Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 76 : Bagi-bagi Hadiah



Para gadis mengambilnya dengan mata yang seakan-akan mengungkapkan kalau mereka semua tahu apa itu.


"S-shin. Bukankah ini?"


"Benar. Ini smartphone."


Smartphone yang berhasil di duplikatkan oleh Dokter juga aku serahkan kepada para gadis.


"Apa Dokter berhasil membuatnya?"


"Iya, dia berhasil membuatnya."


"Wahh. Dokter memang orang yang jenius ya, Shin?" Ujar Rin sambil memandang smartphone yang dia pegang.


"Y-ya. Ka-kamu benar."


Walaupun otaknya jenius. Tapi sifat cabulnya sudah menutupi semua kejeniusannya. Saat ini dia tidak lebih dari orang cabul yang gila penemuan.


Para gadis mulai memandangi smartphone dengan seksama, saking seksamanya aku sampai bisa melihat bayangan bintang di mata mereka semua.


Bentuk smartphone para gadis secara fisik sama dengan yang di pegang oleh para Raja, tapi untuk membedakannya dari yang lain, smartphone mereka diberi sentuhan logo Glory di belakangnya.


Karena aku menggunakan warna merah muda untuk smartphone mereka, jadi smartphone mereka sekarang jadi kelihatan model cewek sekali.


Warna smartphone yang tersedia saat ini hanya warna putih, semua yang akan aku berikan smartphone hanya akan mendapat warna putih. Tapi itu mungkin akan sedikit berbeda untuk anggota keluargaku, warna mereka akan berbeda dari yang dimiliki oleh orang lain.


"Apa kalian suka?"


"Ya. Kami sangat menyukainya, terima kasih Shin."


"Apa kalian sudah mengerti cara pakainya?"


"Ya. Kami sudah mempelajari dasar-dasarnya dari Liora."


"Baguslah. Aku sudah menyimpan nomorku dan nomor yang lainnya di smartphone kalian masing-masing. Kalau ada yang ingin kalian bicarakan, kalian semua bisa menghubungiku."


Mereka semua memegangi smartphone mereka dengan sangat bahagia sambil terus mendengarkan nasehatku.


Aku tidak tahu apa yang membuat mereka bahagia, tapi ya sudahlah.


Dengan hati-hati, mereka mulai menyalakannya dan mengecek daftar kontak mereka masing-masing.


"Kalau kalian ingin memasukkan nomor orang lain, silakan saja. Aku juga akan memberi smartphone ke beberapa orang lagi."


Baru saja aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba angin dingin menyapu punggungku. Dan saat aku melihatnya, sumbernya berasal dari para gadis yang berdiri di depanku.


"Ap-apa ada sesuatu yang salah?" Tanyaku dengan keringat dingin yang bercucuran deras.


Tidak ada yang menjawab pertanyaanku sampai akhirnya Miku sendiri yang menjawabnya.


"Apa kamu ingin kami menyimpan nomor pria lain dan menghubunginya tanpa sepengetahuan dari calon tunangan kami sendiri?"


"HAHH!?!? y-yah. Bu-bukan itu maksudku."


"Kami tahu maksudmu Shin, tapi kami tidak akan menyimpan nomor pria lain selain nomormu di smartphone kami." Ryou menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya dimaksud oleh Miku.


Mata mereka mulai bersinar saat kalimat Ryou selesai di ucapkan. Seolah-olah mereka saat ini sedang menantikan tanggapanku, tapi aku hanya mengatakan kepada mereka apa yang aku pikirkan.


"Y-ya. Aku senang kalau kalian berpikiran seperti itu. Tapi aku juga percaya kalau kalian bukan orang yang seperti itu." Aku mengatakan itu sambil mengusap kepala Asha dan Chika yang berdiri di dekatku.


Mereka berdua yang aku usap kepalanya menjadi memerah dari wajah sampai ke telinganya. Tapi raut wajah cemburu juga terlihat dari wajah gadis lainnya yang melihat apa yang aku lakukan.


