
Kata-kataku langsung terhenti melihat ekspresi mereka yang tidak tampak marah namun malah tampak seperti orang terharu manatapku.
"Ehh....!?"
Kenapa mereka malah terharu. Sekarang aku bisa menebak apa yang akan Rin katakan padaku, pasti "Aku sangat terharu melihat saudara yang terpisah lama ini sudah kembali bertemu." Ini tidak seperti yang kalian bayangkan tahu.
"Rin. Kenapa kamu menangis?" Aku bertanya pada Rin untuk memastikan jawabannya.
"Aku sangat terharu melihat saudara yang terpisah lama ini sudah kembali bertemu."
"Tu kan. Sudah kuduga."
Kakakku hanya tersenyum akan ekspresiku yang sudah tau apa yang akan di katakan Rin.
➖➖➖➖➖
Di benua barat sana ada dua kerajaan yang selama ratusan tahun selalu bermusuhan tampa pernah ada kata perdamaian. Mereka selalu bermusuhan dalam berbagai bidang yang ada baik itu ekonomi, politik, sosial dan lain-lain.
Kedua kerajaan itu adalah kerajaan Holter di utara dan kerajaan Colder di selatan. Iklim kedua kerajaan itu juga bertentangan, Holter iklimnya panas sementara Colder iklimnya justru dingin.
Soal iklim yang bertentangan itu yang menjadi akar permasalahan kedua kerajaan ini.
➖➖➖➖➖
Aku yang sedang sarapan sedikit terkejut mengetahui bahwa ada perwakilan dari kerajaan Halman datang ingin menemuiku.
Aku langsung menyambutnya di ruang audiens dan langsung bertanya tampa basa-basi karena aku masih belum selesai sarapannya.
"Maaf telah mengganggu waktu sarapan Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Jadi apa yang membawamu kesini."
"Hamba datang kesini karena ada permintaan dari raja Halman untuk meminta tolong kepada yang mulia untuk mendamaikan kerajaan Holter dan kerajaan Colder yang selama ini selalu bermusuhan."
"Bermusuhan? Apa maksudmu."
"Iya yang mulia. Mereka dari dulu selalu bertengkar tidak peduli tentang apapun itu, bahkan itu sudah berlangsung selama ratusan tahun."
Nama kerajaannya saja hampir sama, kenapa mereka terus bertengkar, apa ini yang dinamakan masalah diantara saudara.
"Memangnya kenapa kerajaan itu harus didamaikan?"
"Dampak dari permusuhan mereka mulai terasa ke kerajaan Halman, banyak penduduknya yang melarikan diri ke kerajaan tetangga dan membuat kekacauan disana."
Apa aku memang harus ya membantu kerajaan itu. dilihat dari sejarahnya sepertinya mereka ini akan sangat susah untuk di damaikan, tapi aku juga tidak bisa membiarkan kerajaan tetangga menderita akibat ulahnya.
"Aku akan memikirkannya."
"Terima kasih yang mulia, kalau begitu hamba pamit dulu." Dia mulai meranjak meninggalkan ruang audiens kerajaanku.
"Hmm. Sepertinya aku akan berurusan lagi dengan permasalahan kerajaan lain." Menghela nafas membuatku sedikit tenang
"Yang mulia memang suka sekali berurusan dengan masalah kerajaan ya." Kazuo dengan santainya bertanya padaku disaat tubuhku merosot dari tahta.
"Mau bagaimana lagi, kalau terus seperti ini lama-lama kedua kerajaan itu akan hancur."
"Sebenarnya saya juga berharap kedua kerajaan itu bisa berdamai, kalau seperti ini terus dampaknya juga akan terasa sampai kesini."
➖➖➖➖➖
Saat ini aku berada di kerajaan Halman. Aku meminta raja Halman yang memperkenalkanku dengan raja kerajaan Colder karena aku belum pernah sama sekali bertemu dengan rajanya.
"Jadi kamu akan memenuhi permintaan kerajaanku?"
"Tergantung keadaan disana dulu, kalau mereka memiliki celah yang bisa aku masuki aku akan berusaha sebisaku."
"Aku berharap padamu Shin."
"Aku akan berusaha."
"Kalau seperti itu ayo kita bergegas menemuinya sekarang. aku juga sudah mengirim surat yang mengatakan bahwa aku akan berkunjung ke sana bersama raja kerajaan Glory."
"Itu sangat bagus."
Tunggu dulu. Sampai disana apa yang harus aku lakukan ya, aku belum mempunyai rencana sama sekali.
Sebaiknya aku lihat saja situasinya dulu baru aku membuat rencana.
"Silakan ikuti saya yang mulai dan raja Glory." Pelayan istana mengarahkan kami berdua ke kereta kuda.
Sebenarnya aku bisa saja membuka gerbang tapi apa salahnya pergi berkunjung dengan cara biasa.
Di saat kami berdua sudah masuk, pintu ditutup dan kereta mulai berjalan bersama dua kereta pengawal kerajaan Halman dan kerajaan Glory di belakang.
