
Beberapa hari setelah meninggalkan Kerajaan Glory, utusan akhirnya tiba di istana Kerajaan Felsen.
Tanpa banyak berpikir, utusan itu langsung berjalan dengan langkah kaki cepat untuk melaporkannya apa yang diberikan Raja Glory kepadanya.
"Yang Mulia, hamba sudah kembali."
"Kau sudah kembali, bagus."
Saat ini diruangan pribadi Raja sedang ada pertemuan rahasia yang tidak semua orang boleh mengetahuinya.
Ruangan ini dibangun di bawah tanah, jadi tidak semua orang yang mengetahuinya.
Tapi nyatanya sudah banyak yang pernah melihat Raja keluar masuk ruangan ini, dari kebanyakan orang itu tidak ada yang berani menanyakannya, entah mereka takut atau mereka sudah mengetahuinya.
Diterangi cahaya lilin, Raja dan bawahannya berbicara empat mata.
"Jadi apa yang terjadi disana?" Rajanya langsung masuk ke poin utamanya.
Raja merupakan tipe orang yang tidak suka basa-basi, kalau ada bawahannya yang sebelum melapor malah berbas-basi dulu, dia tidak akan segan-segan memukul bawahannya.
"Hamba sudah mengatakan apa yang Yang Mulia tulis, sebagai balasan, Raja Glory menyuruhku untuk menyerahkan surat ini kepada Yang Mulia."
Dia mengeluarkan surat yang diberikan Raja Glory kepadanya dan meletakkannya di atas meja dihadapan Rajanya.
Raja Felsen, Fiur mengambil surat itu dan mulai membacanya dengan tenang dan sunyi. Namun ketenangannya mulai habis, matanya melotot dan urat wajahnya terlihat keluar, dia dengan ekspresi marah langsung merobek surat itu dan melemparkannya ke udara.
Utusan yang ketakutan mulai berkeringat di sekujur tubuhnya saat melihat Rajanya merobek surat itu tanpa ampun.
Dia tidak pernah membuka ataupun memiliki ketertarikan dengan isi surat yang dia bawa, jadi karena itu dia tidak pernah membukanya sepanjang perjalanan, tapi setelah melihat ekspresi Rajanya, dia sekarang tahu kalau isi dari surat itu pasti merupakan sesuatu yang berbahaya.
Setelah merobek suratnya, Raja melotot ke arah bawahannya yang masih dalam keadaan ketakutan.
"Sepertinya bocah kecil itu menolak kita."
".........."
"Dia berani dengan Fiur, akan kuhancurkan bocah itu.."
Utusan yang sudah menduga kalau jalan damai ini tidak akan berhasil kemudian membuka mulutnya yang masih gemetar, dia mau berbicara dengan keringat yang masih tidak mau berhenti bercucuran dari sekujur tubuhnya.
"Y-yang Mulia. Ha-hamba sudah mengantisipasi keadaan ini."
"Apa maksudmu?" Tanya Rajanya.
"Hamba sudah meletakkan sesuatu yang hamba perlihatkan kepada Yang Mulia dulu disana."
Raja yang marah mulai kembali tenang, dia kembali duduk dan meletakkan tangannya di dagunya seolah-olah dia sedang memikirkan apa maksud dari bawahannya.
"Hahahahah. Bagus, kau melakukan tugasmu dengan baik."
Saat dia menyadari apa yang dimaksudkan oleh bawahannya, dia mulai tertawa layaknya seorang kriminal.
"Hamba merasa tersanjung dipuji oleh Yang Mulia."
"Hmm. Sekarang kita hanya perlu menunggu. Hahahahaha."
➖➖➖➖➖
Semuanya berjalan dengan tenang di Glory, para ksatria sedang berlatih rutin mereka.
Para pelayan sedang melakukan tugas mereka masing-masing di istana, semuanya tampak normal tanpa ada masalah.
Aku yang saat ini tidak memiliki kegiatan memilih untuk singgah ke Olba Company, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Olba Strand.
