Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 59 : Permintaan Sekali Seumur Hidup



Firasat buruk apa ini.


Begitulah gumamku sepanjang jalan menuju ke ruang tamu tempat para gadis telah menunggu.


Sesampainya di sana, para gadis sudah menunggu dengan orang tua mereka masing-masing.


Tunggu. Kenapa disini rame kali. Apa ada semacam rapat keluarga disini.


"Ohh, Shin. Akhirnya kamu datang juga." Sapa Miku dengan santainya.


"Y-ya. Aku datang." Jawabku sambil mencari tempat duduk.


Saat melihat-lihat, ternyata tempatku sudah ditentukan oleh mereka. Dan tempat itu adalah tempat yang paling membuatku canggung.


Woi. Kenapa tempat dudukku tepat berada di tengah-tengah begini Miku dan Ryou begini.


Dan kenapa aku berada tepat di depan para orang tua ini. Apa aku ceritanya sedang di interogasi. Apa salahku woi.


Di depanku sekarang sedang duduk para calon mertuaku. Dengan tatapan tajamnya, mereka semua menatapku yang tengah berada di dalam suasana canggung.


Memang benar kalau para gadis yang memanggilku sih, tapi. Kenapa orang tua mereka juga ikut berada disini.


"Etto. Ka-katanya ada yang ingin dibicarakan ya. Apa itu?"


"Huhh. Kamu memang tidak peka ya Shin." Dengan helahan nafas, Kaori mengatakan kalimat itu.


"Aku tidak mau mendengar kalimat itu darimu kak." Dengan cepat aku langsung membantah apa yang dikatakannya.


"Terserah kamu aja." Respon acuhnya menambah kekhawatiranku.


"Shin!"


"Ya!?" Tanpa waktu lama, aku langsung membalas sapaan Miku.


"Apa kamu benar-benar mencintai kami?" Tanya dia.


"Y-ya. Kenapa kamu menanyakan itu?" Kembali ke mode tenang, aku mengembalikan pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan pula.


"Bukan apa-apa." Jawabnya dengan senyuman lebar di wajahnya.


Apa yang sebenarnya terjadi.


"Sekarang aku mau tanya. Apa pendapatmu tentang Asha dan Chika?" Tanya Miku lagi.


Setelah pertanyaan itu dilontarkan, aku langsung menatap Asha dan Chika yang duduk tepat berada di depanku bersama dengan orang tuanya masing-masing.


"Etto. Mereka cantik, baik dan perhatian."


"Apa hanya itu?" Tanya heran Miku.


"Hmm. Kalau semuanya dikatakan, mungkin tidak jauh beda dengan kalian berenam." Ujarku sambil memegangi daguku.


"Baiklah."


"Sekarang kalau aku mengatakan kalau mereka ingin menjadi istrimu. Apakah kamu mau menerimanya?"


"Ya. Tentu aku akan meneriman_" Merasa bahwa aku sedang menuju ke sebuah jurang lagi membuatku langsung tersadarkan dan bertanya dengan panik.


"EHH!?!? Tunggu, apa maksud pertanyaanmu tadi?" Kataku sambil berdiri dengan cepat.


Saat aku mengatakan itu, aku juga menatap Asha dan Chika yang masih duduk di depanku. Sangat jelas terlihat bahwa telinga dan pipi mereka berdua memerah, dan samar-samar asap juga keluar dari telinga mereka berdua


"Tunggu. Apa yang sebenarnya terjadi disini?"


Aku tatap semua orang satu per satu untuk mencari jawabannya. Tapi tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku.


"Shin."


Ditengah keheningan, sebuah suara mendadak terdengar lagi di telingaku.


"Y-ya."


"Seperti yang Nyonya Miku katakan tadi. Apakah kamu mau menerima anakku sebagai salah satu istrimu?"


"Hahhh!?"


Apa-apaan rute harem ini.


"Ya. Aku juga mau menyerahkan anakku padamu, Shin."


"A-anda juga!?"


Kalimat yang keluar dari ayahnya Asha dan ayahnya Chika membuatku sangat syok.


Kesadaranku sekarang mulai pudar setelah menerima serangan dadakan. Tapi aku berusaha untuk tetap sadar.


"Hmm. Biarkan aku untuk mencernanya sebentar." Sambil memegangi kepalaku yang sakit, aku memilih untuk kembali duduk.


Apa-apaan ini. Baru saja aku tersadarkan betapa berharganya bisa hidup kembali, dan sekarang aku malah mendapat gadis lain.


Bukannya aku tidak menyikainya sih. Tapi ini terlalu mendadak.


Oh Dewa. Berapa sebenarnya istri yang ditakdirkan untukku sih. Kenapa mereka selalu datang tanpa henti.


"Huhhh. Jadi anda berdua berniat menyerahkan Putri anda padaku?"


Setelah menenangkan pikiranku, aku menarik nafas dan bertanya sekali lagi untuk memastikannya.


"Ya. Benar sekali, Shin. Ini adalah permintaan sekali seumur hidup dari kami." Jawab mereka dengan serentak.


"Kenapa anda bisa berpikir untuk menyerahkan Asha padaku?" Tanyaku sambil menatap ayahnya Asha.


"Hmm. Awalnya saya tidak menyadarinya, tapi setelah melihatnya sendiri bagaimana dia sangat mencintaimu, sayapun memutuskan untuk menyerahkan Asha padamu."


"Hmm. Kalau anda?"


