
Sepertinya ini sudah cukup, sebaiknya aku akhiri sekarang daripada keadannya bertambah buruk.
Disaat mereka masih menangis, aku merapalkan mantra tidur dan mengirim mereka kembali ke tempat tidurnya saat sebelum aku culik.
Keadaan mereka juga sudah aku kembalikan sesaat sebelum mereka terdampar di pulau itu.
Sepuluh menit kemudian :
"Hah... Dimana aku, apakah ini kamarku?" Dia yang terkejut langsung bertanya-tanya.
"Apakah tadi cuma mimpi." Gumam raja Holter.
"Ayah kenapa." Pangeran mahkota yang masuk ke kamar hanya kebingungan akan tingkah laku ayahnya.
"Daren, putraku." Dia langsung memeluk putranya dengan wajah bahagia.
"Ehh. Ayah kenapa?"
"Ayah tidak apa-apa, hanya mimpi buruk." Kata ayahnya sambil terus memeluk anaknya.
"Kenapa ayah menjadi seperti ini?"
"Tidak usah dipikirkan, dimana adikmu."
"Chika masih berada di kerajaan Glory."
"Glory, untuk apa dia kesana?" Nada bicaranya langsung berubah setelah mendengar nama Glory.
"Dia hanya ingin bermain disana."
"Kenapa dia tidak meminta izin pada ayah?"
"Emangnya kalau dia minta izin akan ayah izinkan, lama-kelamaan dia pasti akan kabur dari istana kalau ayah terus mengekangnya." Jawab anaknya dengan nada marah.
"I-itu...." Ayahnya tidak bisa membantah anaknya lagi.
"Dia mengatakan kalau di sana lebih nyaman baginya, bahkan putri Asha juga kesana."
"Asha, putri Colder itu?"
"Iya ayah."
Ayahnya hanya terdiam mendengar perkataan anaknya itu, di dalam hatinya ia berpikir apa seharusnya mereka berdamai saja sekarang.
"Oh ya. Selama ayah tidur aku telah membuat beberapa perjanjian dengan kerajaan Colder, dan itu sekarang membutuhkan persetujuan dari ayah."
"Perjanjian?"
"Sekarang terserah pada ayah, ayah setujui atau tidak, nasib kerajaan berada di tangan ayah sekarang."
Ayahnya hanya berpikir sejenak sebelum menepuk kedua pundak anaknya.
➖➖➖➖➖
Pertemuan antara Raja Colder dan Raja Holter telah di atur dengan baik, mereka direncanakan akan bertemu di sebuah tempat di perbatasan kedua kerajaan.
Tempat itu juga sudah di jaga dengan ketat, tenda tempat pertemuan juga sudah berdiri.
Tentu saja perwakilan dari kedua kerajaan itu hanya raja dan pangeran mahkotannya, kalau putri kerajaan masih berada di kerajaanku.
"Apa bisa kita mulai sekarang?"
"Tentu."
"Pertama aku ingin meminta maaf pada kerajaan Colder atas apa yang telah terjadi antara kita selama ratusan tahun ini." Kata pembuka dari raja kerajaan Holter.
"Aku juga mau meminta maaf atas apa yang terjadi, setelah mengalami beberapa kejadian aku akhirnya sadar kalau permusuhan itu tidak baik." Jawab raja Colder.
"Kau juga mengalami kejadian itu?"
"Apa kau juga?"
"Aku juga sama."
Mereka yang tahu kalau musuhnya juga mengalami hal yang sama cuma bisa tertawa bersama sambil meminum bir.
Orang-orang hanya kebingungan melihat mereka yang keliatannya sangat akrab itu.
"Ayah..."
"Bagaimana dengan perjanjiannya?"
Para ayah yang sedang tertawa berdua langsung diam sambil menatap anak, mereka setelah itu mereka malah tersenyum.
"Kenapa harus menunggu jawaban ayah."
"Kau benar."
"Kenapa? karena ayah adalah rajanya." Jawab kebingungan dari putra raja Holter.
"Tidak lagi sekarang, ayah memutuskan untuk turun tahta dan menyerahkannya tahta kepadamu."
"Kau juga sepemikiran dengan ku ya. Aku juga akan turun tahta dan menyerahkannya pada anakku yang sekarang sudah sehat ini."
Ayah mereka hanya bisa tertawa karena mabuk, tapi anaknya sedikit terkejut mengetahui tahta ayahnya akan di serahkan padanya.
"Apa ayah serius?"
"Ya tentu ayah serius. Jalankanlah kerajaan ini supaya bisa menjadi kerajaan yang baik." Pintak raja Holter kepada anaknya.
Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan kebingungan semua orang akan keputusan raja yang turun tahta dan menyerahkannya pada anaknya.
