
Teriakan dari semua orang yang berada di dalam kamar masih membuat suasananya terasa sedikit berbeda.
Semua orang memilih diam, tidak ada yang menanggapi perkataan dari para gadis sama sekali.
Bahkan ketiga Dewi yang awalnya diam karena sudah tahu keadaan Shin sekarang malah ikutan kaget.
Menyadari perkataannya membuat semua orang kaget, para gadis sama sekali tidak malu ataupun canggung karena tekatnya sudah bulat.
Para gadis terus memperhatikan Shin dan mengabaikan suara gaduh dari orang-orang yang berada di sekitar mereka.
"Y-yang Mulia Rat_"
Kepala pelayan Laim yang pada awalnya berniat menyadarkan para gadis, akhirnya memilih untuk diam terpaku, saat tatapan Miku menembus raganya.
"Maafkan aku, Laim." Katanya tanpa menatap Laim dan sama sekali. Matanya juga menunjukkan kalau dia serius.
"Ini adalah keputusanku dan jalan hidupku."
"T-tapi."
"Tidak apa-apa Laim." Perkataan Miku yang diiringi dengan wajah bahagianya membuat Laim terdiam.
Para Dewi yang awalnya kaget dengan perkataan tiba-tiba para gadis sekarang dapat menenangkan pikirannya kembali.
"Tenang saja Laim." Kata Safira sambil tetap menatap Shin dan para gadis.
"N-nyonya!"
"Tidak akan terjadi apa-apa pada mereka." Sambung Viola.
"Ta-tapi, Nyonya."
"Aku yakin perkataan mereka pasti sampai kepada Shin. Kalau Shin menyadari perasaan mereka semua, dia pasti tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka."
Saat kalimat itu keluar, yang mendengar perkataannya hanyalah Perdana Menteri, Kepala Pelayan, Komandan dan Wakilnya. Sementara para gadis tidak mendengarnya karena jarak antara mereka yang cukup jauh.
Para gadis tidak hentinya menangis di samping Shin. Mereka tidak lagi memikirkan tentang penampilan yang buruk akibat menangis, tetapi yang terpikirkan sekarang hanyalah Shin seorang.
Mereka berdelapan duduk sambil terus memegangi tangannya Shin. Terasa seperti tidak ada yang mau melepaskannya.
"Shin. Kumohon padamu, tolong bangunlah."
"Kami semua sangat mencintaimu, Shin."
Setelah Miku kembali bergumam, teriakan serentak dari ketujuh gadis lainnya bergema memenuhi seisi ruangan itu.
Tidak ada lagi yang kaget setelah mendengar kalimat itu, mungkin karena damage dari kalimat pertama sangat mengguncangkan mereka semua.
"Ya. Aku tahu dan aku juga mencintai kalian."
"Hah!?"
"Heh!?"
Tiba-tiba suara tangisan di dalam ruangan itu menghilang begitu saja.
Para gadis yang seperti mendengar suara yang mereka kenal dengan ragu-ragu menatap asal suara itu.
Tidak ada yang pernah menyangka kalau mereka akan mendengar suara itu kembali setelah sekian lama.
"S-shinn!?"
Dengan air mata yang tidak bisa ditahan lagi, para gadis itu menangis dan melompat bahagia ke arah Shin.
Kebahagiaan mulai menerpa seisi ruangan. Kazuo, Lain, Nikola, Norn dan Laim, mereka semua menangis saat melihat Rajanya kembali sadar setelah dua bulan lebih tidak pernah mereka dengar lagi suaranya.
➖➖➖➖➖
Isak tangis kebahagiaan mulai terdengar ke seluruh Kerajaan saat berita bahwa Raja mereka telah sadar kembali.
Baik anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan. Semuanya saling berpelukan di jalan-jalan utama ibukota.
Para Raja yang memiliki hubungan dengan Shin juga langsung bergegas untuk menuju ke Glory setelah mendapatkan pesan dari Liora.
Tidak ada lagi kekhawatiran di wajah mereka semua, saat ini yang ada hanyalah senyum bahagia.
"Bagaimana kondisi anda, Yang Mulia?"
"Kondisiku lumayan baik."
"Syukurlah."
Laim berbicara padaku sambil menuangkan teh ke gelas yang berada di meja di samping tempat tidur.
Semua orang di istana saat ini berada di halaman istana Glory, jadi hanya Laim saja yang tetap berada di sampingku untuk membantu.
Itu karena saat ini di istana sedang ada perayaan kesembuhan Raja, semua orang berpesta di istana Kerajaan. Tidak hanya pelayan dan ksatria, semua penduduk Kerajaan juga diperbolehkan untuk masuk ke halaman istana.
Di halaman Kerajaan juga sudah disediakan makanan oleh istana untuk semua orang. Mulai dari masakan biasa, mewah, cemilan, bahkan masakan dari dunianya Shin juga tersedia.
Para anggota WPL dan para orang tua dari tunangan Shin juga turut hadir karena ini menyangkut kesembuhan dari calon menantunya sendiri.
"Syukurlah bisa melihat pemimpin kita kembali sadar."
"Anda benar."
Raja Elchea dan Raja Halman sedang berbicara berdua sambil minum alkohol di meja sudut halaman.
Sementara Raja lain beserta Ratunya sedang mencoba masakan yang tersedia di meja. Dengan mata yang terpukau, mereka mulai mencoba mengambilnya satu persatu.
Komandan Ksatria dan bawahannya yang mengawal mereka juga dengan antusias mengambil makanan dan meletakkannya di atas piring yang mereka bawa.
Setelah mengambil makanan, Raja dan Ratu mulai beranjak dari meja dan pergi menuju ke kursi terdekat.
