Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 35 : Terjebak Rencana Licik Kaisar




Yang aku katakan bukanlah sebuah kebohongan, karena untuk menuju ke FIB saja hanya Shin dan Liora yang bisa. Liora juga tidak bisa pergi kesana dengan membawa orang lain kerena gerbang yang Shin siapkan khusus untuknya saja.


Tapi kami juga bisa sesekali pergi kesana. Dengan menggunakan cincin pertunangan yang diberikan Shin, kami juga bisa memasuki gerbang lain yang juga menuju kesana.


Itu yang ada di pikiran Miku saat membayangkan betapa sulitnya mendapatkan akses kesana, tapi para tunangan Shin dapat menerima itu dengan baik karena mereka juga tahu kalau FIB maupun Frame Rescue itu adalah senjata yang menakutkan yang diwariskan untuk Shin guna menciptakan kedamaian dunia bila invasi itu terjadi lagi.


Setelah interogasinya selesai dilakukan, semua orang yang berada di penjara itu mulai memikirkan solusi guna menangkap semua orang yang masih berkeliaran di luar sana.


Namun, baru beberapa menit mereka berpikir tiba-tiba suara langkah kaki yang terdengar seperti orang yang sedang berlarian mulai mendekat ke arah mereka berada.


Saat mata semua orang sudah tertuju ke arah lorong tempat suara itu berasal, ternyata itu adalah.


"Hmmm. Ternyata ksatria ya." Gumam mereka semua sambil menghela hafas lega dan mengembalikan posisi siap tempur mereka seperti sedia kala.


Yang tenang di antara mereka semua hanya Haku sendiri karena dia tahu kalau yang datang itu adalah ksatria kerajaan.


"Hahh!? A-ada apa dengan suasana tegang ini?" Ujar ksatria itu saat melihat posisi siap membunuh dari semua orang yang ditujukan untuknya.


"Ti-tidak ada apa-apa. Jadi ada urusan apa kamu kesini?"


"Saya ingin melapor wakil komandan."


"Melaporkan apa?"


"Semua orang yang menyebu dari timur ibukota sudah berhasil di tangkap tanpa terkecuali."


"Apa!?"


"Cepat sekali." Respon Nikola.


"Kami mendapatkan bantuan dari harimau emas untuk menemukan mereka semua."


"Ayo kita kesana sekarang."


Mereka semua pergi meninggalkan penjara untuk melihat seluruh komplotan yang berhasil di tangkap itu. Mereka juga tidak lupa membawa tahanan tadi untuk di gabungkan dengan yang lainnya.


➖➖➖➖➖


Sementara itu di ruang audiens Kekaisaran Slave, masih berlangsung perdebatan antara Raja Glory dengan Kaisar Slave.


"Apakah anda sudah mendapatkan semua jawaban yang anda cari, Yang Mulia Glory?"


"Ya. Saya sudah mendapatkan semua jawabannya."


"Jadi sekarang apa kita sudah bisa membahas rencana pertunangan adikku dan kakak anda?"


"Tunggu-tunggu. Ada satu pertanyaan lagi."


"Apa itu?"


"Kenapa adik anda ingin menikahi ketiga kakakku sekaligus? Walaupun itu hal yang wajar tapi tetap saja itu menjadi aneh bagiku melihat satu orang melamar tiga kakakku."


"Mungkin adikku hanya tidak ingin melihat kakak Yang Mulia di nikahi oleh orang lain selain dirinya."


Egois juga ni orang ya. Dari pada nanti dibunuh oleh Dewi, lebih baik sini biar aku saja yang membunuhmu sekalian.


Sepertinya aku lupa kalau ketiga kakakku bisa mendengar isi pikiranku. Mereka bertiga hanya tersenyum saat mendengar kalimat itu.


"Jadi itu alasannya."


Dengan sedikit mengepalkan tinjuku sambil terus melihat pria bajingan itu, yang tidak berhentinya menatap ketiga kakakku dengan tatapan menjijikkan, bahkan air liurnya sampai menetes keluar.


Kak. Apa aku boleh membunuhnya sekarang, aku sudah tidak tahan lagi melihatnya.


Ketika suara hatiku sampai ke mereka bertiga. Mereka memegang tanganku dengan lembut, saat aku menatap wajah mereka, yang terlihat hanyalah wajah sempurna seorang Dewi.


Setelah perasaanku kembali tenang, aku kembali menatap kaisar dan berkata.


"Maaf. Tapi sepertinya kakakku tidak ingin menikah terlebih dahulu."


"A-apa!?"


"A-anda pasti bercanda, Yang Mulia."


"Saya tidak pernah bercanda. Kalau tidak percaya, tanyakan saja langsung pada kakakku?" Jawabku dengan tatapan serius.


Kaisar memalingkan wajahnya dariku dan beralih ke arah ketiga kakakku.


