
"Tidak ada, aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan."
"Kau juga kurang ajar ya."
"Siapa yang memerintahkan orang untuk mengurung anaknya sendiri. Jadi menurutmu siapa yang lebih kurang ajar sebenarnya disini."
"Kau...!" Dia sudah sangat marah padaku, tangannya sudah dikepalnya dan matanya sudah sangat tajam menatapku.
Sepertinya aku juga harus pergi dari sini sekarang, aku juga sudah mendapatkan apa yang aku inginkan.
"Sepertinya situasinya sudah sangat genting disini, kalau begitu aku pamit dulu."
Aku yang berdiri juga di ikuti oleh Raja Halman dan Asha, tapi sebelum asha berdiri sepertinya dia sudah memberi kode pada pangeran mahkota dan juga putri sehingga mereka menatap ayahnya.
"Kalau ayah seperti itu aku dan adikku akan pergi dari sini."
"Apa yang kau katakan." Ayahnya yang masih marah padaku terkejut mendengar perkataan putrinya.
"Kami juga akan pergi juga bersama Raja Glory dari sini." Balas tuan putri dari keterkejutan ayahnya.
Saat mendengar namaku dia langsung menatapku dengan tatapan membunuh.
"Ada apa yang mulia, itu bukanlah salahku." Aku hanya memberinya senyuman jahat.
Sekarang aku, raja Halman, Asha, putri kedua dan pangeran mahkota keluar dari istana dan pergi meninggalkan kerajaan itu.
Aku memilih untuk membawa mereka bertiga ke kerajaanku dan mengantarkan raja Halman ke kerajaannya.
Saat di kerajaan Halman, aku pamit pada raja dan langsung merapalkan mantra [Gate] ke arah istana.
"Hah..." Sepertinya mereka terkejut melihat mantraku.
"Tidak apa-apa, masuk saja."
"Kita mau kemana Yang Mulia." Tanya pangeran mahkota padaku.
"Aku akan membawa kalian untuk sementara ke kerajaanku sebelum aku bisa mendamaikan kerajaan kalian."
"A-apakah kamu akan bisa mendamaikannya Yang Mulia." Putri Holter yang ragu memilih bertanya padaku.
"Tenang saja." Kataku sambil tersenyum lembut pada mereka.
"Ba-baiklah. Kami percaya padamu." Balas putri lagi dengan wajah memerah.
"Terima kasih. Aku berjanji akan mendamaikan kerajaan kalian."
➖➖➖➖➖
Sudah seminggu lamanya Asha dan Chika tinggal di kerajaanku. Kerajaan Holter dan colder sekarang sudah gempar karena mereka kehilangan putri mereka.
Kalau pangeran mahkota sudah aku pulangkan sebagai salah satu stategiku.
"Apa kalian sudah mulai betah tinggal disini?"
"Ya. Kami sudah nyaman tinggal disini."
"Kerajaan ini sangat damai ya."
Miku, Asha dan Chika sedang mengobrol bersama di balkon istana, suara kicauan burung juga menambah ketenangan hati mereka di pagi itu.
"Selamat pagi."
"Pagi Kyou, Rin. apa kalian sudah selesai latihannya?" Miku menyapa balik mereka berdua.
"Ya. Kami juga sudah mandi, rasanya sangat menyegarkan setelah mandi."
"Kalau begitu ayo ikut bergabung bersama kami."
"Ya tentu."
Kyou dan Rin dengan senang hati bergabung dengan mereka semua, cukup lama meraka mengobrolkan apapun sampai akhirnya Airi, Hana dan Ryou datang.
"Aku sudah selesai membuat kuenya."
Airi, Hana dan Ryou datang dengan membawa beberapa piring kue yang dibuat Airi.
"Wahh, keliatannya enak."
"Kamu benar."
Mata Chika dan Asha menjadi kagum melihat kue buatan Airi yang keliatannya menggoda selera.
"Silakan di coba." Tawar Airi pada mereka berdua.
