
tiga hari setelah kejadian itu Kinara tidak nampak lagi datang ke rumah Shofi. sepertinya Kinara butuh waktu untuk melupakan malam itu, dan berdamai dengan keadaan sekarang.
pagi ini Shofi merasa cape dan kurang enak badan. ia terpaksa membelikan lontong balap yang selalu nongkrong tiap pagi didepan pintu masuk komplek untuk sarapan pagi kedua cucunya itu.
" coba kamu telpon Kinara ! sejak nenek pulang dari Jogja itu kenapa Kinara tidak lagi kemari ? nenek jadi khawatir dengannya."
pinta Shofi pada atreya.
" aku sudah berkali-kali menelponnya, nek. tapi tidak aktif."
sahut atreya masih mengunyah sisa suapan terakhirnya.
" apa mungkin ia sakit ?"
terka shofi.
Aaron yang saat itu sedang menenggak air putihnya langsung tersedak.
'uhuk. uhuk'.
sontak atreya dan Shofi langsung mengalihkan pandangannya pada Aaron.
" pelan-pelan dong, kak. seperti anak kecil saja."
ucap atreya meledek.
Aaron hanya mendengus. lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
" aku berangkat dulu kekantor, nek."
pamitnya pada Shofi.
" tunggu kak !! antar aku kerumah Kinara ya, sekalian jalan kan searah."
ucap atreya ikut beranjak.
" untuk apa kerumahnya ? tidak mau. aku sudah terlambat. minta antar mang Maman saja."
sahut Aaron lalu mempercepat langkahnya menuju keluar.
" hari ini mang Maman tidak kemari karena kuliah ku kan sedang libur, kak. "
teriak Atreya saat Aaron sudah berjalan jauh keluar. ia menyadari dirinya tidak bisa mengejar sang kakak dengan keterbatasannya.
Shofi lalu mengejar Aaron. ia merasa ada yang berbeda dengan sikap Aaron yang menjadi acuh pada atreya. biasanya Aaron tidak pernah menolak keinginan adiknya itu.
" Aaron tunggu !!"
Aaron yang hendak membuka pintu mobilnya itu pun akhirnya menoleh.
" ada apa nek ?"
tanya Aaron.
" tolong antarkan dulu adikmu ke rumah Kinara ! kan tidak jauh juga dari sini, dan jalannya juga searah dengan kantormu."
" emh. baiklah."
sahut Aaron seraya membuang nafasnya kasar.
kalau sudah sang nenek yang berbicara, maka Aaron tidak bisa menolak permintaannya. dan tak lama kemudian atreya pun datang dengan menyelempangkan tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya.
***
dengan terpaksa akhirnya Aaron mengantarkan atreya terlebih dulu ke rumah Kirana.
selama diperjalanan Aaron hanya diam saja. karena sebenarnya ia sangat malas melakukan apa yang diperintahkan oleh Shofi, karena belum siap bila harus bertemu Kinara lagi. tapi disisi lain, sejak kejadian beberapa hari itu telah sukses membuat perasaan Aaron kacau balau dan gundah gulana.
atreya pun menyadari sikap kakaknya itu, jadi ia juga memilih untuk diam. hanya sesekali saja berbicara untuk menunjukan arah lokasi tujuan.
" blok C nomer 15, Kak."
ucap atreya saat mobil Aaron mulai memasuki komplek perumahannya.
" hemm."
balas Aaron.
saat tiba didepan rumah Kinara, mereka harus melihat pemandangan yang tidak mengenakkan.
" kak, itu kenapa barang-barangnya dikeluarkan semua ? apa Kinara dan keluarganya akan pindah rumah ?"
terka atreya membelalakkan matanya saat melihat beberapa orang tengah mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah Kinara. namun orang-orang itu terlihat sangat tidak ramah dan sangat kasar.
" mana ku tau."
jawab Aaron.
"ayo kak, kita turun !!"
Aaron dan atreya pun bergegas turun dan segera menghampirinya.
***
" minta waktu satu Minggu lagi, pak."
terlihat Laras memohon kepada pria tua yang tengah berkacak pinggang didepan pintu itu tengah mengawasi anak buahnya yang sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah.
" Bu Laras. anda sudah menunggak rumah ini selama 5 bulan. kurang baik apa saya pada kalian ?"
ucap pria itu melotot kearah Laras.
