
Masih berada di dalam ruangan yang sama sekali tidak aku ketahui.
"Si-siapa kamu ya?"
"Hmm. Kamu bisa memanggilku Kakak."
"Kakak!?"
"Iya. Panggil aku Kak Azara." Ujarnya sambil mengeluarkan wajah memohonnya.
"Y-ya. Ba-baiklah kak A-azara."
"Terima kasih."
Dia mengenakan baju putih bercorak bunga nan lembut dan rambut yang terurai bebas. Tidak lupa juga tahi lalat yang berada tepat di bawah mata kanannya.
"Anuu. Ini dimana ya?"
"Hmm. Mungkin bisa dikatakan kita saat ini berada di alam buatan."
"Alam buatan?"
"Seperti yang kamu lihat. Ini adalah alam buatan yang aku buat, tidak akan ada yang bisa masuk kesini."
Setelah dia mengatakan itu, aku kembali menatap keseliling. Bukannya meja yang terlihat seperti di tempat Dewa Semesta, tapi hanya tempat tidur, di sampingnya juga ada lemari kayu dan di depannya ada televisi seperti biasanya.
"Oh ya. Kenapa aku bisa berada disini?"
"Aku yang telah memanggilmu. Dari dulu aku sudah tertarik padamu semenjak kamu menginjakkan kaki di dunia ini."
"Tertarik dari dulu? Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Aku hanya merasa nostalgia saat melihat auramu, auramu sama seperti aura orang yang ku kenal dulu." Ujarnya dengan nada sedih yang terpampang jelas di wajahnya.
"Anuu. Ka-kalau boleh tahu apa yang terjadi? Mungkin saya tidak bisa membantumu tapi setidaknya saya ingin mendengar isi hatimu."
"Kamu memang anak yang baik."
"Baiklah. Akan aku ceritakan." Setelah mengatakan itu, dia terdiam sejenak lalu menarik nafas untuk bersiap bercerita.
"Dulu aku adalah seorang manusia yang beruntung karena telah menerima anugerah dari Dewa."
"Tapi karena mendapat anugerah itu aku jadi sombong dan sangat merendahkan orang lain yang berada di bawahku."
"Lalu orang yang memberiku anugerah itu mengusirku dari tempatnya. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kesalahan fatalku, tapi sekarang sudah terlambat."
"Kesombonganku telah merasuki seluruh jiwa dan mengendalikanku seutuhnya. Yang kamu lihat sekarang ini adalah aku sebelum dirasuki kesombongan."
"Aku juga tidak tahu kenapa, tapi sepertinya semenjak kamu datang ke dunia ini, jiwaku dan jiwa jahatku mulai terpisah dan menciptakan aku yang sekarang."
Dia menceritakan itu sambil sesekali menatap ke bawah. Tangannya juga nampak tidak bisa diam, dan juga walaupun dia tidak bisa menangis, tapi terlihat jelas kalau dia itu sedang menangis
"Jadi seperti itu ya. Sepertinya anda sangat menyesalinya ya." Kataku.
"Tentu saja. Seandainya aku dulu tidak sombong, mungkin kini aku sudah bisa hidup dengan damai. Dewa tua itu juga mungkin tidak akan mengusirku."
"Saya turut berd_!! Tu-tunggu. Dewa tua?" Aku mengatakan itu dengan sedikit panik berharap bahwa pikiranku salah.
"Heh. I-iya. Emangnya ada yang salah?" Melihat tingkah laku ku, dia langsung menjawab pertanyaanku dengan panik juga.
"Kalau boleh tahu,apakah orang yang memberi anda anugerah itu adalah seorang kakek tua yang berkacamata?"
"I-iya."
"Apakah dia adalah seorang Dewa Semesta?"
"Be-benar. Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Hahhh." Merasa telah mendapatkan jawaban yang aku minta, hembusan nafas lega keluar begitu saja.
"Ap-apa yang terjadi?"
"Bu-bukan apa-apa. Hanya saja, Dewa Semesta itu pula yang mengirimku ke dunia ini."
"A-apa!?" Mendengar kalimat yang keluar dari mulutku membuatnya sedikit mundur karena kaget.
"Dia yang telah menghidupkanku kembali dan mengirimku ke dunia ini."
Aku mulai menjelaskan semuanya. Mulai dari duniaku, insiden saat aku mati dan bagaimana aku bisa berada di dunia ini.
Dia hanya diam sambil terus mendengarkanku dengan seksama. Tak ada satupun pertanyan yang keluar dari mulutnya.
"Seperti itulah ceritanya." Kataku untuk menutup kisah singkat tentang hidupku.
"Ohh. Sekarang saya paham kenapa jiwa saya bereaksi terhadap kehadiranmu. Mungkin itu karena kamu adalah orang yang juga telah diberikan anugerah oleh Dewa Semesta."
"Ya. Sepertinya itulah alasannya."
Setelah semuanya jelas, kami berdua menganggukkan kepala tanda bahwa semua masalah dan misteri sudah terpecahkan.
"Saya heran. Kenapa anda tidak terkejut saat saya mengatakan kalau saya berasal dari dunia lain?"
"Kalau aku yang dulu mungkin saja terkejut. Tapi, setelah bertemu dengan Dewa Semesta dan menerima anugerah, aku tidak akan dapat menyangkal lagi kalau ada dunia selain duniaku."
"Ada dunia selain duniaku ya. T-tunggu, duniaku?" Sepertinya aku mendengar sebuah kata yang asing untukku, jadinya kalimat itu keluar begitu saja.
