
Suara Miku yang bercampur antara harapan dan kekhawatiran membuatku sedikit merinding.
"Apa yang terjadi di luar sana ya." Gumamku.
"Shin. Aku tahu kamu bisa mendengarku. Jadi tolong bangunlah."
Suara Miku yang terdengar sangat sedih membuatku kembali merasa bersalah karena telah meninggalkan semuanya.
"Apa aku bisa bahagia di dunia ini ya?"
"Apa aku boleh merelakan Aya ya."
"Apa aku berhak untuk hidup ya."
"Apa aku bisa untuk membahagiakan mereka semua ya."
Semua yang aku gumamkan barusan hanyalah beberapa dari sekian banyak hal yang membuatku ragu akan hidup ini.
"Kamu berhak untuk bahagia, Shin."
"Kamu tidak perlu lagi untuk menyesali Aya, Shin."
"Kehidupan keduamu ini adalah bukti kalau kamu berhak untuk hidup, Shin."
"Kamu juga pasti bisa untuk membahagiakan mereka semua, Shin."
"Hahh!?"
Mendadak beberapa suara terdengar di kepalaku. Walaupun suara itu agak samar-samar, tetapi aku tahu suara siapa itu.
Aku berusaha untuk berdiri dan mencari sumber suara itu. Walaupun awalnya aku tidak memiliki kekuatan untuk berdiri, tetapi akhirnya aku bisa juga untuk berdiri.
"Dimana kalian?"
Di setiap sudutpun aku tidak menemukan mereka sama sekali.
"Kami ada di pikiranmu nak."
"Pikiranku!?"
"Benar. Hmm."
" Dan menurut kami sepertinya kamu lagi mengalami sesuatu yang sulit ya?"
"Begitulah. Aku ternyata masih belum menerima kematianku sama sekali. Maaf." Menyadari kalau mereka berbicara di pikiranku membuatku langsung meminta maaf atas kesalahanku.
"Untuk apa kamu meminta maaf. Itu bukan salahmu." Balas dia yang tak lain adalah Dewa Semesta.
"Tapi anda sudah berusaha untuk menghidupkanku kembali."
"Itu karena kesalahanku. Mengirimmu ke dunia ini pun sebenarnya juga ada maksud lain."
"Niat lain!?"
"Sebenarnya saya sudah lama memperhatikan kehidupanmu. Saya melihat kalau kehidupanmu sepertinya tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan."
"Memperhatikanku!?"
Kok tiba-tiba aku jadi merinding ya.
Dia Dewa atau Stalker sih.
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Hah!?"
Jangan mencoba membaca pikiranku lagi, dasar kakek tua.
"Saya sebenarnya ingin membantumu, tapi itu bukan kekuasaanku, jadinya saya hanya melihatmu dari jauh."
"Tapi saat saya menurunkan petir ke duniamu, ternyata petir itu malah mengenaimu."
Mengingat itu saja sudah membuatku merinding lagi.
"Menyadari kalau yang saya bunuh itu adalah kamu, jadinya kuputuskan untuk membawamu ke dunia lain agar hidupmu lebih bewarna."
"Jadi seperti itu kejadiannya ya." Gumamku
"Sekarang saya ingin meminta maaf karena telah memberimu masalah lagi bahkan di dunia barumu."
"I-itu bukan salah anda."
"Terima kasih. Saya sudah menduga apa yang akan kamu katakan."
".........."
"Sekarang kenapa kamu masih berada disini." Tanya Dewa Semesta lagi.
"Hmm. Aku sekarang masih bimbang. Apakah aku bisa untuk hidup di dunia ini?"
"Apa yang kamu katakan!!"
Perkataanku yang sedikit tidak percaya diri itu ternyata mematik kemarahan seseorang yang tadi ikut menyapaku.
"Ka-kak kaori!?"
"Iya, ini aku. Kenapa kamu sekarang malah tidak mempunyai semangat hidup."
Dia sangat marah padaku karena perkataanku itu. Mendengar kemarahan si Dewi Cinta sedikit membuat ku syok.
"Ma-maafkan aku."
"Tenang Kaori. Itu bukan salahnya Shin."
Suara lain tiba-tiba datang lagi di pikiranku lagi.
Nada suara ini. Anda pasti Dewi penyelamatku, Kak Viola.
"Itu bukan masalah. Tapi Shin, aku ini Dewi Sihir loh, bukan Dewi Penyelamat."
"Hah."
"Hahaha. Kamu memang adikku yang paling lucu, Shin."
Suara Dewi Sihir dan Dewi Pedang yang mendadak terdengar dikepalaku membuatku sedikit kaget.
"Hei Shin. Apa kamu masih mau berada di sana?" Tanya Viola dengan wajah serius.
"........."
"Apa kamu tidak peduli lagi pada para gadis?"
"Bu-bukan itu masahnya." Bantahku
"Terus apa masalahnya?" Tanya Kak Safira balik.
"Hah. Kenapa kamu sekarang menjadi lemah hati seperti ini Shin?"
"Ma-maafkan aku."
Mendengar jawabanku yang ambigu membuat Kak Kaori marah lagi padaku. Tapi yang bisa aku lakukan hanyalah meminta maaf.
"Tenang, Dewi Sihir."
"Hah!!?" Respon kaget Kaori.
Semenjak menjadi kakaknya Shin, sangat jarang sekali mendengar Kak Viola memanggil Kak Kaori dengan sebutan Dewinya.
