
"Maafkan ayah karena ayah tidak mengetahui kalau kamu selama sangat tersiksa." Katanya sambil memeluk erat tubuh Putrinya.
"Itu bulan salah ayah."
Mendengar jawaban anaknya yang begitu tulus membuat ayahnya menangis.
Disaat yang sama.
"Ayah. kenapa ayah berada disini." Tanya Chika.
"Maafkan ayah, Chika." Katanya sambil memegang pundak Putrinya dengan serius. Pegangan itu membuat Chika sedikit gugup.
"Ad-ada apa ayah?"
"Maafkan ayah karena ayah hampir saja merebut kebahagiaan darimu."
"A-apa yang ayah katakan?"
"Chika. Sekarang ayah sudah tahu siapa orang yang paling kamu cintai. Jadi ayah tidak akan membuat kesalahan lagi."
Chika yang tidak mengetahui maksud dari ayahnya hanya dapat mengangguk.
Disisi lain.
"Ashaa!" Ujar ayahnya sambil memeluk erat Putrinya.
"A-ayah. Apa yang ayah lakukan. Ini memalukan tahu." Dengan wajah memerahnya karena malu, Asha berusaha melepaskan pelukan ayahnya.
"Sejak kapan kamu tumbuh besar secepat ini." Kata ayahnya sambil sedikit menangis.
"L-lepaskan ayah!"
"Hah. M-maafkan ayah." Mendengar Putrinya seperti sudah kehabisan nafas, membuat dia langsung melepaskan pelukannya.
Semua orang hanya dapat tertawa melihat tingkah laku konyol ayah dan anak itu.
Mendengar kalau mereka sedang di tertawakan membuat kedua orang itu hanya dapat menahan malu.
"Oh ya, ayah. Ibu dimana? Apa dia tidak ikut?" Tanya Miku.
"Ibumu juga ikut tadi, tapi sekarangi dia lagi minum teh bersama saudaranya Shin."
"Begitu ya."
"Sepertinya ada yang sedang membicarakan ibu."
Semua orang langsung memalingkan wajahnya karena mendengar suara tiba-tiba dari lorong.
"Ibuu."
Mengetahui bahwa orang yang berbicara itu adalah ibunya, membuat Miku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Ara-ara. Kamu seperti sudah tidak bertemu ibu selama bertahun-tahun ya, Miku."
"Ibuuu." Teriaknya lagi sambil sedikit meneteskan air mata.
"Tenang. Ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tapi jangan khawatir ya."
"Apa yang harus aku lakukan, bu?"
"Lakukan saja apa yang menurutmu terbaik untuknya, ok."
"Ba-baiklah."
Disaat semua orang sedang menatap ibu dan anak yang sedang melepas rindu itu. Dari lorong kembali terdengar suara langkah kaki. Disaat semua orang melihatnya.
"Hah. Ibuu." Teriak serentak Asha dan Chika sambil berlari ke arahnya.
"Ibu juga kesini?" Tanya Asha.
"Tentu saja. Mana mungkin ibu meninggalkan kamu sendirian."
"Makasih bu."
Tanpa mau melepaskan pelukannya, Asha mulai menangis.
"Ibu. Apakah Shin akan baik-baik saja?" Karena penasaran, Chika bertanya kepada ibunya.
"Shin pasti akan baik-baik saja." Jawab ibunya.
"Ta-tapi kenapa dia masih belum bangun?"
Mendengar pertanyaan itu membuat ibunya terdiam. Bukan hanya ibunya, tetapi semua orang yang berada di sana hanya terdiam.
Cukup lama keheningan melanda ruangan itu, sampai akhirnya kakaknya Shin datang.
"Tenang saja. Shin pasti akan baik-baik saja." Jawab Kaori.
"Apakah yang kakak katakan itu benar?" Tanya Airi.
"Iya. Kalian seharusnya tahu orang seperti apa Shin itu kan. Jadi tenang saja." Katanya sambil memegang kepalanya Airi.
"Tapi masalahnya sekarang adalah jiwanya." Sambung Viola.
"Kamu benar." Balas Safira.
"Kenapa dengan jiwanya Shin kak?"
"Kalau masalah itu kami kurang tahu. Saat ini hanya kalian yang bisa mengobati Shin."
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Ryou.
"Kalian akan tahu sendiri jawabannya."
Perkataan Viola meninggalkan tanda tanya besar di kepala mereka semua. Tidak ada satu orang pun yang mengerti dengamln apa yang dikatakan oleh para saudara Shin itu.
➖➖➖➖➖
Di tempat yang sangat jauh di atas langit yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh siapapun.
"Sepertinya para Dewi itu telah memberikan sedikit kode ya. Kalau begitu sekarang adalah giliranku."
"Apa yang akan kamu lakukan saudaraku?" Tanya seorang laki-laki di sampingnya.
"Tidak terlalu. Hanya ingin memberikan mereka sedikit petunjuk cara untuk menolong Shin."
"Apa maksudmu?"
"Para Dewi tidak akan bisa mencapai sisi terdalam jiwa Shin saat ini. Hanya para gadis itu yang bisa mencapainya."
"Memangnya apa yang terjadi pada anak muda itu, saudaraku?"
