
Kami berdua sekarang berada di belakang penginapan. Aku sengaja pergi ke belakang penginapan karena aku ingin mencoba salah satu sihir spesial yang aku pelajari dari buku kemarin.
"Sebelum itu." Kataku.
"Ohh. Baiklah."
Aku memanggil Miku untuk melihat ingatannya tentang Kerajaan selanjutnya yang akan kami datangi menggunakan mantra [Memory].
Dia dengan gugup maju ke arahku, aku lihat wajah dan telinganya memerah.
Tapi aku tidak mempedulikan wajahnya yang memerah itu, tanpa pikir panjang aku langsung memegangi kedua tangannya dan mendekatkan dahi ku ke dahinya untuk melihat Ingatannya
"[Memori]"
Setelah melihat tempat tujuanku, aku melepaskan kedua tanganku dan melihat wajah Miku yang bertambah merah, itu membuatku juga memerah. Padahal aku sudah berusaha untuk menahannya.
Setelah aku melihat tempat tujuanku dari Ingatan Miku, aku pun berdiri, meluruskan kedua tanganku ke depan dan merapalkan mantra.
"[Gate]"
Seketika sebuah gerbang muncul di hadapanku, itu membuatku sedikit terkejut tapi aku kembali menenangkan diriku dan menatap Miku dan bertanya.
"Apakah aku barhasil?"
"Ohhh. Yaa. Luar biasa, kamu benar-benar bisa menggunakan mantra yang telah lama hilang, Shin."
Aku menatap gerbang itu, meraba-raba ke dalamnya dan sedikit masukkan kepalaku, dan ternyata memang benar, aku sudah berada di tempat lain.
Miku yang mengikuti ku dari belakang dengan cepat terpukau ketika melihat lingkungan sekitar yang telah berubah.
➖➖➖➖➖
Aku membuka petaku dan mengetahui bahwa saat ini kami tengah berada ada di sebuah kota yang terletak di timur ibukota Kerajaan Freedom.
Freedom adalah sebuah Kerajaan yang terletak di Benua Timur dan termasuk salah satu kerajaan yang berbatasan dengan Kerajaan Allent.
"Ini benar-benar tempat yang pernah aku kunjungi dulu." Kata Miku dengan nada terpukau.
Ketika kami sudah puas menatap sekeliling. Kami memutuskan untuk berjalan menuju ke arah kota terdekat yang tertera di peta. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, kami akhirnya sampai di kota terdekat.
Bukannya disambut oleh kota yang damai, tapi yang kami lihat malah.
"Apa yang terjadi disini. Kenapa kota ini hancur berantakan?"
"Kenapa dengan kotanya?"
Aku dan Miku sama-sama terkejut ketika melihat kota di depan kami yang sudah hancur berantakan, bahkan kebakaran sepertinya sudah menjadi pemandangan disini.
Apa yang sebenarnya terjadi Disini. Kota ini sudah tidak berbentuk lagi, kemana perginya semua penduduk, apakah mereka semua selamat? Aku harus mencari seseorang.
Beberapa menit kami habiskan hanya untuk menatap keadaan kota. Namun, setelah kami sadar, kami memutuskan untuk mencari seseorang yang masih bisa ditanyai.
Setelah berlari selama beberapa saat. Kami akhirnya melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan dengan anak kecil di sampingnya sedang mencari sesuatu di balik bekas rumah yang terbakar.
Aku menghampirinya, namun saat dia menyadari keberadaan ku dia secara refleks mundur ke belakang sambil mengambil pisau yang ada di pinggangnya.
"Apakah kamu perampok?" Tanya dia dengan gemetaran.
"A-aku bukan perampok. Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat di sini. Aku hanya ingin bertanya, apa yang telah terjadi di kota ini?"
Dia yang tidak merasakan permusuhan dariku akhirnya memutuskan untuk menurunkan senjatanya.
"Kota ini baru saja diserang naga."
"Di Serang naga?"
Aku kaget saat mendengar perkataan laki-laki tersebut. Tetapi sebenarnya yang membuatku kaget bukanlah karena kota ini diserang, tetapi karena di dunia ini ternyata ada naga. Itu membuatku berpikir binatang apa saja yang sebenarnya ada di dunia ini.
"K-kalau kota ini di Serang naga. Apa yang terjadi dengan penduduk."
