Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 61 : Masa Depan Slave



Saat ini aku masih berada di Guild untuk menemui Kepala Guild Relisha.


Berdiri dalam diam sambil menanti izin dari staf yang sedang meminta izin kepadanya.


Beberapa menit kemudian, staf yang tadi menaiki tangga sekarang sudah kembali kebawah untuk menemuiku.


"Maaf menunggu lama. Silakan masuk Yan_ Opss, Tu-tuan. Kepala Guild telah menunggu di ruangannya."


Barusan dia mau mangatakan Yang Mulia.


"B-baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu."


Pergi meninggalkan staf yang kemerahan di wajahnya itu dan menuju ke arah tangga. Setelah menaiki beberapa anak tangga, akupun tiba di depan sebuab pintu.


"Permisi."


"Ya. Silakan masuk."


Sesuai dengan apa yang dia katakan, akupun membuka pintu.


Yang terlihat disana hanyalah seorang gadis Kepala Guild yang tengah duduk santai di sofa sambil menyeruput teh.


"Apa kabar, Yang Mulia?"


Yang Mulia!? Kenapa semua orang mulai bersikap formal lagi padaku ya.


"Aku baik."


"Baguslah. Silakan duduk!"


Ketika aku duduk tepat berada di depannya, diapun langsung berdiri dan menatapku.


"Apa mau saya buatkan minum?"


"Boleh!? Kalau begitu aku minta teh."


"Baiklah. Tunggu sebentar."


Relisha pergi menuju ke meja dekat pintu tempat aku masuk tadi. Dia mulai meracik teh dan menyeduhnya dengan air panas.


Setelah selesai, dia langsung membawa teh itu dan meletakkannya di atas meja.


"Ini tehnya, Yang Mulia."


"Terima kasih."


Mendapatkan kata terima kasih dariku membuatnya membalas senyumanku dengan senyuman lain sambil kembali duduk di depanku.


"Jadi. Apa ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?"


"Tidak terlalu. Aku hanya ingin tahu perkembangan dunia setalah penyerangan di Slave dulu."


Tidak ada yang mau mengatakan kejadian setelah itu padaku. Aku tahu kalau mereka tidak mau membuatku mengingat sesuatu yang menyakitkan itu. Tapi aku benar-benar ingin tahu.


"Hmm. Begitu ya."


".........."


Tanpa mendengarkan balasan dari perkataannya, dia berdiri dan pergi menuju ke rak buku di belakang sofanya. Mengambil sebuah buku yang seperti catatan dan kembali duduk di depanku.


"Hmm. Setelah Yang Mulia tidak sadarkan diri, serangan Failer bisa di selesaikan oleh para Ksatria. Yang Mulia Ratu Rin dan Yang Mulia Ratu Kyou juga langsung membawa Yang Mulia pergi dari sana."


"Dan keesokannya, rumor mulai menyebar ke seluruh Slave, bahkan keluar dari Slave."


"Apa tanggapan Kerajaan lain tentang rumor itu?" Tanyaku.


"Mereka hanya diam saja. Mungkin itu karena mereka belum tahu sepenuhnya dari invasi Failer ini."


"Terus, bagaimana keadaan penduduk Slave yang masih memilih untuk bertahan?" Sekali lagi aku bertanya padanya.


Setahuku ada penduduk Slave yang memilih untuk bertahan di tanah itu.


"Tanah yang hancur tak bersisa. Yang Mulia pasti tahu apa yang terjadi kan?"


"Apa mereka semua kesulitan hidup karena tidak bisa berbuat apa-apa pada tanahnya?"


"Ya, begitulah."


Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus membantu mereka. Tapi kalau seperti itu, nanti pasti ada sekelompok orang yang beranggapan kalau aku hanyalah mencari-cari simpati.


Tapi kalau tidak dibantu, nasib mereka akan berada di ujung tanduk.


Hah. Serba salah.


Begitulah gumamanku di tempat itu.


"Apa ada sesuatu Yang Mulia pikirkan?"


"Ehh. Y-ya. Aku hanya berpikir tentang bagaimana caraku untuk membantu penduduk Slave yang masih bertahan itu tanpa membuat orang lain tahu kalau itu adalah bantuan dariku."


"Yang Mulia memang orang yang baik. Walaupun mereka sudah menyebarkan rumor buruk, tapi tetap saja Yang Mulia bantu." Ujarnya dengan senyuman yang mengisyaratkan kalau "Saya bangga memiliki Raja seperti dia."


"Ya. Bagaimanapun juga, kehancuran Slave itu juga salahku karena tidak bisa dengan cepat memusnakan Failer." Kataku sambil mengangkat gelas teh itu mendekati bibirku.


"Itu bukan salah Yang Mulia."


"Terima kasih atas perhatiannya."


"Tidak masalah. Kalau begitu, saya memiliki sebuah usul."


"Apa itu?"


"Bagaimana kalau Guild saja yang menyalurkan bantuan Yang Mulia kepada penduduk Slave. Jadi tidak akan ada yang curiga tentang asal usul dari bantuan itu?"


"Itu ide yang bagus."