" pak Iwan. beri waktu kami 3 hari saja. saya akan membayar tunggakannya. mohon jangan usir kami dulu. Ayahku sedang sakit."
ucap Kinara memohon, berharap yang punya rumah itu luluh dan mau mengerti. dan ternyata benar saja pria tua itu langsung terpesona saat melihat kinara.
" oh jadi ini anak tertuanya Laras dan Revan ? cantik juga."
ucap pria tua itu langsung tersenyum seraya mengangkat tangannya dan mengelus lembut pipi Kinara.
" maaf. anda tidak sopan."
Kinara langsung menepis tangan asing itu dari pipinya.
pria itu kembali melotot dan terlihat sangat marah atas penolakan Kinara.
" kalian ini sudah miskin. masih saja jual mahal. cepat lempar semua barangnya keluar!"
teriak pria tua pemilik rumah kontrakan itu kepada tiga orang anak buahnya.
" siap bos. lanjutkan."
sahut salah satu pria bertato itu.
" tunggu !!"
tiba-tiba Aaron dan Atreya datang.
sontak semua mata beralih pandangannya kearah kakak beradik itu.
" aaron ?"
gumam Kinara terkejut.
" nak Aaron, Atreya ?"
lirih Laras sama-sama terkejut dengan kedatangannya.
" ada apa ini ?"
tanya Aaron menyapu pandangannya ke arah barang-barang yang berserakan dilantai.
" siapa kalian bule nyasar yang ikut campur urusan orang ?"
bentak pria tua seraya menunjuk pada Aaron. sementara atreya masih nyaman berada dibalik punggung kakaknya karena ketakutan.
" maaf. saya bertanya baik-baik pada anda, tuan. ada apa anda memporak-porandakan rumah Tante Laras ?"
tanya Aaron sekali lagi.
pria tua itu mendengus.
" ini rumah kontrakan saya. dan mereka sudah menunggaknya selama 5 bulan. lebih baik saya kasihkan saja kepada orang lain yang lebih mampu untuk membayar bulanannya."
" pak Iwan, saya mohon beri waktu 3 hari saja. saya janji akan melunasi tunggakan yang 5 bulan itu sekalian membayar untuk yang bulan ini."
Kinara tak menghiraukan keberadaan Aaron, ia kembali memohon kepada pria tua itu dengan tatapan nanar. kinara sudah tidak tau lagi harus berbuat apa lagi selain memohon agar tidak diusir dari rumah itu dengan kondisi ekonominya yang seperti ini.
pria tua mendekati Kinara, lalu mengangkat wajah Kinara seraya memandangnya dengan tatapan mesum.
" baiklah, tapi seandainya kau dalam 3 hari itu tidak bisa melunasinya, aku akan anggap semuanya lunas. bahkan sekalian akan kuberikan rumah ini padamu jika kau mau menjadi istri ke-4 ku."
" hey, dasar tua Bangka. jangan coba-coba kau menyentuh calon istriku !!"
tiba-tiba Aaron langsung mendorong tubuh pria tua itu menjauh dari Kinara.
sontak semua mata terkejut dan langsung tertuju pada Aaron, termasuk Revan yang baru saja keluar dari kamarnya karena mulai jengah dengan suara keributan diluar.
" apa-apaan kamu, Aaron ? sok jadi pahlawan kesiangan begitu."
umpat Kinara dalam hati menatap mata Aaron sinis.
" owh, jadi kau calon menantu disini ? baiklah kalau begitu, hari ini kalian harus melunasi semuanya atau pergi dari rumahku !!"
ucap pria itu murka.
" tidak masalah. berapa semua tunggakannya ? kalau perlu saya akan melunasi untuk biaya sewa satu tahun kedepan."
balas Aaron.
akhirnya Aaron pun membayar sejumlah uang kepada pria tua itu dengan selembar cheque.
" beruntunglah kau memiliki calon mantu seperti dia, Revan. kau bisa meminta apapun padanya."
ucap pria tua itu tertawa lepas lalu pergi begitu saja dari rumah itu diikuti oleh ketiga anak buahnya.
sementara Revan terlihat mengepalkan tangannya geram, karena merasa terhina dengan ucapan terakhir pria tua pemilik rumah kontrakan itu.
Laras mendekati Revan lalu mengelus punggungnya berusaha menenangkan.
setelah semuanya merasa tenang, Revan dan Laras menyuruh Aaron dan Atreya untuk duduk.
" nak Aaron, tante mohon maaf telah merepotkan kamu. baru kemarin kami meminjam uang kepada nenekmu, Sekarang terpaksa harus meminjam lagi padamu. kami benar-benar malu, karena kalian terlalu banyak menolong kami."
ucap Laras.