Jadinya kalau dia memanggil Kak Kaori dengan nama aslinya, itu berarti dia sedang dalam keadaan marah.
Melihat temannya marah membuat Kak Kaori ketakutan.
"Shin. Kamu berhak untuk hidup dan bahagia untuk yang kedua kalinya, jadi jangan pernah memikirkan hal yang tidak penting." Memalingkan wajahnya dari Kaori, dan berbicara lembut padaku.
"Kamu juga ingin membahagiakan mereka semua kan?"
Pada saat kalimat itu datang kepada Shin. Ia langsung menatap langit, kalimat itu membuat perasaan Shin menjadi campur aduk.
"Sekarang bagaimana keputusanmu, Shin?" Tanya Dewa Semesta yang dari tadi hanya diam menatap kami.
Walaupun yang bertanya itu Dewa Semesta, tapi tetap saja aku tidak bisa menjawabnya.
"Hmm. Jangan terlalu memikirkannya, Shin."
".........."
"Sekarang bangunlah, lakukan saja dulu kehidupanmu disana. Kalau kamu memutuskan untuk tidak ingin hidup lagi disana, kami tidak akan memaksamu."
"Hehh!?"
Suara teriakan dari ketiga Dewi itu membuat telingaku sakit. Mereka tidak menyangka akan Dewa akan mengatakan itu.
"B-baiklah. Akan aku pikirkan."
Senyum di wajah Dewa Semesta kembali lagi di pikiranku setelah mendengar jawaban yang dia sukai.
"Mungkin tidak lama lagi kamu akan bahagia, Shin." Kata Dewa Semesta.
"A-apa maksudmu?"
Pertanyaanku sama sekali tidak dijawabnya. Bahkan yang lebih parahnya, dia pergi begitu saja setelah mengatakan kalimat yang setengah-setengah.
➖➖➖➖➖
Sementara di dalam kamarnya Shin tidak ada yang berubah. Wajah mereka semua tetap sama saat pertama kali mereka mengetahui kalau Shin tak sadarkan diri.
"Shin tidak merespon lagi."
"Apa yang terjadi sebenarnya pada Shin?"
Ryou dan Kyou hanya dapat bergumam saat menyaksikan tubuh Shin yang tidak lagi merespon perkataan mereka.
"Apakah tidak ada cara lain?" Tanya Asha kepada Chika.
"Apa kamu punya ide?" Tanya balik Chika.
".........."
Semua orang di ruangan itu juga diam di tempat ketika menyaksikan Ratu mereka sedang berusaha keras.
Walaupun tubuh mereka diam disana, tetapi di dalam hati mereka saat ini sedang ada badai hujan yang sangat deras.
Mereka terus menangis di dalam hati dan menunjukkan wajah diam di luarnya supaya tidak merusak suasana.
Baik Perdana Menteri, Kepala Pelayan, Komandan dan Wakilnya, tidak ada yang mau kehilangan sosok Raja seperti Shin. Bukan hanya seorang Raja, tetapi seorang manusia yang mampu melindungi dunia ini dari bencana yang mereka tidak ketahui.
Diantara semua orang yang ada di sana, hanya para Dewi yang tidak menunjukkan kesedihannya. Itu karena mereka sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Shin.
"Hei. Apa kita akan diam saja?"
"Bagaimana kalau kita katakan saja?"
"Menurutku lebih baik kita diam dulu. Biarkan Shin dan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah ini. Itu akan membuktikan seberapa benarnya cinta mereka untuk Shin, jadi Shin akan berpikir dua kali untuk meninggalkan mereka."
Safira, Viola dan Kaori berbicara di dalam telepati tentang Shin supaya tidak ada yang mendengarnya.
Walaupun Kaori itu sedikit aneh. Kadang-kadang di sangat baik dan terkadang dia sangat bodoh. Tapi kalau urusan cinta tidak akan ada yang bisa menandinginya.
"Shin. Kumohon!!" Gumam Miku sambil terus memegangi tangannya Shin.
Air mata masih terus membahasi pipi putih para gadis di ruangan itu. Isak tangis dari Komandan yang sudah tidak bisa menahannya lagi juga terdengar.
Tapi kemudian kedelapan gadis itu berhenti menangis dan saling tatap-tatapan. Melihat itu membuat semua orang di ruangan menjadi heran.
Cukup lama mereka berbagi tatapan. Tatap gadis satu, kemudian tatap gadis lainnya.
Melihat itu membuat Komandan bingung, dengan ragu-ragu dia bertanya.
"Anu. Yang Mulia Ra_"
Saat dia berjalan beberapa langkah dari tempatnya. Dia dihentikan oleh Wakilnya Nikola. Nikola hanya menggelengkan kepalanya kepada Lain dan memintanya kembali.
"Kumohon Shin, sadarlah!!"
"Kumohon Shin, sadarlah!!"
"Kumohon Shin, sadarlah!!"
Satu persatu dari mereka mengatakan kalimat hatinya untuk Shin.
Setelah semua gadis itu mengatakan kalimat yang sama. Miku membuka mulutnya untuk berbicara lagi.
"Kalau Shin tidak ingin kembali. Lebih baik aku mati saja dan menyusulmu!!"
"Hah!!?" Teriak semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kami juga akan menyusulmu. Tidak ada gunanya bagi kami hidup tanpa ada kamu, Shin." Sambung ketujuh gadis lainnya dengan pipi yang mulai basah kembali.
"Hah!!" Teriak kedua kalinya semua orang yang berada disana.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...