Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 62 : Manusia Dari Dunia Lain



Suasana canggung masih terasa kental di ruangan itu. Penyebabnya tentu saja berasal dariku yang saat ini sedang terpojok oleh pertanyaan para gadis.


"Begini semuanya. Lebih baik kita tidur dulu, besok akan kita lanjutkan."


Tidak ada yang merespon. Para gadis tetap saja diam di tempat, terus menatapku untuk menantikan penjelasan. Tapi syukurlah, ternyata masih ada di antara mereka yang perhatian akan situasiku saat ini.


"Huhh. Baiklah. Kalau begitu kami akan nantikan penjelasan darimu besok pagi setelah sarapan." Ujar Miku setelah sedikit menghela nafas.


"Ba-baik."


Meninggalkanku yang masih terpaku, semua orang mulai pergi ke kamarnya mereka masing-masing.


Aku juga mulai berdiri dan berjalan secara sempoyongan ke arah kamar. Laim yang melihatku langsung ikut membantuku berjalan.


Sesampainya di kamar, aku langsung tepar di kasur tempat tidur. Laim juga langsung pamit keluar dan pergi meninggalkan kamar.


Ahh. Aku selamat untuk malam ini.


Tapi bagaimana nanti respon mereka saat mereka mengetahui kalau aku berasal dari dunia lain, mengingat bahwa mereka sudah melihat kekejaman Failer yang notabene juga berasal dari dunia lain.


Apa yang akan mereka pikirkan.


Tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Masalah keputusan mereka, itu urusan nanti.


Apa mereka menerimaku atau tidak. Aku hanya akan menerima segala keputusan mereka semua.


"Nah. Mari kita tidur saja malam ini." Gumamku sambil mata yang perlahan mulai tertutup.


➖➖➖➖➖


Besoknya, sesuai dengan apa yang dikatakan Miku. Setelah sarapan, mereka semua langsung mengajakku untuk berbicara di ruangan seperti kemarin.


Suasana canggung seperti kemarin mulai terasa kembali di dalam ruangan yang sama ini.


Apa yang harus aku lakukan. Mengatakan ini di sini akan menimbulkan masalah baru.


"Le-lebih baik kita bicarakan saja di FIB."


"FIB!?"


"Apa itu FIB?"


Bukannya menyetujui permintaanku, Asha dan Chika malah bertanya balik sambil memandangiku lebih dalam.


Aku lupa. Aku belum sempat memperlihatkan FIB kepada mereka berdua.


"Itu_"


"Itu adalah tempat khusus yang hanya dimiliki oleh Shin seorang, dan selain tunangan seperti kita, tidak ada yang boleh mengetahuinya."


Miku secara mendadak memotong kalimat yang mau aku katakan pada mereka berdua.


"Ohh. Tempat rahasia ya." Kata mereka sambil melirik satu sama lain.


Asha dan Chika sekarang terlihat lebih bersemangat setelah mendengar kalau ada ruangan yang hanya tunangan Shin saja yang boleh mengetahuinya.


Tanpa merespon tindakan mereka berdua, kamipun mulai berdiri dari sofa dan pergi ke tempat yang cukup luas untuk berpindah.


"Gate."


➖➖➖➖➖


Dalam sekejap mata, pemandangan yang awalnya ruangan istana, sekarang berubah menjadi taman yang sangat indah.


"Berapa kalipun kita kesini, aku masih kagum melihat taman yang sangat indah ini." Gumam Ryou.


Sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, kami semua pergi menuju ke tempat duduk yang biasanya di pakai para gadis ketika mereka mampir ke FIB.


Dokter yang kemarin mendengarkan pembicaraan kami sekarang ikut bergabung dengan kami di taman.


"Jadi apa yang ingin kamu katakan Shin?"


Mengabaikan pertanyaan Miku, aku langsung melemparkan gambar ke udara tempat kami semua duduk.


Sebenarnya bukan gambar, melainkan video yang aku pilih dan gabungkan menjadi sebuah video pendek.


"Aku ingin memperlihatkan ini pada kalian."


"Apa itu?" Tanya Hana.


"Lihat saja dulu, ok."


"Hmm."


"Dan Dokter, lebih baik anda duduk diam saja disana." Aku mengatakan itu pada Dokter sambil menatapnya dengan tatapan membunuh.


Dokter yang awalnya berangsur-angsur mendekat kearahku sekarang terdiam di tempat.


"Ya-ya. Baiklah."


Dia merespon dengan wajah cemberutnya dan kembali ke tempat duduknya lagi.


Video mulai di putar, semua orang memperhatikan dengan sangat seksama. Bahkan bisa dikatakan kalau mereka menonton tanpa mengedipkan mata sama sekali.


Apa yang diperlihatkan di dalam video adalah beberapa hal yang ada di bumi. Seperti bangunan, transportasi, alam, peta dunia, manusia, hewan, persenjataan, dan berbagai hal lainnya.


Setelah beberapa menit, videonya pun berakhir. Mereka hanya dapat diam tanpa memiliki rasa ingin bertanya kepadaku tentang apa itu sebenarnya.


Aku yang masih menunggu pertanyaan tidak bisa lagi diam, dan pada akhirnya aku sendiri yang berbicara.


