Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 69 : Pedang Suci Lestin



Tapi aku kaget, walaupun usia Asha dan Chika sama, ternyata Asha lebih mengerti tentang ini daripada Chika.


Aku turun dari kursi penonton dan berjalan menghampiri Hilda. Ketika aku berjalan kerahnya, aku merasakan tatapan tajam menembus punggungku, tetapi aku memilih untuk pura-pura tidak tahu.


"Shin, aku benar-benar menang! Aku bisa menikahimu!"


Hilda tampaknya tidak berpikir terlalu keras tentang kekalahan kakeknya yang mencurigakan. Dia hanya merayakan saat pria tua itu mengerang dan menggerutu di lantai.


"Kamu telah berhasil mengalahkanku. Tapi ketahuilah ini. Kedua dan ketiga kalinya kamu datang padaku, aku tidak akan membuatnya begitu mudah." Kata mantan Raja.


"Ya ampun, apa kamuu, Hmm, Hah, lupakan." Aku berhenti berpikir dan mulai berteriak saat mendengar perkataan kakek tua itu.


Aku melemparkan sihir pemulihan kepada mantan Raja yang masih sedikit kesakitan.


Jujur, itu luar biasa bagiku mengetahui orang ini adalah Raja dari bangsawan yang mulia. Padahal, aku pernah mendengar bahwa dia diadopsi oleh generasi sebelum dia. jadi itu dapat menjelaskan mengapa dia tidak memiliki citra seorang ksatria.


Mantan Raja bangkit berdiri dan menoleh ke Hilda, tampaknya dia sudah benar-benar pulih.


"Tekadmu sudah jelas untukku, sayangku. Dengan demikian, kamu dapat menikah sekarang. Adapun tentang Raja Glory, aku juga tidak punya keluhan. Mulai sekarang, kamu bukan lagi seorang ksatria Lestin, jadi pastikan kamu berguna sebagai ksatria Glory."


"Kakek."


"Shin. Cucu perempuanku hanya berbakat dengan pedang, tapi aku mempercayakannya kepadamu sampai akhir waktu."


"Aku mengerti. Aku akan menjaganya." Mantan Raja mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya kepadaku.


"Ah-Juga. Siapa wanita dengan baju renang itu!? Biarkan aku melihatnya lagi! Bahkan jika hanya sekali, izinkan aku untuk membakar wujudnya yang menggairahkan ke dalam pikiranku!"


"Baju renang??"


Senyum Hilda terhenti dan di gantikan oleh tanda tanya besar di kepalanya.


Dia tahu ya. Apa model baju renang yang aku berikan kepada tuan Banri sudah mencapai Lestin.


"A-Ah. Tuan, j-jika Anda mau bersabar sebentar. Aku tidak bisa melakukannya di sini, jadi jika kita bisa pergi ke tempat lain."


"Ohoho, tidak masalah! Hilda, kamu pergi dengan yang lain. Aku yakin mereka akan menjagamu. Shin! Ayo pergi!"


Mantan Raja mencengkeram lenganku dengan kuat dan mulai menyeretku pergi. 


Aku agak terkejut dia tidak mengeluh tentang kekalahannya yang tidak adil itu. Tapi sebagian dari diriku bertanya-tanya apakah dia benar-benar menerima kehilangan cucunya dengan begitu mudah.


Dan pada akhirnya, dia membuatku menggunakan [Move Pictures] untuk mencetak ratusan gambar model baju renang yang bisa dia bawa pulang. 


Aku benar-benar bertanya-tanya dari mana kekuatan mesumnya berasal.


Aku kembali lagi ke kamarku, hanya untuk menemukan semua orang kecuali Chika dan Hilda menungguku. Mereka menginterogasiku dengan keras untuk sementara waktu, menanyakan preferensiku pada wanita. 


Mereka juga mengajukan pertanyaan tentang apakah payudara yang lebih besar lebih baik, apakah aku lebih suka wanita langsing, kencang, atau jika aku lebih suka jika mereka mengubah pakaian harian mereka ke versi yang lebih cabul dan nakal.


Mencium bau akan tibanya bencana, akupun langsung membungkuk dan memohon agar mereka berhenti. Sebagian besar karena mereka tiba-tiba mengusulkan agar mereka semua bisa mendapatkan pakaian yang lebih cabul dariku. 


Aku tidak bisa membiarkan mereka melakukan itu, ini sudah terlalu berlebihan.


Tapi.... Tapi mungkin itu akan menyenangkan untuk dilihat. Hehehehehe.


➖➖➖➖➖


Beberapa hari kemudian, aku membawa tamu Lestin kami melalui [Gate] kembali ke Kerajaan mereka.


Setibanya, aku langsung dibimbing ke istana Kerajaan mereka, dan akhirnya bertemu dengan Raja Ksatria, Reid De Lestin.


"Hmm. Mungkin agak terlambat bagiku untuk mengatakan ini, tapi cara ayahku melakukan sesuatu tentu sedikit liar. Secara keseluruhan, aku tidak keberatan dengan pernikahan Hilda. Raja Glory, aku harus memujimu karena menerima gadis kasar seperti Hilda. Dia tentu tomboy dalam prilakunya, tapi aku senang dia menyukaimu. Kami berhutang budi padamu."


