
pagi-pagi sekali Aaron sudah bersiap-siap berangkat kekantor. ia terlihat rapi dengan setelan jas abu-abunya tanpa dasi yang biasanya selalu melekat dilehernya.
" dasi nya mana kak ? tumben gak pake dasi ?"
tegur atreya yang baru saja keluar dari kamarnya hendak mengembalikan gelas kosong sisa minum jus semalam ke dapur.
" bagaimana cocok tidak, apa aku terlihat lebih muda tanpa dasi ?"
tanya Aaron melirik atreya seraya merapihkan jas bermotif garis tipis yang baru kali ini ia kenakan itu.
" tunggu ! sepertinya aku kenal setelan jas ini."
atreya memicingkan matanya Seraya mengingat-ingat sesuatu.
" ini setelan jas kerja favoritnya Daddy dulu."
sahut Aaron mempercepat ingatan atreya.
" ooh, ya betul. ini kan setelan jas Daddy yang limited edition itu. dulu mommy membelikannya sebagai kado ulangtahun, aku bahkan ikut saat membelinya. apa kau tau kak ? jas ini sangat mahal lho. Bahan yang digunakan sangat berkualitas. yakni dari wol domba Merino. dulu Dady sangat senang sekali mendapat kado surprise ini dari mommy."
kenang atreya, tak terasa sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang kini menetes di pipinya. atreya jadi kembali merindukan kedua orangtuanya.
Aaron mendekati atreya, menghapus air mata adiknya dengan ibu jadi tangannya. lalu memeluk atreya, mencoba memberi kedamaian untuk adik tercintanya itu.
" apa kau merindukannya ? aku juga sama, Rea. tak terasa sudah hampir tiga tahun mom and dad pergi meninggalkan kita."
" aku ingin mengunjungi mereka, kak."
lirih atreya seraya memeluk erat tubuh kakaknya itu.
" baiklah, kita akan ke Dublin."
mendengar itu Atreya langsung melepaskan rengkuhan Aaron. lalu mendongak menatap wajah kakaknya dengan pandangan tak percaya.
" benarkah kita akan pulang ke dublin ? kapan kak ?"
" sekarang pun kalau kamu mau, kita berangkat."
sahut Aaron.
Atreya membulatkan matanya tak percaya. terlihat guratan-guratan kebahagiaan terpancar dari wajah sendunya.
" kamu bicara apa ? kalian tega sekali akan meninggalkan nenek sendirian disini."
tiba-tiba Shofi datang dari arah dapur. Aaron dan Atreya pun langsung menatap ke arah Shofi.
" nenek juga kan bisa ikut bersama kami."
sahut Atreya.
" kalian ini pagi-pagi sudah bicara ngawur. bagaimana dengan kinara ? apa kau akan melupakan pernikahan mu dengannya, Aaron ?"
Aaron terdiam. hampir saja dirinya kembali melupakan kisahnya dengan kinara dan acara pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari.
" bagaimana kalau kita berangkatnya setelah kakak menikah saja ? jadi bisa sekalian ajak Kinara juga untuk pulang bersama kami."
tutur Atreya dengan entengnya.
" pulang ? rumahmu disini, sayang."
ucap Shofi mulai merasa khawatir dengan keinginan atreya yang tiba-tiba ingin kembali.
" tidak nek. kami punya rumah disana. aku ingin kembali ke Dublin. agar bisa dekat dengan Momy dan Daddy."
sahut atreya dengan keukeuhnya.
Aaron jadi bingung sendiri melihat keinginan adiknya itu. Aaron sudah paham betul dengan sifat atreya bila dirinya menginginkan sesuatu. harus segera dipenuhi atau ia akan jatuh sakit karena terus memikirkannya.
Aaron jadi menggerutu sendiri didalam hatinya.
" Rea, dengarkan aku dulu. kalau kau mau, bulan depan nanti kita akan berlibur ke dublin. sekalian berkunjung ke makam Momy dan Daddy. tapi tidak untuk menetap disana. rumah kita disini, dan kita akan kembali kerumah ini. kau mengerti ?"
baru kali ini Aaron tegas terhadap atreya. dan ia terpaksa melakukan itu karena memang atreya menginginkan sesuatu hal yang tidak mungkin ia penuhi saat ini. Aaron sedang mengembangkan perusahaannya dinegeri ini, apalagi sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Kinara.
" terserah kakak saja. tapi kakak harus tepati janji kalau bulan depan kita akan ke Dublin."
sahut atreya mengiyakan meski dengan wajah cemberut.
Aaron mengangguk pasti sambil menatap mata adiknya.
" adik pintar."
ucapnya lalu mengecup puncak kepala atreya.
atreya pun beranjak pergi ke dapur untuk mengembalikan gelas yang tadi sempat terhenti itu.
" kalian akan benar-benar ke Dublin ?"
tanya Shofi pada Aaron saat atreya sudah tak terlihat lagi.
" iya nek. aku akan mengabulkan keinginannya untuk mengunjungi makam mom and dad. "
" kalian akan tinggal disana lagi ?"
kali ini giliran Shofi yang terlihat sendu.
" tidak, rumah kami disini. jadi kami akan kembali kesini."
jawaban Aaron kini membuat hati Shofi kembali bernafas lega.
" baiklah. aku harus berangkat sekarang, nek. pagi ini aku ada janji dengan pak. Haris untuk melunasi semua utang om Revan yang sudah melewati jatuh temponya pada pihak bank."
ucap Aaron beranjak menuju keluar rumah.
" nak, kau jadi akan melunasi sisa hutang Revan ?"
Shofi ikut beranjak mengikuti Aaron.
" iya nek. seperti yang telah kukatakan kemarin pada nenek. aku akan membayar semua beban hutang keluarga Kinara."
sahut Aaron.
" terimakasih, nak. kau memang anak yang baik, Aaron. nenek tidak menyangka kau sebaik itu."
Shofi begitu terharu dan tidak menyangka atas sikap Aaron yang selalu royal terhadap siapa pun.
" nenek terlalu berlebihan. Momy dulu selalu mengingatkan ku untuk selalu membantu orang yang membutuhkan disaat kita benar-benar mampu untuk membantu mereka."
tutur Aaron.
Shofi tersenyum mendengar pernyataan aaron. hatinya menangis haru saat mengenang putrinya yang telah tiada.
" Freya, kau telah berhasil mendidik putramu menjadi pribadi yang baik hati dan bertanggung jawab."
lirih Shofi dalam hati.
.
.
.