Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 65 : Putri Kerajaan Ksatria




Aku langsung berpindah menggunakan [Gate] ke istana, tetapi tidak ada orang sama sekali di sana.


Apa-apaan.


"Ah, Yang Mulia. Tolong, lewat sini."


Aku memandang sekeliling ruangan seperti orang bodoh ketika Laim muncul dan memanggilku untuk mengikutinya.


“Bukankah kita punya tamu. Siapa mereka?"


"Mereka merupakam perwakilan dari Kerajaan ksatria Lestin, Yang Mulia." Jawab Laim.


Lestin.


"Dimana perwakilan itu sekarang?"


"Mereka saat ini berada di tempat pelatihan ksatria. Tadi saya sudah meminta mereka untuk menunggu di ruangan audiens, tetapi mereka tetap bersikeras untuk melihat ksatria sedang berlatih."


Huh, itu masuk akal. Jika mereka dari Kerajaan Ksatria, mereka pasti suka pertarungan.


Saya bisa mengerti mengapa mereka mungkin ingin menonton ksatria asing bertarung. Selama mereka hanya menonton, itu bukan masalah besar.


Aku tiba di tempat latihan, dan menemukan Norn dengan seorang ksatria wanita sedang berduel menggunakan pedang latihan. Tapi itu bukan Ksatria wanita biasa, dilihat dari armor yang dia gunakan, dia pasti berasal dari kaum bangsawan.


Itu bukan ksatria wanita lagi namanya, melainkan Putri ksatria.


"Haaah!!!!"


Putri ksatria memberikan pukulan terakhir, berteriak keras saat dia memukul musuhnya. Pedang Norn terbang ke udara saat menerima pukulannya.


"Pertandingan selesai!" Suara Nikola bergema di lapangan. Kerumunan yang menonton di sekitar meledak dengan sorakan mereka. Aku bahkan bisa melihat anggota ordo ksatriaku, serta ksatria Lestin.


"Te-Terima kasih banyak, Tuan putri." Kata Norn sambil menundukkan kepalanya. Ya bagaimana pun dihadapannya saat ini adalah seorang Putri.


"Terima kasih juga untukmu." Jawab Tuan Putri sambil ikut menundukkan kepalanya juga.


Tepat ketika aku bertanya-tanya apakah dia melihatku, aku melihat gadis itu mengambil langkah dan menuju ke arahku.


Rambut pirangnya yang panjang berkilauan saat ditiup oleh angin lembut. Dia mengenakan armor berlogo Kerajaan, dan memiliki senyum kecil termanis di wajahnya.


Sepertinya dia seumuran denganku.


"Y-Yang Mulia. S-Sudah lama ya!"


Sudah lama. Apa maksudnya, aku baru saja bertemu dengannya.


"Apa maksud anda. Ini pertama kalinya kita bertemu?" Jawabku dengan raut wajah kebingungan.


Mendengar kalimat pertanyaan membuatnya memerah karena malu.


"I-itu. Ki-kita, lebih tepatnya aku, aku pernah melihat Yang Mulia di Kerajaan Freedom dulu."


Freedom. Seingatku, aku kesana hanya saat pembasmian naga. Kapan dia melihatku.


"Tepatnya kapan Tuan Putri melihatku?"


"Disaat Yang Mulia menunjukkan kepada Raja Freedom dua belas ekor naga yang berhasil Yang Mulia bunuh."


Ohh. Saat itu ya.... Tu-tunggu, apa pada saat itu dia juga berada disana.


"Apa Tuan Putr_"


"Sebelum itu. Perkenalkan nama saya Hilda De Lestin. Panggil saja Hilda."


Hilda. Itu bukannya nama yang di ambil dari bahasa jerman, artinya gadis yang mampu berjuang di medan perang.


"Ba-baiklah. Apa Tuan Putri Hilda berada di sana saat itu?"


"Ya. Aku sedang ada urusan kecil disana." Jawabnya dengan suara lembut.


"Oh, begitu ya. Ngomong-ngomong, bukannya tamunya ada dua, satu lagi dimana, Laim?" Aku yang masih mencari keberadaan satunya lagi langsung bertanya kepada Laim yang masih berdiri di sampingku.


"Mencari saya!?"


Seorang lelaki tua melangkah keluar dari para ksatria Lestin. Dia tampak berusia tujuh puluh tahun. Dia juga memiliki kumis putih panjang di wajahnya. Dan meskipun dia berjalan dengan tongkat, punggungnya benar-benar lurus. Dia memiliki sikap yang sangat baik tentang dirinya dan juga tampak cocok untuk usianya.


Tiba-tiba, saya berpikir tentang siapa dia.


Orang tua itu mengambil kartu Guild dari sakunya, memberikannya kepadaku. Aku cukup yakin, orang ini adalah satu-satunya orang di planet ini yang memiliki peringkat sama denganku dulu.


"Sungguh menyenangkan, Tuan. Namaku Tatsuya Shin. Aku pernah mendengar tentang Anda sebelumnya dari Guildmaster Relisha."


