
"Hamba bisa tahu dari bekas luka yang ada di bahunya, itu adalah bekas luka akibat cakaran hamba sebelum dia terhempas ke dinding dulu."
"Memangnya apa yang telah dia perbuat sampai-sampai kamu menghempaskannya?"
"Dia berniat untuk membunuh salah satu penduduk yang mencoba menghentikannya saat dia akan menyakiti seorang pelayan restoran, Nyonya."
"Kejam sekali."
Setelah menjelaskan apa yang terjadi dulu. Kaku kembali memutar kepalanya untuk mencari seseorang yang dia harap tidak berada di sini juga.
"Kaku. Sepertinya aku menemukan orang yang kamu cari itu." Suara Kaitur yang terbang melayang dalam mode kecilnya mengagetkan Kaku.
"Dimana dia?"
"Di sini, tepat di bawahku."
Kaku menatap orang yang berada di bawah Kaitur itu dan langsung berjalan ke arah sana.
Setelah dia mendekat, yang benar saja, dia adalah orang yang diharapkannya untuk tidak lagi berada disini.
"Sudah kuduga. Kamu memang tidak pernah jerah ya." Ujar Kaku.
Orang itu mencoba mengangkat kepalanya karena merasa kalau suara itu tidak asing baginya.
Seketika dia langsung gemetaran di tempat setelah tahu siapa yang berbicara padanya.
"Ka-kam...."
"Ya. Ini saya wahai manusia."
Dia sama sekali tidak bisa melanjutkan perkataannya saat berada di depan Kaku. Ekspresi tubuh yang ditunjukkan orang itu menarik perhatian Hana.
"Siapa dia Kaku? kenapa dia sangat ketakutan?"
"Dia adalah orang yang dulu pernah menghina Tuan, Nyonya."
"Kapan itu terjadi?"
"Kalau tidak salah saat tuan dan kakaknya sedang jalan-jalan di ibukota."
"Aku sekarang ingat kejadian itu."
"Sepertinya dia keras kepala juga ya."
"Tenang saja, yang penting mereka semua sudah tertangkap sekarang."
Kougyoku, Luli dan Haku mulai bergumam juga diantara mereka sendiri.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan pada mereka, Nyonya?" Tanya Nikola.
"Hmmm. Apa saranmu Perdana menteri Kazuo?"
"Panggil saja Kazuo, Nyonya."
"Tapi kamu lebih tua dariku."
"Bagaimanapun posisiku lebih rendah darimu, jadi panggil saja Kazuo."
"Ba-baiklah."
"Terima kasih.... Kembali ke topik, saranku sih kita laporkan saja pada Yang Mulia terlebih dahulu."
"Hmm. Kurasa itu ide yang bagus. Karena saat ini Shin lagi di Slave, lebih baik kita laporkan supaya dia bisa berhati-hati. Itu yang kamu maksud kan Kazuo."
"Anda sangat pintar Nyonya." Ujar Kazuo dengan senyuman di wajahnya.
"Haku. Apa kamu bisa menghubungi Shin, katakan padanya kalau kita sudah menangkap pelaku utusan Slave."
"Baik Nyonya."
"Tunggu!"
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan. Saat mereka semua menatapnya, ternyata dia adalah salah satu ksatria kerajaan.
"Ada apa?" Tanya Norn kepada ksatria yang sepertinya adalah seorang ksatria istana itu.
Itu adalah hal yang tidak mengejutkan, karena ksatria itu berada di bawah perintahnya Norn.
"Saya mau melaporkan kalau di gerbang istana sekarang sedang berkumpul banyak penduduk, wakil komandan."
"Untuk apa penduduk berkumpul disini?"
"Mereka semua meminta bantuan karena anggota keluarganya terluka akibat serangan tadi."
"Terluka!?"
"Iya, Wakil komandan."
"Kalau begitu pergi panggil bagian pengobatan dan minta mereka mengobatinya. Kelilingi juga ibukota dan cari apakah masih ada yang terluka."
"Baik."
Ksatria itu langsung berlari meninggalkan kami semua menuju ke arah bangsal kesehatan.
Setelah ksatria itu menghilang. Miku kembali menatap lima ratus orang itu dan berkata.
"Kalian sudah terlalu bersenang-senang disini ya."
"Kalian juga terlalu meremehkan Kerajaan Glory. Kalau Shin berada disini, nyawa kalian sudah pasti terancam bahaya sekarang ini." Sambung Kyou.
"Memangnya kalian pikir bisa memasuki kerajaan ini untuk mengambil Frame Rescue, setelah itu pergi begitu saja. Heh, mana mungkin kami akan menyimpan senjata seperti itu dengan mudahnya." Lanjut Miku.
"Kalau begitu akan hamba hubungi tuan Nyonya."
"Tolong ya Haku."
➖➖➖➖➖
Hanya karena aku menolak lamaran yang diajukannya untuk kakakku, dia sampai memerintahkan ksatrianya mengepung kami. Memang pemimpin yang sedikit kasar ya.
