Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 12 : Kemunculan Monster Kristal



"Hutan macam apa ini?"


Saat ini aku berada di sebuah hutan di dekat titik tempat kemunculan monster kristal itu.


Kemana aku harus mencarinya.


Lebih baik kalau aku cari saja desa terdekat dari sini saja.


Seperti biasa. Aku memfokuskan kekuatanku pada sense untuk mencari desa terdekat.


Ada. Kurang lebih satu kilometer


Dengan kekuatan fisikku yang kuat, aku hanya memerlukan waktu lima menit untuk tiba di sana.


"Apa yang terjadi!?"


Apa ini karena monster kristal itu.


Kerusakannya lebih parah dari desa yang di serang naga dulu.


Ketika aku masih tercengang melihat reruntuhan bangunan itu. Tiba-tiba terdengar benturan besi.


Apa ada yang sedang bertarung di sana.


Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke sumber suara.


Saat aku tiba, aku melihat beberapa orang sedang melawan monster aneh berbentuk kumbang tanduk yang seukuran gajah dewasa.


Armor itu.


Apa mereka ksatria Kerajaan Elchea.


Apa-apaan monster kristal itu.


Aku mengeluarkan katana dan glory dari [Strogest] dan langsung menerjang ke arah monster itu.


Saat aku menebasnya. Tidak ada reaksi sedikitpun dari monster itu.


"Apa-apaan ini!? Kulitnya lumayan keras. Kalau begitu coba ini."


~(Fire ball Rain)~


Muncul ratusan api seukuran bola kasti meluncur jatuh dari langit tepat di atas monster itu.


Api itu menghantam monster dan meledak dahsyat, namun saat debu ledakannya hilang. Tidak ada bekas luka sedikitpun dari kulit monster itu.


"Apaa!? Bahkan sihir pun tidak mempan."


Serangan fisik dan sihir tidak mempan padanya.


Kalau kulit luarnya keras, pasti dalamnya lebih lembut.


Jadi dia pasti memiliki titik lemah yang mudah terlihat.


"Tunggu dulu. Apa itu."


Sebuah mutiara tersembunyi di dadanya. mutiara itu memancarkan cahaya merah darah yang sangat kental.


Apa itu adalah inti dari monster nya.


Tapi bagaimana caranya menghancurkannya. Aku bahkan tidak bisa melukai kulitnya


"Kau. Beraninya kau membunuh suami ku. Aku akan membunuhmu."


Seorang Ksatria muda terlihat saat marah saat ini. Dia menatap tajam ke arah monster itu seakan ingin memakannya.


Setelah menatap sedih ke arah pria yang terbaring tidak bernyawa di pelukannya. Dia mengambil tongkat di sampingnya dan mulai merapalkan mantra.


Apa dia penyihir juga.


"Aku tahu kalau ini tidak akan bisa melukai mu. Tapi akan pertaruhkan seluruh mana ku ke adalan satu serangan ini."


~Holy Lightning Punishment~


Tiba-tiba di langit yang cerah melintang, muncul rentetan kilat.


Langit mulai dipenuhi awam putih yang seolah sedang berkumpul di satu titik.


Dari awan itu, petir putih bersih menambak secara bersamaan dan mengenai monster itu.


Apa itu sihir suci.


Selama beberapa detik petir terus menyambar dengan marah sebelum akhirnya menghilang.


"Hah Hah Hah. Bagaimana!?"


Suara Ksatria itu sudah berat karena dia hampir menghabiskan semua mana nya.


Pandangannya juga mulai kabur. Bahkan untuk berdiri dia sangat kesulitan.


Bagi penyihir kehabisan mana adalah malapetaka dunia. Karena itu setiap penyihir diajarkan untuk menyisakan sepuluh persen mananya untuk bertahan hidup.


Tapi sepertinya Ksatria itu tidak lagi peduli dengan hidupnya sendiri.