Memberikan bantuan dariku dengan mengatasnamakan Guild akan membuat mereka lebih senang menerimanya.


"Saya akan mengaturnya."


➖➖➖➖➖


Setelah kembali dari Guild, aku langsung bertolak untuk menemui Kazuo guna membicarakan tentang bantuan Slave.


Walaupun awalnya dia memprotes usulanku karena melihat respon Slave terhadap bantuan kami dalam membunuh Failer, tapi akhirnya dia setuju setelah aku mengatakan kalau ini juga salah kita karena terlalu lama memusnakan Failer yang menyerang.


Tanpa bisa menolak lagi, dia langsung mengerjakan tugas dari Rajanya yaitu menyiapkan bantuan untuk Slave dan mengirimnya ke Guild sebagai perantara.


Aku juga langsung pergi meninggalkan Kazuo dengan pekerjaannya dan kembali lagi ke istana.


➖➖➖➖➖


Ketika aku tiba, ternyata para gadis sedang duduk santai di taman istana bersama Dokter.


"Oh, Shin. Bagaimana urusanmu?" Tanya Rin saat di melihatku datang.


"Urusanku baru saja selesai. Jadinya aku mampir."


"Begitu ya."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Saya hanya menerangkan sedikit tentang FIB dan Frame Rescue kepada gadis-gadis ini." Kata Dokter sambil mengambil cangkir teh dan meminumnya.


"Apa yang anda jelaskan kepada mereka?"


"Tidak banyak. Saya tidak lagi punya kewajiban untuk mengatakan apa yang sudah saya wariskan kepada orang lain. Saya juga hanya tahu beberapa hal sebelum kematian."


"Apa saja yang anda tahu, Dokter?"


"Seharusnya kamu sudah tahu, Shin. Hanya kamu yang bisa membuka tempat penyimpanan buku itu."


".........."


Perpustakaan ya. Memang benar kalau belum ada orang lain selainku yang diperbolehkan untuk masuk kesana.


"Beberapa hal sudah saya ketahui dari sana."


"Baguslah kalau kamu bisa memahaminya."


Percakapanku dengan Dokter lumayan lama, tapi tidak ada satupun dari gadis yang bisa memahami apa yang sedang kami bicarakan.


➖➖➖➖➖


Merasa kalau hari sudah mau malam, kamipun beranjak dari taman menuju ke ruang makan.


Sesampainya di meja makan. Masakan campuran dari dunia lamaku sudah terhidang di meja dengan mewah.


Tentu saja mata para gadis terlihat biasa saja karena mereka sudah terbiasa melihat masakan ini selama beberapa waktu.


Hanya mata Asha dan Chika yang terlihat sangat menantikan makanan itu. Mungkin karena mereka masih baru disini.


"Silakan, nikmati makanannya." Kataku kepada semua orang yang berada di meja makan.


Semua orang berada di sini, sementara para kakakku tidak ada. Mereka mengatakan kalau mereka mau kembali sebentar ke alam Dewa.


Untuk apa mereka kesana sekarang ya.


"Selamat makan." Begitulah tanggapan semua orang sebelum mereka makan.


Ya. Untuk sekarang tidak usah memikirkan itu dulu. Aku nikmati saja makanan ini terlebih dahulu.


Makanan mulai dimakan satu per satu. Perlahan tapi pasti, makanan itu mulai habis dan perut kami mulai terisi.


Setelah merasa perut sudah penuh, kami semua berpindah ke ruang santai terlebih dahulu sebelum pergi tidur.


"Apa yang akan kalian lakukan besok?" Aku bertanya pada para gadis tentang agendanya besok.


"Tidak ada yang khusus. Hanya kesibukan seperti biasa." Jawab Miku.


"Apa tidak ada yan_"


Kalimatku langsung terhenti saat melihat Rin yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dia terus menatap kebawah dan sesekali menatapku, namum setelah aku menatap balik, dia langsung membuang muka.


"Ada apa Rin?" Tanyaku.


"Eh. A-ano."


"Tidak apa-apa. Katakan saja." Kataku sambil menyeruput teh yang masih hangat itu.


"Se-sesaat sebelum Shin tidak sadarkan diri di waktu peperangan dulu, Shin mengatakan kalau "Itu hanyalah sedikit hadiah yang aku berikan pada dunia ini." Apa maksud kalimat itu, Shin?"


Grruukk


Mendengar pertanyaan itu membuat aku tersedak air tehku sendiri.


"Apa kamu baik-baik saja, Shin?" Suara panik para gadis entah kenapa membuatku merasa senang. Mereka semua serentak berdiri dan berusaha untuk menolongku.


"Aku tidak apa-apa." Jawabku sambil masih sesekali batuk.


Beberapa saat kemudian. Batukku hilang, tapi kecanggungan di ruangan itu bertambah besar setiap menitnya.


Rin masih mengingat kalimatku yang dulu itu.


Apa sudah waktunya aku memberitahukan mereka kebenarannya.


Dewa juga tidak mengatakan padaku kalau aku harus menyembunyikan identitasku kan.


Ya. Lebih baik aku katakan saja sekarang ini, supaya tidak ada lagi kesalahpahaman.


"Begini semuanya...."