"Saya sepertinya kurang teliti saat memberinya saran untuk bersedia dihidupkan kembali. Jadinya masalah ini tidak bisa dihindarkan."
"Saya sama sekali tidak paham saudaraku."
➖➖➖➖➖
Di sore yang indah. Para gadis dan orang tuanya sedang duduk di taman luar.
"Miku. Hari sudah sore, sepertinya ayah dan ibu harus kembali."
"Ta-tapi."
"Tenang saja. Shin pasti akan baik-baik saja."
"Ba-baiklah." Jawab Miku dengan pasrah.
"Apa kalian juga akan kembali?" Tanya Airi kepada orang tuanya.
"Kami harus pulang, Airi."
"Kalian juga ingin pulang?" Tanya Haha pula.
"Itu benar Hana. Tugas Kerajaan sedang menunggu kami semua." Sambung ibunya Hana.
"Aku masih mau bersama ibu." Teriak Airi.
"Bukannya kamu tidak sendirian disini. Jadi tenang saja ya."
Hana menatap semua gadis yang berada di belakangnya. Merasa ditatap, para gadis melemparkan senyuman balik kepadanya, dan itu membuatnya senang
"Hmm. B-baiklah bu."
"Kalau kamu Asha?" Tanya ibunya Asha.
"Aku mau tinggal disini."
"Kalau Asha tetap tinggal disini, aku juga akan tetap tinggal disini untuk menjaga Shin." Mendengar jawaban Asha membuat Chika pun jadi ikut untuk tetap tinggal di Kerajaan.
"Hmm. Baiklah kalau memang itu keputusanmu." Ujar ibunya Chika sambil mengelus kepalanya.
Saat mendapat persetujuan dari ibunya, Chika langsung menatap para gadis yang berdiri di belakangnya. Senyuman Chika pun dibalas oleh para gadis dengan senyuman pula.
Tapi ada yang membuat Chika kebingungan, yaitu tingkah laku Kyou, Ryou dan Rin.
"Kyou, Ryou, Rin. Ada apa?" Tanya Chika.
"Ti-tidak-tidak. Bukan masalah besar." Bantah Rin dengan ekspresi panik.
Semua orang hanya diam dan terus menatap ketiga gadis itu dengan tatapan penasaran. Miku yang menyadari kalau ketiga gadis itu saat ini sedang terpojok oleh pertanyaan Chika langsung mengalihkan pembicaraan.
"Bu-bukannya ibu dan ayah mau pulang. Hari sudah mau gelap."
Mendengar pertanyaan mendadak dari Putrinya membuat ibunya Miku tersadar dan langsung menjawab.
"Ohh ya. Kalau begitu, kami pulang dulu."
"Ayo-ayo, kita harus pulang." Ujarnya sambil sesekali mendorong para ibu lainnya.
"Hati-hati." Jawab Miku dengan senyuman lebar di wajahnya sambil melambaikan tangannya.
Melihat semua orang sudah tidak terlihat lagi membuat Miku menghela nafas lega.
"Huhh. Baguslah kalau ibuku paham apa maksudku." Gumamnya.
"Apa kamu mengatakan sesuatu, Miku?" Tanya Asha.
"Ti-tidak-tidak. Lebik baik kita bersiap untuk makan malam dan pergi tidur."
"Ayoo."
➖➖➖➖➖
Di malam hari yang sunyi. Kicauan burung nokturnal menghiasi langit malam di Istana. Bintang-bintang yang berkilauan di atas langit menambah keindahan di malam yang cerah itu.
Tapi di baik keindahan langit malam, ada seorang gadis muda yang sedang mengkhawatirkan sesuatu.
Dia duduk diam di balkon kamarnya sambil terus menatap langit seolah-olah cahaya bulan memanggilnya.
Rambut kuning cerahnya berterbangan saat ditiup oleh angin malam. Bola mata Heterochromia nya menambah kecantikannya di malam hati itu..
Ya. Dia adalah Putri pertama Kerajaan Allent, Miku Urnest Allent.
Ditengah lamunan yang masih menguasai dirinya, dari dalam kamar mendadak muncul seorang gadis lainnya.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
"Hah, Kyou. Aku hanya ingin menikmati langit malam yang indah ini." Jawabnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kita sudah lumayan lama tinggal bersama, jadinya aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini, Miku."
Mendengar bahwa Kyou itu sangat mengerti tentang dirinya membuat Miku tersenyum.
"Aku sepertinya memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu ya." Ujarnya sambil mengeluarkan sedikit senyuman cangung.
"Itu sudah pasti lah." Balas Kyou.
"Aku hanya sedang memikirkan apa maksud dari perkataan kak Viola."
"Aku juga tidak tahu maksudnya."
"Kyou. Apa menurutmu Shin akan baik-baik saja?"
"Pastinya. Bukannya dia itu adalah Shin."
Perkataan itu sama sekali tidak membuat Miku tenang. Dia hanya diam sebentar dan kembali menatap langit.
"Semoga saja ya." Gumamnya.
Takut semakin lama situasi ini terjadi akan membuat Miku tambah bersedih, Kyou berjalan ke arahnya dan berkata.
"Ayo kita tidur, Miku."
"Hmm. Baiklah."
Kyou berusaha membantu Miku berdiri dan membawanya ke dalam kamar untuk tidur.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...