Bekas tembakan petir sudah menghilang secara perlahan. Menyisakan seekor monster yang masih berdiri diam di tempat.


Garruuhhh


Monster itu kembali meraum.


"Bagaimana mungkin."


Penyihir itu putus asa saat melihat monster yang dia serang sekuat tenaga itu tidak mengalami luka yang fatal.


Menyadari kalau usahanya sia-sia. Dia duduk di tanah dangan wajah sedih sambil menatap lama ke arah mayat suaminya.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa membalaskan dendam mu. Tapi tenang, aku akan segera menyusul mu. Jadi kita tetap bisa bersama-sama." Ujar wanita itu dengan senyuman kaku diiringi air mata yang melimpah.


"Kamu memang tidak bisa membalaskan dendam suami mu. Tapi kamu juga jangan pernah berpikir untuk menyusulnya dengan cara seperti ini."


Aku menghampiri wanita itu.


Dia menatap ke arahku dengan mata lemah.


Dia kehabisan mana.


"Suami mu pasti tidak ingin kamu menyusulnya dengan cara seperti ini."


Aku melemparkan sihir kepadanya untuk mengembalikan mana dan fisiknya.


Setelah itu aku pergi dari sana dan mendekat ke arah monster itu.


Serangan tadi memang tidak membuat luka fatal. Tapi serangan nya memberikan cara untukku untuk menghabisi nya.


Robekan yang ada di sekujur tubuh monster itu tidak menghilang sama sekali.


Itu menandakan kalau sihir suci bisa sedikit berefek padanya.


"Apa kamu bisa menyalurkan sihir suci itu padaku." Tanyaku pada wanita itu.


"Bisa. Tapi untuk apa?"


"Aku akan membunuh monster itu untukmu, tapi sepertinya hanya sihir suci yang berefek padanya."


Wanita itu seperti mengerti dengan apa yang aku jelaskan.


Dia mendekat ke arahku dengan mulai memegangi bahuku untuk menyalurkan sihir suci.


Jadi ini sihir suci. Aku belum pernah mempelajarinya jadi aku tidak tahu.


Setelah mendapat mana yang cukup. Aku mulai merapalkan sebuah mantra.


Wanita itu juga mulai menjauh dariku.


Sama seperti sebelumnya. Awan putih yang membawa petir mulai berkumpul di atas langit.


Bedanya kini aku bisa mengendalikan nya. tidak seperti sebelumnya yang tembakan petir nya tidak menentu. sekarang aku bisa memfokuskan titik tembak.


~Holy Lightning Punishment~


Begitu petir itu meluncur tajam ke arah dada monster itu.


Kulit keras yang melindunginya tidak bisa menahan serangan lagi. Kulit itu mulai retak sedikit sampai akhirnya tertembus.


Grruhhrr


Monster itu mulai meraum kesakitan sebelum akhirnya tumbang ke tanah.


Melihat serpihan monster itu aku diam untuk memastikan kalau dia sudah mati.


"Selesai."


Disaat aku masih mengatur nafas. Ada beberapa Ksatria Kerajaan Elchea yang mendekatiku.


"Terima kasih. Tapi kalau boleh tahu kamu siapa?" Salah satu ksatria bertanya padaku.


"Aku hanya petualang yang lewat."


Para Ksatria itu sepertinya paham kalau aku tidak ingin terlalu banyak bicara, jadi mereka juga tidak bertanya lagi


"Terima kasih atas bantuannya. Tuan petualang."


"Itu bukan masalah. Bawalah mayat temanmu itu dan pulanglah."


"Akan kami lakukan."


Aku menatap ke arah penyihir wanita tadi dan mengangguk ringan sebelum akhirnya aku berlari lagi ke hutan.


"Kamu dari mana Shin?" Hana langsung bertanya saat dia melihatku.


"Aku baru saja menjalankan misi guild."


"Baiklah."


