Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 32 : Sistem Kekaisaran Slave



Dengan posisi masih berlutut di depanku, Kazumi mulai membuka mulutnya untuk melaporkan hasil penyilidikannya padaku.


"Dari hasil penyelidikan saya, bangsawan yang datang kesini untuk mengajukan proposal pernikahan dulu itu berasal dari Kekaisaran Slave Yang Mulia."


"Kekaisaran Slave!?"


"Iya Yang Mulia, dan sepertinya status dia di Kekaisaran tidak sebagai bangsawan tetapi sebagai pangeran mahkota kekaisaran Yang Mulia."


"Pangeran mahkota!? Apa dia anak dari Kaisar? Tapi yang datang kemarin mengaku sebagai bangsawan biasa. Hmmm. Tapi mereka dulu juga tidak mau mengatakan dari mana asal mereka."


"Bukan Yang Mulia. Kaisar dari Kekaisaran adalah kakaknya, Yang Mulia."


"Apa tujuan meraka menyembunyikan identitasnya dan melamar kakakku?"


"Dari yang saya tahu, sepertinya pangeran mahkota memandang nona sebagai wanita murahan, dia berniat melamarnya untuk menjadikannya sebagai alat pemuas nafsunya saja, Yang Mulia."


"Apa dia mencoba meremehkanku!?" Gepalan tangan dan suara bercampur kemarahanku membuat Kazumi ketakutan ditempat.


"Se-sementara Kaisarnya berniat untuk memanfaatkan nona supaya bisa menguasai kekuatan kerajaan Glory, Yang Mulia." Dia yang masih ketakutan memberanikan diri untuk melanjutkan laporannya.


"Pria brengsek!?" Saat aku memukul meja di depanku disaat itu pula Kazumi mundur karena kaget.


"Ma-maaf Kazumi. K-kamu boleh beristirahat dulu sekarang."


Kazumi hebat juga bisa tahu sampai sedetail itu, sepertinya aku harus memberinya hadiah nanti.


"T-terima kasih Yang Mulia, kalau begitu saya permisi dulu." Dia menunduk dengan hormat dan melangkah pergi meninggalkan ruanganku.


Memanfaatkan kakakku untuk menguasai kekuatan kerajaanku, apa-apaan itu coba, apa dia mencoba meremehkanku sekarang.


"Sepertinya sekarang aku bisa membuat perhitungan dengannya."


➖➖➖➖➖


Keesokannya, aku bersiap menuju ke Kekaisaran Slave untuk menanyakan maksud dari proposal itu.


Walaupun aku sudah tahu, tapi akan lebih baik mendengarnya dari mulut mereka sendiri.


"Shin. Sepertinya kamu mau pergi ya?" Hana bertanya saat melihat baju dan tas kecil yang berada di punggungku.


"Iya, aku ada urusan untuk membersihkan nama baik."


"Nama baik!? Maksudmu?" Kebingungan Airi membuat aku melanjutkan perkataanku.


"Untuk membersihkan nama baik keluarga kerajaan." Sambungnya dengan santai sambil terus memakan makanan yang ada di meja.


"Apa kamu sudah tahu pelakunya, Shin?" Kyou yang terkejut mendengarkan perkataanku langsung balik bertanya.


"Ya. Aku sudah tahu."


"Siapa?"


"Kekaisaran Slave."


"Slave!?" Mereka semua mengeluarkan ekspresi kebingungan terhadap perkataanku.


"Pelakunya adalah Kaisar dan Pangeran mahkota Kekaisaran Slave."


"Apa tujuan mereka melakukan itu?" Ryou yang masih bingung memilih bertanya padaku.


"Sepertinya mereka berniat memanfaatkan kakakku untuk bisa menguasai kekuatan kerajaan Glory."


"Kejam sekali mereka." Perkataan Rin langsung mendapat anggukan dari para tunangan lainnya.


"Kerena itu aku berencana untuk pergi kesana guna mendengar itu dari mulut mereka sendiri."


"Apa kamu berencana pergi kesana sendirian Shin?"


"Rencananya seperti itu."


"Ta-tapi itu kan berbahaya."