"Apakah anda takut sekarang saat berada di ambang kematianmu Yang Mulia?"
"Saya memang takut dengan yang namanya kematian, tapi saya tidak akan sudi mati disini olehmu."
"Hahahaha. Anda masih bisa bercanda diaaat seperti ini ya."
"Malah anda yang masih bisa tertawa disaat seperti ini ya, Yang Mulia Kaisar."
"Saya bisa tertawa sekarang karena saya akan melihat kematian anda disini. Tapi anda tenang saja, berita kematianmu yang akan di dengar oleh orang-orang tidak lebih dari sebuah kecelakaan kecil."
"Kita lihat saja. Siapa yang akan tertawa terakhir kali."
Karena semua ancamannya hanya aku balas dengan candaan, itu membuat emosinya meledak sekali lagi.
"Sudah cukup basa-basinya. Ksatria, bunuh mereka semua sekarang juga."
"Ba-baiklah."
Semua ksatria mulai memegang gagang pedang yang ada di pinggang mereka dan mengeluarkannya dari sarung pedang.
"Kalian. Tebas kepalanya." Perintah komandan di iyakan oleh semua ksatria.
"Hiiyaa."
Di saat mereka berlari ke arahku untuk menebas kepala kami sesuai perintah komandannya. Tiba-tiba.
"Hah. A-apa yang terkadi!?" Kaisar langsung kaget melihat semua ksatrianya tidak bisa mendekati kami.
"Apa yang kalian lakukan?" Komandan yang juga kaget langsung bertanya.
"Ma-maaf komandan. Sepertinya ada semacam dinding yang melindungi mereka."
"Dinding!? Hancurkan cepat."
"Tidak bisa komandan. Dindingnya sangat kuat."
Semua ksatria itu terus mencoba untuk menghancurkan dinding menggunakan pedang yang mereka miliki, namun tetap tidak bisa.
Kaisar hanya dapat terdiam saat melihat ksatrianya tidak ada yang berguna sekarang.
"Sudah saya katakan, Lain. Tidak akan ada yang bisa menyentuh kita sama sekali."
"Hai. I-iya Yang Mulia." Lain yang tadi sedikit pucat saat melihat sekelilingnya di penuhi oleh ksatria ber armor lengkap sekarang terkagum-kagum saat melihat dinding yang melindunginya itu.
"Apa anda sangat takut padaku sampai-sampai memasang dinding pelindung di sekitarmu, Yang Mulia Glory."
"Bukan itu. Saya hanya tidak ingin ksatria yang tidak ada sangkut paut nya dengan urusan kita ini terluka."
"Hahahaha. Anda tidak perlu sungkan dengan mereka, keluarkan saja semua kemampuan anda kalau anda tidak ingin mati disini."
"Apa itu tidak ada masalah untuk anda, Yang Mulia Kaisar?"
"Tentu saja tidak masalah untukku. Sekuat apapun kekuatanmu tidak akan mungkin bisa menghadapi semua ksatriaku." Ucapnya dengan campuran sindiran di dalam setiap perkataannya.
"Baiklah kalau itu yang anda inginkan."
"Lain dan yang lainnya. Apa kalian masih memegang kursi dengan kuat." Tanya Viola.
"Ma-masih nona."
Pelindung yang melindungi kami semua menghilang seketika.
Dengan posisi masih duduk di kursi sambil menyilangkan kakiku. Aku mengeluarkan sedikit aura yang aku miliki, walaupun aku tidak tahu aura apa ini, tapi ini lumayan berguna juga untuk mengancam orang lain.
Suasana di dalam ruangan itu tiba-tiba saja menjadi tegang dan mencekam.
Di saat aku melepaskan auraku, semua ksatria terlempar menabrak dinding di belakangnya, semua dinding yang ada di ruangan itu juga mengalami keretakan.
"Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya Kaisar saat melihat ksatrianya tidak sadarkan diri lagi di lantai.
"Saya merasakan aura yang mengerikan, Yang Mulia."
"Apa maksudmu komandan?"
"Aura yang sangat kuat dan sepertinya aura itu berasal dari dia, Yang Mulia."
"Dia!? Tidak mungkin bocah sepertinya memiliki kekuatan seperti ini."
"Tapi tidak salah lagi Yang Mulia. Dia memiliki kekuatan yang mengerikan."
Kaisar yang masih tidak percaya langsung membantah perkataan komandan ksatrianya.
"Bukannya saya sudah katakan tadi Yang Mulia Kaisar, kalau saya menjadi Raja bukan tanpa alasan."
"Kauuu!?" Dia sudah sangat marah padaku.
Ketika amarahnya akan meledak lagi, sebuah sosok tiba-tiba muncul dihadapanku, Itu mengagetkannya.
"Tuanku?"
...NOTE :...
...Bagi yang bingung kenapa tulisannya ada yang miring. Itu karena karakternya lagi ngomong di dalam hati...
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...