"Kenapa ekspresi kalian seperti itu semua." Aku mengatakan itu karena wajah semua gadis itu cemberut.


"Kami dari tadi ingin bertanya kepada Liora soal hubungannya denganmu tapi dia mengatakan kalau dia harus ada izin dulu dari tuannya." Miku langsung cemberut lagi setelah mengatakan itu.


Setelah mendengar perkataan Miku. aku langsung menatap Liora yang menurutku benar-benar seperti gadis biasa.


"LIORAA" Suaraku sedikit besar seperti sedang membentak orang lain. secara reflek Liora dan para gadis langsung menatapku.


"Good Job" Ku katakan sambil mengeluarkan kedua jempol ku ke arah Liora.


"Terima kasih tuanku." Dia tersenyum kepadaku saat mengatakan itu.


"Shinnn!?" Miku langsung menatapku dengan tatapan marah dan juga di iringi tatapan gadis lain.


"Ada apa. kenapa tatapan kalian tambah parah?"


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Tidak-tidak. Tidak ada apa-apa kok, aku hanya bercanda." Aku mengatakan itu sambil tersenyum canggung.


Aku tidak bisa mengatakan kepada mereka kalau Liora mencium ku tadi di pulau terapung itu.


"Hmmm." Miku tambah marah.... Namun beberapa saat kemudian dia mulai tenang dan menatapku lalu menghela nafas panjang.


"Sekarang kamu bisa menjelaskan semua ini Shin."


"Baiklah." Aku menghela nafas sedikit dan menatap mereka.


Aku duduk di samping Liora dan di hadapan para gadis itu aku pun membuka mulut.


"Seperti yang aku katakan tadi namanya adalah Preliora. Dia penjaga dari Floating Island Babel."


"Apa itu Floating Island Babel?" Miku bertanya padaku.


"Aku lupa. Liora, apa itu tadi?" Aku bertanya ke liora karena aku lupa.


"Pewaris? Hmm. Kalau begitu siapa pewaris pulau terapung itu sekarang?" Airi bertanya ke Liora sambil memegang dagu nya yang menandakan kalau dia masih bingung.


"Pewaris Floating Island Babel sekarang adalah tuan Tatsuya Shin." Saat mengatakan itu. Liora juga menatapku dengan senyuman manis. itu membuatku salah tingkah.


"Pewarisnya adalah Shin." Mereka semua kaget setelah mendengar itu.


"Tunggu. Kenapa harus Shin?" Hana sekarang bertanya.


"Dokter regina Babylon bisa melihat ke masa depan. Disaat itulah dia melihat tuan Shin dan akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Floating Island Babel untuk aku jaga karena dia yakin pewarisnya akan datang mengambilnya suatu hari nanti."


"Hmm. Jadi begitu ya." Jawab Miku dengan tenang sambil menyeruput teh.


"Kalau kamu memang diciptakan seribu tahun lalu. berarti umurmu sudah seribu tahun." Airi bertanya dengan ekspresi penasaran.


"Benar. Umurku sudah seribu tahun." Dia menjawabnya dengan santai.


"Kenapa kamu masih berfungsi sampai sekarang?"


"Aku masih berfungsi karena menggunakan teknologi Dokter. Namun aku juga tidak tahu rinciannya."


"Shin. Apakah kita bisa melihat seperti apa Floating Island Babel itu." Rin yang dari tadi diam mendengar bersama Kyou dan Ryou langsung mengutarakan keinginannya kepadaku.


"Menurutku Kapan-kapan saja ya."


"Kenapa. Apakah kamu tidak mau menunjukkannya kepada kami." Miku langsung marah kepadaku.


"Bukan itu. Hanya saja karena sekarang sudah malam."


"Hahh!?"


Mereka semua langsung melihat ke arah jendela saat aku mengatakan itu. Saat mereka melihat langit, ternyata sudah gelap total.


"Aku sampai-sampai tidak sadar kalau sudah malam."


