
Kenapa mereka malu-malu.
"S-Selamat datang kembali, Tashi!"
"Ta-ta-tashi!?" Ekspresi kagetku saat mendenger itu tidak bisa dibendung lagi, semuanya meluap bersamaan dengan wajah memerahku.
Memang benar Miku biasanya memanggilku dengan sapaan biasa, tapi dari mana dia tahu nama panggilan itu.
"S-Selamat datang kembali, Tashi!"
"Selamat datang Tashi!"
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tashi!"
"Airi? Asha? Ryou?" Ujar kagetku sekali lagi.
Sial, mereka juga terlihat aneh. Apa yang sebenarnya Kaori katakan kepada mereka, dan dari mana mereka mengetahui nama itu.
"Hei, Rin! K-Kamu duluan!"
"Tunggu sebentar! A-Aku tidak terbiasa terlihat seperti ini! Roknya terlalu pendek bagiku!"
"A-Aku juga tidak terbiasa memakai rok!"
Kyou, Rin, dan Hilda mulai saling mendorong satu sama lain.
"Apa kamu suka penampilan kami?"
"Kamu juga, Chika? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?"
Dia juga mengenakan seragam SMA, walaupun itu kurang cocok untuk usianya sih, seperti melihat gadis cosplay saja. Tapi bagaimanapun itu tetaplah pakaian SMA.
"Kamu suka pakaian ini, bukan? Kami terlihat seperti cinta pertamamu, Aya!"
"Ah!?" Pikiranku saat ini benar-benar kosong.
Aya. Bagaimana dia tahu itu.
"K-Kami tidak bisa menjadi Aya, tapi paling tidak kami berpakaian sama dengannya." Miku mengatakan itu dengan wajahnya yang memerah.
Tapi wajah memerah Miku sedikit berbeda dengan wajah memerah gadis lainnya. Tidak ada yang menyadari perbedaan itu, bahkan para gadis di sekitarnya juga tidak menyadarinya.
Tapi aku tahu kalau di Balik wajah memerahnya itu ada sebuah hal yang menjanggal di dalam pikirannya. Seakan-akan dia sedang berusaha menggali kembali ingatannya akan sesuatu yang hampir dia lupakan.
Aku hanya pura-pura tidak tahu soal itu, dan melanjutkan kembali pertanyaan tentang kejadian yang tidak masuk akal ini saat ini.
"Baiklah-baiklah, tunggu! Umm, s-siapa yang memberitahumu tentang Aya?"
"Kak Kaori." Jawab Miku dengan cepat.
"Dia lagi!?!?"
Apa yang kau katakan pada mereka Dewi Cinta. Aku tidak pernah mengatakan itu kepada siapapun selama ini tahu.
"A-Apa lagi yang dia katakan kepadamu?" Kataku sekali lagi dengan perasaan yang mulai meledak.
"Apa lagi ya? Ehhmm." Miku mulai berpikir kembali tentang apa yang dikatakan Kaori kepada mereka.
"Seperti fakta bahwa kamu pergi menemuinya setiap hari."
"Atau kamu mencoba menarik perhatiannya selagi ada kesempatan."
"Atau kamu yang pada akhirnya frustasi ketika dia ternyata tidak memilihmu."
"Oaaagh."
Aku jatuh berlutut di lantai yang ditutupi karpet. Perasaanku saat ini sudah campur aduk. Malu, marah, cemburu, semuanya bercampur menjadi satu.
Aku ingin tahu apakah dia sungguh bahagia saat ini. Tidak, tunggu, itu tidak masalah sekarang. Yang penting adalah kenyataan memalukan bahwa cinta pertamaku terungkap.
"Hmm. Apakah pakaiannya tidak cocok?"
"Tidak, tidak sama sekali. Kamu terlihat cantik." Aku mengacungkan jempol ke arah Ryou, membuat kekhawatiran di wajahnya mulai menghilang.
➖➖➖➖➖
"Shin? Kenapa kue ku begitu kecil?"