"Ohohohohohhh... Terima kasih, anak muda. Kami memutuskan untuk sedikit berkunjung dan melihat-lihat Kerajaan yang baru anda dirikan ini. Jadi semoga kami tidak mengganggu anda."


"Semoga anda betah disini." Aku mengatakan itu sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan mantan Raja. Tapi.


"Eeek!!!"


Aku berbalik menanggapi teriakan tiba-tiba, hanya untuk menemukan salah satu pelayanku bergemetar hebat. Mantan Raja entah bagaimana melangkah cepat ke belakangnya, dan membuat gerakan meraba-raba dengan telapak tangannya.


Apa yang dia lakukan.


"Oh, kamu harus memaafkanku... Ini hanya kebiasaanku. Ya ampun... Sungguh pantat yang bagus."


"Kakek, tolong! Kita tamu disini dan ini bukan Lestin. Kendalikan dirimu sedikit!"


"Kau harus memaafkanku, tanganku bergerak berdasarkan insting ketika merasakan pantat yang bagus. Saya agak sabar sampai sekarang, menahan diri di lautan kelabu yang indah, tapi saya hampir di ambang batas. Bwahahahaah."


Hilda tampaknya mulai marah. Tapi kakek tua itu hanya menjawabnya dengan santai sambil terus meraba-raba.


Lautan kelabu. Apa yang dia maksud itu ksatrianya sendiri ya, mengingat armor kelabu yang mereka gunakan.


Tetapi yang lebih penting saat ini, aku tidak tahu bagaimana atau kapan dia melewatiku.


Orang tua itu sama sekali bukan orang biasa. Dia jelas mendapatkan peringkat Emas karena suatu alasan. Kemudian lagi, dia bisa saja sangat berbakat dalam hal kecabulan.


"Maafkan kami! Refleks kakekku mulai bekerja. B-begitu dia melihat seorang wanita, dia biasanya akan meninggalkan siapa saja lawan bicaranya."


"Hah... Ya ampun."


Refleks macam apa itu. Aku tidak percaya pria ini pernah memerintah Kerajaan para ksatria. Dia bukan tipe pria yang aku bayangkan sama sekali.


Untuk sementara, kami kembali ke kastil Glory. Kami juga membawa kelompok ksatria Lestin menuju barak ordo ksatria kami sendiri. Tapi beberapa dari mereka memutuskan untuk tetap sebagai pengawal keluarga Kerajaan yang berkunjung.


Aku memilih untuk membimbing mereka memasuki kastil, tetapi.


"Eeek!!"


"Ohohohohohhh"


"Kakek!!"


Insiden itu terus berulang. Pelayan kami bahkan tidak punya kesempatan untuk menghindar. Jujur saja, aku khawatir pada akhirnya dia akan menyebabkan insiden internasional.


Aku juga sangat tergoda untuk menahannya dengan [Gravity], tapi.


"Oho. Shin. Apa kamu merindukanku?"


Kakakku Kaori berjalan dari tikungan secara tiba-tiba. Dan dalam kilatan kecepatan, mantan Raja Lestin melesat ke arahnya.


Namun, sebelum aku bisa berkedip, lelaki tua itu sudah berada di tanah, berguling-guling ke arah yang berlawanan.


"Apa!?" Teriak kami semuanya.


Dari sudut pandangku, postur Kaori tidak berubah. Dia jelas tidak tersentuh sama sekali.


Lelaki tua yang tercengang itu tetap di lantai, menatap ke atas. Sepertinya dia sedikit trauma.


"Hei Shin, siapa pria ini?" Tanya kakaku saat di mulai berjalan ke arahku.


"Huh, oh... Dia mantan Raja Kerajaan Ksatria Lestin."


"Oh, astaga... Dia benar-benar orang tua yang bersemangat." 


Aku mulai memperkenalkan Kaori kepada pengunjung Lestin kami, mereka sama terkejutnya denganku dulu. Mengingat Kaori menyamar sebagai saudara perempuanku, yang secara teknis juga menjadikannya seorang bangsawan.


"Maafkan kakakku, dia bisa sedikit kurang ajar."


"Tidak, tidak. Ini kesalahan kami sejak awal! Jujur saja, aku pikir kakek ku membutuhkan sesuatu seperti sebuah hukuman ilahi kecil, ahaha." Dia mengatakan itu dengan nada canggung, mungkin mengingat bahwa kakeknya yang memulai duluan insiden ini.


Tapi dia tidak tahu seberapa dekat dia dengan kebenaran perkataannya. Aku memilih untuk tetap tutup mulut. Kakeknya beruntung hanya sedikit terluka setelah mencoba meraba-raba seorang Dewi.


"Tapi sungguh, anda luar biasa. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang wanita yang bisa melawan kecanduan kakek..... Ehh... Hmm... A-apakah ada sesuatu di wajahku?"


Hilda kebingungan saat Kaori menatapnya dengan serius.