
Kinara terbangun oleh suara ponselnya yang berdering begitu nyaring. wanita itu menyingkirkan tangan sang suami yang melingkar sempurna diatas perutnya. ia juga perlahan mendorong kepala suaminya itu menjauh dari ceruk lehernya.
" mau kemana ?"
Aaron mengerjap dari tidurnya lalu melirik sang istri yang hendak beranjak turun dari ranjang.
" ponsel ku bunyi."
ucap Kinara saat tangan Aaron kembali menarik lengannya dan mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri.
" biarkan saja, ini masih pagi. tetaplah disini !"
" aku tidak akan kemana-mana, Aaron. hanya mengangkat telpon saja."
Kinara melepaskan tangan Aaron yang melingkar ditubuhnya, untuk segera mengambil ponsel didalam tas yang semalam ia letakan sembarangan diatas sofa kamar.
Aaron hanya menghela nafasnya saat Kinara memberitahukan bahwa nama yang tertera dipanggilan ponselnya itu ternyata dari sang papa, Revan.
" angkat saja, nyalakan loadspeaker nya !"
perintah Aaron.
Kinara mengiyakan. ia segera menerima panggilan telpon dari sang papa tersebut. Kinara pun menyentuh tombol icon speaker yang terpampang dilayar ponsel hingga menyala sesuai apa yang diperintahkan oleh Aaron.
" hallo pa..."
sapa Kinara.
" dimana kamu sekarang ? kenapa semalam tidak pulang ?"
tanya Revan dengan nada datar terdengar disebrang sana.
" emh. a-aku bersama Aaron, pa."
jawab Kinara sedikit gugup.
" kamu ini polos atau bodoh ? sudah jelas pria itu menginjak-injak harga dirimu, kin. tapi dengan begitu mudah kamu memaafkannya."
Revan terdengar sangat murka.
" Iya, pa. kami sepakat untuk baikan dan memulainya dari awal."
ungkap Kinara.
" tunggu disana !! papa dan mama akan menjemputmu sekarang."
" tapi Pa..."
Tut. Tut. Tut.
terdengar Revan mematikan panggilan telponnya lebih dulu dan membuat Kinara menghela nafas panjang. terlihat guratan-guratan kekecewaan digaris wajahnya yang kuning Langsat.
" tenanglah, kita akan bersama-sama menghadapi kedua orangtuamu."
ucap Aaron seraya menarik satu bantal lagi untuk menopang kepalanya agar lebih tinggi.
" aku bisa memaafkan mu, tapi belum tentu dengan kedua orangtuaku apalagi papa. seharusnya dari Minggu lalu kau temui mereka."
jawab kinara berjalan kearah nakas dan menyimpan ponselnya diatas sana. lalu menjatuhkan tubuhnya duduk ditepian tempat tidur memunggungi Aaron dengan memasang wajah sedikit kesal.
" kemarin malam aku hendak bertemu orangtuamu untuk menjelaskan semuanya, namun apa yang kulihat ? kau sedang asik berbicara dengan pria yang akan dijodohkan oleh papamu."
" apa ?"
Kinara terperanjat dan langsung membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan.
" kamu ada disana ?"
Kinara membelalakkan kedua bola matanya. ia teringat malam itu ada suara benda jatuh dari arah depan rumahnya, dan membuat Satria yang penakut memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah.
" iya. aku tau papamu sangat membenciku. ia ingin kita segera berpisah dan menjodohkan mu dengan anak Rudi kan ?"
" kau tau dari mana ?"
tanya Kinara memicingkan matanya.
" adikmu."
sahut Aaron seraya memindahkan kepalanya kepangkuan sang istri.
" Kanaya ?"
Kinara melotot kebawah menatap tajam pada wajah sang suami yang kini berada dipangkuannya. dan Aaron hanya menanggapi dengan senyuman miring.
" ya, adikmu itu mata-mata ku."
-----------------
* Flashback on
setelah lima hari Marshall dinyatakan koma, Aaron pun memutuskan untuk melanjutkan rencananya kembali ke Indonesia menemui Kinara.
Atreya dan Sean menjemputnya dibandara. lalu Sean langsung mengantarnya ke Apartemen yang akan Aaron tinggali setelah mengantar Atreya ke kampus lebih dulu.
" kapan kau akan ke kantor ?"
tanya Sean.
" hari ini aku cape, Sean. mungkin besok akan mulai ke kantor. semua baik-baik saja kan ? tidak ada kendala ?"
" aman."
sahut Sean.
akhirnya Sean berpamitan pada Aaron untuk segera berangkat ke kantor karena ada janji dengan klien untuk menggantikan Aaron.
setelah Sean pergi, saat Aaron akan merebahkan tubuhnya yang lelah, tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi. Aaron pun segera membuka pintu.
" apalagi Se---"
Aaron terkejut, ia mengira yang datang Sean karena ada sesuatu yang tertinggal. tapi ternyata seorang gadis berseragam putih-abu yang kini sedang berdiri dihadapannya.
" iya, kak. ini aku."
kata gadis itu.
