Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 86 : Surat Permohonan Bantuan



"Ap-apa yang kalian lakukan?"


Perdana Menteri dengan wajah emosinya melontarkan pertanyaan kepada para Ksatria.


"Maafkan kami, Yang Mulia. Tapi saya harus melaporkan apa yang seharusnya tadi saya laporkan."


Dengan wajah tenang Ksatria itu meminta maaf dihadapan Rajanya, dia tahu kalau ini melanggar hukum tetapi dia juga tahu kalau tindakannya tidak dapat disalahkan.


"Sudah kubilang, jangan pernah mengganggu rapat Yang Mulia. Apa kau ingin dihukum?"


"Sekali lagi kami mohon maaf, Yang Mulia."


Ksatria tersebut bersamaan dengan seluruh Ksatria lainnya berlutut dengan penuh hormat untuk mendapatkan maaf Rajanya.


"Itu bukan salah kalian." Jawab Raja.


"Baiklah kalau Yang Mulia mengatakan hal tersebut." Sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, Perdana Menteri meminta maaf kepada Rajanya.


Setelah memandang Perdana Menterinya, Raja kembali menatap para Ksatrianya.


"Baiklah. Apa yang tadi ingin kamu laporkan?"


"Hohoho. Apa itu masalah besar, sampai- sampai Ksatriaku juga ikut berlutut." Kaisar mengatakan itu sambil memandangi para Ksatrianya yang berada di dalam kerumunan itu.


Saat melihat tawaan Kaisar, para Ksatria berpikir kalau Raja mereka benar-benar tidak tahu tentang masalah ini.


"Cepat laporkan masalahmu. Yang mulia setelah ini akan pergi menemui seseorang, jadi dia tidak memiliki banyak waktu."


"B-baik."


Ksatria tersebut mengambil sebuah buah surat yang dia simpan.


"Palingan masalah kecil. Kenapa kalian harus repot-repot melaporkannya ditengah rapat ini. Apa kalian tidak tahu kalau nasib Kerajaan kita bergantung pada hasil rapat kali ini. Apa kalian akan bertanggung jawab kalau rencana ini gagal?"


Perdana Menteri mengatakan kalimat sindiran dengan nada suara yang bisa membuat siapa saja merasa ingin sekali memukulinya.


Tapi itu tidak dia lakukan karena dia tahu akibatnya. Namun sepertinya Ksatria tersebut tidak takut sama sekali akan gertakan Perdana Menteri, melainkan dia melawannya pula dengan gertakan yang tak kalah hebatnya.


"Wahai Perdana Menteri yang terhormat. Apa Perdana Menteri juga bersedia untuk bertanggung jawab kalau saja pesan ini tidak sampai kehadapan Yang Mulia."


Dengan kaki gemetaran dan keringat dingin yang bercucuran, dia mengatakan kalimat pemberani tersebut.


Semua orang yang mendengar seorang Ksatria yang berani menentang Perdana Menterinya langsung membiru.


Wajah Perdana Menteri juga menunjukkan keterkejutannya akan perkataan balasan yang dilontarkan Ksatrianya.


"Ap-apa kau berani menentang perkataan Perdana Menterimu."


"Saya adalah Ksatria Yang Mulia, bukan Ksatria Perdana Menteri. Jadi itu tidak berpengaruh padaku."


"Kau!? Cepat laporkan apa yang ingin kau laporkan. Kalau itu sama sekali tidak berguna, akan aku penjarakan kau."


Perdana Meterinya sangat marah tetapi Ksatria tersebut malah kelihatan sangat tenang. Dia dengan lembut dan hati-hati membuka surat tersebut.


"Surat tentang apa itu?" Tanya Raja Strom.


"Ini permintaan bantuan, Yang Mulia." Jawab Kaatrianya.


"Hah. Cuma permintaan bantuan. Palingan dari bangsawan atau rakyat yang tidak tahu malu."


Bahkan dihadapan Rajanya sendiri Perdana Menteri tidak segan-segan mengeluarkan kalimat yang seharusnya tidak dia keluarkan.