Berawal dari kegabutan ku di dalam kamar, saat sedang asik membaca-baca berita di smartphoneku, aku tidak sengaja menemukan sebuah web tentang permainan tradisional yang masih banyak penggemarnya.
Dari situlah aku langsung mendapat ide untuk membuat beberapa mainan untuk anak-anak, pikiran yang awalnya kacau untuk memikirkannya apa yang harus dibuat sekarang malah berakhir dan menyerah.
Berhenti memikirkan permainan rumit, aku sekarang hanya kepikiran untuk membuat permainan sederhana.
'Sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik.' Itulah yang aku pikirkan setelah memikirkannya.
Setibanya di toko, aku langsung disambut oleh karyawan toko disana. Tapi seperti yang aku duga sebelumnya, begitu dia melihatku dia akan gugup dan tidak bisa berbicara dengan baik lagi.
"Ya-yang Mulia, ad-ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah Olba ada?"
"Hah. Y-ya, beliau ada. Tunggu akan saya panggilka_"
Ketika karyawan itu hendak berbalik, dihadapannya sudah berdiri seseorang yang begitu dia kenal.
"Hah!?"
Dia adalah Olba Strand, pemilik Olba Company.
"Kamu boleh pergi!" Kata Olba kepada karyawannya.
Karyawan itu langsung melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, dia sepertinya sangat gugup, itu terlihat dari kecepatannya berjalan dan ekspresinya.
"Maaf Yang Mulia, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin membicarakan tentang bisnis."
"Bisnis!? Kalau boleh tahu bisnis apa itu?"
"Aku kesini ingin menjual ini."
Tanpa menunda lagi, aku langsung mengeluarkan berbagai permainan sederhana yang kumiliki dan meletakkannya di atas meja.
Warna dan bentuknya sangat beragam, diatas meja itu terdapat hula hoop, yoyo, skipping dan gasing. Awalnya aku ingin memasukkan catur dan bola, tapi aku berubah pikiran.
Itu lebih masuk ke bidang olahraga daripada permainan anak-anak. Jadi nanti saja aku perkenalkan.
Olba mengambil permainan itu dengan wajah kebingungan, setelah mengotak-ngatik empat benda itu dengan kedua tangannya, diapun menatapku dan bertanya.
"Apa ini, Yang Mulia?" Katanya sambil memegangi sebuah yoyo.
"Hmm. Itu disebut yoyo."
"Yoyo!? Saya belum pernah mendengarnya."
Bagaimana mau mendengar, itu saja dari dunia lain. Yah, sudahlah.
Walaupun aku sudah mengatakan kalau itu merupakan permainan anak-anak, tapi tetap saja dia terlihat kebingungan.
Dia juga terlihat kagum saat aku mengatakan kalau itu merupakan ciptaanku.
"Bagaimana cara memainkannya, Yang Mulia?" Tanya dia dengan sangat antusias.
Melihat kekagumannya, aku hanya dapat berdoa semoga orang yang menemukan permainan ini tidak mengutukku karena pelanggaran hak cipta.
"Hmm. Ba-baiklah. Pertama ambil talinya yang berada di tengah cakram yoyo ini, kemudian pasang tali itu pada jari tengah atau jari manis, ya seperti ini." Ujarku sambil menunjukkan contoh dengan tanganku sendiri.
".........."
"Posisikan yoyo nya seperti ini, lalu lemparkan ke bawah, seperti ini. Begitulah cara memainkannya."
"Ohhh."
"Disaat yoyo nya berputar, kamu bisa membuat beberapa trik seperti ini."
Aku menunjukkan beberapa trik yang aku pelajari dari internet kepada Olba. Walaupun awalnya lumayan susah, tapi pada akhirnya aku berhasil juga.
Dia terus menatap yoyo yang masih berputar di udara itu, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dari matanya, itu seperti dia mulai berubah ke mode maniak bisnisnya.
