Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 49 : Kekhawatiran Para Dewi



Ternyata yang muncul dari balik pintu kamar adalah kepala pelayan, Laim.


Setibanya di depan para gadis, Laim langsung membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat.


"Maaf mengganggu, Yang Mulia Ratu."


"Tidak apa-apa. Ada apa Laim?"


"Saya ingin memberitahukan kalau ada tamu yang sedang menunggu di ruang tamu, Yang Mulia Ratu."


"Tamu!? Siapa? Kalau dia ingin bertemu Shin, katakan saja kalau saat ini Shin sedang tidak bisa ditemui."


"Maaf. Tapi yang datang itu adalah Putri Asha dan Putri Chika, Yang Mulia Ratu."


"Asha dan Chika!? Hmmm. Baiklah, kami akan kesana."


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Dia membungkukkan tubuhnya sekali lagi dan pergi meninggalkan ruangan.


Para tunangan itu juga pergi dari kamar Shin untuk menemui kedua Putri tersebut. Sesampainya mereka disana, mereka melihat dua orang Putri yang sedang duduk dalam keadaan yang tidak tenang.


"Apa kabar Putri Asha dan Putri Chika."


Tidak ada yang terlalu berubah dari mereka, hanya baju yang dipakainya dan ekspresi yang sama dengan gadis lainnya.


"Kabar kami baik." Ujarnya sambil memaksakan senyuman canggung.


"Baguslah." Ujar Miku sambil ikut duduk bersama para gadis lainnya.


"Tapi kami tahu kalau kabar kalian sedang tidak baik sekarang."


"Hmmm. Ya, begitulah." Jawab Miku dengan wajah sedih sambil terus menatap kebawah.


"Jadi kabar itu benar." Dia bergumam sambil terus memegangi kedua tangannya.


"Kabar? Kabar seperti apa yang sudah tersebar?"


"Ti-tidak terlalu. Hanya kabar bahwa Raja Glory memimpin pasukan aliansinya dan ikut berperang melawan monster kristal sampai akhirnya dia tidak sadarkan diri." Jawab Chika atas pertanyaan dari Ryou.


"Begitu ya." Respon Ryou dan diikuti oleh tatapan sedih para gadis lainnya.


"Aku baru tahu rumor ini beberapa hari yang lalu dari para pedagang. Saat mendengarnya, aku tidak ada niat sedikitpun untuk mempercayainya karena aku tahu kalau Shin itu sangat kuat."


"Tapi, karena rumor itu tidak pernah hilang, aku akhirnya mencari informasi yang dapat dipercaya. Dan alangkah terkejutnya saat mengetahui kalau rumor itu ternyata benar."


"Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Chika. Namun ternyata dia juga sudah mendengarnya dan sudah pula meminta izin kepada ayahnya untuk pergi kesini."


"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan, Shin." Miku.


"Itu bukan apa-apa. Lagipula ini kan tanggung jawab kami juga."


"Hmm. Kamu ada benarnya juga."


"Jadi. Bagaimana keadaan Shin saat ini?" Tanya Chika pada Kyou.


"Tidak ada yang berubah."


"Begitu ya." Mendengar itu membuat Chika merasa sedih.


"Sudah lebih dari dus bulan sejak pertempuran tersebut." Gumamnya sambil terus menatap langit-langit ruangan itu.


"Dua bulan ya. Aku sangat cemas dengan keadaannya saat ini. Maaf karena kami berdua baru mendengar kabarnya sekarang." Chika mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya yang juga diikuti oleh Asha.


"Ini bukan salah kalian. Ini adalah salah kami karena tidak menghentikannya saat itu terjadi. Akibatnya, sekarang Shin menjadi seperti ini dan para penduduk juga ikut cemas."


"Ohh ya. Dari awal kami memasuki Kerajaan, kami tidak melihat banyak orang yang lalu-lalang. Awalnya kami mengira mungkin karena kami masih belum berada ibukota, tapi setelah kami tiba, tidak ada yang berubah sama sekali. Para penduduk terlihat lebih sedikit dari biasanya menurutku. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Para penduduk merasa sangat cemas dengan keadaan Shin sampai-sampai mereka tidak melakukan banyak aktivitas."


"Kami juga sudah berusaha untuk meyakinkan mereka kalau keadaan akan baik-baik saja dan menyuruh mereka untuk melakukan aktivitas mereka kembali, tapi mereka tetap bersikeras, bahkan sekarang malah banyak penduduk yang memilih untuk diam di rumah sampai Rajanya dipastikan baik-baik saja."


Miku mengatakan itu sambil sesekali menatap para tunangan lainnya, saat ditatap Miku, para tunangan hanya dapat diam tanpa mengatakan apa-apa.


Mendengar itu, Asha dan Chika menjadi sangat kagum dengan kesetiaan para penduduk Glory.


"Tapi itu maklum sih. Mengingat bahwa Raja mereka yang sangat baik sekarang sedang tidak sadarkan diri." Kata Chika.


"Kamu ada benarnya. Shin adalah Laki-laki berusia enam belas tahun yang menjadi Raja mereka, namun mereka sangat menghormatinya sebagai pemimpin. Jadi itu wajar." Respon Ryou.


Setelah situasi mulai agak tenang kembali, Asha kembali bertanya.


"Ap-apakah kami boleh untuk melihat Shin?"