"Tenang saja Airi."


Senyumanku saat mengatakan itu sepertinya tidak mempengaruhi mereka sama sekali, wajah mereka menunjukkan ekspresi khawatir berlebihan.


"Kalau kalian khawatir seperti itu bagaimana kalau kami juga ikut Shin?"


"Hah. Ka-kalian ikut!?"


"Iya, tentu."


"Itu sepertinya ide yang bagus."


"Aku juga setuju."


Bersamaan saat Kaori mengatakan idenya, Safira dan Viola juga mengutarakan persetujuan mereka padaku.


"Ta-tapi....."


"Itu ide bagus kak Kaori. Kalau Shin bersama kalian, kami semua dapat merasa tenang."


"Hah..... Ke-kenapa kalian mengatakan itu, emangnya aku anak kecil?"


"Bukan itu maksudku. Tapi, kalau kamu dibiarkan sendirian saja, entah apa yang akan kamu lakukan di luar sana." Miku mengatakan itu sambil menatapku dengan tatapan mengintimidasi.


Apa mereka sangat mencemaskan keselamatanku ya. Tapi, ayolah kawan, aku tidak akan semudah itu bisa dikalahkan tahu.


"Ya-ya. Ba-baiklah kalau begitu." Persetujuanku dengan wajah pasrah membuat wajah mereka mengeluarkan pancaran sinar terang.


➖➖➖➖➖


Setelah semua persiapan selesai di lakukan. Tiga kereta kuda yang mengangkut aku dan ketiga kakakku beserta para pengawal ksatria sudah berbaris di depan halaman.


Sebenarnya kereta kuda nantinya akan aku kirim menggunakan [Gate] ke wilayah perbatasan antara Freedom dan Slave, jadi ini cuma untuk formalitas saja.


Surat pengantar juga sudah dikirimkan ke Kekaisaran Slave yang mengatakan kalau Raja kerajaan Glory beserta kakaknya ingin berkunjung kesana.


"Yoss. Semua persiapan sudah selesai."


"Apa kami tidak apa-apa tidak ikut kesana Shin?"


"Tenang saja. Aku pasti baik-baik saja disana kok. Disini aku juga sudah mengutus kaisar dan raja surgawi untuk melindungi kalian semua untuk sementara."


"Ba-baiklah." Ryou hanya bisa menerima perkataanku dengan lapang dada.


"Kalian tenang saja, kalau dia berbuat yang tidak-tidak, nanti akan kami pukul supaya dia sadar."


"Terima kasih Kak Safira. Kalau kakak mengatakan itu, kami jadi bisa sedikit lega."


"Kalau begitu kami pamit dulu ya."


"Hati-hati di jalan Shin, kak Kaori, kak Viola dan kak Safira."


Kami berempat menaiki kereta yang juga diikuti oleh ksatria di kereta yang lain, setelah semuanya sudah berada di dalam kereta.


"[Gate]"


"Lumayan juga kamu Shin." Puji kak Viola saat melihat keluar jendela yang memperlihatkan tempat yang sudah berbeda.


"Itu buka apa-apa daripada kekuatan dari Dewi Sihir." Ujarku sambil tertawa canggung.


"Kamu tidak usah merendah disini Shin."


"A-aku sama sekali tidak merendah..... Ya sudahlah, ayo kita lanjutkan saja perjalanannya."


Supaya percakapan ini tidak bertambah panjang, aku lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Kekaisaran Slave.


➖➖➖➖➖


"Apa kamu sudah mendapatkan kabar dimana keberadaan orang-orang suruhanku?"


"Su-sudah pangeran mahkota."


"Dimana mereka sekarang, kenapa sampai kini mereka tidak kembali kesini?"


"Me-mereka."


"Mereka apa!?"


"Se-seratus lima puluh orang yang pangeran suruh sudah tertangkap oleh kerajaan Glory."


"Apaaa!?" Dia sontak berdiri dari kursinya saat mendengar laporan ksatria itu.


"Apa mereka sudah tahu kalau itu adalah ulah kamu adikku?"


"Aku juga tidak tahu kak."


