In Your Love

In Your Love
buah cinta kita



" silahkan tuan Aaron, nyonya Kinara dan nona atreya. makan malam sudah siap kami hidangkan."


ucap Nanny, kepala pelayan dirumah itu memanggil mereka yang masih asik mengobrol diruang tengah.


" terima kasih, Nanny."


sahut Aaron.


" ayo, kita makan ! lidahku sudah tidak tahan ingin segera memakan boxty dan salmon asap."


ucap atreya dengan semangat beranjak dari sofa lalu segera menuju meja makan.


Aaron dan Kinara pun beranjak mengikuti untuk menyantap makan malamnya.


" ini apa ?"


Kinara mengernyitkan dahinya pada makanan yang hampir menyerupai bakwan itu.


" ini boxty, kin. dulu mommy selalu membuatkannya untukku dan kakak. bahan dasarnya dari kentang yang ditumbuk lalu dipanggang. cobalah, kau pasti menyukainya."


jelas atreya seraya melahap makanannya itu kedalam mulutnya dengan penuh.


" ini perkedel kalau ditempatku."


ucap Kinara lalu mengambil boxty kedalam piring. memotongnya dengan garpu dan melahapnya.


" bagaimana kau suka ? apa rasanya sama dengan perkedel yang kau maksud ?"


tanya Aaron yang sedari tadi memperhatikan istrinya itu. Kinara pun mengangguk lalu mengacung ibu jarinya.


" sama-sama enak."


sahutnya menyeringai seraya menatap Aaron.


" nih sekarang coba salmon asapnya ? kau juga pasti akan menyukainya. tapi jangan bilang ini mirip sate, karena sudah jelas ini ikan salmon, bukan kambing."


Aaron mengambilkan bagian salmon asap yang sudah dipotong-potong kecil kedalam piring istrinya itu.


kinara mendengus karena ledekan Aaron barusan. tapi akhirnya karena terdorong rasa penasaran, ia pun langsung menyantapnya juga.


entah kenapa, Kinara merasa salmon itu masih memiliki bau amis menyengat diindera penciumannya. sepertinya masih mentah dan seketika membuat Kinara menjadi mual ingin memuntahkannya. namun ia merasa tidak enak dengan Aaron dan atreya yang tengah menikmati makanan favoritnya itu. lalu ia pun terpaksa menelan bulat-bulat potongan salmon asap kedalam kerongkongannya.


Kinara meneguk habis air mineral dalam gelasnya. tapi rasa mualnya masih tetap ada, bahkan kini perutnya terasa seperti diaduk-aduk tak karuan. isi perutnya kini sudah naik dan berada diujung tenggorokan, Kinara segera berlari ke wastafel yang berada tidak jauh dari meja makan dan langsung memuntahkan semuanya.


" hoekk...hoekk..."


Aaron dan Atreya terkejut melihat Kinara yang berlari kearah wastafel dan muntah-muntah disana.


Aaron langsung beranjak mendekati istrinya seraya memijat-mijat tengkuk leher Kinara yang masih menunduk diwastafel itu.


" kau kenapa muntah-muntah begini ?"


tanya Aaron terlihat cemas.


" suhu badanmu pun panas. kau demam, sayang."


ucap Aaron saat tak sengaja menyibak poni didahi Kinara yang menjulur ke wastafel.


" aku tidak tau. perutku terasa sangat mual."


lirih Kinara yang masih mengeluarkan sisa-sisa makanan dalam perutnya.


" kenapa dengan nyonya muda, tuan ?"


tanya salah seorang pelayan yang kebetulan akan menghidangkan puding dimeja makan.


" cepat panggilkan Leon kemari !!"


perintah Aaron tanpa menghiraukan pertanyaan pelayan itu.


" baik tuan."


pelayan itu pun langsung berlari hendak memanggil Leon diluar.


kinara berusaha mengangkat kepalanya dari atas wastafel, tapi tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sangat pusing.


" kau tidak apa-apa ?"


tanya Aaron seraya merangkul bahu Kinara.


" kepalaku pusing, Aaron."


sahut Kinara memijat-mijat keningnya sendiri.


" kak, sebaiknya kita panggil dokter saja."


teriak Atreya yang masih berada dimeja makan terus memperhatikan keadaan Kinara.


" iya Rea."


sahut Aaron.


" sekarang berpeganglah, kin. aku akan membawamu ke kamar."


Aaron langsung merengkuh tubuh Kinara dan menggendongnya menuju kekamar. Kinara nampak pasrah karena dirinya memang merasa tidak kuat lagi untuk berjalan.


" tuan Aaron, apa anda memanggil saya ?"


tanya Leon yang baru saja datang menghampiri ketika Aaron hendak menaiki tangga.


" tolong panggilkan dokter Daniel. kau masih punya nomernya kan ? istriku sakit."


" dokter Daniel temannya tuan Kevan ?"


tanya Leon tampak ragu.


" iya siapa lagi, Leon. cepat kau telpon dia !"


Aaron terlihat kesal. lalu ia segera melanjutkan langkahnya untuk membawa Kinara ke kamar.


***


setengah jam kemudian dokter Daniel datang. dan langsung menuju ke kamar Aaron diantar Leon.


disana sudah ada Aaron dan Atreya tengah menemani Kinara yang berbaring lemah.


" Aaron, Atreya. siapa yang sakit ? aku tidak tau kalau kalian sudah kembali."


ucap Daniel terlihat sumringah melihat wajah Aaron dan Atreya yang sudah lama tak dijumpainya.


" paman Daniel, tolong periksa keadaan istriku."