"Siapa yang tahu? Mungkin ada seseorang yang sudah sedikit kurang ajar disini."
Berpura-pura tidak tahu, aku terus makan kueku sendiri dengan lahap.
Berbeda dengan yang lain, kue Kaori sangat kecil. Bisa dikatakan kalau stroberi pun tidak akan bisa diletakkan diatasnya.
Tentu saja, akulah yang memotong kuenya. Dan jelas, porsiku sendiri semakin besar setelah ditambahkan dengan jatahnya.
Rasakan dendam privasi ku yang rusak.
Saat aku dengan tenang memakan kueku, Kaori mengarahkan garpu ke arah ku dan mengambil kuenya dengan kecepatan cahaya.
"Kakak kurang sopan ya." Ujarku sambil menggunakan garpu ku untuk menghentikan garpu miliknya.
"Adik laki-laki harus memperhatikan Kakak perempuannya, kamu tahu kan?"
"Seorang kakak perempuan seharusnya tidak mengambil makanan adik laki-lakinya, Kakak tahu itu kan?"
"Harap tenang, kalian berdua."
Saat kami sedang saling melotot, Viola memecah pertarungan antar keluarga.
"Aku akan membagi kueku untukmu."
"Tenang saja, marahnya Shin tidak akan lama karena dia adalah adikmu."
"Viola, Safira. Kalian memang adik terbaikku."
"Kami juga akan membagi kue kami dengan mu kak."
"Kalian juga!?" Kaori sangat bahagia saat saudara Dewinya dan para gadis ingin berbagi kue dengannya.
Sialan, dia tidak pantas untuk itu. Dia adalah orang yang akan terus melakukan hal-hal bodoh sampai seseorang menghukumnya.
Kaori memakan kue Viola dan Safira beserta para gadis dengan ekspresi paling bahagia yang bisa dibayangkan.
"Kalian semua gadis yang baik. Saya pikir saya harus memberi kalian sebuah rahasia kecil."
"Sebuah rahasia?"
"Buku erotis pertama yang pernah dimiliki Shin adalah_"
"TAHAN DI SANA! APA YANG KAMU KATAKAN!? BISA KAMU BERHENTI, SUDAH BERHENTI!?" Aku berpindah ke belakangnya dan langsung menutup mulutnya sebelum tragedi lain terjadi.
Sialan, ini menyebalkan. Dewi yang satu ini sangat menyebalkan.
Setelah itu, aku mengatakan kepadanya bahwa jika dia terus membocorkan informasi pribadiku, dia tidak akan mendapatkan permen lagi. Saat mendengar itu, dia langsung berlinang air mata dan memohon.
➖➖➖➖➖
Setelah kejadian sebelumnya yang sedikit menyebalkan, aku pun berpindah dari istana ke FIB karena ada yang ingin Dokter bicarakan kepadaku.
"Halo Dokter, apa yang_"
Baru saja aku berniat untuk menyapanya, tiba-tiba niatku langsung berubah saat melihatnya sedang mengotak-atik barang aneh lagi.
"Yoo." Sapanya sambil mata yang terus fokus ke benda itu.
"Yo apanya!? Apa yang sedang kau lakukan Dokter?"
Dengan wajah memerah, aku langsung mengambil alat yang sedang di otak-atik dari tangannya.
Bentuknya sangat familiar bagiku tapi aku tidak mau menjelaskannya lebih rinci lagi. Yang jelas ini adalah benda yang biasanya dipakai wanita untuk menghilangkan stres.
"Kamu jahat sekali Shin. Kenapa kamu mengambilnya?"
"Dari mana kamu mendapatkan ini Dokter, aahhh. Bukan itu masalahnya sekarang. Yang penting barang ini akan aku sita dulu."
Wajahnya yang tadi dipenuhi dengan kebahagiaan saat mengutak-ngatik barang tersebut sekarang langsung berubah 180 derajat.