Kenapa dengan mereka.


"Ap-apa kalian sudah makan siang?" Tanyaku untuk mengubah topik, karena semakin lama aku berada disini, semakin banyak pula kesalahpahaman yang akan terjadi.


"Belum." Jawab Chika dan Asha.


"Tadi aku sedang belajar membuat masakan baru, apa kamu mau mencobanya Shin?" Airi dengan antusias menanyakan itu kepadaku sambil sekalian menunggu jawaban langsung dariku.


"Oh ya, aku akan mencobanya." Jawabku.


"Horee. Ayo kita ke ruang makan Shin?"


Airi mulai menarik-narik tanganku ke arah ruang makan, para gadis yang mengikuti di belakang hanya dapat tersenyum sendiri saat melihat tingkah Airi yang sangat bersemangat kalau soal masak-memasak.


Sesampainya di ruang makan, aku langsung dituntun olehnya untuk duduk di kursi, sementara dia pergi ke dapur untuk mengambil makanannya.


Entah apa yang aku rasakan saat melihat dia berlarian ke dapur, tapi sekarang aku malah merasa seperti seorang ayah yang sedang menunggu masakan buatan anaknya.


Ya. Akan aku nikmati saja masakannya.


➖➖➖➖➖


Setelah dari istana untuk memberikan smartphone kepada para gadis dan mencoba masakan yang di buat oleh Airi. Sekarang aku berpindah ke barak pelatihan.


"Pertandingan selesai."


Dua pedang kayu berbenturan serentak disaat tanda bahwa duel berakhir dibunyikan.


"B-baik."


Yang aku lihat saat berada disana adalah duel antara ksatria yang di wasit kan oleh kak Safira.


Semenjak pengumuman tentang Pasukan Sparta, semua ksatria mulai berlatih keras dalam hal berpedang maupun dalam hal mengemudikan Frame Rescue.


Semua itu demi bisa diterima di dalam Pasukan Sparta, mengingat hanya enam puluh orang yang akan diterima.


Mereka sangat bersemangat ya.


"Yo, Shin."


Kak Safira ternyata menyadari kehadiaranku dan langsung berjalan mendekat ke arahku dengan wibawa besarnya juga.


"Hmm. Mereka sudah mulai bisa mengikuti pelatihanku, tinggal dipoles sedikit saja mereka akan hebat. Ya, walaupun tidak akan bisa melampauimu sih Shin, kamu merupakan manusia dengan keahlian berpedang terkuat di dunia ini."


"Hahaha. Kakak bisa saja. Aku memang kuat dalam berpedang, tapi itu harus aku imbangi dengan sihir. Kalau murni berpedang saja aku tidak akan bisa."


Keahlian berpedangku menurut Rin agak kacau tapi dia heran kenapa ayunan pedangku yang berantakan bisa menghasilkan dampak yang sangat kuat, awalnya aku tidak memikirkannya tapi sekarang aku tahu penyebabnya.


Walaupun aku merupakan anggota klub kendo di sekolahku, tapi tetap saja ayunan pedangku tidak sehebat teman satu klub sekaligus seangkatanku. Dan sekarang dengan bantuan sihir, ayunan pedang yang berantakan pun bisa berdampak besar.


"Jadi apa yang membawamu kesini?" Tanya kak Safira.


"Aku ingin menyerahkan ini kepadamu."


Aku mengeluarkan smartphone dari [Storage] dan memberikannya kepadanya. Berbeda dengan yang dimiliki para gadis, untuk Kak Safira aku lebih memilih warna biru sama seperti warna rambutnya.


"Wah, apa ini smartphone?"


"Benar."


"Aku bisa saja menghubungimu melalui telepati, tapi tetap saja aku akan berterima kasih atas pemberianmu."


"M-mungkin lebih baik kalau kakak menghubungiku dengan ini saja gimulai sekarang... Oh, ya. Sekalian berikan untuk Kak Kaori dan Kak Viola."