Mereka hanya mengangguk dan mulai mengambil kue, saat mereka mencobanya ternyata kue itu sangat enak.
"Kue ini sangat enak."
"Kamu benar-benar hebat Airi."
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku menyenangkan." Jawab Airi dengan ekspresi senang.
"Hmm. Apa Shin masih sibuk?" Tanya Rin untuk menambah topik.
"Sepertinya, dia sekarang sedang berusaha." Jawaban Hana membuat Asha menundukkan kepalanya.
"Kaharap Yang Mulia akan berhasil."
"Yang mulia pasti berhasil." Chika menenangkan Asha sambil terus memegang tangannya.
Setelah mood mereka kembali, mereka semua cuma ketawa bersama di pagi hari itu.
➖➖➖➖➖
Sementara di Kerajaan Holter, semua orang sudah sangat panik karena tidak menemukan Putri mereka.
"Apa kalian sudah mendapatkan kabar tentang putriku?"
"Maaf yang mulia kami belum mendapatkan kabar keberadaan tuan putri."
"Apa...." Wajah raja langsung berubah menjadi wajah orang frustasi."
"Tapi kami mendapatkan kabar bahwa putri kerajaan Holter juga menghilang yang mulia."
"Holter?"
"Dan mereka mengatakan kalau yang menculik putri mereka itu adalah raja kerajaan Glory yang mulia."
"Raja Glory.... Apa sebenarnya tujuannya? "
Di kerajaan Holter juga mengalami hal yang sama, mereka juga mengiraku sebagai pelaku penculikan putri.
Yang memberitahu mereka tentu saja adalah pangeran mahkota, aku menyuruh pangeran mereka mengatakan kepada ayahnya bahwa aku yang telah menculik putrinya.
➖➖➖➖➖
Di malam harinya aku menyelinap ke kamar kedua raja dan memindahkan mereka menggunakan [Gate].
Rencanaku dari awal adalah membuat mereka membenciku, disaat itu pula aku akan menculik mereka berdua dan meninggalkan mereka berdua di sebuah pulau terpencil.
"Maafkan aku, tapi ini demi kebaikan kerajaan kalian sendiri." Gumamku saat meninggalkan mereka yang masih tertidur di pantai.
Di saat mereka berdua terbangun di pagi harinya, mereka langsung terkejut serentak.
"Hah.... Dimana ini, dan kenapa kau juga disini?"
"Seharusnya aku yang mengatakan itu."
Mereka berdua mencoba menjauh dari lawannya tapi mereka tidak bisa.
"Kenapa tanganku di ikat seperti ini."
"Siapa yang beraninya melakukan ini."
Mereka yang sudah marah memutar kepala mereka untuk mencari palakunya dan saat itulah mereka melihat seseorang yang sedang bersantai di pantai itu.
"Siapa disana." Teriak raja Holter sambil menyipitkan matanya untuk melihatnya.
"Ayo kita kesana." Saran raja Colder langsung di iyakan oleh raja Holter.
Mereka yang masih kekurangan tenaga mulai mencoba berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah.
Ketika mereka masih lumayan jauh, raja Colder menyuruh berhenti.
"Tunggu dulu." Sambil menahan tubuh musuhnya dari dulu itu.
"Apa yang kamu lakukan, kita bisa meminta bantuan dia." Bantah raja Holter.
"Coba kamu perhatikan baik-baik dia, bukannya dia Raja Glory."
"Apa...." Raja langsung menatap orang itu yang tak lain adalah aku.
"Kau yang telah menculik putriku." Raja Holter yang marah mulai berjalan cepat, hal itu juga membuat musuhnya ikut bergerak juga karena mereka terikat.
Baru beberapa langkah mereka berjalan.
Brutt.....
Mereka berdua terjatuh ke lubang besar yang lumayan dalam.
"Kenapa bisa ada lubang disini." Kata raja Colder sambil memegang pinggangnya.
Sepertinya mereka sudah terjatuh ya.
Aku berdiri dan berjalan mendekati lubang dan menatap raja yang malang itu.