➖➖➖➖➖
Sepertinya mereka telah membuat keputusan, tapi aku tidak menyangka mereka akan menyerahkan tahta pada anaknya.
Dari awal pertemuan itu aku telah mengawasinya dengan mengirim beberapa burung ke sana dan memakai penglihatan burung itu untuk melihat pertemuan mereka.
"Akhirnya masalah mereka selesai sudah." Nafas legaku keluar saat mengetahui pertemuan itu berakhir bahagia.
Sepertinya aku sekarang harus mengatakan ini pada Asha dan Chika.
Aku mulai beranjak dari ruanganku menuju ke arah ruang makan sekalian aku juga mau sarapan.
Mereka yang sepertinya sudah akrab sedikit membuatku sedih karena Asha dan Chika akan segera kembali ke kerajaan mereka.
"Hai semua." Sapaku pada mereka yang sedang menungguku dari tadi.
"Selamat pagi Shin." Jawab Airi yang sedang menyiapkan makanan.
"Pagi yang mulia."
"Pagi yang mulia."
Mereka dengan wajah memerah balik menyapaku sambil terus menatap kebawah.
Ada apa mereka ini, pagi-pagi sudah memerah.
Tanpa mikir panjang aku lebih memilih untuk duduk bersiap sarapan.
"Apa ini kamu yang membuatkannya Airi?"
"Kalau untuk Shin tentu saja." Jawab Airi malu-malu.
"Kalau begitu selamat makan."
Satu persatu hidangan di atas meja mulai habis tanpa ada sisa sedikitpun.
Perut yang masih kenyang menyulitkan kami beranjak ke ruang tamu untuk minum teh pagi.
"Masakan Airi memang sangat enak, aku belum pernah melihat hidangan dan kue yang seperti ini." Kata Chika sambil mengambil kue di atas meja.
"Aku juga, kamu benar-benar hebat Airi." Pujian Asha membuat Airi senang.
"Tentu tidak. Aku hanya membuat kue berdasarkan resep dari Shin."
"Resep Yang Mulia?"
"Dia yang biasanya memberiku resep-resep baru untuk di buat."
Atas jawaban Airi, kedua gadis itu memandangku yang sedang menyeruput teh di balkon sendirian.
Setelah menatapku cukup lama, akhirnya mereka kembali menatap Airi.
"A-aku dari awal penasaran, sebenarnya apa hubunganmu dengan Yang Mulia." Bisik Asha pada Airi.
"Ak-aku tunangannya Shin."
"Apa.....!?" Mereka melompat kaget setelah mengetahui bahwa Airi adalah tunanganku.
"Ka-kamu adalah tunangan yang mulia?" Tanya Asha untuk memastikan telinganya baik-baik saja.
"Ya. Bukan hanya aku. Miku, Hana, Rin, Kyou dan Ryou juga merupakan tunangan Shin." Dengan polosnya dia menyebutkan semuanya sambil menghitungnya mengunakan jari.
"Tidak mungkin." Bahu mereka seketika merosot ke bawah ketika mengetahui kebenaran itu.
"Kenapa kalian berdua?" Aku yang sedang duduk di balkon sendirian langsung masuk saat melihat kedua putri itu merosot.
Saat melihatku sepertinya mereka ingin bertanya padaku untuk memastikannya lagi.
"Yang Mulia, apakah benar kamu memiliki enam tunangan?"
"Hmm. Y-Ya." Jawabku sambil melihat kondisi mereka.
Setelah mendengarnya langsung dariku, hawa keberadaan mereka tambah menghilang.
Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
"Apa kamu bodoh adikku."
"Hah...." Aku langsung melompat setelah mendengar suara tiba-tiba di telingaku yang tak lain adalah ulah dari kakakku.
"Apa maksudmu?"
"Dari awal aku merasakan kalau mereka berdua sudah menaruh cinta padamu, kau tahu itu."
"Ehhh...."
Mendengar kata-kata kakakku membuatku kembali menatap mereka berdua.
Mereka juga menatapku seakan ingin bertanya lagi.
"Si-siapa yang berdiri di sebelahmu yang mulia?" Tanya Chika.
"Ap-apa dia juga tunanganmu?" Sambung Asha.
"Ti-tidak-tidak, di bukan tunanganku."
"Perkenalkan namaku Tatsuya Kaori, kakaknya Shin." Perkenalan yang lumayan alay menurutku.
"Kakak?"
"Ya, dia beberapa hari ini tidak dirumah jadi kalian tidak bertemu dengannya."
"Oh. Ba-baiklah." Wajah mereka sedikit lega mendengar itu.
"Kenapa kalian sangat sedih sekarang, bukannya kalian harusnya senang." Aku berusaha untuk merubah topik ini.
