Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 78 : Keputusan Akhir Kokonoe Rin



"Rin. Aku tidak tahu kebenarannya sama sekali. Baik kamu anggota keluarga Kerajaan Felsen atau tidak. Yang mau aku tanyakan kepadamu saat ini hanyalah pendapatmu saja, Rin?"


Rin terdiam sejenak setelah mendapat pertanyaan yang cukup menguras pikirannya. Semua orang di ruangan itu juga tidak ada yang bersuara seakan mereka sedang menunggu jawaban dari Rin.


Cukup lama Rin berpikir, sampai pada akhirnya dia mengutarakan isi hatinya.


"Shin. Aku sendiri saja tidak tahu kebenaran dari silsilah keluargaku. Tapi satu yang aku tahu yaitu aku itu mencintaimu, kamu juga tidak pernah mempermasalahkan dari mana asalku. Jadi selama kamu mau menerimaku apa adanya, itu sudah cukup bagiku."


Tidak ada alasan yang jelas dari apa yang Rin katakan, tapi entah kenapa wajahku langsung memerah setelah mendengar perkataannya.


Dengan cepat aku langsung membuang wajahku dari hadapan Rin dan para gadis supaya mereka tidak menertawakanku.


"Ya. Kalau Rin merasa tidak masalah dengan keadaan sekarang, itu sudah cukup bagiku." Kataku dengan senyuman.


Setelah memberikan senyuman kepadanya, aku langsung menatap Kazuo.


"Kazuo, tulis surat dan katakan kalau kita tidak akan menerima kerja sama dengan Kerajaan Felsen. Tulis juga kalau Rin tidak mengakui status yang diberikan Kerajaan Felsen."


"Baik Yang Mulia."


Kazuo, Lain, Norn, Nikola menundukkan kepalanya kepadaku dan pergi meninggalkan ruangan.


"Kazumi. Kembali dan selidiki apapun tentang Felsen!"


"Baik Yang Mulia. Kalau begitu hamba izin bertugas dulu."


Setelah mendapatkan tugas dan meminta izin dariku, Kazumi yang merupakan seorang pimpinan anggota mata-mata langsung menghilang dari Ruangan.


Berapa kalipun aku melihat, cara menghilangnya masih saja membuatku kagum.


Kazumi yang seorang ninja tentu tidak bisa menguasai sihir, melainkan dia lebih menguasai ninjutsu yang merupakan keahlian utamanya.


Dengan perginya Kazumi, sekarang hanya tinggal aku dengan para gadis di ruangan itu.


"Shin. Apa akan terjadi sesuatu setelah ini?" Pertanyaan Asha memecah suasana.


Mendengar itu aku hanya memberinya senyuman kecil.


"Tenang saja. Mereka tidak akan berani berbuat sesuatu."


Asha membalas senyumanku dengan senyuman di wajah kecilnya.


Sebenarnya aku juga tidak tahu pasti. Tapi Felsen tidak bisa dianggap remeh. Julukan sebagai Kerajaan Sihir pasti tidak diberikan tanpa alasan kepada mereka. Aku harus hati-hati.


➖➖➖➖➖


Besoknya, sesuai dengan permintaan yang aku katakan kepada utusan Kerajaan Felsen, hari ini dia kembali lagi ke Kerajaan sesuai janji.


"Utusan, tolong berikan surat ini kepada Raja Felsen!"


Seorang ksatria mengambil surat dari Kazuo dan menyerahkannya kepada utusan itu.


"Baik Yang Mulia. Akan hamba berikan surat ini kepada Raja Felsen. Kalau begitu hamba pamit dulu."


Utusan itu berdiri dan sedikit membungkuk kepadaku, setelah itu dia mulai melangkah pergi ke luar dari ruang audiens.


Aku juga memindahkan penglihatanku ke burung yang berada di atas istana untuk melihat kepergiannya.


Dengan sedikit senyuman, dia dan orang yang satunya lagi masuk ke dalam kereta dan pergi meninggalkan istana.


Memang ada yang tidak beres. Aku dari kemarin juga penasaran kenapa hanya untuk mengirim surat kepada Raja harus ditemani dengan ksatria sebanyak itu.


Hmm. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan disini.


"Kazuo, katakan kepada Lain untuk memerintahkan ksatria yang berjaga untuk lebih waspada terhadap situasi!"


"Baik Yang Mulia."


Kazuo langsung pergi dengan seorang ksatria keluar meninggalkanku sendirian untuk menemui Komandan Lain.


"Huhh. Perekrutan anggota Sparta harus tetap berjalan, sementara masalah ini juga tidak bisa diabaikan. Pertunangan resmiku juga harus diumumkan. Kenapa masalah ini tidak ada habisnya."


➖➖➖➖➖


Dua hari setelah kejadian itu, aku bersama kedelapan gadis tersebut jalan-jalan di ibukota.


Awalnya aku tidak mau, tapi mereka terus mendesakku untuk pergi melihat ibukota, jadi aku hanya mengiyakan saja.


"Yang Mulia."


"Apa kabar Yang Mulia."


"Yang Mulia Ratu, anda cantik seperti biasanya."


Orang-orang yang sedang berjualan maupun yang sedang jalan santai mulai menyapa kami satu persatu.


Jelas itu membuatku senang sebagai seorang Raja, tapi itu juga membuatku lelah sebagai seorang manusia karena harus menyapa balik setiap orang yang menyapaku.