"Aku juga kak."


Kyou dan Ryou bergumam berdua saat mereka melihat jendela.


➖➖➖➖➖


Keesokan harinya. Aku pergi berjalan-jalan di ibukota untuk menemani para gadis berbelanja.


Kalau Rin, Kyou dan Ryou mengatakan kalau mereka ingin mengambil quest di guild untuk mendapatkan uang dan menaikkan peringkat.


"Shin. Bagaimana kalau kita pergi ke toko baju itu." Miku langsung menunjuk sebuah toko baju di persimpangan jalan.


"Baiklah. Ayo kita masuk."


Kami masuk ke toko itu yang bernama ' toko busana banri ' dan saat aku tiba di dalam toko, aku melihat orang yang sangat aku kenal yaitu pemilik tokonya, pak Banri.


"Hai tuan. Sudah lama kita tidak bertemu ya." Dia dengan semangat menyapaku.


"Oh ya. Sudah lama ya tuan Banri."


Saat aku masih melihat tuan Banri. Airi menarik lengan bajuku dan berbisik.


"Shin. Apakah kamu mengenalnya?"


"Tenang saja. dia temanku dan dia juga orang baik." Aku tersenyum kepada Airi.


"Kalau begitu baguslah." Airi menghela nafas lega.


Apakah dia tadi takut.


"Kenapa kalian kesini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tuan Banri bertanya padaku.


"Kami hanya ingin berbelanja."


"Baiklah. Kalau begitu akan aku perlihatkan baju yang bagus untuk tuan Shin, dan nona?" Dia menatap para gadis saat berhenti berbicara.


"Tolong."


Setelah hampir satu jam mereka melihat-lihat. Mereka akhirnya memutuskan akan membeli apa.


Mereka memilih baju yang biasa dipakai gadis biasa supaya mereka tidak terlalu mencolok, mereka tidak mau ditanya-tanya orang nanti kalau orang lain tahu mereka itu seorang Putri.


Kami sekarang sedang berada di restoran untuk sarapan karena aku belum sarapan pagi tadi akibat mereka yang langsung membawaku saat aku berencana untuk sarapan.


Selesai makan. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena aku juga sudah kelelahan.


Saat kami tiba di rumah, disana sudah ada Kyou, Ryou dan Rin.


"Kalian sudah pulang ya " Ryou menyambut kami.


"Iya. Oh ya. Kami juga membelikan kalian baju." Miku memberikan tasnya ke mereka bertiga.


"Untuk kami juga!?"


➖➖➖➖➖


"Kenapa ini sangat keras namun saat sudah mati jadi begitu rapuh."


Saat ini aku berada di belakang rumah sambil melihat kulit monster kemaren, saat sedang melihatnya, aku tiba-tiba memikirkan suatu hipotesis.


Sesuatu yang sangat kuat namun tiba-tiba menjadi rapuh seperti kaca. Apa itu kebetulan atau memang ada yang memberi mereka daya.


Seperti perangkat yang bekerja dengan listrik. Bisa jadi ini juga seperti itu.


Ketika aku menyalurkan sihir ku dan melemparkannya ke lantai. Kulit itu sama sekali tidak hancur.


Itu benar.


Otak hanya dapat dilawan dengan otak juga, berarti kulit keras monster itu dapat dilawan dengan kulitnya sendiri.


Kalau begitu bukankah akan bagus kalau bisa membuat senjata dengan kulit yang sangat keras ini.


Aku mengeluarkan beberapa kulit dan merapalkan mantra [Crafting] untuk membuat pedang dan menambah mantra [Gravity] untuk menyesuaikan beratnya.


"Pedang yang indah."


Saat aku sedang melihat ketelitian karyaku. tiba-tiba telepati dari Kougyoku yang aku perintahkan mencari informasi dari mana monster kristal itu datang.


"Tuanku."


"Ada apa Kougyoku?"


