Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 91 : Akhir Dari segalanya



Kehidupan sudah mulai berjalan seperti biasanya. Tidak ada hal aneh yang terjadi selama sebulan terakhir ini, tapi itu tidak menghilangkan ketakutan semua orang saat mereka mengingat kembali kejadian-kejadian aneh yang terjadi.


Setiap Kerajaan juga sudah mulai melakukan perbaikan kembali pada bangunan dan fasilitas yang hancur akibat gempa.


Glory sebagai Kerajaan yang terkena dampak paling parah hampir selesai menyelesaikan perbaikan mereka.


Walaupun bencana gempa misterius yang terjadi sudah berlalu dan masyarakat sudah bisa bernafas lega. Hal yang berbeda justru masih dapat dilihat di Glory.


Jalanan sepi tanpa tanda-tanda kehidupan masih terlihat di ibukota. Penampakan gedung yang baru diperbaiki ataupun di bangun saat ini sangat kontras dengan sisi kehidupan yang tidak terlihat.


"Apakah masih belum ada tanda-tanda dia akan sembuh dokter?"


"Maaf Yang Mulia Ratu. Walaupun kondisinya sudah mulai membaik, tapi itu semua belum tentu pertanda beliau akan siuman."


Semua gadis saat ini hanya dapat sabar dan merenung di dalam kamar Shin. Baru sebulan yang lalu mereka mendengar kalau tubuh Shin sudah mulai membaik, tapi sekarang mereka malah kembali mendapat kabar buruk.


"Apakah kita masih belum menemukan obatnya?" Tanya Ryou dengan mata berair.


Dokter yang mendengar itu hanya dapat menunduk sambil menggelengkan kepalanya.


"Seperti Yang Mulia Ratu lihat. Saya bahkan tidak tahu penyakit apa yang menyerang Yang Mulia, tanda-tanda penyakit ini sangat asing bagi kami para dokter."


Ryou hanya dapat tutup mulut saat mendengar itu. Memang benar kalau tanda itu sangat asing bahkan bagi dirinya sendiri, jadi dia juga tidak dapat melakukan sesuatu.


"Yang Mulia Ratu, mohon maaf. Melihat dari semua ini, saya saat ini bahkan tidak dapat memastikan apakah Yang Mulia dapat bertahan lebih lama lagi."


Dokter yang telah lama berkecimpung didalam dunia kedokteran itu mulai berkeringat dingin saat dia berusaha mengatakan itu. Butiran air juga mulai muncul disekujur tubuhnya saat dia melihat semua orang yang hanya diam membeku di sekelilingnya.


"Bruk!!."


Gadis paling muda, Airi ambruk beberapa saat setelah itu. Dia terduduk di lantai dengan mata yang masih menatap ke arah tempat tidur Shin, matanya menatap tapi pikirannya kosong saat ini.


Ryou memeluk saudara kembarnya dengan saat kuat, begitu juga dengan Chika dan Asha yang saling berpelukan.


Sementara gadis yang lain hanya dapat diam ditempat tanpa melalukan gerakan apapun. Mereka diam saja tapi di dalam hati mereka itu saat ini sangat hancur.


Mereka seolah ditampar kenyataan dan tidak bisa bangkit lagi.


Menahan tangis itu sangat susah bagi mereka yang merupakan gadis, tanpa mereka sadari air mata mulai jatuh di atas pipi putih setiap gadis yang berusaha untuk tetap kuat itu.


Kazuo yang juga berada di dalam ruangan itu hanya dapat diam ditempat. Para dokter yang berniat menenangkan mereka hanya dapat berdiri di tempat saat melihat Kazuo memberinya gelengan kepala.


Kazuo tahu apa yang para gadis itu rasakan saat ini. Jadi lebih baik membiarkan mereka semua menangis sepuasnya.


Tidak ada suara saat ini di ruangan itu kecuali suara rintihan kecil dari para gadis yang berusaha menahan tangisnya.


Semua orang berusaha untuk tetap diam karena mereka takut akan membuat para gadis itu lepas kendali saat semua orang berusaha menenangkannya.


➖➖➖➖➖


Dibelahan Kerajaan yang lain, para penduduk yang sedang membersihkan puing-puing bangunan digemparkan oleh sesuatu yang mengambang jauh di atas langit.


Sesuatu yang melayang di udara itu membuat para penduduk gemetar, padahal tidak ada yang terjadi tapi entah kenapa penduduk sangat ketakutan.


Mereka menatap benda itu dalam diam.


Karena ketinggiannya yang sangat tinggi, semua orang tidak bisa melihat dengan jelas.


Tapi perasaan ketakutan masih terlihat di mata setiap orang. Mereka bahkan dapat membayangkan seberapa besar benda itu kalau melayang di atas kepala mereka.