"Luar biasa, Yang Mulia."
"Be-begitukah."
"Yang Mulia. Saya yakin yoyo ini pasti akan laku, saya akan menjamin hal itu terjadi." Dia dengan bangganya mengatakan itu sambil menepuk dadanya sendiri.
"Baguslah."
"Hm hm. Kalau begitu bisakah Yang Mulia menunjukkan cara kerja permainan yang lainnya."
"Ya."
➖➖➖➖➖
Karena terlalu asik menjelaskannya, tanpa teras ternyata waktu sudah mencapai batasnya. Matahari mulai tenggelam dan cahaya lampu sudah mulai menggantikan posisinya untuk menerangi jalanan.
Tadi disaat aku masih menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan permainan, tiba-tiba smartphoneku bergetar, disaat aku melihatnya, ternyata yang menelepon itu adalah Airi, dia ingin memberitahuku kalau dia ingin menyajikan menu baru untukku.
Semenjak aku memberikan Airi smartphone, Airi mulai sering memintaku untuk mengirimkan menu dari bumi ke smartphonenya, tentu aku menerimanya karena itu akan membantunya dalam mengasah hobinya sendiri.
"Wahh!?"
Di atas meja saat ini berjejer menu yang sangat membuat nostalgia, ada pizza, burger, torayaki dan lain-lain.
"Silakan dicoba, Shin!" Ujar Airi.
Ekspresi senangnya seakan memerintahkanku untuk mulai memakan masakan itu satu per satu
Para gadis yang lainnya juga hanya tersenyum saat melihat tingkah Airi yang berubah drastis kalau menyangkut soal makanan.
Menanggapi perkataan Airi yang diiringi senyuman, aku mulai mengambil makanan itu dengan sendok dan membawanya ke mulutku.
Airi yang menatapku sedang makan juga gugup seakan sedang menungguku memberikan tanggapan.
"Hmm. Wahh, ini enak."
"Benarkah?"
"Ya. Kamu memang benar-benar berbakat, Airi."
Entah ada sihir apa di dalam perkataanku, tapi yang jelas setelah pujianku dilontarkan, raut wajah Airi menunjukkan kalau dia sangat bahagia.
"Baguslah ya, Airi." Ujar para gadis kepada Airi.
➖➖➖➖➖
Selesai makan, aku dan para gadis berpindah tempat ke taman istana. Duduk dengan hati-hati, aku terdiam disana tidak bisa bergerak sama sekali.
Perutku sudah sangat berisi, mungkin saat ini aku tidak akan bisa makan apa-apa selama beberapa waktu
"Udaranya menenangkan hati."
"Ya. Aku bahkan akan tertidur kalau terus seperti ini."
"Kamu benar. Bulannya juga sangat indah."
Hana, Chika dan Asha. Mereka bertiga sedang bergumam sambil melihat ke sekeliling taman.
"Oh ya Shin. Bagaimana dengan bisnis yang kamu bicarakan tadi?" Tanya Ryou.
"Itu berjalan lancar, aku menyerahkan sisanya ke Olba."
"Begitu, kuharap anak-anak akan senang dengan permainan baru itu."
Kami meneruskan obrolan santai sambil minum teh di taman yang tenang, tapi kemudian ketenangan itu di hancurkan dengan cepat.
"Yang Mulia!?"
Suara teriakan seseorang menggema di seluruh taman, aku yang awalnya kaget dengan cepat memalingkan wajahku untuk menatap sumber suara.
"Lain!? Ada apa?"
Komandan Lain dengan nafas terengah-rengah berlari dengan kecepatan sedang ke arahku.
"Ha Ha Ha Ha."
"Tenang dulu. Coba tarik nafas, lalu buang."
Setelah nafasnya mulai teratur, dia kembali menatapku dengan tajam.
"Yang Mulia.
"Apa masalah apa?"
"Ada masalah dia ibukota, Yang Mulia."
"Hah!?"