
Beberapa hari kemudian, semua berita tentang hasil pertemuan aliansi mulai tersebar ke Kerajaan lain.
Berita tentang pembentukan Pasukan Sparta mulai menjadi topik pembicaraan orang-orang di Kerajaan anggota maupun tidak.
Reaksi dunia juga beragam, ada yang menyambut berita itu dengan bahagia, tapi ada juga yang berpikiran kalau itu hanya sabotase kami untuk menguasai dunia.
Tapi, walaupun kritikan terus mengalir, kami semua tetap bertahan dan terus melaksanakan tugas yaitu untuk mencari ksatria yang pantas masuk ke dalam Pasukan Sparta.
Aku yang rencananya ingin pergi ke Guild setelah pertemuan jadi tertunda akibat respon orang-orang yang tidak bisa aku diabaikan.
"Di luar sudah lumayan tenang ya?"
"Ya. Anda benar."
Seperti yang aku rencanakan, aku sekarang pergi menemui Kepala Guild untuk membicarakan sesuatu.
Awalnya dia kaget akan kedatanganku yang tiba-tiba, tapi dia tetap berusaha untuk tenang.
"Jadi, ada apa Yang Mulia datang kesini?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Mengenai Failer. Apa Guild memiliki semacam alat untuk mendeteksi Failer?" Tanyaku dengan mata serius.
Alasanku menanyakan itu adalah untuk mengetahui bagaimana Guild bisa mendapatkan informasi kemunculan Failer begitu cepat.
Relisha yang mendengar pertanyaan itu hanya tenang tanpa panik sedikitpun. Setelah beberapa saat diapun berbicara.
"Kami tidak memiliki alat semacam itu."
"Hah. Tapi bagaimana caramu mendapatkan informasi begitu cepat?"
"Yang mulia ingat kalau cabang Guild itu tersebar ke seluruh dunia. Melalui cabang itulah informasi kemunculan Failer dapat tersebar." Relisha mengatakan itu setelah menaruh cangkir teh nya ke atas meja.
Hmm. Ada benarnya juga. Kenapa bisa aku melupakan fakta itu ya. Bodohnya aku ini.
Bergumam tidak penting membuat tingkahku dilihat oleh Relisha dengan mata kebingungan.
"Y-yang Mulia."
"Ti-tidak ada apa-apa." Bantahku saat menyadari kalau aku masih diperhatikan olehnya.
"Ok-oke. Apa ada yang Yang Mulia pikirkan?"
"Oh ya. Aku lupa tujuanku kesini."
Disadarkan oleh pertanyaan Relisha membuatku langsung mengeluarkan sesuatu dari [Storage] dan meletakkannya ke atas meja.
Relisha yang menatap benda itu dengan mata kebingungan langsung melontarkan pertanyaan ragu-ragu.
"Ap-apa ini Yang Mulia?"
"Ini merupakan radar yang bisa mendeteksi kemunculan Failer."
"Hahh!?" Dia langsung melototiku dengan mata tidak percaya.
Merasa masih belum bisa mempercayai telinganya, diapun menatapku dan membuka mulutnya dengan cemas.
"Bi-bisa Yang Mulia ulangi lagi."
"Baiklah, akan sekaligus aku jelaskan kegunaannya."
".........."
"Seperti yang aku katakan, ini merupakan radar yang digunakan untuk mendeteksi Failer. Tidak hanya kemunculannya, radar ini juga akan menunjukkan jumlahnya, jenis apa saja yang keluar serta kapan waktunya. Semuanya akan tertulis." Aku menjelaskan sambil memegangi radar itu.
Bentuknya menyerupai tablet berukuran besar dengan dua antena si atasnya. Di layarnya ada kolom yang akan menampilkan sesuatu disaat Failer muncul.
Walaupun radarnya akan selalu menyala setiap saat, tapi itu tidak akan mengganggu pemiliknya, kerena Dokter sudah membuatnya supaya sumber energi radar ini diambil dari mana yang berada di udara.
Jadi selagi ada mana di udara, selama itu pula radarnya akan terus bekerja tanpa henti.
Aku awalnya tidak percaya lagi dengan benda ciptaan Dokter, tapi melihat ketekunannya dalam membuatnya, aku akhirnya menyadari kalau dia serius dalam hal ini.
Dokter yang dibantu Liora menggunakan sinyal frekuensi Failer yang muncul di dunia ini beberapa kali untuk menciptakan radar ini. Cara kerjanya mudah, saat Failer mulai terasa kembali merobek celas dimensi, radarnya akan menyala dan menampilkan semuanya berdasarkan frekuensi yang Failer pancarkan.
Aku tidak tahu bagaimana cara Dokter bisa memikirkannya, tapi ini merupakan harapan yang bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
Disisi lain, Kepala Guild Relisha masih belum percaya bahkan setelah mendengar penjelasan itu.
"A-apa yang akan Yang Mulia lakukan dengan radar ini?" Tanya Relisha.
"Aku berencana untuk menyerahkan radar ini ke Guild."
"Guild!? Kenapa harus Guild?"
"Fakta kalau Guild memiliki cabang di dunia sudah cukup untukku dalam mengambil keputusan itu. Aku juga percaya kepadamu kalau kamu akan menggunakan radar ini dengan baik."
"Ja-jadi bagaimana. Apa Guild bisa menerimanya?"
"Eh, hha. B-baik. Guild akan menerimanya dengan senang hati."
"Terima kasih. Aku akan mengirim radar secepatnya kepadamu. Nanti bila ada pergerakkan yang di tunjukkan oleh radar ini, cepat beritahu aku."
