
"Y-ya. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Apa anda adalah Raja Glory?"
"B-benar." Ujarku dengan wajah kebingungan.
"Mmaaf. Perkenalkan nama saya Androlis. Saya adalah pemimpin dari Kerajaan bagian sungai."
"S-sungai!? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Roadmare adalah sebuah Kerajaan yang berbentuk union. Awalnya Kerajaan Roadmare hanyalah kumpulan dari beberapa wilayah kecil yang dimiliki oleh suku-suku sekitar. Namun dengan banyak pertimbangan dan kesepakatan, akhirnya suku-suku itu sepakat bersatu dan membentuk Kerajaan Roadmare.
Wilayah Kerajaan Roadmare terdiri atas lima bagian, meliputi sungai, gunung, danau, pesisir dan pusat.
Dan yang datang kepadaku saat ini adalah pemimpin dari sungai.
"Begini, apa benar kalau Yang Mulia ingin menawarkan bantuan kepada kami dalam melawan monster itu?"
"Ya. Tapi Raja Roadmare menolaknya."
"Maaf. Kalau saya boleh tahu, dimana monster itu akan muncul?"
"Jumlahnya sekitar lima ribu empat ratus tiga puluh dua Failer. Itu mulai berjalan kesini dari perairan tenggara Roadmare."
"Perairan ya. Baiklah, saya akan berbicara dengan pemimpin pesisir."
"T-tapi, Nyonya. Yang Mulia saja menolaknya, bukannya dia akan marah kalau kita malah meminta bantuan dari Kerajaan lain."
Suara penolakan datang dari Wanita yang mengikutinya, namun itu malah membuat Androlis menatapnya dengan serius.
"Tidak masalah. Saat ini keselamatan penduduk kita yang terpenting."
"..........." Dia hanya terdiam tanpa dapat membantahnya lagi.
"Bukannya kamu sudah melihat kekejaman Failer di Slave dulu."
"Ma-maafkan saya, Nyonya." Jawabnya dengan nada bersalah.
Ya. Walaupun jumlahnya hanya segelintir dari jumlah Failer di Slave dulu, tapi aku memuji kesigapanmu.
"Jadi??" Aku mencairkan suasana yang mulai tegang ini dengan sebuah pertanyaan.
"Oh. Maaf." Jawabnya.
"Tidak apa-apa. Jadi apa yang akan anda perbuat?" Tanyaku sekali lagi.
"Saya akan berbicara dengan pemimpin lainnya. Mungkin pesisir akan setuju, tapi yang lainnya, aku belum dapat memastikannya."
"Baiklah. Saya akan pulang sebentar untuk bersiap, setengah jam lagi saya akan kembali."
"Terima kasih. Nanti akan saya beritahu hasilnya." Jawabnya dengan sedikit menundukkan kepala.
Biasanya aku tidak enak melihat orang yang lebih tua dariku menundukkan kepalanya di hadapanku, tetapi sepertinya sekarang aku harus mulai terbiasa dengan perilaku mereka.
Setelah pembicaraan singkat dengan pemimpin sungai, Androlis. Aku langsung kembali ke Kerajaan untuk mengumpulkan pasukan.
➖➖➖➖➖
"Apa kalian sudah siap!?"
"YAAA!?" Jawab semua pasukan.
Izin sudah kami dapatkan dari pemimpin pesisir. Pemimpin pesisir langsung menyetujuinya setelah mendengar kabar kalau kami yang akan membantu menghadapi Failer.
Tapi, pemimpin lainnya ada menolak dan ada juga yang bersikap netral kepada kami.
Hanya pesisir, danau dan sungai yang mau mendukung kami. Gunung memilih untuk bersikap netral, sementara pusat secara terang-terangan menolaknya.
Begitu daerah pesisir sudah di amankan, pasukan kami mulai dipindahkan ke pesisir.
Deretan Frame Rescue mulai menghiasi daratan berpasir itu. Ksatria juga sudah bersiap di dalam Frame Rescue mereka masing-masing.
Seperti yang diharapkan. Suara langkah kaki dari dasar air mulai terdengar. Dan beberapa menit kemudian, dari kejahuan, mulai tampak oleh mata kami beberapa ekor makhluk kristal keluar dari permukaan air.
Air laut yang awalnya tenang, sekarang mulai menari-nari mengikuti langkah kaki Failer.
Sepertinya ini akan cepat.
"Semuanya!?"
"Serang!!!"
Dan begitulah. Suara ombak yang menyapu karang pantai menjadi pertanda dimulainya pertempuran kami.
➖➖➖➖➖
"Huhh. Dunia kembali tenang."
Aku menghela nafas sambil menatap langit melalui jendela atap FIB.
"Ini tehnya, Tuan."
"Terima kasih, Liora."
"Sama-sama."
Harumnya bunga taman dan suasana yang sunyi membuatku sangat menikmati saat menyeruput teh.
Pertempuran di Roadmare sudah berakhir. pertempuran nya memakan waktu tidak lebih dari satu jam, mungkin itu karena jumlah musuh lebih sedikit daripada pertempuran dulu.
Kerusakan bangunan akibat pertempuran juga minim, mengingat kami bertempur di pesisir pantai yang lumayan jauh dari kota terdekat.