"Ya. Sama sepertimu, aku juga bukan dari dunia ini tapi berasal dari dunia lain."
"Hah!? Apa maksudmu?"
"Sama seperti kasusmu, aku juga mati di duniaku dan dihidupkan kembali oleh Dewa Semesta di dun_."
"Tunggu. Biarkan aku untuk mencerna semuanya dulu." Dengan meluruskan tanganku ke depan untuk menghentikan dia berbicara sambil terus memegangi kepalaku untuk mencerna semuanya.
"Jadi dunia lain itu memang ada?"
"Seperti yang kamu lihat, aku dari dunia lain."
"Anda mati disana dan dihidupkan kembali?"
"Ya."
"Setelah anda menjadi Dewa, karena kesombongan anda akhirnya di usir dari alam para Dewa?"
"Hmm. Sekarang aku mengerti sedikit."
"Baguslah kalau kamu sudah mengerti situasinya."
"Sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah bagaimana caraku untuk bisa keluar dari sini."
"HAHH. Te-tenang saja. Kamu sebentar lagi akan bangun kok."
"Benarkah. Syukurlah."
"Oh ya. Ngomong-ngomong, untuk apa anda memanggilku kesini. Yang jelas bukan hanya untuk menyapaku dan mendengarkan anda bercerita saja kan?"
"Hahah. Kamu memang anak yang pintar."
"Niatku awalnya hanyalah untuk mengobrol denganmu. Tapi setelah tahu kalau kamu adalah orang yang diberi anugerah juga, aku jadi ingin meminta pertolonganmu."
"Pertolongan!? Pertolongan apa?"
"Aku minta tolong untuk membebaskanku dari sini. Dari kehampaan ini dan dari kesendirian ini."
"Apa yang harus saya lakukan untuk bisa membantu?"
"Terima kasih Shin. Dan juga sudah aku bilang untuk jangan memanggilku lagi dengan sebutan anda, panggil saja aku kak Azara."
"Ok-okelah. K-kak Azara." Dengan gugup aku mencoba memanggil namanya.
Dia hanya dapat tersenyum lembut saat melihatku yang sangat gugup ketika memanggil namanya.
Beberapa saat kemudian, senyumannya berubah menjadi ekspresi sedikit sedih.
"Ke-kenapa kak Azara?"
"Sepertinya kamu harus bangun sekarang."
"Kanapa?"
"Tidak terlalu. Hanya saja sepertinya Kerajaanmu sekarang berada dalam kebimbangan karena Rajanya tidak bangun-bangun selama lebih dari dua bulan."
"Dua bulan!?"
Disaat aku masih belum percaya kalau aku sudah tidak sadarkan selama dua bulan. Tiba-tiba, cahaya putih mulai membalut tubuhku di dalam kehangatannya.
"I-ini?"
"Sepertinya sudah saatnya."
"Tapi aku bahkan belum tahu cara untuk dapat menyelamatkanmu."
Mendengar kalimatku, dia langsung kaget dan melanjutkan tindakannya dengan senyuman sambil berkata.
"Pasti suatu saat nanti kamu akan tahu sendiri caranya."
"Ta-tapi."
"Tenang saja. Sampai saatnya tiba, aku akan terus melihatmu dari jauh sambil menunggu saat dimana kamu berhasil menyelamatkanku."
"Ba-baiklah kalau itu yang kak Azara inginkan."
"Terima kasih sudah mau menghawatirkanku. Semoga kita dapat bertemu lagi secepatnya, Tatsuya Shin."
"Sama-sama. Semoga kita dapat bertemu lagi."
Setelah memberi kata-kata terakhirku kepadanya. Mataku pun mulai mengabur dan aku akhirnya tak sadarkan diri.
➖➖➖➖➖
"Aku sama sekali tidak meng_"
"Rin!"
"Hah. Y-ya, ada apa?"
"Apakah kamu sakit?"
"Ti-tidak-tidak. Aku tidak sakit."
"Tapi, dari beberapa hari ini kamu selalu melamun."
"Oh ya. Aku baru ingat. Saat kamu melamun sendirian, kamu selalu mengatakan hadiah. Emangnya hadiah apa dan untuk siapa?" Menanggapi perkataan Miku, membuat Hana juga ikut bertanya.
"Ti-tidak ada apa-apa. Kalian tenang saja."
"Rin. Kamu jangan berbohong, kita sudah lama tinggal bersama, jadi kami sudah tahu kalau kamu itu sedang berbohong."
Kini di kamar Shin, sedang berkumpul para tunangan Shin yang sedang minum teh bersama.
Tidak sama seperti sebelumnya, teh yang kini diminum para tunangan Shin tidak terasa sama sekali. Mungkin karena perasaan mereka sedang tidak baik dan juga mungkin karena mereka terlalu banyak menangis.
"Aku sedang tidak berbohong."
"Rin. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" Airi yang paling kecil juga ikut penasaran.
Semakin lama Rin berusaha menyembunyikan nya, semakin tajam pula tatapan para gadis yang lainnya. Tatapan mereka semakin membuat Rin tersudut, dan akhirnya dia angkat bicara.
"Annuu. Se-sebenarnya aku sedang memikir_"
"Yang Mulia Ratu."
"Hmmm."
Disaat Rin akan memberitahu apa yang sebenarnya dia pikirkan, tiba-tiba pintu kamar Shin terbuka.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...