"Nona pastinya ingin menikah dengan adikku kan? Kalian akan menjadi Ratu dari Kekaisaran Slave yang kuat dan luas ini."


"Maaf sekali lagi, tapi kami belum memiliki rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini." Ujar Miku sambil membungkukkan tubuhnya.


"Apa yang kurang dari saya, coba katakan?" Pria yang dari tadi terus menatap kakakku kini angkat bicara setelah mendengar penolakan dari kakakku.


"Terus apanya yang salah?"


"Kamu tidak perlu memaksa kami lagi menikah dengan menggunakan apa yang kamu punya. Kalau kamu mempermasalahkan harta, kami sudah memiliki cukup banyak. Kalau masalah tahta, kami juga sudah puas hanya dengan menjadi kakak dari Raja Glory. Dan kalau masalah kekuatan kerajaan, sepertinya kekuatan Shin seorang sudah mampu mengalahkan Kekaisaran ini." Kalimat sindiran yang di keluarkan oleh Safira mematik emosi kedua orang yang sedang menatapnya.


"Sombongnya kalian, dasar wanita murahan." Van langsung berdiri dan memelototi kami berempat.


"Tidak berniat sombong, tapi itulah kenyataannya." Safira yang masih duduk santai mengatakan sindiran itu lagi.


"Omongan kalian sekarang sepertinya tidak akan bisa membuat kalian keluar hidup-hidup dari sini." Dengan suara bercampur emosi Kaisar memanggil ksatrianya ke dalam ruangan.


Puluhan ksatria mulai memasuki ruangan, mereka semua menggunakan armor lengkap dengan logo Kekaisaran Slave bercetak besar di dadanya.


"Karena kalian menolak lamaran dari Slave, jadi kalian harus mati disini sekarang juga"


"Mati saja kalian dasar wanita tidak tahu diuntung." Ujar adiknya Kaisar yang bernama Van.


Lain dan ksatria kami yang lainnya mulai menarik pedang dari sarungnya, tapi aku menghentikan mereka.


"Kenapa kita berhenti Yang Mulia, mereka sudah berniat menyerang seorang pemimpin kerajaan."


"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan bisa menyentuh kita sama sekali."


"Ta-tapi..." Lain masih ragu atas perkataanku.


"Percayalah pada Rajamu, Lain."


"Baiklah Yang Mulia." Setelah melihat wajah santai Rajanya, Lain dan ksatria lainnya memasukkan pedangnya kembali.


"Sepertinya anda sangat percaya diri ya, Yang Mulia Glory." Ujar Kaisar yang sedikit bernadakan sindiran.


"Tentu saja. Kalau tidak percaya diri, saya tidak akan berdiri di depan anda sebagai seorang Raja sekarang."


"Tapi kepercayaan anda itu akan berakhir disini, sekarang dan selamanya."


"Sepertinya anda yang terlalu percaya diri, Yang Mulia Slave."


"Apa maksudmu?"


"Anda terlalu meremehkan saya. Memangnya anda pikir kenapa anak laki-laki berumur enam belas tahun seperti saya ini bisa menjadi seorang Raja."


"Itu karena orang-orang di barat adalah orang bodoh yang menyerahkan sebuah tanggung jawab wilayah pada seorang bocah."


"Sepertinya anda masih belum mengerti Yang Mulia Slave. Kalau begitu akan saya tunjukan maksud dari perkataan kakakku tadi."


Sebelum melakukannya, aku kembali menatap ketiga kakakku untuk meminta persetujuan mereka. Dengan senyuman dan anggukan pelan, mereka memberikan persetujuan padaku.


"Lain dan ksatria lainnya, sebaiknya kalian semua berpegangan pada kursi kami kalau tidak mau terluka."


"Hah. Me-memang kenapa nona Viola?" Tanya Lain.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja sepertinya Shin akan menunjukkan sesuatu yang menarik, itu saja."


"Menarik!?" Di kepala semua ksatriaku terpampang tanda tanya besar akibat perkataan Viola.


"Peganglah kursi kami sekarang." Seru Viola sekali lagi.


"Ba-baiklah." jawab Lain.


➖➖➖➖➖


Sesampainya di halaman belakang tempat semua pelaku yang masuk ke ibukota secara terang-terangan itu di kumpulkan. Kami semua mulai menatap mereka satu persatu.


Tidak ada dari mereka yang bisa dikenali kerana mereka semua memakai topeng yang siap meledak saat dilepaskan.


Dari tempat mereka semua berdiri, tiba-tiba Kaku berjalan ke depan dan angkat bicara.


"Nyonya. Sepertinya aku mengenali orang ini."


"Kamu mengenalinya!? Siapa dia?"


"Kalau tidak salah, dia dulu adalah salah satu orang yang melamar untuk menjadi ksatria kerajaan."


"Dari mana kamu bisa tahu, Kaku?"


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...