➖➖➖➖➖
Satu setengah jam kemudian :
Baru saja kami memasuki wilayah kerajaan Colder, tiba-tiba tubuhku langsung kedinginan.
Aku tau kalau suhunya memang dingin tapi aku tidak menyangka kalau udaranya akan sedingin ini.
Rapalan mantra [Warmth] langsung membuat tubuhku merasakan kehangatan. Aku menatap raja tapi sepertinya dia baik-baik saja dengan udara yang seperti ini.
Apa dia sudah terbiasa dengan udara seperti ini ya melihat dari wilayahnya yang bertetanggaan dengan kerajaan ini.
Baru aku akan kagum akan kekuatan tubuhnya yang bisa menahan udara sedingin ini, tiba-tiba kaki raja gemetaran.
Apa-apaan itu pak tua. apa kau ingin pamer kepadaku kalau tubuhmu kuat, atau kau malu memiliki tubuh yang kekar tapi lemah terhadap dingin.
Aku memilih melemparkan sihir [Warmth] padanya supaya tubuhnya sedikit hangat. Saat dia menyadarinya dia hanya tersenyum padaku.
"Terima kasih Shin."
"Sama-sama." Aku hanya tersenyum canggung melihat tubuh kekarnya kedinginan.
Kami berdua akhirnya tiba di ibukota kerajaan Colder. Yang kami lihat pertama adalah penduduk yang hidup kesusahan, rumahnya saja udah seperti mau roboh.
Apa rajanya tidak peduli dengan rakyatnya sama sekali, wajar saja penduduknya minggat dari kerajaan.
"Apa rajanya sama sekali tidak peduli dengan rakyatnya?"
"Setahuku raja mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada rakyatnya."
"Kejam sekali."
"Tapi aku mendapat kabar dari mata-mataku dulu kalau diam-diam putri pertama kerajaan Colder sering bertemu dengan putri kedua kerajaan Holter."
"Bertemu!? Untuk apa mereka bertemu diam-diam?"
"Sepertinya mereka bekerja sama untuk saling membantu rakyat mereka."
"Rakyat mereka. Apa rakyat kerajaan Holder juga seperti ini?"
"Ya seperti itulah." Raja Halman hanya menundukkan kepalanya.
➖➖➖➖➖
Kami berdua disambut oleh laki-laki tua yang memakai baju yang sangat mencolok, berbeda sekali dengan baju yang di pakai rakyatnya.
"Selamat datang di kerajaan Colder raja Halman dan raja Glory." Dia sedikit menundukkan kepalanya tapi aku bisa melihat senyuman jahatnya.
Sepertinya dia menganggap remehku.
"Terima kasih atas sambutannya raja Colder." balas raja Halman.
"Kalau begitu ayo kita masuk."
Kami berdua dituntun oleh raja kerajaan Colder menuju ke ruang undiensnya.
"Jadi apa yang membawa kalian berdua ke kerajaanku." Tanpa basa-basi di langsung bertanya pada kami.
"Saya kesini karena ingin memperpemukan raja Colder dengan raja kerajaan Glory."
"Ohh. Kerajaan yang baru berdiri itu. Ada urusan apa raja kerajaan Glory kesini?"
"Saya kesini ingin bertanya pada yang mulia. kenapa kerajaan Colder selalu bermusuhan dengan kerajaan Holter?"
"Pertanyaan macam apa itu." Dia langsung berdiri dan membentakku.
"Ya. Karena saya dengar bahwa kerajaan ini selalu bertengkar dalam segala bidang yang ada tampa pernah ada kata damai."
"Ulah mereka. Kenapa?"
"Dulu mereka mengatakan kalau kami yang telah menculik gadis yang seharusnya di berikan mereka kepada roh, saat roh itu marah dia langsung mengutuk dataran kami menjadi seperti ini. mana mungkin kami akan memaafkan mereka itu."
"Tapi itu sudah ratusan tahun yang lalu, seharusnya kalian sudah berdamai sekarang."
"Itu tidak akan pernah."
"Apa yang akan terjadi pada rakyatmu kalau terus seperti ini."
"Sekarang aku mau tanya. Apa tujuanmu kesini hanya untuk merendahkanku, kalau memang seperti itu lebih baik kalian pergi dari sini."
"Aku tidak akan pergi sebelum yang mulia mau berdamai dengan kerajaan Holter."
"Kurang ajar kau. Penjaga, bawa mereka keluar dari sini."
Sesuai perintah raja, beberapa ksatria langsung memasuki ruangan namun gerakan mereka malah terhenti oleh dinding yang tidak terlihat.
Benar, sebelumnya aku telah marapalkan mantra [Prison] pada sekitarku dan raja Halman. Dinding itu juga membuat ksatria itu terpanting ke belakang.
"A-apa yang kamu lakukan bajingan." Kata raja Colder padaku dengan ekspresi marah.
"Aku hanya menjaga diriku saja dari ancaman."
"Bocah brengsek. Komandan, cepat hancurkan penghalang ini."
Komandan yang sepertinya dari tadi sudah geram langsung berlari ke arahku sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.
