
Keesokannya adalah hari dimana biasanya para anggota aliansi berkumpul di Glory.
Tapi karena pemimpin aliansi mereka sedang tidak sadarkan diri, mereka memutuskan untuk mengubahnya menjadi pertemuan untuk melihat keadaan Shin.
"Hai, apa kabar?"
"Saya Baik. Hanya menantuku saja yang kurang baik sekarang ini."
"Anda benar. Apa masih belum ada perkembangan dari Raja Glory?"
"Sayangnya masih belum ada."
"Begitu ya."
Raja Elchea dan Kaisar Gardio sedang mengobrol berdua tentang Shin yang masih tidak sadarkan diri.
Tidak hanya mereka saja yang hadir. Para anggota aliansi dan Raja Allent. Mantan Raja Holter dan mantan Raja Colder juga ikut hadir karena ini menyangkut keadaan orang yang mereka kenal.
Mereka semua duduk di meja ruang aliansi seperti biasanya. Dilihat dari manapun, tidak ada yang berubah dari itu, yang berubah hanyalah perwakilan Glory saat ini di gantikan oleh Perdana Menteri.
"Maafkan kami karena tidak bisa melanjutkan pertemuan ini tanpa adanya Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Tujuan kami saat ini hanyalah untuk melihat menantuku." Bantah Raja Strom.
"Sampai sekarang kami masih tetap berusaha untuk melakukan apapun demi Yang Mulia."
"Begitu ya." Lepas kecewa Raja Strom.
"Dokter mengatakan kalau Yang Mulia baik-baik saja, tapi semakin kami melihatnya, semakin khawatir pula kami akan keselamatannya."
"Baik-baik saja pada keadaan seperti itu ya. Entah kenapa saya jadi ikut khawatir." Raja Halman juga menyuarakan kekhawatirannya.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, Perdana Menteri?"
Perdana Menteri hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak tahu lagi bagaimana caranya. Seandainya ada cara yang bisa kami lakukan, pasti akan kami lakukan." Dia mengatakan itu sambil terus menatap kebawah.
"Oh ya. Dari pertama tiba disini, kenapa saya melihat pemandangan berbeda antara penduduk dengan pekerja istana ya." Kata Raja Holter.
"Itu benar. Berbeda dengan penduduk yang khawatir, pekerja di istana malah keliatan lebih santai. Apa ada yang terjadi, Perdana Menteri?" Sambung Raja Colder.
"Kalau boleh saya jujur. Kami sebenarnya yang lebih khawatir daripada penduduk, mengingat bahwa setiap hari kami selalu melihat keadaannya yang terbaring di tempat tidur. Tapi saudaranya Yang Mulia meyakinkan kami kalau Yang Mulia akan baik-baik saja. Tapi.."
"Tapi apa, Perdana Menteri?"
"Saudara Yang Mulia mengatakan kalau Yang Mulia sendiri yang harus memutuskannya apa yang dia inginkan."
"Memutuskannya!? Apa maksudnya?"
"Kami tidak tahu apa yang sebenarnya saudara Yang Mulia maksudkan. Tapi setiap kami ingin bertanya kepadanya, dia selalu mengatakan kalau Yang Mulia baik-baik saja."
"Huhh. Saya sekarang semakin tidak mengerti." Ujar Kaisar Gardio.
"Bagaimana dengan Miku dan gadis lainnya, dimana dan bagaimana keadaan mereka sekarang?" Tanya Raja Allent dengan sedikit panik.
"Yang Mulia Ratu saat ini masih tertidur."
"Tidur ya. Jarang sekali melihat Miku masih tidur di jam ini."
"Airi juga masih tidur?"
"Hana pun?"
"Masih. Sepertinya Yang Mulia Ratu sangat kelelahan."
"Apa saya bisa melihat Miku, dia pasti sedang kesulitan sekarang."
"Saya juga ingin melihat Hana."
"Saya juga."
"Silakan. Bagaimanapun Yang Mulia adalah menantu kalian, jadi tidak masalah."
"Apa kami juga boleh ikut?" Tanya Raja Halman yang di teruskan oleh Raja Orphen dan Raja Elchea.
"Silakan. Kalau begitu ikuti saya!"
Mereka semua berjalan di lorong istana, melintasi para pelayan yang sedang bekerja. Beberapa dari merekapun masih merasa kagum dengan hiasan istana yang sangat indah untuk seorang Raja berumur enam belas tahun.
Sesampainya mereka di pertigaan lorong. Bukannya berbelok, Kazuo malah berjalan lurus kedepan.
"Perdana Menteri. Bukannya kamar Miku itu seharusnnya belok kanan."
"Iya, itu benar." Jawab Kazuo dengan tenang.
"Terus kenapa kita tetap berjalan lurus."
"Sayangnya Yang Mulia Ratu saat ini tidak tidur di kamarnya."
"Terus dimana dia sekarang?"
Kazuo sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Raja Allent dan terus berjalan.
Akhirnya mereka tiba didepan pintu besar berwarna putih dan berhiasan logo Glory yang terbuat dari emas.
"Yang Mulia Ratu berada disini." Katanya sambil membuka pintu besar itu.
Setelah pintu yang lumayan berat itu terbuka, semua orang langsung terkejut setelah melihat para gadis memilih tidur di lantai.
"Kenapa mereka tidur di lantai, Perdana Menteri?"
"Itu keputusan Yang Mulia Ratu sendiri. Mereka memutuskan kalau mereka semua akan terus tidur di lantai kamar Yang Mulia sampai beliau bangun."
