Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 71 : Kenangan Lama



"Ke-kenapa kalian berpakaian seperti itu?" Kataku kepada mereka dengan wajah yang memerah.


Aku berusaha menutupi wajahku dengan kedua tanganku, tapi sekuat apapun aku berusaha, sifat alami pria tetap menguasaiku untuk terus menatapnya.


Mereka semua saat ini mengenakan pakaian SMA yang ada di dunia lamaku, dengan bagian atas yang dilengkapi dengan almamater dan rok yang berada di atas lutut membuat seluruh bagian paha mereka yang mulus terpampang jelas.


"I-ini untuk membuat Shin sedikit bahagia. Bukankah ini baju yang biasa Shin lihat?"


Apa-apaan pakaian itu. Aku saja belum lama memakainya semenjak masuk SMA, tapi mereka yang dari dunia lain malah memakainya dengan mudah.


"Dari mana kalian mendapatkan pakaian itu?"


"Dari toko baju Banri."


Banri. Apa aku tidak sengaja memasukkan baju itu di dalam daftar baju yang aku berikan kepadanya.


"Siapa yang mengatakan kalau itu baju yang biasa aku lihat?"


"Kak Kaori."


Kaori. Awas saja nanti, jatah cemilannya akan ku kurangi.


Disaat aku bergumam, aku dapat merasakan kalau Kaori yang tidak berada sekitarku saat ini sedang tertawa riang.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanyaku


".........."


➖➖➖➖➖


Beberapa jam setelah Hilda menang dari kakeknya dalam duel dan ditetapkan sebagai tunangan Shin


Tepatnya di taman istana tempat para gadis biasanya melakukan pembicaraan ringan.


"Selamat kamu telah resmi masuk dalam jajaran keluarga kami Hilda."


"Terima kasih." Jawab Hilda dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Oh ya. Aku mau tanya Hilda, bukannya kamu memiliki acara pengangkatan menjadi komandan di Lestin. Kalau kamu berada disini mulai sekarang, bagaimana dengan posisimu disana?" Kyou yang duduk di tengah-tengah Ryou dan Rin berbicara.


"Jangan khawatir, masih banyak orang yang lebih pantas dariku untuk menjabat posisi itu. Kakekku juga mengatakan kalau mulai sekarang aku adalah ksatria Glory, jadi dia pasti memiliki orang yang bisa menggantikan posisiku disana."


"Syukurlah."


"Mari kita rubah topik sekarang, ayo kita membicarakan tentang Shin." Airi yang dari tadi diam sambil memakan kue buatannya sendiri sekarang memilih untuk buka mulut


"Bicara tentang Shin, dimana dia sekarang." Sambung Hana.


"Kata Laim, dia saat ini sedang berada di ibukota untuk melihat-lihat situasi." Jawab Miku.


"Shin memang selalu perhatian kepada rakyatnya ya." Rin yang sedang menyeruput teh juga berbicara.


Selagi semua orang sedang membicarakan tentang Shin, di balik itu semua Hilda malah tampak ragu dan canggung.


Beberapa menit lamanya Hilda terkurung di dalam pikirannya sendiri, matanya juga kadang-kadang menatap kemana saja seakan-akan sedang mencari seseorang. Merasa orang yang dia cari tidak dia temukan, dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf mengganggu, tapi sebagai anggota baru aku akan merasa baik kalau kalian mau mendengarkanku."


"Tidak apa-apa. Apa itu?" Miku meraih keripik kentang ketika dia menjawab Hilda.


Fungsi pertemuan ini sebenarnya juga sebagai pesta penyambutan Hilda. Semua orang bermaksud menjawab semua pertanyaan yang mereka bisa jawab dari Hilda.


"Bagaimana kalian menggambarkan orang tuanya Shin? Karena aku saat ini adalah tunangannya, aku pikir mungkin cocok untuk memperkenalkan diri kepada mereka."


"Ah, tentang itu." Semua gadis yang ada di sana saat Hilda melontarkan pertanyaan menjadi terdiam.


Mereka tahu kalau Shin berasal dari dunia lain, tapi mereka tidak tahu bagaimana dengan orang tuanya Shin.


Shin tidak pernah sekalipun membahas tentang kedua orang tuanya kepada mereka dan mereka juga tidak mau menanyakan apa yang Shin tidak ingin bicarakan.


"Sebenarnya, kami belum pernah bertemu orang tua Shin."


"Benarkah!? A-Apa orang tuanya meninggal?"


"Aku pikir mungkin tidak, tapi aku tidak terlalu yakin karena Shin sepertinya tidak ingin membicarakan masalah keluarganya." Ryou menjawab pertanyaan Hilda dengan agak ragu-ragu.


Jelas sekali ekspresi sedih dari wajah semua gadis kecuali Hilda. Mereka merasa agak tersisih dari kenyataan bahwa mereka bahkan tidak tahu struktur keluarganya Shin meskipun mereka bertunangan dengannya.