"Penduduk kota ini sudah diungsikan ke desa atau kota terdekat dari sini."
Saat aku mendengar pernyataan dari laki-laki itu. Aku pun menghela nafas lega. Tapi sekarang yang menjadi masalah adalah kenapa naga itu menyerang kota.
"Miku. Apa biasanya naga memang menyerang sebuah desa atau kota?"
"Itu biasanya jarang atau hampir tidak pernah terjadi, naga biasanya hanya tinggal di pulaunya dan tidak akan mengganggu wilayah manusia."
"Dimana letak pulau itu?"
"Di selatan Kerajaan Strom."
Setahuku selatan Strom itu cukup jauh dari sini. Tapi kenapa.
Saat aku sudah memikirkan itu. Aku teringat kalau aku tidak melihat satu orang pun Ksatria di sini.
"Ksatria. Dimana Ksatria Kerajaan?"
"Para Ksatria sudah ditarik kembali ke ibukota."
Kalau begitu, bukannya itu berarti kalau naga nya sudah berhasil dikalahkan. Tapi bisa saja mereka kalah kan.
"Kalau Ksatria sudah ditarik kembali. Apakah itu berarti mereka sudah berhasil membunuh naga nya."
Pria itu terdiam sebentar dan kembali berbicara kepadaku.
"Tidak. Mereka tidak berhasil membunuhnya, naga itu saat ini sedang berada di atas gunung di selatan kota ini, kami tidak tahu mengapa naga itu berada di sana."
Apa-apaan itu. Apa mereka sedang gencatan senjata ya.
Aku memutuskan untuk kembali bertanya kepada laki-laki yang masih merenungkan rumahnya yang terbakar.
"Apa Kerajaan sudah memutuskan tindakan selanjutnya?"
"Saat ini Kerajaan hanya mencoba bertahan sambil menunggu bantuan dari Kerajaan tetangga, tetapi bantuan itu akan datang dalam beberapa hari."
Beberapa hari hanya akan memperburuk situasi. Itu bukan pilihan yang tepat.
"Miku. Kamu tahu ibukota Kerajaan ini dimana?"
Miku yang sedang mencoba untuk menenangkan anak perempuan yang sedang menangis dengan cepat menanggapi perkataan ku.
"Yah, aku tahu. Aku pernah ke sana dulu?"
ltu bagus.
"Kalau begitu, bolehkan aku melihat ingatanmu kembali?"
"Y-Yah tentu. Tapi untuk apa kamu ke sana?"
"Aku berencana untuk menawarkan bantuan kepada mereka."
"Apakah kamu berencana untuk melawan naga itu. Tapi apakah kamu tahu seberapa kuat seekor naga itu, seekor naga muda saja memerlukan belasan Ksatria untuk membunuhnya. Belum lagi korban yang akan berjatuhan dari pihak Ksatria." Protes Miku pada rencana ku.
"Aku tahu. Karena itu aku menawarkan bantuan, aku tidak mau melihat lebih banyak lagi korban berjatuhan oleh serangan naga itu."
Wajah Miku yang tadinya terkejut sekarang menjadi cemas, aku bisa merasakan apa yang sedang dia cemaskan.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku pasti baik-baik saja, kamu juga sudah melihat kekuatanku kan, jadi tidak usah khawatir."
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu."
Mendapat persetujuannya. Aku mulai memegang kedua tangannya dan meletakkan dahi ku ke dahinya lagi untuk membaca ingatannya tentang ibu kota Kerajaan.
Setelah mendapatkan gambarannya, aku langsung merapalkan mantra [Gate].
"Apakah kamu mau pergi juga bersama kami ke ibukota?" Tanyaku kepada laki-laki tersebut.
"Tidak-tidak. Terima kasih, aku masih harus mencari beberapa barang ku yang tertinggal di sini."
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik."
Aku dan Miku Melambaikan tangan kami ke arah laki-laki itu dan putrinya.
➖➖➖➖➖
Kami tiba di ibukota Kerajaan Freedom. Kami berdua menatap sekeliling kota, kota itu sangat indah, bangunan yang tertata rapi. Tapi anehnya, aku melihat wajah cemas dari para penduduknya.
Teror naga menakuti mereka ya.
Setelah nafas kami habis akibat berlari, kami akhirnya menemukan dua orang Ksatria yang sedang berpatroli, tanpa pikir panjang lagi kami langsung menghampiri kedua orang Ksatria itu.