"Rasakan ini." Dia menebas tapi hasilnya tetap sama, dinding itu tidak merespon sama sekali.
"Apa-apaan itu. Apa kamu juga berpihak pada kerajaan Holter itu?"
"Tentu tidak, saya netral disini."
"Omong kosong."
"Terserah. Kalau begitu aku pamit dulu,
sepertinya kata-kataku tidak memiliki ruang lagi disini."
Tanpa menatapnya, aku langsung berdiri dan berjalan ke luar ruangan yang juga di ikuti oleh raja Halman di belakang.
Sepertinya ksatria itu tidak menyerah, mereka terus-menerus mencoba menghancurkan pelindungku saat mencoba menyerang ksatriaku dan ksatria Halman, tapi usahanya tetap sia-sia.
Saat kami tiba di kereta kuda, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari belakangku.
"Tunggu...."
Ketika aku melihat orang itu ternyata dia gadis yang sepertinya usianya sama denganku.
"Ada apa tuan putri." Respon raja Halman pada perkataannya.
Jadi dia putri yang bekerja sama diam-diam dengan kerajaan tetangganya itu.
"Apa kalian serius ingin mendamaikan kerajaanku dan kerajaan Chika?"
"Chika?" Responku.
"Itu nama putri kedua kerajaan Holter. dan juga perkenalkan namaku Asha Salda Colder, salam kenal." Dia sedikit mengangkat roknya saat memperkenalkan diri.
"Perkenalkan juga namaku Tatsuya Shin, raja kerajaan Glory."
"Apa yang mulia benar-benar ingin mendamaikan kerajaan ini."
"Y-ya. Itu benar."
Sepertinya dia terlalu semangat orangnya.
"Sekarang yang mulia mau kemana?"
"Kami mau ke kerajaan Holter."
"Kalau begitu bawa aku juga."
"Untuk apa tuan putri mau kesana."
"Aku tidak bisa melihat rakyatku sengsara lagi, kakakku juga sakit sekarang jadi dia tidak bisa membantu kami."
"Sakit?"
"Iya. Tapi tenang, kami juga sudah mendapat dukungan dari Pangeran mahkota kerajaan Holter untuk perdamaian ini."
Dukungan dari pangeran mahkota ya, itu akan sangat membantuku.
"Ba-baiklah. Kamu boleh ikut dengan kami."
"Terima kasih." Dia tersenyum padaku.
Kami bertiga memasuki kereta dan meninggalkan kerajaan Colder menuju ke tetangganya yaitu kerajaan Holter.
Butuh sekitar satu jam untuk sampai ke ibukota kerajaan.
Sama dengan kerajaan Colder, kehidupan rakyatnya juga menderita disini ditambah udara yang sangat panas.
Saat kami tiba di istana, mata para ksatria langsung berubah saat melihat Asha yang berdiri di sampingku.
"Jadi apa yang membawa putri kerajaan Colder kesini. Apa kerajaan pak tua itu ingin menyerah?" Dia sedikit menyeringai dan itu membuatku kesal.
Emangnya kau pikir kau itu muda ya, dimana kamu sebenarnya bercermin bro.
"Kami kesini ingin meminta anda supaya mau berdamai dengan kerajaan Holter."
"Itu tidak mungkin mengingat apa yang mereka lakukan pada kami."
"Kalau boleh tahu apa yang dilakukan kerajaan Colder terhadap kerajaanmu." Saat masih kesal aku bertanya padanya tentang apa maksudnya.
"Kerajaan Colder itu selalu mengklaim apa saja yang kami buat bahkan iklim yang ada di kerajaan ini adalah ulah mereka."
Kok alasannya sama dengan apa yang dikatakan raja colder tadi, apa sebenarnya ada kesalahpahaman disini.
"Dampak dari perselisihan yang mulia ini sangat besar bagi rakyatmu, apa tidak seharusnya di akhiri saja."
"Itu tidak mungkin. Dan kamu raja Glory, apa tujuanmu kesini hanya untuk mengejek saya."
"Tentu tidak. Saya kesini sebagai perwakilan dari rakyatmu dan rakyat Colder."
"Kau tidak ada hak untuk mewakili rakyatku."
Saat Raja masih marah-marah, putra dan putrinya tiba ke ruang audies.
"Ayah, bukannya seharusnya kita berdamai saja." Kata putra mahkota.
"Iya ayah, aku sudah tidak tahan melihat rakyat kita menderita." Sambung putrinya.
"Apa kalian juga menentang ayah disini?"
"Kalau ayah seperti ini terus tentu saja kami akan menentangnya."
"Kalian anak kurang ajar. Penjaga, tangkap dan kurung mereka di kamar mereka."
"Ba-baik yang mulia." Dua ksatria langsung berjalan ke arah mereka berdua.
Hmmm. Tidak akan semudah itu ferguso.
"Auhghh." Sesaat ketika ia akan menyentuhnya, tiba-tiba ksatria itu langsung terpanting ke belakang.
"Apa yang terjadi." Teriak raja saat melihat ksatrianya terbanting.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...