
"Huss. Sudah aku katakan dari dulu kalau ini bukan salahmu. Ini adalah salahku karena aku ceroboh."
"Tapi saat ini aku sangat bahagia saat mengetahui kalau banyak orang yang peduli padamu."
Aya berbicara sambil mengeluarkan senyuman lembutnya padaku, itu membuatku sedikit memerah.
"Kenapa kamu masih bisa tersenyum disaat seperti ini?"
"Itu karena aku saat ini berdiri di depan orang yang sangat mengkhawatirkanku dari dulu."
"Mendengarkan kalimat itu darimu membuatku bahagia." Ujarku.
"Aku juga bahagia."
Mereka berdua membutuhkan beberapa menit supaya bisa tenang lagi karena momen baru bertemu setelah sekian lama ini terjadi. Setelah nafasku sudah mulai teratur kembali dari efek menangis terharu, aku memulai pembicaraan kembali.
"Aya. Kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Aku juga tidak tahu. Saat aku bangun tiba-tiba saja aku sudah berada disini. Dan disaat aku masih kebingungan, tidak sengaja aku melihatmu tergeletak di atas tempat tidur."
"Ohhh."
Setelah memperlihatkan sikap acuh tak acuhku, aku memberanikan diri lagi untuk bertanya kepadanya.
"A-apa keluargaku baik-baik saja?"
"Setahuku mereka baik-baik saja. Bahkan disaat aku berada dirumah sakit, mereka masih menjengukku setiap hari. Itu membuatku sangat bahagia."
"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja."
Shin menghela nafas lega setelah mendengar kabar bahwa keluarganya baik-baik saja.
Kurang lebih sudah setahun sejak kematian Shin di bumi, jadi wajar kalau dia khawatir tentang kabar keluarganya.
"Hanya saja mereka masih belum bisa menerima kematianmu. Terkadang saat mereka mengunjungiku, ibumu tidak sadar saat berbicara tentang dirimu, dan saat dia sadar kalau kamu sudah tidak ada lagi, ibumu langsung menangis."
Itu membuatku merasa bersalah karena telah membuat mereka menderita bahkan disaat aku sudah meninggal.
"Tapi sepertinya mereka bisa sedikit merelakan kepergianmu sekarang."
"Emangnya kenapa?"
"Aku juga kurang tahu soal itu." Ujarnya sambil sedikit memegangi dagunya.
"Begitu ya."
"A-aku mau tanya. A-apa kamu sekarang sudah bisa menjalani kehidupanmu lagi?"
Mendadak Aya terdiam setelah mendengar pertanyanku, bibirnya gemetaran dan matanya berputar-putar entah kemana.
Apa ada yang terjadi padanya ya.
"Te-tenang saja. Hidupku sudah lebih baik sekarang." Jawabnya dengan gugup dan panik.
Tanpa di tanya lebih jauh pun, naluriku sudah dapat menebak kalau dia masih memiliki sesuatu yang disembunyikannya dariku.
Aku membuang pemikiran itu, aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena sepertinya itu akan mengganggu privasinya. Akan tidak enak kalau aku bertanya tentang apa yang tidak mau dia katakan.
"Oh ya Tatsuya. Aku masih penasaran, ini sebenarnya dimana?"
"Hah!?"
Apa yang dia maksud itu dunia ini ya. Bagaimana caraku untuk menjelaskan kepadanya.
Seandainya aku bilang padanya kalau ini di dunia lain, akan seperti apa seraksinya ya. Kalau rekasinya wajar sih gak apa-apa, tapi kalau dia bilang aku bercanda, bagaimana.
"I-ini sebenarnya di dun_"
"Hah!? Ap-apa yang terjadi?"
Teriakannya Aya menghentikan kalimat yang ingin aku katakan padanya. Teriakan itu juga membuatku kaget. Saat aku menatap Aya untuk mengetahui penyebab dia berteriak.
Terlihat olehku mataku, tubuh Aya yang lama-kelamaan mulai menghilang dari tempat kami berada.
"Tubuhmu menghilang!?" Gumamku.
"Tatsuya. Apa yang terjadi padaku?"
"Sepertinya waktumu sudah habis untuk berada di sini."
Mendengar kalimat itu membuat Aya menutup mulutnya karena kaget.
Sambil menatap tubuhnya yang perlahan mulai menghilang, Aya sesekali melihatku dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Sepertinya kita harus berpisah, Tatsuya."
"Padahal aku berharap bisa mengobrol lebih lama lagi denganmu."
"Setelah ini jangan lupa bangun ya Tatsuya, ada banyak orang yang menunggumu disana."
Aya terus mengoceh di saat-saat terakhirnya di sini. Walaupun aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dia katakan. Tetapi satu yang aku tahu, wajahnya menunjukkan kepadaku kalau dia sedang berada dalam masalah saat ini.
Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai terangkat ke langit, cahaya putih yang menyilaukan mata juga menambah keyakinanku kalau dia akan kembali lagi ke bumi.
Aku berusaha keras untuk mengapai tangannya yang terbang semakin tinggi, tapi percuma, itu tidak berhasil sama sekali.