"Aku melihat monster kristal itu di timur Kerajaan Horn tuanku. Mereka juga sudah menghancurkan dua desa."


"Berapa jumlahnya?"


"Sekitar dua puluh ekor tuanku."


"Banyak juga!?"


"Apa yang harus hamba lakukan tuanku?"


"Tetap awasi monster itu dan selamatkan kalau ada yang sedang dalam bahaya!"


"Sesuai keinginanmu, tuanku."


Saat telepati itu berhenti.


Aku langsung membuka gerbang ke Kerajaan Freedom karena aku belum pernah pergi ke Kerajaan Horn.


Aku juga tidak bisa mengambil penglihatan Kougyoku karena hanya bawahannya saja yang bisa kuambil.


"Miku. Aku pergi dulu sebentar."


"Memangnya ada apa?"


"Ada keadaan darurat yang harus aku tangani sekarang."


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati Shin."


Aku melambaikan tangan dan langsung masuk ke gerbang.


➖➖➖➖➖


Saat tiba di Kerajaan Freedom, aku mulai berlari ke arah Kerajaan Horn.


Kerajaan Horn adalah kerajaan di benua timur yang dari dulu selalu menjadi musuh dari Kerajaan Dark yang membencinya karena beda keyakinan.


Karena beda keyakinan itulah yang membuat Kerajaan itu terpecah dan menciptakan Kerajaan Horn yang sekarang.


Setelah berlari beberapa menit


Aku tiba di tempat dan langsung melihat monster yang sudah memporak-porandakan sebuah desa.


"Tuanku" Kougyoku melesat dan berdiri di atas pundakku.


"Kemana perginya para penduduk?"


"Para penduduk sudah lama mengungsi karena beberapa jam yang lalu terjadi gempa disini tuan."


"Begitu."


Saat aku sedang mengobrol berdua dengan kougyoku. Monster itu mulai menyadari keberadaan kami dan mulai menerjang.


Aku mengeluarkan pedang kristal yang aku buat kemarin dan berlari ke arahnya.


Saat berada tepat di depannya, aku langsung melompat dan menusuk inti monster itu, dan seketika monster itu tidak bergerak lagi.


"Kuatnya!?"


Aku memilih untuk menyelesaikan ini secepat mungkin daripada ada yang melihatku dan akhirnya malah bertanya lagi.


Butuh beberapa menit untuk menyelesaikannya, dan akhirnya.


"Aku kelelahan." Aku duduk sambil kelelahan di reruntuhan rumah yang hancur sambil meratapi serpihan-serpihan monster itu.


Tidak mungkin semudah itu membunuhnya.


Walaupun kedua bahan sama dan berbenturan pada waktu yang sama. Tidak mungkin kulitnya kalah dengan pedang dengan mudah.


Pasti ada yang berbeda dari monster ini dengan monster yang aku hadapi kemaren itu.


Atau mungkin monster kemaren itu kelasnya sedikit lebih tinggi dari ini.


"Tuanku. Akan kita apakan serpihan ini?" Kougyoku yang berdiri di bahuku bertanya.


"Aku akan menyimpannya."


"Baiklah, tuanku."


Setelah istirahat sebentar, aku akhirnya memutuskan untuk pulang.


Saat tiba di rumah, aku langsung tersungkur di tempat tidur, namun ketika akan tidur karena kelelahan, tiba-tiba kepalaku berdengung.


"Halo Shin. Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya. Aku baik-baik saja, kenapa Dewa Semesta menghubungiku?"


"Ada yang ingin Aku ceritakan kepadamu. apakah kamu bisa kesini?"


"Membicarakan apa?"


"Apa yang sepertinya membuatmu bingung beberapa hari ini. Aku ingin membicarakan itu."


Yang membuatku bingung.


"Baiklah. Aku akan ke sana."


"Aku akan menunggu."


Aku menutup panggilanku dan langsung berpindah ke Alam Dewa.