
Mereka berenam menyusuri jalan menuju ke tempat Nikola yang berada di luar istana.
Nikola yang menyadari kedatangan Ratunya langsung menyambut mereka berenam dengan ekspresi panik.
"Ya-yang Mulia Ratu. Apa ada gerangan Yang Mulia Ratu kesini."
"Tidak ada. Hanya ingin bertanya, apa yang sedang terjadi di sini sekarang?" Tanya Miku sambil terus memutar kepalanya untuk melihat sekeliling.
"Anu. Ta-tadi saya mendapat laporan kalau ada sekelompok orang yang menyerbu ke arah istana dari timur ibukota."
"Serbuan!? Siapa mereka dan apa tujuannya?"
"Saya belum tahu pasti siapa mereka, tapi sepertinya mereka adalah teman satu komplotan dengan orang yang kita tangkap dulu."
"Apa mereka mencoba menyelamatkan temannya yang di tahan?"
"Sepertinya bukan itu tujuannya." Nikola.
"Terus apa?"
"Saya juga tidak tahu, tapi yang pasti mereka tidak punya niat untuk menyelamatkan temannya."
"Alasannya?"
"Kalau memang mereka berniat untuk menyelamatkan temannya, mereka pasti menuju ke penjara tempat temannya di kurung. Tapi anehnya, mereka semua malah berpencar ke seluruh penjuru ibukota kerajaan."
"Jadi apa yang sebenarnya mereka lakukan?"
Nikola hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia juga tidak tahu jawabannya.
Beberapa menit kemudian seorang ksatria datang menghampiri Nikola.
"La-lapor wakil komandan Nikola."
"Ya. Silakan."
"Kami telah berhasil menangkap salah satu dari komplotan mereka."
"Dimana dia sekarang?"
"Sekarang dia sedang di bawa ke penjara."
"Baiklah. Kita ke penjara sekarang."
"Ba-baik."
"Kami juga ikut."
Baru satu langkah Nikola berjalan, langkah kakinya langsung terhenti setelah mendengar perkataan Miku.
"Yang Mulia Ratu lebih baik disini saja." Ujar Nikola dengan panik untuk menghentikan Miku supaya tidak mengikutinya.
"Tidak bisa. Selama Shin tidak ada disini, kami berenam yang bertanggung jawab atas semuanya."
"Ta-tapi.... Ba-baiklah." Jawabnya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
Berjalan bersama ke arah penjara tempat salah satu orang yang di tangkap itu membuat keenam tunangan itu sedikit takut, tapi ketakutan itu lantas menghilang begitu saja setelah mereka di hampiri oleh Kaku yang menawarkan pengawalan.
Setibanya di sana, ternyata di sana telah berdiri pula perdana menteri Kazuo dengan tatapan mengintimidasinya. Sepertinya Kazuo langsung kesini setelah mendapatkan kabar bahwa salah satu penyerbu telah tertangkap.
Dari yang dikatakan Kazuo, tahanan itu sama sekali tidak mau menjawab satupun pertanyaan yang di berikan padanya.
Topeng yang terpasang di wajahnya juga tidak bisa di lepas karena topeng itu akan otomatis meledak kalau di lepas. Itu mengisyaratkan kalau mereka itu adalah komplotan spesialis bunuh diri.
"Perdana menteri. Apa benar dia satu komplotan dengan mereka yang di tangkap dulu?"
"Sepertinya begitu Yang Mulia Ratu. Kami tadi menemukan kalung yang sama dengan yang digunakan orang yang kita tangkap dulu." Sambil memperlihatkan kalungnya, Kazuo mengatakan itu pada Miku.
"Apa sudah dapat cara supaya dia bisa membuka mulutnya?"
"Sampai sekarang kami belum menemukan caranya."
"Maaf kalau hamba lancang. Tapi, kalau hanya untuk memaksanya berbicara sepertinya masih ada satu cara nyonya."
"Bisa. Bagaimana caranya Kaku?"
"Kaisar surgawi mempunyai kemampuan memaksa setiap makhluk yang kekuatannya lebih rendah darinya untuk berbicara jujur di hadapannya."
"Heh. Haku mempunyai kekuatan seperti itu?" Respon kaget Airi dan Hana.
"Benar nyonya."
"Kalau begitu panggilkan Haku dan minta tolong padanya."
"Baiklah nyonya."
Tidak lupa juga, para bawahan Kaku juga di turunkan untuk membantu ksatria menangkap komplotan yang meresahkan itu. Tugas harimau emas itu cuma menemukan lokasi keberadaan mereka saja, sisanya biar ksatria yang mengurusnya.