"Apa yang kalian lihat tadi?" Tanyaku pada mereka.


"Banyak bangunan aneh."


"Penduduknya juga asing bagiku."


"Pakaiannya, aku belum pernah melihatnya."


"Hewan itu juga."


"Kendaraan yang bergerak tanpa adanya kuda di depannya. Itu sangat aneh."


"Peta itu. Belum pernah aku melihatnya."


"Makanannya juga berbeda."


Miku,bHana, Rin, Kyou, Ryou, Asha, Chika dan Airi mulai menyuarakan keheranan mereka tentang video yang baru saja mereka lihat bersama.


Liora yang baru saja tiba langsung menuangkan teh ke gelas kami semua, setelah itu dia berdiri di sampingku. Mungkin itu hanya sebagai pertanda kalau dia adalah pelayanku.


"Baiklah. Akan aku jelaskan."


".........."


"Rin. Kemarin kamu bertanya tentang maksudku mengatakan kalau "Itu hanya hadiah kecil yang aku berikan untuk dunia ini." Kan?"


"Y-ya. Apa maksudnya?"


"Seharusnya kamu bisa sedikit menebak arti dari kalimat itu."


"Hmm. Ehh, etto. A-aku masih belum mengerti." Jawab bingung Rin sambil memegangi dagu dan menatap ke atas.


"Huhh. Baiklah."


Aku menghembuskan nafas sebelum membuka mulut untuk berbicara.


"Intinya, aku adalah manusia dari dunia lain."


"Hah!? A-apa!?"


Satu kalimatku membuat demage yang luar biasa si taman itu. Semua orang kecuali Liora terkejut dengan apa yang aku katakan.


"Benar. Apa yang barusan kalian lihat itu adalah dunia lamaku."


"Aku mati di duniaku dan terbangun di sini. Awalnya aku tidak terlalu yakin bisa hidup disini, tepi sekarang aku sangat menitmatinya."


"Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku tidak pernah memberitahukannya kepada kalian. Itu karena aku takut kalian tidak akan menyukainya, apalagi setelah tragedi invasi Failer di Slave dulu."


"Secara notabene, aku dan Failer berasal dari dunia lain walaupun duniaku dan mereka itu berbeda, tapi tetap saja kami dari dunia lain."


"Aku berpikir akan seperti apa respon kalian terhadapku setelah melihat apa yang diperbuat oleh Failer."


"Jadi maaf kalau baru sekarang aku mengatakannya." Kataku sambil sedikit membungkukkan badan.


Semua orang hanya terdiam terhadap pidatoku, tidak ada yang mau merespon sama sekali sampai pada akhirnya Chika mencairkan suasana.


"Kamu dari dunia lain, Shin? Itu sangat mengagumkan." Teriaknya sambil kegirangan.


Melihat tingkah Chika membuat semua orang mulai kembali berpikir jernih terhadapku.


"Ya. Kamu benar, dia memang luar biasa. Membayangkan tunangan kita berasal dari dunia lain membuatku bersemangat." Sambung Asha.


Tidak ada lagi kecanggungan diantara kami, dengan santai mereka tertawa saat melihat tingkah Chika dan Asha.


"Jadi semua hal yang kamu perlihatkan selama ini?"


"Ya. Mereka berasal dari duniaku."


"Makanannya juga?"


"Benar."


Mata Airi mulai bersinar setelah mendapatkan fakta kalau masakan yang selama ini dia buat ternyata berasal dari dunia lain.


"Benda yang kamu sebut ponsel itu juga?" Tanya Ryou.


"Ya. Ini sangat umum disana. Variasinya juga banyak." Jawabku sambil mencengkram ponsel ditanganku.


"Kalau kamu berasal dari dunia lain, itu berarti saudaramu itu?" Rin bertanya padaku dengan keraguan di matanya.


"Mereka bukan saudara kandungku, hanya saja mereka sudah aku anggap sebagai saudara di dunia ini. Merekalah yang merawatku saat aku tiba di dunia ini."


Perkataanku tidak sepenuhnya salah, mereka memang merawatku disini sebagai orang yang akan menuntunku atas perintah Dewa Semesta. Jadi itu tidak salah sama sekali.


"Apa masih ada yang mau di tanyakan padaku?"


Semua orang hanya diam, itu menandakan kalau mereka sepenuhnya menerimaku apa adanya. Tapi.


"Shinn!!"


Dengan tatapan membunuh seakan-akan dia mau menerkammu, Dokter menatapku dalam amarah. Asap juga mulai keluar dari telinga dan hidungnya.


Awalnya aku kira asap itu berasal dari konsleting listrik di dalam tubuhnya, tapi sepertinya tidak. Penampakannya benar-benar berbeda saat ini.


"Y-ya. A-ada apa?"


Aku dengan ragu-ragu bertanya tentang permasalahan apa yang bisa membuatnya berubah seperti ini.


Dia hanya menatap dengan tatapan yang tidak berubah sama sekali.


Apa yang terjadi pada Dokter mesum ini. Apa-apaan asap itu, jumlahnya bertambah banyak setiap detiknya


Dan pada akhirnya dia membuka mulut untuk berbicara.