Dari dulu aku sudah menyadarinya kalau menjadi Raja itu sedikit merepotkan.


"Mereka juga kelihatan sangat bahagia disini." Sambung Chika.


"Ya, begitulah."


"Hanya perasaanku saja atau jumlah penduduk ibukota memang sebanyak ini, Shin?"


"Hah!?"


Pertanyaan ragu-ragu Ryou menyadarkanku, aku mulai menatap keseliling tempat dan benar saja, jumlah penduduk makin lama makin banyak.


"Kamu benar Ryou, tanpa disadari jumlahnya semakin banyak."


Kenapa aku tidak menyadarinya ya. Apa karena terlalu lama di istana.


"Sepertinya kita perlu menambah kota, Shin." Ujar Kyou.


"Oh ya Shin. Bukannya kamu ingin membuka kota mata angin?" Tanya Rin.


"Ya, aku baru ingat. Bagaimana dengan itu, Shin" Gumam Miku.


Hilda yang merupakan anggota baru tentu tidak tahu akan itu, dia hanya dapat memiringkan kepalanya saat pertanyaan Miku dilontarkan.


Chika dan Asha juga merupakan dua gadis lainnya yang kurang tahu dengan ini. Mungkin karena rencana ini sudah direncanakan saat Kerajaan berdiri, jadi maklum kalau mereka kurang tahu.


"Apa itu kota mata angin?" Tanya Hilda untuk mewakili kedua gadis lainnya.


"Kota mata angin itu merupakan rencana kota yang akan dibangun Shin setelah penduduk ibukota bertambah banyak."


"Iya. Nantinya kota ini akan dibangun sesuai dengan arah empat mata angin. Utara, selatan, timur dan barat."


Hana dan Airi mewakiliku kali ini untuk menjelaskannya kepada mereka bertiga tentang apa itu kota mata angin.


Julukan itu memang baru-baru ini disebut, dulu tidak pernah terpikirkan oleh siapapun tentang ini sebelum Kazuo mengatakannya.


"Ohh, jadi seperti itu ya." Hilda berbicara yang menandakan kalau dia sudah mengerti.


"Aku yakin pasti kota itu nantinya akan seindah ibukota kan, Shin?" Tanya Chika.


"Pastinya." Jawabku dengan semangat.


"Jadi bagaimana rencana kota mata angin itu, Shin?"


Pertanyaan Asha sekali lagi menyadarkanku akan sesuatu. Apa itu, ya pastinya rencana kota mata angin.


Memang ada beberapa pemukiman yang didirikan oleh orang-orang di sekeliling ibukota, tapi semua orang tahu kalau itu dibiarkan saja pasti akan menjadi sarangnya penjahat.


Aku akan memulai proyek ini setelah masalah Pasukan Sparta selesai.


"Tenang saja, sebentar lagi kota mata angin akan dibangun."


Semua gadis mulai tersenyum lembut, mereka mungkin sedang memikirkan kota itu ketika sudah jadi. Aku juga tersenyum saat melihat mereka tersenyum.


Ya. Membuatnya akan mudah, aku akan meminta Liora untuk mendesain kotanya. Dengan adanya Dokter, mungkin pekerjaan akan semakin cepat.


"Melihat meraka tersenyum membuatku bahagia, terima kasih Dewa sudah menghidupkanku kembali dan memberiku kebahagiaan baru." Gumamku sambil menatap langit berharap Dewa Semesta mendengarnya.


"Apa kamu mengatakan sesuatu, Shin?" Tanya Miku.


"Hah. Ti-tidak ada. Mari kita jalan lagi."


Mereka semua kebingungan saat melihat tingkahku yang mencurigakan, tapi tidak ada dari mereka yang bertanya detail dari apa yang aku gumamkan. Itu mungkin tanda dari kepercayaan mereka kepadaku atau mungkin karena mereka sudah tahu apa yang aku gumamkan.


Melanjutkan perjalanan kami, kami mulai berkeliling dari satu toko ke toko lainya. Berhenti disana dan melihat-lihat barang yang dijual penduduk.


Karena penduduk yang semakin banyak, jenis barang yang ada di kota juga semakin banyak. Hampir semua kebutuhan pokok dapat ditemukan di ibukota. Mungkin beberapa barang yang tidak dimiliki ibukota dapat mereka pesan melalui toko Olba Company.


Aku hanya dapat tersenyum saat melihat kehidupan penduduk Glory yang tenang. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang di sekililingku.


Butuh beberapa menit untukku supaya bisa menyadari apa yang kurang itu.


Dunia ini kekurangan hiburan. Tidak ada hiburan untuk penduduk sama sekali, apa aku harus membuat beberapa hiburan ya.


Kalau dipikir lagi, tontonan olahraga mungkin juga bagus untuk penduduk. Aku akan memikirkan itu nanti.


"Apa yang kamu pikirkan, Shin?" Sambil memarik bajuku, Airi bertanya.


"Aku sedang memikirkan hiburan yang cocok untuk penduduk dan dunia ini." Balasku.


"Hiburan yang cocok. Apa itu dari duniamu?" Setelah mendengar perkataanku, Hana langsung bertanya.


"Ya. Tunggu saja ya." Aku mengatakan itu sambil mengusap kepala Hana dan Airi.


"Baiklah." Jawab mereka dengan serentak.


Setelah melanjutkan jalan-jalan kami yang melelahkan, kamipun memutuskan untuk kembali ke istana untuk makan siang.