Saat perasaan mereka bercampur aduk sambil terus memikirkan rencana cadangan yang harus dibuat, tiba-tiba pintu ruang audiens terbuka.


"Yang Mulia."


"Kenapa kau masuk seenaknya kesini, apa kau tidak melihat kami sedang sibuk disini."


Mendengar Kaisarnya marah besar, ksatria itu langsung berlutut di hadapan kaisar.


"Ma-maafkan saya Yang Mulia."


"Terserah. Ada apa kau terburu-buru?"


"Sa-saya baru saja mendapatkan surat Yang Mulia."


"Surat? Siapa yang berani seenaknya mengirim surat padaku di saat seperti ini." Kata-katanya yang dipenuhi kemarahan itu kerena dia tidak tahu dari siapa surat itu berasal.


"Su-suratnya berasal di Raja Kerajaan Glory Yang Mulia."


"Glory!? Berikan suratnya padaku." Mereka berdua tercengang saat mendengar nama itu, dan kaisar langsung meminta surat itu dari ksatrianya.


"Ba-baik. Ini Yang Mulia Kaisar."


Dia berdiri dan berjalan kedepan untuk menyerahkan surat itu kepada Kaisar, amplop merah yang berlogo Kerajaan Glory di atasnya itu di ambil oleh Kaisar.


Kaisar mulai membuka amplopnya dan membaca isi suratnya kata-perkata, beberapa menit setelah itu.


"Baiklah kalau begitu." Katanya sambil melempar surat itu ke depannya dengan keras.


"Apa isi suratnya kak?"


"Sepertinya bocah itu dan ketiga kakaknya akan datang kesini dalam tiga jam lagi."


"Datang kesini!?"


"Iya. Mereka sedang menuju kesini sekarang."


"Hahahaha. Itu berita bagus kak."


"Apa yang membuatmu tertawa adikku?"


"Tentu saja aku tertawa kak. Kalau dia kesini bersama kakaknya, kita bisa memaksanya menerima proposalku karena mereka berada di wilayah kita."


"Hmm. Kau ada benarnya juga."


"Benar kan."


Mereka berdua tertawa jahat saat membayangkan apa yang akan mereka rencanakan pada saat Raja Glory datang.


➖➖➖➖➖


Dari tempat kami datang kasini sampai memasuki wilayah ibukota Kekaisaran cukup jauh dan memakan waktu yang lumayan lama.


Sebelum pergi ke istana, kami semua memilih beristirahat di bawah pepohonan rindang.


Lebih baik duduk di bawah pohon dari pada dipandangi terus oleh penduduk, itu yang pikiranku.


Ketika kami memasuki wilayah Kekaisaran, aku banyak melihat penduduk yang mengenakan kalung, itu membuatku bertanya-tanya.


"Lain. Kenapa di kota yang kita lewati tadi banyak terdapat penduduk yang memakai kalung yang aneh?"


"It-itu mungkin yang dilihat Yang Mulia adalah para budak."


"Budak!?"


Pikiranku yang salah atau emang budak yang dimaksudnya itu adalah orang yang dipaksa bekerja.


"Iya. Mereka di paksa bekerja untuk majikannya, kalung Yang Mulia lihat dia leher mereka itu adalah atribut sihir."


"Apa kegunaannya?"


"Itu akan mencekik mereka kalau seandainya menentang perintah majikannya. Ada juga beberapa kasus saat kalungnya mengeluarkan pisau dan memotong leher mereka sampai putus disaat majikan mereka ingin membunuh budaknya."


"Itu terlalu kejam namanya."


"Tidak ada yang terlalu baik di dunia ini Shin, kamu seharusnya sudah mulai mengerti konsepnya kan?"


"Aku belum terlalu mengerti kak."


"Cepat atau lambat kamu akan mengerti apa yang aku katakan. Intinya dunia ini sangat berbeda dari tempatmu."


"Tempatku? Hmmm. Eh, y-ya. Aku paham."


Yang dimaksud kak Kaori pasti bumi, dunia lamaku.


"Sudah berapa lama mereka memakai budak? Apa tidak ada hukum disini?"


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...