"Maaf, Perdana Menteri yang terhormat. Kalau ini memang permintaan dari bangsawan atau rakyat biasa, saya tidak akan melaporkannya secara langsung kehadapan Yang Mulia disaat seperti ini."


Dengan wajah geram, Ksatria itu menentang perkataan Perdana Menteri sekali lagi.


"Kalau bukan dari mereka, siapa lagi yang berani mengganggu jalannya rapat penting ini." Ujar Perdana Menteri.


"Mungkin beliau adalah orang yang paling berhak mengganggu atau bahkan menghentikan jalannya rapat ini, Perdana Menteri."


"Bahkan Kerajaan kita tidak akan bisa bertahan lama kalau kita memutuskan untuk menjadikannya musuh Kerajaan."


Sikap Ksatria yang awalnya sedikit ketakutan sekarang berubah menjadi kekuatannya sendiri untuk melawan perkataan Perdana Menterinya.


"Menghancurkan Kerajaan? Omong kosong apa itu. Beritahu, siapa dia, akan aku siksa dia sebelum aku memasukannya ke penjara bawah tanah!"


"Saya akan pegang perkataanmu tadi, Perdana Menteri. Semua orang bahkan Yang Mulia sendiri yang akan menjadi saksinya."


"Terserah kau. Aku akan tetap mempenjaraka_"


"Glory."


".........."


Ruangan tersebut menjadi hening disaat satu buah kata keluar dari mulut Ksatria. Saking heningnya, bahkan suara detak jantung Kaisar yang semakin cepat terdengar oleh semua orang.


"Ini surat permohonan bantuan langsung dari Raja Glory." Sambung Ksatria.


"Shin!? Memangnya apa yang terjadi. Kenapa Shin meminta bantuan?" Kaisar Gerdio langsung berdiri dari kursinya dan berteriak tidak percaya.


Raja Strom dengan cepat menenangkannya, dan kembali menatap Ksatrianya.


"Bacakan isi pesannya!"


"Baik, Yang Mulia."


Dengan sikap masih berlutut, Ksatria tersebut mengangkat surat tersebut dan menarik nafas.


"Hancur!? Apa yang bisa menyebabkan ibukota Glory hancur?" Ujar Kaisar kembali.


"Tenangkan dirimu Kaisar."


"Ma-maaf."


Saat dia ditenangkan oleh Raja, Kaisar kembali duduk di kursinya. Tapi lututnya sedikit gemetar seakan dia tidak ingin mendengar kelanjutannya.


"Kita harus mendengarkannya sampai akhir. Silakan lanjutkan!"


Ksatria tersebut mengangguk dan melanjutkannya, tapi sekarang di berbicara dengan suara yang lebih tinggi lagi.


"Aku sendiri tidak bisa mengatasinya. Maaf, tapi bisakah aku meminta bantuan untuk mengirim pasukanmu kesini untuk membantu kami. Kami sangat kekurangan Ksatria disini. Terimakasih. Hormatku. Tatsuya Shin, Raja Kerajaan Glory."


Keheningan masih terjadi selama beberapa detik sebelum Kaisar sendiri yang memecahkan keheningan tersebut.


"Apa yang terjadi?" Ujarnya dengan nada yang sangat tinggi.


"Kaisar. Kenapa anda dari tadi kelihatan gelisah?" Raja Strom bertanya dengan wajah cemasnya.


"Aku tadi malam mendapat mimpi buruk. Tiba-tiba saja Kekaisaran mengalami insiden besar, hal tersebut bahkan sampai membunuh menantuku. Saat aku bangun, aku tidak bisa memikirkan apapun selain Shin dan Kekaisaran. Tapi kini, yang menjadi kenyataan malah hal menyangkut Shin."


Kaisar mengatakan itu sambil terus menatap lantai, tangannya yang sudah mulai berkerut juga memegangi kursi dengan sangat kuat.


"Kita akan mengirimkan bantuan secepatnya." Balas Raja sambil menenangkan Kaisar yang terlihat cemas.