"Tentu, kenapa tidak."


Mereka berdua mulai berdiri setelah mendapat izin dari Miku. Berjalan bersama para tunangan Shin lainnya menuju ke kamar Shin.


Ketika mereka sampai, alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat tubuh Shin terbaring di tempat tidur.


"S-shinn!"


"Shinn!"


Tanpa mempedulikan para tunangannya lagi, Asha dan Chika langsung berlari ke arah Shin.


Tidak ada yang berubah dari tubuh Shin sama sekali, seolah dia hanya sedang tertidur. Tapi yang tidak mereka ketahui adalah penyebab dari semua ini.


➖➖➖➖➖


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, sedang ada pembicaraan dari para saudara Shin.


"Apa para gadis itu sudah mulai membaik?" Tanya Safira.


"Temannya!? Kurasa kalian berdua salah." Kaori yang sedang makan kue didepan mereka langsung membantah.


"Emangnya apa yang salah?" Viola bertanya sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Mereka berdua itu bukan temannya lagi, tapi mereka itu adalah calon tunangan Shin berikutnya."


"Flruurrr. Hahh!?" Safira yang tadi akan meminum tehnya memilih untuk menembakkannya ke dapan tepat mengenai wajah Kaori.


Kaori yang terkena semburan teh itu hanya terdiam di tempat sambil terus melotot ke arah Safira.


"M-maafkan aku."


Dengan cepat Safira mengambil kain dan langsung membersihkan bajunya Kaori.


"Itu menjelaskan ekspresi mereka berdua saat sampai disini." Viola dengan santai menyeruput tehnya setelah dia sedikit tercengang melihat tingkah laku Safira.


"Saat aku pertama kali melihat mereka, aku sudah dapat merasakan kalau mereka berdua memiliki cinta yang murni untuk Shin." Kaori mengatakan itu sambil memandangi Safira yang terus membersihkan bajunya.


Safira yang masih sibuk tidak mau ketinggalan cerita, jadi dia berkata dengan tangan yang masih bergerak panik.


"Hmmm. Sepertinya Shin memiliki lumayan banyak gadis yang mengkhawatirkannya ya." Kata Safira.


"Kau benar. Dia benar-benar populer." Respon Viola.


"Tapi."


Saat mendengar kata-kata Kaori. Safira dan Viola langsung terdiam sambil terus menatap kebawah.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Shin?" Tanya Safira.


"Aku juga tidak mengetahuinya." Jawab Kaori.


"Awalnya aku kira saat dia menggunakannya, dia hanya akan pingsan selama satu sampai dua hari. Tapi Shin tidak. Seolah seperti sesuatu di dalam jiwanya menolak untuk bangun. Itu menurutku."


"Menolak!? Menurutmu apa itu?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu."


"Apa kamu sudah memberitahu para gadis?" Tanya Kaori.


"Belum. Kurasa kita tidak bisa membuat mereka tambah khawatir lagi."


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Tanya Safira.


"Ada, kalau kita memilih menggunakan kekuatan kita, tapi itu tidak akan terlalu berguna baginya. Harus Shin sendiri yang melawan gangguan nya itu."


"Jadi memang tidak bisa ya." Hembusan nafas Safira membuat Kaori dan Viola juga merasakan sedihnya.


"Sepertinya."


Mereka bertiga hanya dapat pasrah dengan situasi saat ini.


➖➖➖➖➖


Para gadis bersama Putri Asha dan Putri Chika masih berada di dalam kamar Shin. Tidak ada yang mau meninggalkan ruangan itu, jadinya paravoelayan yang mengantarkan makanan ke sana untuk mereka.


Hari sudah mulai gelap, hembusan angin sore juga mulai menggoyangkan bunga dan pohon yang ada di luar.


"Tuan Putri Asha. Bagaimana kalau kita pulang."


"Tuan Putri Chika. Kita juga harus pulang sekarang."


Karena sudah terlalu lama, para ksatria yang mengawal mereka akhirnya memilih untuk menghampiri mereka berdua.


Saat mendengar suara dari ksatrianya, Asha yang masih duduk di sebelah Shin bersama para gadis lainnya langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak mau pulang." Katanya dengan nada tegas.


"Tu-tuan Putri Asha, Raja pasti sudah menunggu anda."


"Tidak!?" Semakin bertanya ksatrianya, semakin tinggi pula suara Asha.


"Aku juga tidak akan pulang, kalau kalian ingin pulang, pulang saja." Chika yang tadi hanya diam, sekarang berkata itu sambil terus menatap ksatrianya.


"Ta-tapi."


"Tidak apa-apa. Biarkan mereka tinggal disini. Biar kami yang menjaganya." Miku yang tidak mau melihat mereka bertengkar, memberikan mereka saran yang baik.


Kedua ksatria itu hanya dapat saling bertatapan atas sarannya Miku.


"Ta-tapi, itu akan merepotkan Yang Mulia Ratu, apalagi sekarang situasinya lagi tidak mendukung."


"Jangan khawatir. Kami baik-baik saja kok." Hana dengan cepat membalas perkataan ksatria itu.


"Ba-baiklah. Maaf merepotkan dan tolong jangan Tuan Putri Asha."


"Tolong jaga juga tuan putri Chika."


Mereka berdua membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada para gadis.


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...