
"Ohh, jadi caranya seperti ini ya."
"Hmm. benar, kalau anda menekan gambar ini, nanti akan ada sesuatu yang keluar."
Saat ini di ruangan rapat sedang ada les privat. Seperti namanya, aku sedang mangajari para Raja agar bisa menggunakan smartphone dengan benar.
Awalnya mereka takut-takut, tapi pada akhirnya saat sesuatu yang mereka coba itu berhasil, tawa riang dan senyum bahagia terpampang di wajah mereka semua.
Perlahan tapi pasti mereka sudah mulai mengerti tata cara penggunaannya.
"Raja Glory. Kalau gambar ini apa kegunaannya?"
Menanggapi perkataan Raja Lestin, akupun langsung menghampirinya.
"Hmm. Coba pencet!"
Raja kemudian memencet sebuah gambar di layar smartphonenya, tiba-tiba.
"Hah!? Kenapa tiba-tiba layarnya malah menampilkan telapak tanganku?" Gumam herannya.
"Itu disebut dengan kamera, kegunaannya untuk mengambil gambar atau merekam video."
"Apa seperti gambar yang anda berikan kepada kakekku waktu itu?"
Gambar gadis yang memakai baju renang itu ya. Bagaimana dia bisa mengetahuinya.
Sambil menggumamkan itu, diam-diam aku berharap semoga kakek mesum itu tidak berlarian di koridor istana sambil mengangkat-ngangkat gambar gadis berbaju renang itu.
"Y-ya. Kurang lebih seperti itu cara kerjanya." Kataku dengan senyuman canggung diwajahku.
Mendengar fakta membuat wajah Raja muda itu sedikit pucat dan badannya juga mulai merinding. Tangan gemetarnya yang masih memegang smartphone itu sedikit membuatku keheranan.
"Apa ada yang salah?" Tanyaku.
"Ti-tidak ada. Hanya saja aku berpikir untuk tidak memberitahu kakekku kalau anda memberikanku benda ini."
"Beg-begitu ya."
Ternyata firasatku benar. Kakek tua itu pasti memamerkan gambar itu ke semua orang di istana.
"Semoga kakek anda bisa sedikit sopan selayaknya bangsawan ya?"
"Anda benar, Raja Glory." Ujarnya sambil diiringi helahan nafas kecil.
Melupakan masalah keluarga Lestin, akupun kembali melanjutkan pelajarannya.
"Shin. Kalau ini apa gunanya?"
"Hmm. Oh, ini bisa digunakan untuk melihat jam."
"Jadi kita bisa melihat tanggal, itu akan sangat berguna." Suara gembira keluar begitu saja dari mulut Raja Halman.
Apa dia selalu lupa tanggal ya. Aku yakin itu.
"Kalau yang ini?" Suara pertanyaan lain datang dari Raja Orphen.
"Yang ini gunanya..."
Intinya, aku menjelaskan semua hal yang ada di smartphone itu kepada mereka.
Tentu saja aplikasi yang ada di dalamnya tidak sebanyak yang aku punya. Tapi itu sudah cukup menurutku.
Di dalam smartphone itu terdapat jam, kalender, memo, kontak dan kamera. Hanya itu saja yang terpikirkan olehku.
Aku belum memikirkan untuk memasukkan permainan kedalamnya karena mereka juga belum tahu apa permainan itu.
Dan mengenai Prototype pertama yang dibuat oleh dokter. Benda yang bisa menyebabkan bencana nasional itu sudah dihancurkan, semua aplikasi yang menurutku berbahaya juga sudah dihapus dan diganti menurut apa yang aku minta padanya sebelumnya.
Walaupun wajahnya tidak senang, tapi dia masih mau mengerjakan smartphone itu sampai selesai. Dia memang ilmuwan yang profesional.
"Anda tadi mengatakan kalau ini merupakan pemecah masalah kita. Apa maksudnya?" Ratu Roadmare melontarkan pertanyaan kepadaku setelah dia selesai dengan smartphonenya.
"Oh. Coba anda tekan yang bergambar itu!" Kataku sambil menunjuk sebuah aplikasi telepon dengan ikon berupa telepon jaman dulu.
Ratu mulai mendekatkan jarinya sesuai perintahku, dan disaat jarinya berhasil menyentuh gambar itu.
"Hah. Ap-apa ini!?"
"Tenang-tenang, ini hanya daftar kontak." Ujarku untuk menenangkan Ratu yang masih kaget itu.
Melihat ekspresi Ratu yang seperti itu membuat hatiku dipenuhi rasa bersalah karena mengejutkannya dengan apa yang seharusnya orang biasa di akan kaget.
"Daf-daftar kontak!? Apa itu?"
"Coba anda geser kebawah. Disana akan ada nama-nama orang yang bisa anda hubungi. Mungkin ini lebih mirip saat anda menghubungiku dengan perantara Guild, hanya saja ini anda lakukan langsung dari tangan anda sendiri."
Ratu mulai mengerti dengan apa yang aku katakan. Itu dapat dilihat dari jarinya yang mulai bergerak-gerak di atas layarnya.
"Kalau anda ingin menghubungi seseorang, cari namanya di daftar kontak itu!"
Menganggukkan perkataanku, Ratu mulai menggeser layarnya kebawah. Setelah menemukan nama yang dia cari, dengan ragu-ragu dia menekannya.