" istri ? kau sudah menikah ?"


tanya Daniel terkejut dan menyunggingkan senyumnya. namun tanpa banyak bertanya lagi, ia terlebih dulu memeriksa keadaan gadis cantik yang tengah berbaring diatas tempat tidur itu.


" apa yang kau rasakan, nak ?"


tanya Daniel pada Kinara seraya menempelkan stetoskop ke dadanya.


" akhir-akhir ini memang sering pusing. tapi tadi perutku terasa mual dan muntah-muntah."


Daniel tersenyum. lalu tangannya meraba diarea perut Kinara.


" kapan terakhir datang bulan ?"


tanya Daniel kemudian.


Kinara membulatkan matanya dengan sempurna. ia mencoba mengingatnya, karena selama ini Kinara tidak pernah mencatat atau menghafal tanggal datang bulannya secara rutin.


" astaga. sejak kejadian itu aku tidak pernah datang bulan lagi."


gumam Kinara dalam hatinya mulai kacau.


"sepertinya dua bulan yang lalu, dok."


ucap Kinara ragu seraya menggigit bibir bawahnya.


" memangnya kenapa dengan Kinara, paman ?"


tanya Aaron menatap Daniel dengan serius.


Daniel menarik nafasnya sejenak sebelum mengatakan sesuatu.


" sepertinya kau akan segera menjadi ayah, Aaron."


ucap Daniel menepuk bahu Aaron.


Aaron terkejut dan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


" Kinara hamil, paman ?"


teriak Atreya kegirangan. ia langsung bisa menangkap maksud dari ucapan Daniel barusan.


" sepertinya begitu. untuk memastikannya besok kau bawa istrimu ke hospital. kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan USG."


ucap Daniel tersenyum lebar.


Aaron mendekati Kinara lalu memeluknya dengan erat.


" kau hamil, kin. secepat itu ya, padahal kita baru menikah dua Minggu lalu."


ucap Aaron tak henti-hentinya mengecup dahi istrinya itu.


Kinara langsung mendelik dan mencubit perut Aaron.


" aww. kenapa kau mencubit ku ?"


teriak Aaron. hingga Atreya dan Daniel langsung beralih pandangan kearahnya.


" dasar bodoh. kita menikah memang baru dua Minggu, tapi kau menghamiliku sudah hampir dua bulan."


bisik Kinara melotot ke arah Aaron. seketika Aaron menjadi bungkam.


Daniel yang mendengarnya karena berada dekat dengan mereka menjadi tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


" kau mirip sekali dengan daddy mu sewaktu muda, Aaron."


kenang Daniel saat kembali mengingat mendiang Kevan yang sudah ia anggap saudaranya itu.


" paman, bagaimana kabar bibi Raya dan sikembar. apa mereka juga disini atau masih di New York ?"


tanya Atreya, setelah semuanya sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


" sejak paman diamanatkan memimpin rumah sakit milik daddymu, akhirnya kami sekeluarga pindah kemari. supaya bisa tetap berkumpul, tidak enak kalau berpencar."


jawab Daniel.


" aku kangen dengan bibi Raya."


ucap atreya manja. dari kecil ia memang sangat dekat dengan Raya yang merupakan sahabat karib dari mendiang mommy Freya sekaligus istri dari dokter Daniel.


" baiklah kalau begitu besok kalian ku undang makan malam dirumah. Raya pasti akan senang sekali melihat kalian telah kembali."


" benarkah, paman ?"


atreya langsung terlihat bersemangat dan senang mendengar undangan itu.


" iya sayang. kalau begitu aku pulang dulu. dan besok jangan lupa bawa istrimu ke O'Neill Hospital ya, Aaron !! aku tunggu disana."


" oke, paman. kami akan datang."


jawab Aaron lalu beranjak dari tempat tidur untuk mengantar dokter Daniel ke depan.


" kau temani saja istrimu. aku bisa keluar sendiri, Aaron."


sergah Daniel. dan Aaron pun meng-iyakan nya.


" aku saja yang mengantar paman. sekalian aku akan kembali kekamar."


kata atreya beranjak melangkahkan kakinya lalu menggelayut manja ketangan dokter Daniel.


" baiklah, ayo sayang !"


Daniel pun akhirnya menggandeng Atreya keluar dari kamarnya Aaron.


setelah kepergian Daniel dan Atreya, Aaron kembali mendekati Kinara yang masih berbaring di atas tempat tidur. Aaron menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya.


"kau tau, aku sangat senang mendengar bahwa diperutmu ini ada janin buah cinta kita."


ucap Aaron seraya melingkarkan tangannya diatas perut Kinara.


" memangnya waktu itu kau melakukannya atas dasar cinta ? bukannya karena mabuk berat dan mengira aku adikmu ?"


tanya Kinara mendelik lalu memiringkan posisi tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Aaron.


" jangan mulai deh, yang penting sekarang aku kan mencintaimu. sudah jangan bahas masa lalu, itu tidak penting."


tukas Aaron tegas lalu menenggelamkan kepala Kinara didalam dada bidangnya dan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


Kinara benar-benar merasa nyaman didalam rengkuhan tubuh suaminya yang kekar itu. ia pun mengeratkan tangannya memeluk Aaron.


" Aaron, aku juga mencintaimu. kau jangan pernah meninggalkan aku ya. kau harus ingat bahwa sekarang aku mengandung anakmu. buah cinta kita."


" iya, Sekarang kau tidurlah. aku akan menjagamu disini."


ucap Aaron seraya mengecup puncak kepala Kinara dengan lembut.


akhirnya Kinara pun tertidur dalam dekapan hangat tubuh Aaron.


.


.


.


jangan lupa dukung terus ya dengan membagikan poin gratisnya untuk author biar tambah semangat.


🤗😘