"Sama dengannya. Saya juga tidak menyadarinya, bahkan saya sampai ingin menjodohkannya dengan pria lain, tapi setelah melihat apa yang dia lakukan untukmu, sayapun sadar kalau dia sudah memiliki pria yang dicintainya."


Hmm. Alasannya klise bener. Sama kayak di manga dan anime yang sering aku tonton dulu.


Merasa tidak dapat membuat keputusan sendirian, akupun menatap para gadis dengan harapan mereka mau memberi penjelasan kepada kedua lelaki tua ini, tapi apa jadi.


Ya. Ampun, kalian ini.


Yang terlihat hanyalah senyuman bahagia dari ke enam gadis itu.


Apa-apaan ini.


Melihat dari tatapan mereka, aku percaya kalau mereka semua saat ini tidak akan mau mendengarkan penjelasanku sama sekali.


"Tunggu. Bagaimana dengan laki-laki yang dijodohkan denganya?"


"Kalau itu tenang saja. Sudah lama saya menolaknya."


"Semenjak saya tahu kalau Chika mencintaimu."


Ya, Dewa. Apa sebenarnya salahku saat ini.


Sekarang kekuatan otakku benar-benar sudah habis, tidak ada lagi yang bisa aku pikirkan saat ini.


"S-shin."


Mendengar ada suara gugup yang memanggilku membuatku langsung menatap sumbernya.


Ternyata sumber suara itu adalah Asha dan Chika yang mulai menatapku dengan tatapan memohon.


"Ap-apa kamu membenci kami?"


"Tid_"


Ehh. Bukannya aku dulu juga pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini ya.


"Ya, aku membenci kalian berdua." Hahhh. Tidak mungkin aku mengatakan kalimat penjahat itu kepada kedua gadis rapuh ini.


Apa yang harus aku katakan.


"Ti-tidak. Aku tidak membenci kalian berdua kok."


"Baguslah. Kalau begitu kamu bersedia kan?" Kata mereka berdua dengan senyuman bahagia yang terpampang jelas.


"Y-ya. Ak-aku bersedia." Dengan pasrah, aku menyetujuinya.


Aku malah menyetujui proposal pertambahan gadis ke dalam hidupku.


➖➖➖➖➖


"Sepertinya Tuan sedang kesusahan ya?"


"Tuan!?" Respon kagetku pada kalimat yang jarang aku dengar darinya.


Bukankah dia kembali ke mode formal lagi ya. Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku tidak sadar dulu.


Ya. Terserahlah.


"Begitulah. Pikiranku saat ini sedang menumpuk."


"Saya turut prihatin. Tapi saya harus mengatakan kepada Tuan kalau sudah saatnya Tuan membangunkan seseorang."


"Seseorang. Siapa dia?"


"Tuan akan tahu sendiri nanti. Kalau begitu ikuti saya."


Sambil dituntun oleh Liora, aku mulai berjalan melewati taman menuju ke sebuah bangunan.


Aku belum pernah kesini sebelumnya.


"Liora. Bangunan apa ini?"


"Bisa dikatakan kalau ini adalah bangunan pribadi." Dia menjawab sambil memasukan sandi pada pintu besar yang berada di depan kami.


"Pribadi!?"


Klleekk


"Silakan masuk Tuan."


Setelah pintunya terbuka, aku berjalan masuk ke ruangan itu dengan gugup.


Yang terlihat di ruangan itu hanyalah kertas dan barang-barang aneh yang berceceran di mana-mana.


Kok aku rasanya pernah melihat benda-benda ini ya.


Tapi dimana dan kapan.


Menyampingkan segala sesuatu yang ada di sana, ada satu hal lagi yang membuatku lebih kaget, itu adalah sebuah tabung yang terpampang jelas di tengah ruangan.


"Tabung!? Tunggu, ada sesuatu di dalamnya."


Rasa penasaran menarikku untuk semakin mendekati wajahku ke tabung.


"Bukannya ini..."


"Ya. Itu adalah humanoid sama seperti saya."


"Kenapa dia berada di dalam tabung ini? Kenapa dia tidak dihidupkan oleh dokter?"


"Itu karena dia sendirilah dokternya."


"Hahhh!?" Mengetahui sebuah fakta mencengangkan membuatku melompat mundur kebelakang.


Liora yang melihatku kaget tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia dengan tenang malah melanjutkan kalimatnya.


"Sebelum dokter meninggal, dia membuat humanoid ini dan memasukkan seluruh pengetahuan yang dia punya ke dalamnya."


"Jangan-jangan pengetahuan itu...??" Tanyaku dengan kurang percaya diri.


"Benar. Pengetahuan itu otaknya."Ujarnya dengan santai.


Sekali lagi aku kaget dengan tubuhku merinding di tempat.


Yang membuatku kaget bukan fakta itu, tapi cara dia mengatakan kalimat yang semengerikan itu dengan wajah polosnya.


"Ke-kenapa dia melakukan itu?"


"Karena dia ingin dihidupkan kembali untuk membantu Tuan menyelamatkan dunia, kalau seandainya tragedi itu terjadi lagi."


"Dihidupkan kembali!? Oleh siapa?"


"Oleh Tuan sendiri."


"Ke-kenapa aku yang harus menghidupkannya kembali?"


"Itu karena struktur sihir Tuan sama dengan dokter. Jadi hanya Tuan yang bisa menghidupkannya kembali."


"Hahh!?"


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...