" Kanaya ? apa kau tidak sekolah ?"
tegur Aaron dengan tatapan masih tak percaya.
ternyata gadis SMA itu Kanaya. Aaron tidak menyangka sama sekali kalau adik iparnya tiba-tiba datang menemuinya.
lalu Aaron mempersilahkan Kanaya untuk masuk. gadis itu pun mengiyakannya dan duduk di sofa seraya melepaskan tas ransel berisi buku dipunggungnya.
" tadi dilobby aku liat kak Aaron. ku kira salah orang, lalu aku ikuti saja. dan ternyata emang benar kakak."
kata kanaya.
" apa kak Kinara tau kalau kak Aaron sudah kembali ?"
tanya gadis berambut ikal sebahu itu.
" belum."
sahut Aaron.
" kenapa kak Aaron jahat sih ? kakakku itu tidak salah. dia dijebak. perlu kak Aaron tau, kakakku itu sangat mencintaimu. setiap malam aku selalu melihatnya menangis. meski saat ku tanya, dia tak pernah mengakuinya."
ungkap Kanaya polos. dan Aaron terlihat melebarkan senyumnya. karena ternyata Kinara masih mencintai meski dirinya telah menyakiti dan meragukan kesetiannya.
" apa kau tau ? papa sangat marah pada kak Aaron. ia tidak terima dengan perlakuan kakak pada kak Kinara. aku yakin jika kau menemuinya nanti, siap-siap saja dihajar habis-habisan oleh papa."
" dan yang pernah aku dengar dari percakapan papa dan mama, mereka akan segera mengurus perceraian kalian. dan papa berencana akan menjodohkan kak Kinara dengan seseorang. apa kau siap jadi duda bule keren ?"
ungkap Kanaya mendelik ke arah pria yang duduk disampingnya itu.
" apa ? tidak...tidak..."
mata Aaron terbebelak lebar seraya menggelengkan kepalanya.
" saran aku, segera temui kakakku. buat dia bisa menerimamu lagi kak. kalau kak Kinara bisa memaafkan mu, maka kalian akan lebih kuat menghadapi papa nanti."
" lebih kuat apanya ?"
Aaron mengernyitkan dahinya. ia merasa takjub dengan omongan gadis berumur 18tahun yang nampak sudah lebih dewasa itu.
" dasar bodoh. kekuatan cinta kalian lah."
jawab kanaya enteng seraya melipat kedua tangan diatas perutnya.
" hahaha... tau apa kau tentang kekuatan cinta, lulus sekolah saja belum."
ledek Aaron tertawa sambil mengacak-acak rambut adik iparnya itu, dan membuat Kanaya mendengus kesal karena telah disepelekan sang kakak ipar.
" sialan !!"
umpat Kanaya dalam hati.
" ngomong-ngomong ini masih jam sekolah kan ? terus ngapain ada dilobby apartemen ini ? jangan jangan---"
Aaron memicingkan matanya penuh curiga.
" aku menjenguk kawanku yang sakit tipus, kebetulan tinggal di apartemen ini. aku tidak sendiri kok, tadi bersama wali kelas dan teman yang lain."
" oohh."
Aaron membulatkan bibirnya.
*flashback end
------------------
" oh jadi selama ini kau mengorek tentangku melalui adikku, hah ? "
Kinara memukul wajah Aaron dengan bantal berkali-kali hingga membuat Aaron tertawa lebar kemudian menyembunyikan wajahnya didalam perut Kinara seraya melingkarkan tangannya dipinggang sang istri.
" iya deh, ampun... ampun "
Aaron menyerah sambil masih tertawa. Kinara pun ikut tertawa. terlihat sepasang suami istri itu kini tengah berbahagia karena hubungan keduanya yang telah membaik.
" sebaiknya kita siap-siap. mama dan papa sebentar lagi kemari."
ucap Kinara kemudian saat teringat kembali ucapan Revan ditelpon tadi.
" sebentar lagi saja. aku ingin terus disini bersamamu."
balas Aaron.
" tapi sebentar lagi mereka akan kemari. kita harus membicarakan ini baik-baik. terutama kau, Aaron. buatlah papaku agar bisa mempercayai mu lagi."
" oke, tapi berikan aku itu dulu. ayolah, sebentar saja. sudah lama sekali aku menahannya."
pinta Aaron terdengar merajuk.
" semalam kan sudah aku bilang, sebelum kedua mertuamu merestui hubungan kita lagi, maka tidak ada dulu A I U E O. mengerti ? anggap saja itu juga hukuman dariku karena selama ini kau telah meragukan istrimu sendiri."
ucap Kinara tertawa seraya beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aaron hanya terdiam seraya terus memperhatikan tubuh istrinya yang berjalan masuk ke kamar mandi hingga sosoknya tak terlihat lagi karena terhalang oleh pintu. Ia terdiam bukan karena kecewa, melainkan hatinya bahagia karena Kinara mau memaafkan dan memperbaiki rumahtangganya.
urusannya kini hanya dengan kedua orangtua Kinara yang sudah terlanjur kecewa terhadapnya. ia akan meminta maaf dan berusaha meyakinkan Revan dan Laras, karena berumahtangga itu akan lebih bahagia bila diatas restu kedua orangtua.
.
.
.
.
.