"Senang, apa yang akan bisa membuat kami senang sekarang ini." Respon hampa Chika atas perkataanku.
"Itu karena kerajaan kalian sudah berdamai sekarang."
"Berdamai!?"
"Ya tentu, bahkan ayah kalian sekarang menyerahkan tahtanya ke pangeran mahkota."
"Jadi yang menjadi raja sekarang adalah kakak kami."
Aku hanya menganguk atas pertanyaan mereka berdua padaku.
"Jadi ini mungkin jadi hari terakhir kalian berada disini."
Saat mendengar itu, wajah senang mereka kembali lagi ke awal ketika mendengar fakta tunanganku.
"Ta-tapi tenang saja, kalian masih boleh berkunjung kesini kok." Aku menenangkan mereka dengan memberi mereka pilihan lain.
"Ka-kami boleh berkunjung lagi?"
"Ya, kenapa tidak."
Mereka mulai melakukan apa saja untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke kerajaan.
Sorenya aku membawa mereka berdua ke kerajaannya kembali dengan selamat. Pada awalnya ayah mereka marah padaku karena menculik putrinya namun akhirnya itu hilang setelah putrinya memarahi ayahnya.
➖➖➖➖➖
Beberapa minggu setelah pelantikan kedua raja baru itu digelar, keadaan kerajaan itu membaik dan rakyatnya mulai hidup nyaman.
Dua buah surat juga datang padaku, isinya adalah permintaan dari raja Colder dan Holter yang ingin bertemu dengan WPL
Aku hanya mengiyakan permintaan mereka dan mengatur pertemuan WPL di gedung.
"Pertama kami ingin berterima kasih pada Raja Glory yang telah membantu mendamaikan kerajaan kami yang sudah bermusuhan selama ratusan tahun." Kata raja Colder.
"Kamu memang benar-benar hebat Shin. Bisa mendamaikan kerajaan yang dulu mustahil untuk di damaikan." Pujian dari raja Halman tidak membuatku senang karena dia yang membawaku ke dalam masalah ini.
"Jangan dipikirkan."
"Dan kedua, kami berdua mendengar bahwa beberapa kerajaan membentuk aliansi."
"Ya, itu benar."
"Jadi kami memohon untuk bisa bergabung dengan aliansi ini."
"Itu bagus untukku, tapi walaupun aku pemimpinnya aku harus tetap meminta izin kepada kerajaan yang lain."
"Baiklah." Kata terakhir raja Holter membuatku langsung berdiri.
Aku mulai menatap para raja dan berkata.
"Apakah ada yang keberatan kalau Colder dan Holter bergabung dengan World Peace League silakan angkat tangan?"
Hmmm. Sepertinya semua orang setuju.
"Baiklah, kalau begitu permintaan bergabung oleh Raja kerajaan Colder dan Raja kerajaan Holter di terima." Aku memberi tepuk tangan pada mereka berdua.
"Selamat untuk kalian." Begitulah sambutan raja lainnya pada mereka.
"Bagaimana kalau kita rayakan di ruang permainan."
"Ayo." Suara raja Strom memancing raja lainnya untuk berdiri.
Para pak tua mulai berdiri dan berpindah ke ruang bermain.
Sebenarnya satu bulan yang lalu aku membuat sebuah ruang permainan di gedung pertemuan, gunanya tentu saja untuk beristirahat bagi para raja dari kesibukannya.
Disana ada permainan bolling, ding dong, manjong, biliar, kursi pijat dan lain-lain. Saat mereka pertama kali mengetahuinya, mereka sangat bersemangat walaupun mereka tidak tahu cara bermain nya.
Dan sekarang mereka malah akan datang kesini sekali sebukan hanya untuk bermain saja.
"Apa itu ruang permainan Yang Mulia." Tanya raja Holter padaku.
"Itu sebuah ruangan yang berisi berbagai permainan yang biasanya di mainkan para raja anggota aliansi setelah mereka rapat."
"Sepertinya itu menarik." Seru semangat yang dikeluarkan raja Colder.
Kami bertiga menyusul para raja ke dalam ruangan itu, baru aku masuk mereka sudah berpencar kesana kesini, raja Holter dan Colder juga langsung ditarik oleh mereka untuk pergi.
Dengan seksama raja muda itu mendengarkan penjelasan tentang cara menggunakan permainan itu dari para raja lainnya.
Setelah mengerti cara kerjanya mereka sekarang malah ketagihan dengan permainan itu.
Sesudah puas bermain di ruang permainan, mereka aku pulangkan kembali ke kerajaan mereka.
➖➖➖➖➖
"Aku sangat kelelahan sekarang." Aku langsung merebahkan kepalaku ke sofa.
Tunggu, kenapa rasanya sangat lembut ya.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...