Sambil menatap orang-orang yang sedang berbahagia di halaman Kerajaan, Raja dan Ratunya dengan sopan mulai menangkat makanan dan memasukannya ke mulut.
"Pemandangan seperti ini belum pernah terjadi ya."
"Pemandangan apa yang anda maksud?"
"Situasi dimana Raja memperbolehkan penduduknya untuk masuk ke dalam istana dengan leluasa."
"Anda ada benarnya juga. Melihat Raja dan Ratu berkumpul dan tertawa bersama penduduk biasa juga sangat jarang terjadi."
"Yah, itu juga termasuk. Tidak ada sedikitpun terlihat dari mereka yang terganggu oleh status mereka dan status orang yang mereka ajak bicara. Semuanya tampak bahagia disini."
Kaisar Gardio bersama Raja Strom juga sedang asyik mengobrol di meja makan sambil menatap penduduk, pengawal Raja dan Rajanya sendiri.
"Sayang. Apakah suasana ini akan terus berlanjut selamanya?"
"Semoga saja. Kita akan mempertahankan suasana seperti ini demi anak dan cucu kita di masa depan."
"Tapi sepertinya itu akan sedikit sulit ya?"
"Untuk mewujudkan itu, kita memerlukan bantuannya Shin."
"Ada benarnya juga. Semenjak Shin datang, kehidupan dunia ini mulai berubah secara perlahan ya."
"Perubahan ini akan kita tingkatkan dan pertahankan di masa depan nanti."
Raja dan Ratu Allent sedang berduaan sambil mencoba masakan Kerajaan Glory yang dikatakan unik dan sangat enak.
Walaupun Kerajaan Allent tidak termasuk ke dalam aliansi, tetapi mereka tetap hadir untuk memeriahkan kesembuhan menantunya.
➖➖➖➖➖
Disisi lain, Shin saat ini tidak bisa untuk bergabung dengan orang-orang. Itu karena tubuh Shin belum sembuh total dari penyakit yang di deritanya.
Walaupun Shin sudah mengatakan kepada para gadis kalau dia sudah tidak apa-apa, tetapi para gadis tetap bersikeras membuat Shin untuk terus beristirahat.
Bagi orang biasa mungkin ini akan sangat nyaman, tetapi untuk Shin yang suka bergerak, berdiam di tempat tidur cukup menyiksa.
"Hahhh. Ini tidak kebiasaanku sama sekali." Gumamku di atas tempat tidur.
"Hah. Kami mendengarmu loh."
"Hah!?"
Mendadak saja ketiga kakakku datang tanpa pemberitahuan, dengan seenaknya mereka main masuk saja ke dalam kamar.
"Ketuk dulu, baru masuk. Itu membuatku kaget tahu?"
"Maaf-maaf."
Permintaan maaf dari Kak Viola dapat aku terima, tetapi..
Belum lagi menyelesaikan kalimatku, aku langsung menatap ke arah gadis iblis yang main duduk saja tanpa permisi.
"Hei. Minta maaf dulu napa? Main duduk saja seenaknya."
"Hmm. Apa yang salah kalau kami masuk ke kamar adik kami sendiri."
"Tidak ada yang salah dengan masuknya, tapi prilaku kakak sangat tidak mencerminkan seorang gadis dari surga."
"Apa maksudmu? Aku ini orang yang sangat sopan tahu."
"Alah. Alasan."
Mendengar jawaban acuh tak acuh dariku, membuat Kaori cemberut sambil menggembungkan pipinya.
"P-permisi."
Pintu kamarku kembali terbuka, tetapi yang masuk sekarang bukanlah orang yang menyusahkan, melainkan para tunanganku.
"Apa ada sesuatu, Miku?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya mendengar suara dari dalam kamarmu dan berniat untuk melihatnya. Ternyata itu suara saudaramu ya."
"Hmmm. Begitulah, hanya saja yang satu itu cukup merepotkan." Ujarku sambil meluruskan telunjuk ke arah Kaori yang duduk sambil makan cemilan.
"Hah!?" Responnya cukup mengejutkanku.
"Hahaha. Kamu di anggap merepotkan oleh adikmu sendiri kak." Safira yang sudah tidak bisa menahan tawanya lagi berusaha untuk menggoda Kaori.
"Di-diam Safira." Dengan wajah memerah karena malu, Kaori berusaha menahan Safira yang terus tertawa.
"Bagaimana kondisimu, Shin." Tanya Kak Viola tanpa mempedulikan saudaranya.
"Aku baik-baik sa_"
"Bagaimanapun kamu harus istirahat." Bantah Hana dan Airi secara mendadak.
"Y-ya. Aku akan istirahat, jadi kalian tenang saja." Melihat mereka yang terlihat marah membuatku sedikit panik.
"Hmm. Bagaimana sekarang Shin. Bukannya disini sangat banyak yang menyayangimu." Ujarnya dengan wajah tersenyum.
"Ya. Kakak ada benarnya juga."
"Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu." Tanya Viola lagi.
"Sepertinya sudah."
"Begitu ya. Syukurlah."
Tentu saja yang kami bicarakan berdua itu adalah keputusanku antara tetap tinggal di dunia ini atau tidak.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Rin.
"I-itu hanya sesuatu yang tidak terlalu penting. Lupakan saja."
Seketika tatapan para gadis menusuk mataku, tidak ada diantara mereka yang tersenyum sama sekali saat menatapku.
"Shin Apa lagi yang kamu sembunyikan dari kami?" Dengan tatapan yang tidak berubah, Miku bertanya padaku.
"Ti-tidak ada yang aku sembunyikan dari kalian."
"Bohong."
"Ak-aku tidak berbohong."
"Apa ada sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh para tunanganmu?"
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...