"Baik. Terima kasih juga sudah mau percaya kepadaku, Yang Mulia."
Dia masih memerah.
"K-kalau begitu aku pamit dulu."
"Oh, y-ya. Akan saya antar."
"Tidak usah. Lebih baik kamu istirahat saja, sepertinya kamu terlalu banyak bekerja Kepala Guild." Ujarku denga alasan mengelak.
Disaat dia kembali akan menjawab perkataanku, aku langsung pergi dari sana menggunakan [Teleport] tanpa dia sadari.
Perpindahanku ternyata membawaku langsung ke jalanan yang mengarah ke garbang istana.
"Huhh. Aku tidak ingin menambah masalah lagi." Gumamku sambil terus berjalan ke arah istana.
Setelah melewati penjaga gerbang yang sedang berjaga, akupun tiba di istanaku yang kucinta.
Di dalam istana aku langsung disambut oleh Laim yang saat ini merupakan pelayan pribadiku.
Beberapa hari yang lalu, sesuai dengan apa yang aku katakan kepada Laim, kalau aku ingin menjadikannya sebagai pelayan pribadi. Dia langsung berusaha mencari pengganti yang dapat menggantikan posisinya sebagai kepala pelayan.
Setelah lama berpikir dan berputar-putar di saat Rajanya tidak ada. Dia akhirnya memutuskan untuk memilih seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang bekerja sebagai pelayan dapur untuk menjadi kepala pelayan baru.
Namanya Crea. Saat mendengar kalau dia akan di angkat menjadi kepala pelayan, dia sangat gembira, tidak pernah terpikirkan olehnya kalau dia akan menjadi kepala pelayan.
Satu hal yang dia pikirkan saat pertama kali menjadi pelayan istana hanyalah untuk menjadi pelayan yang mengapdikan hidupnya pada istana.
Dia yang merupakan seorang yatim piatu, saat tidak tahu harus kemana untuk bertahan hidup, dia secara tidak sengaja terkapar lemas di depan gerbang istana dengan tubuh yang sangat panas.
Melihat itu para penjaga langsung melapor kepada Kazuo dan Kazuo meneruskannya kepadaku. Aku yang mendengar itu memerintahkan penjaga untuk membawanya masuk dan menyembuhkannya.
Setelah sembuh, dia mengatakan kalau dia tidak tahu harus kemana, jadi aku menyuruhnya untuk tinggal disini dan memberinya pekerjaan juga sebagai pelayan.
Mendengar itu ternyata membuatnya sangat senang, setelah itu dengan sangat giat dia mulai belajar bagaimana menjadi pelayan yang baik.
"Oh ya, dimana para gadis, Laim?"
"Mereka sedang berada di balkon, Yang Mulia." Jawab Laim sambil terus berada di posisi membungkuknya.
Balkon ya.
"Baiklah, aku akan kesana."
Meninggalkan Laim di belakang, akupun berjalan menuju ke tempat para gadis.
"Ohh Shin. Apa menurutmu ukuran dadaku ini sesuai dengan seleramu?"
Baru saja tiba disana, aku langsung dihadapkan oleh pertanyaan yang menyakitkan. Pikiranku kemana-mana saat memikirkan kembali maksud dari pertanyaan yang Hilda lontarkan.
"Ukurannya lumayan benar, sama dengan Rin." Ujar Kyou sambil menatap Rin, atau lebih tepatnya menatap dadanya Rin dengan tatapan iri.
Rin yang mendapatkan tatapan dingin dari Kyou merinding di sekujur tubuhnya. Dia dengan susah payah menutupi dadanya yang besar dari tatapan Kyou yang seakan-akan ingin menerkamnya.
Boing. Boing. Boing.
Melihat dadanya yang melompat-lompat disaat Rin bergerak menambah kekesalan Kyou.
Dari wajahnya terpampang sebuah kalimat yang menyeramkan walaupun dia sebenarnya tidak berbicara. Seolah-olah dia mengatakan "Aku tidak akan pernah memaafkan dada terkutuk itu."
Aku hanya dapat mengeluarkan senyuman canggung akan masalah yang menerpa mereka yang merasa kalau itu memang masalah.
"Ap-apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Aku yang pura-pura bodoh malah bertanya kepada mereka tentang situasi mereka, walaupun aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kami sedang membicarakan tentang da_"
"Huss. Ti-tidak ada apa-apa Shin."
Tangan Ryou dengan kecepatan kilat langsung menutup mulut Chika yang hampir mengatakan sesuatu.
Chika yang menyadari sesuatu langsung memerah dan menutup mulutnya yang sebenarnya sudah di tutupi oleh Ryou.
Walaupun aku tahu sih apa yang ingin dia katakan, tapi ya sudahlah.
Aku juga kaget ternyata Chika mulai dewasa sekarang. Hanya beberapa hari saja dia sudah terlihat paham akan apa yang hanya boleh dibicarakan nya dengan sesama gadis saja.
Apa itu sesuatu yang harus aku banggakan karena dia sudah dewasa, atau itu merupakan kutukan kerena pengajarannya yang menghilangkan kepolosan dari dalam hatinya.
"Ja-jadi apa yang membawa calon tunangan kita ini kesini?" Kata Miku untuk mengubah topik pembicaraan karena situasi disini sudah mulai agak canggung.
Pertanyaan canggungnya menyadarkanku yang masih memikirkan masalah Chika dan pertanyaan Hilda.
"Ah, y-ya. Aku mencari kalian untuk menyerahkan ini kepada kalian semua." Kataku sambil mengeluarkan sesuatu yang ingin aku berikan kepada mereka.