"Apakah kami bisa bertemu dengan Raja Kerajaan ini?"
Mereka yang kaget langsung mengambil pedang mereka dan mengacungkan kepadaku.
"Siapakah kalian. Kenapa kalian ingin bertemu dengan Yang Mulia?"
Sepertinya waktu ku kurang tepat.
"A-aku adalah seorang pengembara dan wanita ini adal_"
Sesaat sebelum aku menyelesaikan kalimatku untuk memperkenalkan Miku kepada mereka, Miku secara langsung memperkenalkan dirinya sendiri.
"Perkenalkan namaku adalah Miku Urnest Allent. Putri pertama Kerajaan Allent."
Anggun seperti biasanya ya.
"Putri Kerajaan Allent?"
Kedua Ksatria yang mendengar perkenalan mendadak dari Miku langsung berlutut di hadapannya untuk meminta maaf.
"M-maafkan atas kelancangan kami Tuan Putri."
Sepertinya hubungan Kerajaan Allent dengan Kerajaan Freedom lumayan baik ya, sampai-sampai Ksatria mereka sangat menghormati Putri dari Kerajaan tetangga.
"Tidak apa-apa. Perkenalkan juga dia ini adalah calon tunangan ku. Namanya Tatsuya Shin."
Ingat Miku. Kita cuma calon, bukan tunangan resmi.
Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, mereka langsung berlutut dihadapan ku.
"Tidak perlu meminta maaf. Itu bukan kesalahan kalian."
Para Ksatria yang tadinya panik sekarang mulai agak tenang setelah mendengar kata-kata dari ku. Mereka kemudian dengan sangat hati-hati bertanya kembali kepada Miku.
"K-kalau anda tidak keberatan, kami ingin bertanya. Ada urusan apakah Tuan Putri dari Kerajaan Allent datang ke Kerajaan kami?"
"Seperti yang dikatakan oleh Shin tadi, apakah boleh kami menemui Raja?"
Mereka berdua saling bertatapan dengan bingung akan perkataan Miku.
"Ada urusan apakah Tuan Putri dengan Raja?"
"Aku sudah mendengar berita tentang naga yang menyerang beberapa kota. Aku atau lebih tepatnya calon tunangan ku, ingin menawarkan bantuan untuk membunuh naga itu kepada Raja."
"Menawarkan bantuan?"
Mereka berdua terkejut dengan pernyataan Miku dan langsung menatapku dengan tatapan curiga.
"M-maaf lagi atas kelancangan kami, tapi apa yang bisa diperbuat oleh tunangan Tuan Putri untuk membantu kami?"
Sudah kuduga. Itu sudah pasti sih, jarak antara proporsi tubuhku dengan kekuatanku terlalu jauh.
"Tidak usah khawatir. Shin pasti bisa membunuh naga itu."
Kedua Ksatria itu yang awalnya curiga kepadaku akhirnya mulai mempercayaiku setelah Putri Kerajaan tetangga sendiri yang mengatakannya.
"Kalau memang itu yang Tuan Putri inginkan. Kami akan memandu kalian berdua untuk menemui Raja."
"Terima kasih."
➖➖➖➖➖
Sekarang ini kami tengah berjalan melewati lorong menuju ke ruang audiens Raja.
Selama kami berjalan dari gerbang istana sampai ke dalam, para Ksatria terus menatap kami, entah apa yang mereka pikirkan tentang kami dengan tatapan seperti itu.
Akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang cukup besar, banyak hiasan dinding berwarna emas yang menghiasi setiap sudut ruang tersebut.
Di tengah ruangan itu juga duduk seseorang laki-laki berusia tiga puluhan, di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang aku pikir dia pasti adalah Perdana Menterinya.
Ksatria yang membimbing kami ke istana sekarang berlutut di hadapan Raja dan berkata.
"Yang Mulia. Maafkan karena telah mengganggu waktu anda, tetapi kami membawakan tamu penting."
"Siapa mereka? Tunggu-tunggu, sepertinya aku kenal dengan gadis itu."
Wajah Raja berubah saat memandangi kami atau lebih tepatnya memandangi Miku. Miku yang menyadari kebingungan Raja langsung memperkenalkan dirinya kembali.