Entah apa yang ada di atas langit itu, tapi penduduk merasa kalau seandainya itu sesuatu yang jahat, mereka semua pasti akan mati.


Tidak hanya di Kerajaan ini saja. Beberapa Kerajaan di dunia sudah bermunculan sesuatu yang sangat besar di atas mereka.


Dua minggu kemudian.


"Yang Mulia."


"Perdana Menteri. Bagaimana keadaan penduduk?"


"Penduduk sudah mulai beraktifitas seperti biasa, tapi itu tidak akan lama, Yang Mulia."


"Prajurit kita yang di perbatasan melaporkan kalau mereka mulai melihat para penduduk yang pergi membawa barang-barang meraka meninggalkan Kerajaan."


Mendengar itu membuat Raja merinding.


Membayangkan penduduk Kerajaannya sudah mulai meninggalkan Kerajaan membuktikan kalau penduduk sudah putus asa dan tidak lagi percaya dengan bujukan yang Kerajaan katakan.


"Ap-apa yang terjadi!?"


Tanah kembali bergetar hebat seperti beberapa Minggu yang lalu.


"Perasaan ku tidak enak." Gumam Raja.


Dan yang benar saja. Beberapa saat kemudian terdengar suara raungan yang saat memekakkan telinga.


Raja bersama Perdana Menteri dan pengawal berusaha keluar disaat lantai dan dinding sudah mulai retak.


Kerajaan yang mengalami hal yang sama di langit meraka sekarang juga berusaha menutup telinga mereka mati-matian.


Tapi itu tidak akan berguna. Hal tersebut terlihat karena beberapa penduduk yang sudah tidak kuat terlihat mengeluarkan darah di telinga mereka yang menandakan kalau gendang telinga mereka sudah pecah.


Saking kuatnya suara itu sampai dapat dirasakan di hampir segala belahan bumi, tidak terkecuali di Glory.


Shin yang masih tidak sadarkan diri tidak merasakannya. Tapi kalau seandainya saat itu dia masih sadar pasti dia dapat merasakan hal ini.


Tidak seperti di pusat gempa. Disini gempanya tidak kuat dan hanya membuat benda-benda yang ada mulai bergoyang.


Tapi penduduk tidak terlalu memikirkannya. Karena masalah mereka disini juga masih sangat besar untuk memikirkan gempa kecil seperti itu.


Di atas langit Kerajaan tadi. Sesuatu yang selama dua Minggu terakhir melayang di langit yang jauh sekarang sudah mulai terlihat turun kebawah.


Semakin turun dia semakin ngeri pula semua orang yang ada di bawahnya.


"Mak-mahkluk apa-apaan itu." Teriak salah seorang penduduk dengan wajah ketakutan yang sudah tidak bisa lagi digambarkan.


Disaat mahkluk itu turun, tiba-tiba saja dia berhenti.


Penduduk yang dibawah menatap putus asa karena kau sejauh apapun kamu berlari, kamu tidak akan bisa menghindarinya.


Para penduduk yang sudah putus asa itu duduk di tanah sambil terus menangis.


Tapi sesungguhnya mereka tidak tahu kalau saat ini mata dari makhluk itu menatap tajam ke arah mereka dari atas langit.


Entah yang keberapa kali ini. Tapi mendadak gempa mulai terjadi lagi. Yang membedakannya hanya yang ini tidak diiringi dengan raungan.


Penduduk yang sadar akan keanehan itu mulai berpikir keras. Tapi pada ujungnya dia menangis sambil terus menggelengkan kepalanya. Terlihat kalau dia tidak mau mengakui pikirannya sendiri.


"Tidak mungkin, ini terlalu sunyi. A-aku tidak mau memikirkannya."


Tapi yang namanya naluri manusia yang selalu penasaran. Dia dengan setengah keberaniannya mengangkat kepalanya menatap langit dengan mata kosong.


Dan yang benar saja. Sesuai dengan perkiraannya. Gempa ini tidak biasa karena sesungguhnya saat ini mahkluk itu tengah mengambil kekuatan dan mengumpulkannya ke mulutnya.


"Ya dewa, apa salah kami sampai-sampai kami harus menerima semua ini. Tolong selamatkan kami semua." Ujarnya dengan air mata.


Penduduk lain juga melakukan hal yang sama yaitu berdoa kepada dewa yang mereka yakini.


Tapi itu percuma saja.


Karena saat ini hidup mereka semua berada di tangan mahkluk itu.


Beberapa saat kemudian.


BUMMMHA


Sebuah serangan dashyat dari mahkluk itu ditembakkan ke segala arah.


"Dewaaa. Tolong kam__."