"Hai kalian berdua."
"Kauuu."
Sepertinya mereka berdua benar-benar membenciku ya, tapi itu bagus untuk rencanaku.
"Kau yang telah menculik putriku."
"Kembalikan putri kami."
"Coba saja kalian mengambilnya kembali dari ku." Dengan sedikit senyum jahat aku mencoba menggoda mereka.
"Awas saja kau nanti."
"Aku akan menantikan itu, kalau begitu sampai jumpa nanti." Aku mulai berjalan menjauh meninggalkan lubang tempat mereka terjebak.
"Tunggu..."
Teriakan mereka berdua hanya aku abaikan tanpa respon apapun.
"Cih. Dia seenaknya meninggalkan kita disini." Raja Colder sedikit marah.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya raja Holter.
"Kita sebaiknya keluar dari lubang ini dulu."
"Kau benar."
Mereka mencoba memanjat lubang itu, beberapa percobaan awalnya gagal namun akhirnya mereka berhasil setelah mengeluarkan kekuatan yang tersisa.
Setelah keluar mereka masih tidak tau harus ngapain.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Aku juga t__"
Brett....
"Apa kau kelaparan? Ternyata bisa juga kau lapar ya." Tawa raja Colder.
"Diam kau. Ayo kita cari makanan dulu."
Dengan perut yang keroncongan mereka mulai menjelajahi pulau kecil itu, butuh beberapa menit untuk mereka menemukan makanan.
"Apa kau lihat buah itu." Tanya raja Holter sambil menunjuk buah apel yang ada di pohon.
"Ya aku melihatnya, tapi bagaimana cara mengambilnya?"
"Coba kita lempar batu supaya buahnya jatuh."
Raja Holter mangambil batu dan melemparnya, saat batu itu mengenai buah apel beberapa apel jatuh.
"Aku mengenainya."
"Kau lumayan juga."
Mereka langsung berlari mengambil apel itu dan memakannya.
"Hmm.... Sepertinya buahnya kurang."
"Kau benar. Bagaimana kalau kita panjat saja."
"Bagaimana mau manjat,apa kau lupa kalau tangan kita di ikat."
"Kita coba saja dulu."
Mereka yang hanya memiliki tiga tangan mulai memanjat pohon apel yang cukup tinggi itu, saat sampai di ujung dahan yang terdapat buah.
Bruttt....
Dahannya patah dan membuat mereka terjatuh ke tanah yang keras, tidak hanya mereka yang terjatuh tetapi juga buah apelnya.
"Pinggangku sakit lagi."
"Kau lemah juga ya, walaupun tampangmu lumayan serem." Tawa raja Colder.
"Berisik."
"Hei. Lihat, buahnya juga banyak yang jatuh."
Tanpa peduli lagi dengan bagus tidaknya apel itu mereka langsung memakannya.
➖➖➖➖➖
Sudah seminggu mereka menjalani hidup seperti orang terlantar.
Baju mereka sudah compang-camping dan rambut mulai tumbuh tak beraturan di wajah mereka berdua.
Mereka menghabiskan hari-hari dengan mencari buah-buahan dan menangkap ikan di laut, setelah itu mereka membakarnya di tepi pantai sambil berharap akan ada yang melihat mereka disana.
"Hidup seperti ini tidaklah buruk."
"Kau benar, beban pikiranku juga sudah mulai hilang sekarang."
"Apa kau tidak mau kembali ke kerajaan?"
"Kalau bisa aku mau."
Tanpa pandang musuh lagi mereka hanya tertawa bersama sambil memakan ikan yang mereka tangkap tadi siang.
"Hhhh. Sepertinya setelah kenyang mataku jadi mengantuk."
"Aku juga."
Kisah petualangan mereka ditutup pada malam itu.
➖➖➖➖➖
"Sepertinya mereka sudah berbaikan."
"Kamu benar Shin."
"Sekarang kita jalankan tahap terakhir."
Mengawasi mereka dari atas FIB adalah pekerjaanku selama seminggu ini, selama itu juga aku sudah melihat semua hal yang mereka kerjakan di pulau itu.