Tiba-tiba saja smartphoneku bergetar di dalam saku dadaku. Aku langsung mengeluarkan dan memeriksanya.
Terdapat panggilan dengan nama pemanggil "Ratu Roadmare"
Aku yang menerima itu otomatis memandangi Ratu yang berdiri di depanku. Dia hanya tersenyum lembut seakan-akan berhasil melakukan sesuatu.
"Sepertinya berhasil ya." Ujarnya kepadaku.
Para Raja yang dari tadi memperhatikan kami mulai mengerubungi kami berdua untuk melihat bagaimana cara kerjanya.
"Ya, saat kalian mendapatkan panggilan dengan tampilan seperti ini. Itu berarti bahwa orang yang namanya tertulis di layar ini sedang menghubungi anda."
".........." Semuanya hanya terdiam di atas penjelasanku.
"Dan untuk menerimanya, anda hanya perlu menggeser gambar bertulisan terima ini ke atas. Setelah digeser, letakkan smartphone anda ketelinga dan mulailah berbicara!"
Semua orang mengangguk serentak, itu juga membuatku senang melihat mereka mengerti terhadap penjelasanku yang sedikit ambur radur.
Aku melihat keseliling hanya untuk menemukan Raja Freedom sedang mencoba menghububungi seseorang.
Ya. Yang benar saja, tiba-tiba saja smartphone nya Raja Lestin berdering.
"A-ah. Ap-apa ada yang menghubungiku!?" Teriak paniknya.
Saking paniknya, smartphone nya hampir saja lepas dari genggamannya.
Dia dengan cepat mulai menggeser sesuai apa yang di aku ajarkan tadi.
"Ha-halo!"
"Yo. Ternyata berjalan dengan baik." Balas suara itu dengan nada sedikit menjengkelkan.
Merasa dia ternyata di kerjai, Raja Lestin langsung menatap ke arah Raja Freedom yang saat ini sedang tertawa riang.
Mereka masih bisa bercanda di situasi saat ini ya.
"Baik-baik. Harap kembali duduk di tempat masing-masing!" Teriakku dengan sopan kepada semua orang.
Kesimpulan dari pertemuan ini ingin aku umumkan kepada para Raja.
"Berdasarkan dengan masalah yang sudah kita bicarakan. Pertama masalah pasukan, pilihlah enam puluh ksatria kalian dengan cermat. Kedua masalah menghubungi, dengan smartphone ini kita akan bisa saling berkomunikasi dengan baik. Jadi masalah kita sudah teratasi."
Semua orang mengangguk dalam diam saat mendengar penjelasan singkatku. Tapi kemudian Raja Strom angkat suara.
"Bagaimana kalau pasukan enam puluh orang itu kita beri nama!?"
Perkataannya ternyata membuat otak Raja lainnya mulai berputar kembali.
Nama lagi. Kenapa harus nama lagi sih.
Selagi yang lain berpikir, aku hanya dapat bergumam bersama kesesalanku sendiri.
"Tidak ada yang cocok dipikiranku. Apa ada saran yang lain?" Kaisar Gardio ternyata sudah menyerah dan malah melemparkan tugas itu kepada yang lainnya.
Raja yang mendapatkan tugas itu juga tidak dapat memikirkan nama yang cocok.
Namun, tiba-tiba saja hawa dingin membungkus tubuhku, disaat aku menyadarinya, ternyata sumbernya berasal dari para Raja yang sudah putus asa.
Apa-apaan mereka ini. Tugasnya main dilempar-lempar saja kepadaku.
"Ya-ya. Akan aku pikirkan."
Senyuman puas langsung menerpa wajah mereka. Tapi senyuman itu malah menambah kekesalanku.
Nama ya. Pasukan kristal, ah tidak. Coba aku ingat legenda. Pasukan romawi, tidak-tidak. Pasukan sparta, hmm. Apa itu saja ya. Ya terserahlah, yang penting pasukannya sudah punya nama.
"Bagaimana kalau Sparta?"
"Sparta!?" Begitulah suara serentak mereka saat mengulangi namanya.
Woi kalian. Apa namanya kurang menarik ya. Memang benar sih kalau nama itu biasa sekali.
"Ap-apa ada yang salah?"
"Tidak-tidak. Itu nama yang bagus. Pasukan Sparta. Nama itu akan terukir di dalam sejarah mulai sekarang." Raja Strom mulai memuji mana asal-asalan yang aku berikan kepadanya.
Para Raja lainnya juga tampak tidak mempermasalahkan nama itu, semuanya hanya mengangguk santai saat mengingat-ngingat nama yang masih dipuji oleh Raja Strom itu.
Tapi aku yang mengusulkan nama itu malah terlihat geli sendiri saat mengingat kalau nama itu akan terukir di cacatan sejarah dunia.
Terserahlah. Yang penting masalah nama sudah teratasi.
Setelah tidak ada lagi yang akan didiskusikan, rapat pun akhirnya diakhiri. Semua orang di kirim kembali ke Kerajaan mereka masing-masing menggunakan [Gate].
Aku juga kembali lagi ke istana untuk istirahat sebentar sebelum pergi kembali.
Rencananya setelah rapat, aku akan langsung pergi ke Guild, tapi karena lelah, akupun memilih untuk istirahat sejenak di istana.