik nama dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan itu memang keduanya tidak pernah bertemu. karena Revan saat itu sedang dirawat dirumah sakit, jadi terpaksa ia menyerahkan segala sesuatunya pada Alan, selaku pengacaranya untuk mengurus segala urusan.
.
.
.