Dan sekarang tahap terakhir dari rencanaku.
Paginya saat mereka bangun.
"T-tidurku lumayan nyenyak juga ternyata." Kata raja Holter sambil meregangkan tubuhnya.
"Tubuhku juga sudah terbiasa tidur disini." jawab raja Colder.
"Apa kalian sudah mulai terbiasa."
Mereka yang mendengar suara yang tidak asing langsung berbalik menatap orang itu. Wajah mereka berubah lagi menjadi wajah pembunuh.
"Kau lagi."
"Awas kau."
Mereka berdua mulai berlari dengan cepat menuju araku dan.
Bruttt.....
"Aduhh. Pinggangku sakit lagi."
"P-perasaan kemarin tidak ada lubang disini."
Aku hanya berjalan ke arah lubang itu dan sedikit tertawa melihat mereka berdua.
"Kenapa kalian bisa jatuh di lubang yang sama sih." Kataku sambil menyeringai.
"Dia kau, kembalikan putri kami."
"Kau beraninya hanya pada putri kami saja, kalau kau sampai berbuat kurang ajar pada putri kami awas saja."
"Bukan aku yang kurang ajar pada putri kalian, tapi kalian sendiri yang kurang ajar pada mereka." Teriakku membantah apa yang dikatakannya.
Mereka yang sedikit terkejut mendengar suaraku yang tiba-tiba naik hanya terdiam.
"A-apa maksudmu?" Tanya raja Colder yang masih syok.
"Kalian lihat ini."
Aku memproyeksikan video di udara tepat di atas kepala mereka berdua.
"A-apa..."
"Ti-tidak mungkin."
Wajah mereka yang awalnya marah berubah menjadi ketakutan melihat video yang aku putar itu.
Di dalam video itu terlihat perang yang terjadi antara kerajaan Holter Dan kerajaan Colder. penderitaan rakyat mereka juga terlihat dan kehancuran juga terjadi dimana-mana.
Di akhirnya video itu yang lebih parah, disana di perlihatkan pertempuran adu pedang antara dua pangeran mahkota dari kedua kerajaan, di belakang pangeran mahkota yang sedang bertarung terdapat dua putri yang tak sadarkan diri bersimbah darah di tanah.
Video ditutup dengan adegan kedua pangeran mahkota itu tertusuk oleh pedang lawannya dan langsung terkapar kesakitan di tanah.
"Itu yang sedang terjadi di kerajaan kalian sendiri sekarang ini."
"Tidak mungkin."
"A-apa yang terjadi dengan putra dan putriku?" Raja Holter langsung bertanya padaku dengan panik.
"Ya. Kau pasti sudah bisa menebaknya." Jawabku dengan ekspresi sedih.
"Itu pasti bohong. Tidak mungkin mereka terbunuh."
"Apa lagi yang tidak mungkin, bukannya kalian sudah melihat anak-anak kalian sendiri atau mungkin mereka bukan anak kalian." Jawab marahku atas perkataan raja Colder.
"Ti-tidak mungkin, anak-anakku." Lutut mereka langsung menyentuh tanah karena tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri.
"Kalian seharusnya sadar diri kalau permusuhan hanya membawa kesengsaraan. sekarang apa yang akan kalian lakukan?"
"Maafkan ayah sayang, ayah tidak bisa menjadi orang tua yang baik selama ini."
"Aku pasti akan malu pada diriku sendiri karena telah menelantarkan anak-anakku."
Gumam mereka berdua sambil menangis atas kematian putra putri mereka.
"Sekarang bagaimana?" Tanyaku pada mereka.
"Aku tidak mempunyai kekuatan untuk menjalani hidup lagi, tapi kalau seandainya waktu bisa diulang aku pasti akan mencoba menjadi ayah yang baik."
"Aku juga tidak bisa mati disini, aku tidak akan bisa memperlihatkan wajahku di depan istri dan anak-anakku yang menanti disana."
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...