"Sudah lama kita tidak bertemu Yang Mulia. Sepertinya aku perlu memperkenalkan diri lagi, Perkenalkan namaku Miku Urnest Allent, Putri pertama Kerajaan Allent."
"Oh iya. Aku ingat, kamu Miku kan?"
Ya wajarlah. Dia juga sudah memperkenalkan dirinya, tentu saja anda akan tahu, Raja.
"Sepertinya kamu masih mengenalku, dan mohon untuk tidak lagi memperlakukanku seperti anak kecil." Wajah Miku berubah cemberut saat dia mengatakan hal itu.
"Maaf-maaf. Jadi apa yang membawamu kesini?"
Wah-wah. Bisa serius juga nih orang tua.
Miku hanya dapat menghela nafas, setelah nafasnya mulai stabil. Dia kembali menatap Raja.
"Maksud kedatanganku kesini adalah untuk memberikan bantuan kepadamu dalam menghadapi naga."
"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan?"
".........."
Tidak pendapat respon dari Miku, Raja memutuskan untuk bertanya kembali.
"Aku melihatmu datang kesini hanya berdua dengan orang yang berada di sampingmu itu, jadi aku bertanya kepadamu, memangnya bantuan apa yang dapat kamu berikan kepadaku?"
Dia mengatakan itu sambil meluruskan jari telunjuknya ke arahku.
"Oh ya. Ya, sepertinya aku lupa memperkenalkannya, namanya Tatsuya Shin dan dia adalah calon tunangan ku."
"Hehh. Miku kecilku sudah memiliki calon tunangan."
Entah kenapa aku merasa mendengar nada menjijikkan darinya tadi.
"Ya. Seperti itulah. dia adalah calon tunangan ku dan juga bukan aku yang akan memberikan bantuan, tetapi dia."
"Memangnya bantuan apa yang bisa diberikan oleh tunangan mu ini Miku?"
"Kalau masalah itu bukan aku yang akan menjelaskannya, tapi dia yang akan menjelaskan, silakan Shin."
Setelah mendapat aba-aba dari Miku. Aku pun berjalan selangkah ke depan untuk menjelaskannya.
"Baiklah. Pertama, seperti yang sudah diperkenalkan oleh Putri. Namaku Tatsuya Shin. Aku yang akan memberikan bantuan untuk menghadapi naga itu."
"Kalau boleh tahu, bantuan seperti apa yang akan kamu berikan?"
"Aku hanya meminta kepada Yang Mulia untuk mengizinkanku pergi ke gunung tempat naga itu beristirahat, setelah itu biar aku yang mengurus sisanya."
"Hanya itu? Tapi sebelum itu, apakah kamu yakin bisa melawan naga itu. Kami sudah mencoba melawannya dan berakhir dengan kegagalan. Sekarang apakah kamu yakin melawan dua ekor naga itu sendirian?"
"Ya. Itu bukan masalah besar untukku."
Nadaku sombong juga ya.
Raja sedikit kebingungan, tetapi aku mengabaikannya. Bagaimanapun aku cukup percaya diri dengan kekuatan yang Dewa Semesta berikan kepadaku.
"Baiklah kalau memang hanya itu yang kamu minta. Kalau kamu percaya diri bisa membunuh naga itu maka aku mengizinkan mu untuk pergi ke gunung itu, tetapi aku juga akan menugaskan beberapa Ksatria untuk menemanimu."
"Baiklah. Tetapi sebelum itu, aku ingin minta waktu dulu untuk beristirahat. Tubuhku kelelahan."
"Itu tidak masalah. Perdana menteri, siapkan kamar untuk mereka berdua!"
"B-baik Yang Mulia. Akan saya siapkan."
Kalimat perintah dari Raja membuat wajah Miku memerah setelahnya. Aku awalnya berpikir tentang apa yang menyebabkan wajahnya memerah, namun beberapa saat kemudian aku baru menyadari sesuatu.
Tunggu-tunggu. Apakah tadi dia mengatakan untuk kami berdua. Apakah itu artinya aku akan beristirahat dengan Miku dalam satu kamar. Itu terlalu cepat untukku. Tapi sepertinya aku tidak bisa menolaknya kerena Miku kelihatan senang.
Aku menghela nafas panjang dan berterima kasih kepada Raja karena telah menyiapkan kamar untukku dan Miku. Aku juga berjanji kalau besok aku akan pergi ke gunung itu untuk membunuh naga tersebut.