Semua orang hanya dapat terdiam saat mengetahui alasan para gadis itu tidur di lantai.
"Mereka semua rela tidur di lantai untuk menemani dan menjaga Shin sampai dia bangun ya. Saya iri padamu, Shin." Ujar Raja Halman.
"Membuang segala gelar bangsawannya dan memilih tidur di lantai adalah bukti kesetiaan mereka kepada calon suami mereka." Sambung Raja Orphen.
"Saya belum pernah melihat wanita yang memiliki kesetiaan seperti mereka. Saya sekarang yakin kalau suatu saat nanti Glory akan menjadi Kerajaan yang sangat makmur dan bahagia." Raja Elchea juga ikut menyuarakan pendapatnya.
"Kami sangat bersyukur memiliki Raja seperti Yang Mulia." Kata Perdana Menteri saat menanggapi perkataan para Raja.
"Miku. Ayah bangga padamu. Kamu sudah menunjukkan kepada ayah bentuk dari kesetiaan sejati."
"Airi. Kamu sudah besar sekarang ya."
"Sekarang ayah tahu bahwa kamu itu sangat mencintai Raja Glory, Asha. Maafkan ayah karena selama ini tidak menyadarinya."
"Maafkan ayah juga Chika, karena tidak menyadarinya dan hampir memaksamu bertunangan dengan orang yang tidak kamu cintai."
Para ayah hanya dapat menyuarakan isi pikiran dan perasaannya dalam diam saat melihat putrinya yang masih tertidur.
"Maaf atas kelancanganku, tapi kalian seharusnya mengatakan itu di depan Putri kalian sendiri."
"Ya. Kami akan melakukannya nanti saat mereka sudah bangun."
"Tidak ada yang berubah dari tubuh Raja Glory ya."
"Begitulah. Kami juga kebingungan karena itu, tapi saudara Yang Mulia mengatakan kalau itu adalah hal yang biasa."
"Biasa ya. Saya masih belum mengerti benar tentang latar belakang keluarga Shin itu." Kata Kaisar Gardio.
"Itu tidak penting lagi. Yang pasti dia adalah anak yang baik." Jawab Raja Allent.
"Anda ada benarnya juga."
"A-ayah.."
"Ohh. Apa ayah membangunkanmu."
Tidak disangka, ternyata Miku terbangun akibat suara bising dari para pemimpin.
"Kenapa ayah dan yang lainnya berada disini?"
"Tidak ada. Ayah hanya ingin melihat putrinya yang sedang tertidur."
"Hahh. Itu memalukan."
"Hahahaha."
Setelah berhasil menggodanya, ayahnya langsung tertawa lepas melihat tingkah laku Putrinya.
"Mi-ku. Ada apa?"
Mendengar suara Miku membuat para gadis lainnya juga ikut bangun.
"A-ayah!?"
Sekarang suara Airi yang mengagetkan ayah dan para pemimpin lainnya.
"Putri kecilku."
Kaisar Gardio langsung berlari dan memeluk Putri tercintanya.
Saat melihat Airi dipeluk oleh ayahnya, Hana langsung memalingkan wajahnya untuk menatap ayahnya sendiri.
"Kenapa ayah kesini?" Tanya Hana.
"Ayah hanya datang untuk melihat keadaan Shin."
"Shin saja. Apa ayah tidak ingin tahu kondisi dari Putrimu sendiri."
"Tentu saja ayah juga merindukanmu."
Sama seperti Airi, ayahnya Hana juga berlari dan langsung memeluk erat Putrinya.
"Apa sekarang perasaanmu baik-baik saja, Asha?"
"Perasaanku jauh lebih baik."
"Begitu ya." Jawab kekecewaan ayahnya Asha.
"Maafkan ayah, Chika."
"Kenapa ayah meminta maaf."
"Ayah hanya sedikit menyesali sesuatu."
Mendengar kalimat ambigu dari ayahnya membuat Chika hanya dapat memiringkan kepalanya.
➖➖➖➖➖
Setelah beberapa menit berlalu, sudah waktunya makan siang. Mereka semua mulai beranjak dari kamar Shin menuju ruang makan.
Karena para gadis masih tidur disaat sarapan selesai, jadinya para pelayan tidak jadi membawakan makanannya ke kamar Shin dan memilih menyusun makanan untuk makan siang di meja makan.
Sesampainya mereka disana, mereka semua dikejutkan oleh masakan yang tersedia di atas meja.
"Wah. Makanan apa ini?" Tanya Raja Orphen.
"Ini adalah masakan yang resepnya di berikan langsung oleh Yang Mulia."
"Sepertinya Raja Glory memiliki selera yang tinggi juga ya."
"Silakan menikmati masakan Glory ini."
Menanggapi perkataan Kazuo, para pemimpin dan para gadis mulai berjalan menuju meja makan.
Sambil terus memperhatikan makanannya, para pemimpin mulai mengambilnya dengan hati-hati dan menyantapnya dengan lahap.
Tidak terasa waktu telah berlalu disaat mereka makan, mereka semua sudah selesai makan dan sekarang berpindah ke ruang tamu.
Sambil meminum teh dan memakan cemilan, mereka mulai mengobrol tanpa henti.
"Miku."
"A-ada apa ayah?"
Melihat tatapan ayahnya yang lumayan serius membuat Miku sedikit gugup. Dengan terbata-bata ia bertanya apa yang diinginkan olah ayahnya.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...