"Kening berkerut dan pipi membulatmu itu tidak akan membuatku mengembalikannya lagi kepadamu."
Mendengar bahwa usahanya sia-sia membuat Dokter itu tambah sedih, tapi sedihnya tidak bertahan lama karena wajah riangnya kembali memenuhi ruangan tersebut.
Cepat sekali kembalinya. Aku yakin kalau dia pasti memiliki rencana lain selain ini. Aku harus waspada dan hati-hati dalam mengawasinya.
"Jadi apa yang ingin kamu Tunjukkan kepadaku Dokter?"
"Oh ya. Saya sudah menyelesaikan proyek smartphone duplikat itu, Shin."
"Sungguh!? Coba aku lihat."
Mendengar smartphone duplikat yang ingin dia buat akhirnya selesai membuat amarahku yang tadi hampir meledak hilang seketika.
Aku dengan sangat antusias menunggu Dokter yang sedang mengambil Prototype smartphone itu.
"Ini dia. Bentuknya memang tidak sesempurna smartphone mu, tapi ini masih lah smartphone yang bisa digunakan di dunia ini." Dokter mengatakan itu sambil menyerahkan smartphone duplikat ciptaannya sendiri kepadaku.
"Apa Dokter sudah memasangkan fitur yang aku minta?"
"Tentu sudah, semuanya sudah terpasang."
Baguslah. Dengan ini aku bisa menghubungi orang lain dengan lebih mudah.
Saat aku sedang bergumam Sambil memandangi desain smartphone, aku menyadari kalau dibalik wajah serius Dokter itu ada sedikit senyuman licik yang keluar.
Tanpa pikir panjang aku langsung membuka smartphone itu dan melihat apakah Smartphone Ini benar-benar aman untuk digunakan orang lain.
"A-apa-apaan ini!?"
Saat berhasil menemukan sesuatu yang janggal, akupun langsung melototi Dokter gila itu.
"Ada apa Sin?" Tanyanya dengan wajah polos.
"Masih nanya!? Kenapa di dalam Smartphone ini ada mode penghancuran diri, memangnya siapa yang membutuhkannya?"
"Itu cuma untuk langkah keamanan saja jika smartphone nya dicuri orang lain."
"Keamanan saja!? Ini bisa membunuh orang lain kalau meledak, tahu."
"Kamu merasakannya juga ya. Benar, itu dapat meledak dengan radius lima meter dari smartphone."
"Hah. Itu sudah keterlaluan. Hilangkan itu!"
"Tidak." Gumamnya sambil berlutut di lantai.
"Lalu kenapa juga di sini ada fitur kamera tembus pandang. Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Smartphone Ini Dokter?"
Dokter hanya menyeringai saat mendengar perkataanku. Tidak ada sedikitpun rasa penyesalan di wajahnya. Senyuman itu hanya membuatku tambah marah.
"Itu hanya untuk hiburan biasa." Jawabnya.
"Hiburan biasa!? Ini bisa menyebabkan masalah dunia kalau tersebar. Tidak ada alasan untuk menambahkan ini, hilangkan!" Ujarku dengan nada marah.
"Tidak lagi!?"
Butuh beberapa jam bagi dokter gila ini untuk memperbaiki prototype smartphone yang baru saja selesai dia buat
Aku yang tidak lagi percaya kepadanya juga memilih untuk mengawasinya dalam memperbaiki smartphone itu, berharap tidak ada hal aneh lagi yang dimasukkannya secara diam-diam ke dalam smartphonenya.
"Selesai, saya sudah memperbaiki sesuai permintaanmu."
Menerima Prototype smartphone yang kedua kali darinya membuatku sedikit aneh, tapi aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya
"Bagus. Ini baru yang aku minta."
"Tentu saja itu bagus. Siapa dulu yang membuatnya." Katanya dengan sedikit membusungkan dadanya.
"Heh. Lalu siapa dulu yang tadi berniat memancing perang di dunia ini."
Dokter langsung terdiam seketika saat mendengar sindiran itu dariku.