"Yang Mulia. Itu adalah surat yang ingin saya sampaikan tadi. Tapi saya juga membawa surat lainnya saat ini."


Ksatria itu mengeluarkan surat yang kedua dan memperlihatkannya kepada Rajanya.


"Apa itu dari Shin?" Tanya Raja.


"Bukan, Yang Mulia. Tapi isinya jauh lebih gawat."


Dia mengatakan hal itu untuk meyakinkan bahwa kejadian ini tidak boleh atau bahkan tidak bisa diabaikan.


"Bacakan cepat!"


"Baik."


Sekali lagi dia mengambil nafas panjang sebelum membacanya.


"Kepada ayahku. Situasi Kerajaan saat ini benar-benar lebih parah dari dugaanku. Ada banyak orang yang berkelahi disana-sini. Menang benar kalau aku awalnya tidak mengetahui apapun, itu karena Shin menyuruh kami untuk tetap di istana. Tapi setelah dia memberitahukan kami semuanya, kami yakin kalau Shin tidak bisa mengatasinya sendirian."


"Putriku." Guman Raja.


"Dan sekarang, masalah yang membuat kami semua khawatir adalah Shin. Dia tiba-tiba saja tidak sadarkan diri, kami berusaha membangunkannya tetapi itu tidak berhasil. Kakaknya Shin juga menghilang. Jadi kami meminta bantuan Kepala Guild Relisha untuk mengirimkan surat ini kepadamu. Ayah, tolong bantu Shin dan Kerajaan kami. Dari Putrimu, Hana Harlhes Strom."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Raja dengan wajah tegangnya.


Di tengah keributan yang dibuat oleh Raja Strom, tiba-tiba saja Komandan Ksatrianya berjalan ke arahnya setelah sedikit berbicara dengan salah seorang Ksatria Kekaisaran.


"Yang Mulia?"


"Ada apa Komandan?"


"Maaf, Yang Mulia. Tapi saya baru saja mendapatkan informasi kalau surat Raja Glory dan Putri Airi juga sudah tiba di Kekaisaran."


"Jadi kita juga mendapatnya?"


"B-benar, Yang Mulia."


"Baiklah."


Dengan kata-kata itu saja sudah membuat Komandan kembali ke posisi dengan sendirinya.


Kaisar Kemudian menatap Raja untuk mengatakan sesuatu, tapi mendadak sebuah pesan muncul dari smartphonenya. Tidak hanya dia, bahkan smartphone Raja Strom juga berbunyi.


Mereka berdua membuka sebuah lampiran yang dikirimkan hanya untuk kaget dengan apa yang mata mereka lihat.


"Aku akan pergi ke Glory. Shin memerlukan bantuan kita." Ujar serentak Raja dan Kaisar.


Semua orang penasaran dengan apa yang mereka lihat, tetapi mereka sama sekali tidak berani untuk menanyakannya.


Raja juga menatap Perdana Menteri yang masih berdiri di sampingnya. Dengan wajah membiru, Perdana Menteri berusaha meminta maaf tetapi dia tidak berani melakukannya.


Melihat Perdana Menterinya ketakutan membuat Raja Strom hanya menghela nafas. Tapi menurut Perdana Menteri, sikap Rajanya itu sama saja dengan dia sedang berkata 'Aku akan mengurusmu nanti.'


Karena itu dia menjadi ketakutan.


Raja mengabaikan ketakutan Perdana Menterinya dan berdiri dengan tegap.


Dia menatap semua Ksatrianya yang berada di ruangan tersebut. Dengan meluruskan tangannya,dia berkata.


"Batalkan semua pekerjaanku. Kita akan bersiap-siap dan segera pergi ke Glory."


"Baik, Yang Mulia."


Para Ksatria Strom berdiri dan menjawab perintah Rajanya. Setelah itu mereka semua berlari keluar dari ruangan itu.


"Komandan, batalkan juga semua urusanku dan persiapkan pasukan kita untuk menuju ke Glory."


"Baik, Yang Mulia."


Komandan sedikit membungkuk dihadapan Kaisarnya sebelum dia keluar bersama semua Kastrianya.