Frame Rescue juga tidak ada yang mengalami kerusakan yang serius, hanya beberapa goresan dan penyok yang tidak terlalu penting.
"Mungkin Liora akan marah, tapi semoga saja dia dapat memakluminya." Teh. Itu yang aku pikirkan, tapi sepertinya dia sama sekali tidak keberatan.
"Dimana Dokter, Liora?" Tanyaku.
"Aku disini."
"Hah!?"
Disaat aku berbaik hati ingin bertanya tentang keberadaan Dokter gila itu, dia secara mendadak muncul dari belakangku. Aku yang kaget secara reflek melompat dari tempat dudukku.
"Y-yah. Be-begitulah."
Wanita dewasa apanya. Anda sekarang malah sepenuhnya terlihat seperti anak kecil.
"Jadi ada apa mencari saya?"
"A-aku ingin minta tolong."
".........."
"Apakah Dokter bisa membuat semacam radar yang dapat menunjukkan keberadaan Failer?"
"Ohh. Kenapa saya tidak kepikiran ide seperti itu ya." Kata dokter sambil menepuk tangannya.
"Jadi bisa?"
"Bisa. Yang saya butuhkan untuk itu hanyalah data Failer. Tapi tenang saja, FIB mungkin menyimpan cadangan data tentang Failer di masa lalu. Data itu akan dapat digunakan."
"Tapi untuk saat ini."
Kalimatnya yang terhenti di tengah-tengah membuatku terdiam, dengan penasaran, aku menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Dokter gila ini.
"Apa saya bisa meminjam benda yang kamu sebut smartphone itu?"
"Hah. Hmm. Y-yah."
Dengan wajah yang penuh kecurigaan, aku menyerahkan smartphone ku kepadanya.
Dan dia malah menerimanya dengan mata yang berbintang-bintang.
"Apa yang akan Dokter lakukan dengan itu?"
".........."
Tanpa lagi mempedulikanku, dia mulai memandangi smartphone itu dengan serius dan.
"(Unloading)"
Tiba-tiba saja dia memaparkan sebuah mantra. Matanya mulai berkeliaran ke sana kesini memandangi smartphone itu dengan seksama.
"Ohh. Jadi seperti ini ya."
"Sepertinya saya bisa membuatnya menggunakan bahan dari dunia ini, tapi hebat juga mereka bisa membuat hal serumit ini."
Dia terus bergumam dangan wajah yang sangat serius. Entah kenapa itu membuatku ketakutan.
Tapi itu tidak bertahan lama. Aku yang mencium bau mencurigakan langsung bertindak dengan cepat.
"Hah. Apa yang Dokter lakukan?" Kataku sambil merampas smartphoneku kembali dari tangannya dengan cepat.
Apa yang Dokter gila ini lakukan.
Hmm. Kalau tidak salah.
"(Unloading)"
Setelah mantra dilepaskan, mendadak aku bisa melihat seluruh bagian dari smartphoneku dengan jelas.
"Hah. Apa-apaan komponen ini. Ini sih mantra gila namanya."
"Kamu memang anak yang berbakat Shin. Hanya dengan melihatku, kamu langsung bisa memakai mantra spesialku."
"Mantra apa ini Dokter?"
"Itu adalah mantra spesialku yang bisa melihat setiap inti dari sebuah benda dengan detail. Dengan menggunakan mantra inilah saya bisa membuat penemuan yang luar biasa."
"Ohhh. Ehh. Apa jangan-jangan Dokter bermaksud?"
"Ya. Saya ingin membuat smartphonemu itu."
"Hahh!?"
Membuatnya. Itu sih sudah berada di level bencana namanya. Apa yang akan terjadi kalau seandainya ada smartphone di dunia ini.
Tunggu sebentar. Kalau dipikir-pikir lagi, itu mungkin akan sangat membantuku dalam berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.
"Jadi bagaimana Shin. Apa saya mendapatkan izin?"
Ya. Selama dia tidak memasukkan hal yang berbahaya, ini mungkin akan baik-baik saja.
"Baiklah. Tapi jangan lakukan hal yang aneh-aneh pada smartphonenya."
"Siap bos." Dia mengatakan itu dengan penuh semangat sambil memberi hormat layaknya seorang tentara.
Suasana tenang kembali lagi ke taman ini. Dokter yang pergi untuk memulai proyeknya membuatku gelisah tentang apa yang akan dia lakukan dengan penemuannya nanti.
Namun pikiran itu langsung kandas setelah sebuah pesan telepati datang.
"Tuanku."
"Hah. Ya. Ada apa Haku?"
"Ada orang yang ingin bertemu Tuan."
Seseorang ingin bertemu denganku.
"Siapa dia?"
"Sepertinya mereka adalah utusan."
Utusan. Apa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian di Roadmare kemarin.
"Baiklah. Aku akan kesana."
Setelah menutup komunikasiku, aku langsung bersiap kembali ke istana. Suasana tenang yang ingin aku dapatkan tadi, sekarang ini sudah hilang total akibat kedatangan utusan.
Semoga saja dia bukan orang aneh.
Dengan wajah penasaran dan perasaan yang masih belum siap meninggalkan taman, akupun langsung berpindah ke istana.