"Aku setuju, terima kasih sudah menerimanya. Aku bangga padamu, Hilda. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaanmu."


"Selamat, Hilda. Tolong, Yang Mulia, jaga adik perempuanku."


Wow. Orang-orang ini. Raja, Ratu, dan Pangeran. Semuanya adalah orang baik. Orang tua aneh itu benar-benar mengacaukan pikiranku tentang keluarganya! Aku pikir orang-orang ini akan sama buruknya dengan dia, tetapi mereka sebenarnya cukup normal.


Atau mungkin itu karena mereka ada di sekitar Kakek tua ini. Keluarganya pasti menjadikannya contoh utama bagaimana seseorang yang tidak memiliki perilaku.


Raja tampaknya berusia sekitar lima puluh tahun. Rambutnya berwarna coklat gelap dan dipotong pendek, kumisnya juga sudah memiliki beberapa uban di sana-sini.


Sementara Ratunya, Esther De Lestin tampak berusia pertengahan empat puluhan. Dia juga memiliki aura lembut dan menenangkan.


Dia tampak sangat keibuan bagiku.


Kakak Hilda, Pangeran Reinhard, tentu saja tampak sama. Dia berusia dua puluhan dan memiliki rambut pirang keemasan seperti saudara perempuannya. Mereka kemungkinan mewarisinya dari ibu mereka.


Aku benci mengakuinya, lelaki itu juga sangat tampan. Kudengar dia juga bertunangan. Dari apa yang aku mengerti, dia bermartabat, terampil dengan pedang, dan cerdas. Dia pada dasarnya adalah kandidat yang ideal untuk menjadi Raja berikutnya.


"Ayah, Ibu, Kakak. Aku berjanji akan menemukan kebahagiaanku sendiri!" 


Hilda meneteskan air mata sukacita dan menarik pelukan dari ibunya.


Itu adalah pemandangan yang indah untuk ditonton, tetapi aku merasa tidak nyaman. Di sini sedang ada keluarga yang bahagia , tapi aku hanya dapat diam ditempat


"Sebenarnya, ahem. Sebenarnya ada alasan mengapa aku bahagia dengan pertunanganmu. Aku bermaksud untuk menurunkan tahta ke Reinhard. Tapi ada masalah kecil dengan pedang seremonial kami." Tiba-tiba saja Raja mengatakan niat keduanya kepadaku.


"Hmm? Apa itu?"


"Ah, itu adalah pedang suci yang telah ada di keluarga Kerajaan kami selama beberapa generasi. Namanya Pedang Suci Lestin. Itu adalah pedang yang menjadi dasar pemberian nama Kerajaan kami, dan merupakan simbol dari garis keluarga Kerajaan."


Ketika aku mendengar penjelasan Hilda, seorang ksatria memasuki ruangan dan menyerahkan sebuah kotak kayu panjang kepada Raja.


Raja Ksatria mengucapkan mantra tanpa bersuara, dan aku mendengar bunyi klik ketika kotak itu terbuka. Aku benar-benar mendengar desisan udara yang keluar, juga. Itu adalah wadah tertutup yang kedap udara! Kotak itu akhirnya terbuka dan memperlihatkan pedangnya yang indah.


Itu adalah pedang yang dihiasi dengan perak dan emas. Di sampingnya ada sarung yang indah dan penuh hiasan. Itu pasti sesuatu yang bisa dengan mudah disebut sebagai pedang Raja.


"Oh, begitu." Aku sedikit mengeluarkan senyum canggung ketika melihat masalahnya. 


Bilah yang menyilaukan itu terbelah dua, terbelah di titik tengah. Itu benar-benar hancur.


"Ini Pedang Suci Lestin. Ini hanya digunakan untuk keperluan upacara, atau jika Kerajaan kami sedang berperang. Kalau tidak, pedangnya akan disegel. Terakhir kali digunakan adalah selama pengangkatan formal Hilda sebagai seorang ksatria, tiga tahun lalu."


"Begitu aku memutuskan untuk turun tahta, aku melepas segel untuk mempersiapkan upacara.Tapi pedangnya jadi seperti ini. Aku tidak tahu mengapa bilahnya patah. Yang aku tahu adalah bahwa upacara tidak dapat dilakukan tanpa pedangnya."


"Aku khawatir tentang itu semua dan berpikir untuk membuat pedang palsu sebagai upaya terakhir, tapi kemudian, aku mendengar tentang Anda, Yang Mulia."


"Tentangku?"


"Ya. Aku mendengar dari para pedagang bahwa anda memiliki pedang yang sangat kuat dan indah. Para pedagang dan orang yang sudah melihat pedangmu mengatakan kalau itu pedang yang sangat indah."


Disaat Raja masih berbicara, aku secara tidak sadar mengeluarkan pedangku dari penyimpanan. Itu adalah pedang Mithril yang biasa aku gunakan untuk menghabisi Failer.


"Ya pedang itu. Jadi kami pikir jika seorang lelaki yang bisa membuat pedang semegah itu pasti akan bisa memperbaiki Pedang Lestin. Itu sebabnya ayahku pergi ke Glory atas namaku."


Setelah kalimat Raja baru selesai, mantan Raja alias ayahnya Raja juga menyampaikan pendangannya sendiri