Aku mengeluarkan smartphone lain dan menyerahkannya lagi ke Kak Safira. Warnanya saat ini berbeda lagi, yang merah muda untuk Kak Kaori dan yang ungu untuk Kak Viola. Ya. Itu juga sesuai dengan rambut mereka.


"Hah. Kenapa tidak kamu saja yang memberikannya?"


"Aku tidak dapat menemukan mereka."


Sebelum kesini, aku tadi sudah mencari keberadaan Dewi itu dimana-mana tapi aku tidak menemukannya.


"O-oh. Baiklah, akan aku serahkan." Kak Safira langsung memasukannya dengan dalam ruang yang sedikit berbeda dengan mantra [Storage]ku.


Dia memang Kakak yang baik. Aku heran, kenapa ya dari ketiga Dewi itu cuma Kaori saja yang seperti kehilangan kewibawaannya sebagai Dewi semenjak tinggal disini. Apa dia salah makan.


"Shin, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu, lebih baik kamu tanyakan saja kepadanya langsung." Dengan mata nakalnya, dia menggodaku.


"Ma-maaf Kak."


"Haha. Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Okelah. Aku juga masih ada urusan disini."


Setelah percakapan antara aku dengan Kak Safira, kami mulai berpencar untuk melakukan aktivitas masing-masing.


Aku juga langsung pergi ke arah Komandan dan Wakil Komandan yang tengah beristirahat dari latihannya.


"Sepertinya kalian bertiga berusaha keras ya."


"Hah!? Y-yang Mulia, m-maaf karena kami menunjukkan sesuatu yang buruk."


"Tidak apa-apa. Aku juga sedang santai saat ini."


Walaupun sudah aku tenangkan, tapi tetap saja rasa bersalah di diri mereka bertiga tidak hilang. Dengan wajah yang masih menatap lantai, mereka merasakan kecanggungan saat ini.


"Apa para ksatria berlatih dengan baik?"


"Y-ya Yang Mulia. Para ksatria sangat antusias dan mulai berlatih dengan giat."


Dengan antusias mereka saat ini, apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak diterima nanti ya.


"Apa yang membuat mereka sangat bersemangat?"


"Ada yang mengatakan untuk bisa masuk Pasukan Sparta, tapi kebanyakan karena ingin melindungi dunia saat Failer muncul lagi."


"Itu motivasi yang bagus."


Syukurlah ternyata mereka memiliki tujuan lain daripada Pasukan Sparta.


"Oh ya. Aku ingin memberikan ini kepada kalian bertiga."


Sekali lagi aku mengeluarkan dan menyerahkan smartphone kepada Lain, Norn dan Nikola.


Mereka menerimanya dengan kebingungan yang terlukis jelas di mata mereka bertiga


"Ap-apa ini Yang Mulia?" Tanya Lain.


"Kalian tahu smartphone ku ini?"


Untuk memberi mereka petunjuk, aku memutuskan untuk mengeluarkan smartphone milikku sendiri.


"Ya. Kami tahu itu."


"Yang kalian pegang itu merupakan benda yang sama secara fungsinya dengan yang aku miliki, hanya ada beberapa saja yang berbeda dari keduanya. Tapi tetap saja itu sama."


"Wahh!?!?"


Mata mereka tiba-tiba mengeluarkan bintang sama seperti para gadis. Dengan hati-hati mereka mulai melihat bentuknya secara fisik. Ditengah kekaguman mereka, Norn tiba-tiba angkat bicara.


"Ap-apa Yang Mulia berniat memberikan kami benda yang sangat luar biasa ini?"


"Ya. Ini diperlukan saat kalian ingin melapor kepadaku atau berbicara dengan orang lain kan?"


"Memang benar sih. Tapi ini sudah terlalu banyak, Yang Mulia."


Sepertinya mereka terlalu canggung untuk menerimanya.


"Hmm. Terima saja ya. Apa kalian ingin mengabaikan pemberian dariku?"


"Ti-tidak, Yang Mulia. Maafkan kami."Jawab mereka secara serentak.


"Baguslah." Sambungku diiringi dengan senyuman ringan.