" tidak apa-apa, Tante. itu sudah jadi kewajiban saya."
jawab Aaron.
" kewajiban apa ? kau kan bukan siapa-siapa kami ?"
sahut Kinara yang masih berdiri disamping Revan itu dengan nada ketus.
" Kinara ! sejak kapan kau bicara tidak sopan begitu ?"
tegur Revan melotot ke arah Kinara. kinara pun langsung menurunkan pandangannya.
sekilas Aaron melirik ke arah Kinara yang tengah menunduk. lalu beralih kembali menatap Revan dan Laras secara bergantian.
" ini memang sudah kewajiban saya karena saya akan segera menikah dengan Kinara."
" apa ?"
ucap Laras dan Revan secara bersamaan terkejut.
" kakak ? apa maksudmu ?"
atreya juga tak kalah terkejutnya dengan ucapan sang kakak barusan.
Kinara langsung mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada Aaron.
" drama apa lagi ini ?"
gumam Kinara dalam hatinya.
" Om, Tante. saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan terhadap Kinara, anak kalian."
ujar Aaron dengan gentleman nya.
" memang apa yang telah kau lakukan pada anakku ?"
Revan memicingkan matanya curiga.
Kinara terlihat kalang kabut. ia mencoba memberikan kode kedipan mata pada Aaron. berharap Aaron tidak mengatakan yang sebenarnya karena mengingat kesehatan Revan yang sering drop. namun sepertinya Aaron tidak menangkap sinyal-sinyal kode dari Kinara.
" emmh. kami telah melakukan kesalahan dan tidur bersama."
bola mata Revan terbelalak. wajahnya tiba-tiba berubah merah seraya mengepalkan tangannya begitu geram.
" apa kau bilang Aaron ?"
Revan berdiri dari tempat duduknya. lalu menarik kasar jas kerja yang Aaron kenakan.
'BUKK !'
Revan dengan sekuat tenaga meninju rahang Aaron.
" Brengsek kau !!"
namun Aaron tak membalasnya. ia hanya diam saja karena memang ia sudah mengira ini akan terjadi. bagaimanapun seorang ayah akan murka bila anak gadisnya sudah dinodai secara paksa oleh pria yang belum ada ikatan apapun.
" kakak ? bilang itu tidak benar kak ?"
teriak atreya seraya mengguncang-guncangkan tubuh Aaron.
" itu benar, Rea."
lirih Aaron.
atreya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kakak. aku tidak menyangka kakak bisa melakukannya dengan Kinara."
sekali lagi Revan memukul Aaron dengan murka. namun segera dilerai oleh Laras dan Kinara.
" papa sudah hentikan ! "
sergah Laras.
" iya, pa. tolong hentikan. jangan pukul dia lagi !"
lirih Kinara.
Revan beralih menatap wajah Kinara.
'plakk!!'
Revan menampar pipi Kinara hingga langsung meninggalkan tanda merah di pipi kirinya.
" papa !!"
teriak Laras langsung menghadang Revan lalu memeluk Kinara. Kinara pun menangis dipelukan sang Mama.
" tolong Om, jangan sakiti Kinara. cukup om Revan pukul aku saja. disini aku yang salah."
sahut Aaron memohon pada Revan.
" pergi kamu dari sini, Aaron ! kau dan ayahmu sama saja."
bentak Revan mengusir Aaron.
" kenapa om bawa-bawa Daddy ?"
tanya Aaron mengernyitkan dahinya.
" sudah kak ! lebih baik kita pulang saja. kondisinya sedang tidak baik untuk bisa berbicara dari hati ke hati."
ucap Atreya memegang tangan kakaknya agar tidak berbuat macam-macam dengan Revan.
" iya. sebaik kalian pulanglah. biar Tante yang akan bicara baik-baik dengan om Revan. pulanglah nak !!"
sahut Laras.
sesaat Aaron memandang ke arah Kinara dan Revan secara bergantian. lalu akhirnya menuruti anjuran Laras dan berpamitan pulang.
" akhirnya beban ini sudah lepas. semoga keputusan ku itu benar. walaupun aku akan menjadi pria terbodoh yang mau menikah dengan wanita yang tidak pernah ku cintai."
lirih Aaron dalam hati seraya menarik nafasnya dalam-dalam.
.
.
.
.
maaf ya updatenya lambat, maklum akunya lagi atit gak enak badan, jadi fokus biar sehat duyu 🙏 🤗