Bukan hanya aku, tetapi Aya juga terus berusaha untuk mengapai tanganku, tapi hasilnya tetap sama.
"Semoga kita bisa mengobrol lagi di lain kesempatan ya." Katanya padaku.
"Itu pasti." Jawabku sambil terus berusaha untuk mengapai tangannya.
Namun sekeras apapun aku berusaha, jarak tangan kami semakin jauh.
Dia tersenyum padaku dengan mata yang berkaca-kaca dan ekspresi bahagia.
"Shin." Ujarnya dengan sangat lembut, diiringi oleh air mata yang mulai menetas membasahi pipinya lagi.
Mendengar Aya memanggil namaku membuatku terdiam sejenak. Penyebabnya adalah ini kali pertamanya Aya memanggil nama panggilanku.
Dari awal kami bertemu, Aya tidak pernah memanggilku menggunakan nama panggilan sama sekali, jadi panggilan ini membuatku kaget.
Sementara itu, Aya hanya tersenyum saat melihat responku ketika namanya di ucapkan untuk pertama kalinya olehnya. Tapi dia mengabaikannya dan melanjutkan kalimatnya.
"Aku mencintaimu selamanya."
Kata-kata yang diucapkannya setelah itu lebih membuatku syok. Bersamaan dengan rasa syok itu, air mataku juga mulai mengalir deras seperti hujan.
"Seandainya aku menyadarinya lebih awal, mungkin situasinya tidak akan jadi seperti ini."
"Maaf ya, karena telah merepotkanmu selama ini."
Setelah mengatakan kalimat yang membuatku membatu, Aya mulai menghilang secara perlahan dari pandanganku.
Sambil melihat serpihan-serpihan cahaya yang Aya tinggalkan, akupun terjatuh karena tidak sanggup menerima kalimat terakhirnya itu.
"Aku mencintaimu selamanya? Apa maksudmu? Kenapa kamu baru mengatakan itu sekarang."
Raga dan jiwaku sama sekali tidak bisa menerima kalimat yang menyakitkan itu. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah memukul lantai sambil terus menyesalinya.
➖➖➖➖➖
"Hei. Coba lihat."
Menanggapi panggilan Chika, semua orang perlahan menatap apa yang ingin ditunjukkan olehnya.
"Sh-shin menangis!?"
Tetesan air mata yang menetes dari mata Shin menambah harapan mereka, kalau mereka semua bisa menyelamatkan Shin.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Shin?"
"Sepertinya."
"Hmm. Jarang sekali kita melihat Shin menangis seperti itu."
Pertanyaan Ryou mendapat respon dari Kyou dan Rin. Semuanya hanya dapat diam di tempat karena tidak tahu apa yang terjadi pada Shin.
"Oh ya. Laimm!"
Beberapa saat setelah Miku memanggil kepala pelayannya, pintu mendadak terbuka dan Laim pun masuk.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia Ratu?"
"Tolong panggilkan dokter kesini, keadaan Shin mulai berubah!"
"Baiklah. Akan saya laksanakan."
Laim pergi meninggalkan kamar Shin dan berlari untuk memanggil dokter Kerajaan.
Walaupun di dunia ini warganya memanggil dokter dengan sebukan tabib, tapi tetap saja, lebih baik mulai dibiasakan untuk memanggilnya dengan sebukan dokter.
Sekitar lima menit kemudian. Dokter yang dipanggil akhirnya datang juga.
Tapi sepertinya bukan hanya dokter saja yang datang, tetapi Perdana Menteri, Komandan dan Wakilnya, beserta para Dewi juga turut hadir.
Tanpa diperintahkan pun, dokter sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia mulai memeriksa Shin semampunya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Miku.
"Keadaan Yang Mulia sudah mulai membaik dari biasanya, tapi saya masih belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kepada beliau." Katanya sambil sesekali memperhatikan Shin saat dia berbicara dengan Miku.
"Syukurlah kalau Shin sudah mulai membaik." Nafas lega para gadis meluncur keluar begitu saja dari mulut mereka semua.
Para pengikutnya Shin yang pada awalnya menahan nafas saat Shin diperiksa akhirnya menghela nafas lega.
➖➖➖➖➖
"Dia sudah pergi ya."
Setelah menyesali apa yang telah aku perbuat. Akupun sekarang hanya duduk diam di sana sambil terus memikirkan kalimat terakhirnya tadi.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumamku pada diriku sendiri.
"Shin. Apa kamu sungguh bisa mendengarkanku?"
"Hehh. M-miku ya. Membuatku kaget saja."
Suara Miku yang mendadak terdengar membuatku kembali kaget. Akupun menatap langit tempat suara itu berasal, walaupun samar-samar tapi aku yakin kalau aku melihat semua orang sedang berada di sekitarku.
"Kembalilah Shin."
"Baik kami, Kerajaan, maupun dunia ini membutuhkanmu. Jadi kami mohon Shin, tolong kembalilah."
Suara Miku terdengar lain dari yang biasanya, dan itu membuatku keheranan.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...