Ryou dan yang lainnya mengerti bahwa alih-alih tidak ingin mengatakan sesuatu tentang keluarganya, Shin nampaknya memiliki beberapa keraguan yang membuatnya tidak bisa membicarakannya.


Mendengar ini, Hilda tiba-tiba menyadarinya. Karena Shin memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak aneh baginya untuk terasingkan dari keluarganya. Kekuatan besar bisa membawa kemalangan yang besar pula.


"Apa dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan_"


"Jawaban yang salah! Bukan karena keluarganya membencinya. Situasinya hanya sedikit rumit. Menjelaskan apa yang terjadi pada kalian semua akan menjadi agak sulit, kalian tahu itu kan?"


Para gadis yang mengetahui maksud dari kalimat itu hanya dapat menganguk dengan serentak.


"Tunggu saja sampai dia siap untuk membicarakannya." 


Merasa bahwa suara yang berbicara tadi bukan berasal dari para gadis yang hadir. Semua orang perlahan mulai menatap sumber suara itu.


"K-Kakak Kaori!?"


Kakak Shin, Tatsuya Kaori mendadak saja berada di sebelah Airi.


"Kapan kamu tiba disini?"


Hilda tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada kenyataan bahwa Kaori sama sekali tidak terdeteksi.


Dia duduk dengan santai seolah-olah dia telah duduk di sana sepanjang waktu, tetapi yakinlah, kursi itu kosong sampai tiga detik yang lalu.


Hilda berpikir bahwa dia mungkin menggunakan sihir transportasi. Tidak aneh baginya untuk memiliki kemampuan yang sama dengan adiknya.


Sementara Hilda memiliki pemikiran seperti itu dalam benaknya, Kaori malah menyeringai sendiri.


"Tidak ada alasan untuk terburu-buru. Dia perlahan akan memberitahumu tentang hal itu jika kamu meluangkan waktu untuk mengenalnya lebih dalam."


"Kami mendengar kak."


"Yah, kamu ingin tahu segalanya tentang orang yang kamu cintai! saya menyadari seorang gadis yang dilanda cinta saat ini. Dan di situlah saya akan turun tangan! saya akan memberitahukan sebuah informasi."


Telinga semua orang mulai bergerak-gerak sebagai tanggapan atas kata-kata Kaori.


Ryou menelan ludah saat dia duduk tepat di seberang Kaori dan membuka mulutnya.


"I-Informasi macam apa kak?"


"Hehehe. Saya akan memberitahukan kalian cinta pertama Shin sejak usia dini! Bagaimana tentang itu?"


"C-cinta pertama!? Shin!?" Miku yang awalnya diam sekarang sangat terkejut.


Tidak ada hubungan darah antara Shin dan Kaori. Jelas, Kaori tidak tinggal bersamanya selama masa kanak-kanak mereka, dan dia tidak harus memiliki pengetahuan tentang itu sama sekali. Tetapi pada akhirnya, Kaori adalah seorang Dewi Cinta.


Tidak ada hubungan cinta yang bisa lepas dari jangkauan Kaori. Dia tahu segalanya tentang kehidupan Shin, setidaknya dalam aspek romantis.


Kaori tahu tentang berbagai jenis gadis yang pernah Shin temui sampai ke majalah porno pertama yang dibelinya.


Kaori memandang ke setiap gadis di sana dengan senyum nakal di wajahnya.


"Mau dengar tentang itu?"


"Mau!?" Mereka semua mengangguk dengan antusias.


Anggukan itu membuat Kaisar Surgawi yang berada di pangkuan Hana, yang sangat setia kepada tuannya, mulai panik. Lagipula, privasi Shin saat ini berada dalam bahaya besar.


Haku menyadari ketidaktahuannya tentang kepekaan manusia, tetapi makhluk itu tahu betul bahwa ia harus memberitahu tuannya tentang hal ini.


Dia mencoba menghubunginya melalui telepati, tetapi sayangnya, itu tidak berhasil. Bingung dengan apa yang terjadi, Haku mengangkat kepala dan melihat Kaori mengedipkan matanya


Meskipun dia tidak menyadari bagaimana Kaori melakukannya, Haku menjadi sangat yakin bahwa Kaori adalah orang yang mencegahnya menghubungi tuannya.


"Tuan, maafkan ketidakberdayaan hamba." Gumam Haku sambil menutup kedua matanya, saat ini dia benar-benar sedih.


➖➖➖➖➖


Itulah yang sebenarnya terjadi. Saat mereka mengetahui kalau Shin akan pergi ke Lentin, mereka mulai mencari baju di toko banri dengan bantuan Kaori.


Tidak lupa juga mereka melakukan pengukuran kepada Hilda sebelum dia pergi karena mereka tidak akan sempat mencarikan baju untuknya selagi dia berada di Lestin.


Shin hanya dapat terdiam tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di hadapannya. Dia terus menatap semua gadis itu dengan tatapan penasaran, dan para gadis juga menatapnya dengan tatapan malu-malu seakan-akan ingin mengatakan sesuatu.