Setelah mereka menunggu selama beberapa menit, Haku yang di tunggu-tunggu akhirnya sampai ke penjara dalam bentuk kecilnya tentu saja.
"Hamba datang sesuai keinginan nyonya."
"Terima kasih telah datang, Haku." Ucap Miku dengan senyuman lembutnya saat mendengar perkataan Haku yang menundukkan kepala padanya.
"Apa ada yang bisa hamba bantu?"
"Kami minta tolong untuk membuat orang ini mengatakan apa niatnya datang kesini." Miku meminta tolong sambil menunjuk tahanan yang di kurung di dalam penjara itu.
"Baik. Serahkan saja pada hamba." Setelah menundukkan kepalanya sebentar ke arah Miku tanda bahwa dia siap melaksanakan perintahnya, Haku mulai berjalan beberapa langkah ke arah orang itu dan menatapnya.
Aura biru kehitaman terpancar keluar dari dalam tubuhnya, auranya membuat tahanan itu gemetaran dan berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tapi dia tidak bisa sama sekali.
Setelah mencoba melepaskan dirinya dari pancaran aura Haku selama beberapa detik, dia akhirnya diam tanda kalau dia sudah berada di bawah pengaruh Haku.
"Katakan padaku, siapa dan dari mana kamu berasal wahai manusia?"
"Kami adalah anggota dari organisasi bawah tanah Golden dari Kekaisaran Slave." Jawab tahanan itu dengan wajah datar tanpa emosi akibat efek dari hipnotis.
"Kekaisaran Slave!?" Rin kaget setelah mendengar perkataannya.
"Apa yang diinginkan mereka dari kita?" Gumam Kazuo sambil terus menatap tahanan yang tidak bergerak itu.
"Kenapa organisasi bawah tanah Kekaisaran Slave menyerang kerajaan ini untuk yang kedua kalinya? Apa sebenarnya tujuan kalian?"
"Awalnya kami di perintahkan untuk memojokkan Raja Glory dengan rumor itu supaya dia bisa menerima proposal pernikahan dari pemimpin kami. Namun kami gagal, jadinya Kaisar menyuruh kami untuk langsung masuk ke tujuan utama."
"Apa maksudmu tujuan utama?" Tanya Haku dengan tetap memasang mata tajamnya.
"Tujuan utama kami adalah untuk mengambil senjata yang dimiliki oleh Raja Kerajaan Glory."
"Senjata. Senjata apa yang dia maksud?"
"Apa kita mempunyai senjata yang seperti itu?"
"Shin tidak pernah mengatakan kalau dia menyimpan senjata lain?"
"Shin juga tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu dari kita."
"Kamu benar Hana."
Rin, Kyou, Ryou, Hana dan Airi mulai bergumam di belakang sambil terus menatap satu sama lain dengan ekspresi kebingungan.
"Senjata apa yang pemimpin kalian inginkan dari tuanku?" Tanya Haku.
"Giant Knight. Itu yang pemimpin kami inginkan."
"Apa!? Shin mempunyai senjata itu? Sejak kapan Shin mempunyai senjata baru yang bahkan kami belum mengetahuinya sama sekali?" Tanya bingung Miku.
"Sepertinya bukan seperti itu maksudnya, Yang Mulia Ratu." Bantah pelan Kazuo.
"Apa maksudmu perdana menteri Kazuo?"
"Menurut saya yang dimaksud dia itu bukan senjata baru yang dimiliki Yang Mulia, tapi yang dia maksud itu pasti Frame Rescue."
"Jadi Frame Rescue nya Shin yang mereka incar."
"Menurut saya memang itu. Pasti Frame Rescue menarik perhatian kerajaan musuh yang menginginkan kekuatan di atas segalanya."
"Ada benarnya juga. Memang benar bahwa sepanjang sejarah dunia ini belum ada senjata yang lebih mengerikan dari Frame Rescue nya Shin itu." Ujar setuju Kyou yang di setujui juga oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu, bahkan Haku juga mengangguk setuju akan perkataan Kyou.
"Apa kalian tahu dimana tuanku meletakkan senjata itu?" Tanya Haku lagi.
"Kami tidak tahu dimana lokasinya, karena itu kami semua berpencar ke seluruh ibukota untuk mencarinya."
"Itu sudah pasti. Saya saja yang merupakan perdana menterinya tidak tahu dimana Yang Mulia meletakkannya." Dengan sedikit tawa, Kazuo mengatakan itu.
"Benar. Hanya Shin yang mengetahui lokasinya. Selain Shin, tidak ada lagi yang tahu dimana dia meletakkan senjata sebesar itu." Ujar Miku yang diiringi dengan menatap semua tunangan lainnya.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...