
Dia mulai melangkah naik ke atas gazebo itu, namun langkahnnya terhenti saat melihat ada tiga orang gadis lainnya duduk bersama tunanganku juga.
Pikirannya mulai kemana-mana, namun akhirnya dia memilih untuk bertanya padaku.
"Shin. Siapa mereka bertiga?"
"Mereka it__"
"Apa mereka juga tunanganmu? Kamu ini Shin, baru lengah sebentar malah mencari gadis lagi." Dia mengatakan itu sambil memasang wajah menggoda
"Ti-tidak. Mana mungkin aku seperti itu."
"Terus apa?"
"Bukannya kamu tadi mengatakan sesuatu padaku." Mencoba mengubah topik, aku menanyakan itu padanya.
"Mengatakan sesuatu?"
"Yang kamu dengar dari ksatria dan penduduk tadi." Jawabku dengan senyuman.
"Hmmm. Ohh, tentang kakakmu itu ya."
Anggukanku membuatnya sangat kegirangan. Namun ekspresinya kembali serius saat menatap aku dan kakakku.
"I-itu berarti mereka bertiga?." Kata-katanya yang bercampur takut bertanya membuatku sedikit tertawa.
"Mereka bertiga adalah kakakku."
"Hahh. Kakak?"
"Benar. Yang berambut biru itu namanya Tatsuya Safira, yang berambut ungu itu Tatsuya Viola dan yang masih makan tanpa melihat situasi sekeliling itu adalah Tatsuya Kaori."
"Itu kejam Shin, kamu tahu kalau kakakmu ini sangat kelaparan kan."
"Iya-iya. Aku tahu." Ujar malasku atas perkataan kak Kaori.
Kak Safira yang tadi menatap kak Kaori sekarang memalingkan wajahnya untuk menyapa Leen.
"Hai. Apa kabar."
"Apa kamu juga calon adik iparku?"
"Aku juga punya firasat seperti itu."
Safira, Viola dan Kaori melontarkan godaannya pada Leen.
Sepertinya mereka mengatakan itu untuk menginterogasi Leen guna memastikan perasaannya. Apa mereka mengharapkan Leen akan memerah di wajahnya, tapi.
Raut wajah mereka bertiga berubah menjadi wajah kecewa. Aku yang bingung dengan perubahan mendadak itu menatap Leen yang masih berdiri di sampingku. Saat itulah aku tahu penyebab dari wajah kekecewaan mereka bertiga.
Leen sama sekali tidak menunjukkan respon apapun, bahkan dia tidak memerah sama sekali.
"Ka-kak. Sudahlah, jangan coba menggodanya lagi."
"Hmm. Kami sangat kecewa Shin." Ucap kak Kaori dengan wajah cemberut.
"Terserah kalian saja yang penting kalian berhenti."
Menanggapi kata-kataku, ketiga kakakku mengembungkan pipinya ketika cemberut.
"Kamu tidak seru Shin. Jadi siapa namamu cantik?"
"Namaku Leen Vort."
"Salam kenal Leen." Kata Safira dengan senyuman di wajahnya.
"Salam kenal juga."
Sikap Leen dewasa juga ya. Saat tunanganku yang lain pertama kali bertemu dengan kakakku, mereka malah tidak bisa berbicara apa-apa dulu karena gugup.
"Jadi sudah berapa lama kamu mengenal Shin?"
"lumayan lama."
"Begitu ya."
Setelah kak Kaori mendengar jawaban dari Leen, dia menatapku dengan mata godaan. Tatapannya membuatku memerah karena tahu apa yang ingin dia bicarakan.
Aku sama sekali tidak ada niat untuk menjadikannya istriku tahu.
Dia hanya tersenyum sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku untuk berbisik.
"Aku hanya akan mengamatinya saja sekarang."
Dia menarik mulutnya di telingaku dan tersenyum, itu membuatku seketika merah padam.
➖➖➖➖➖
Meninggalkan Leen supaya bisa berbicara dengan tunanganku, aku pergi ke guild untuk menanyakan tentang situasi dunia.
"Apa ada berita kemunculan failer di dunia baru-baru ini?"
"Untuk sekarang. Hanya tingkat rendah yang muncul di beberapa kerajaan, tapi itu sudah ditangani oleh petualang perunggu."
Aku bersyukur kalau memang seperti itu.
"Tapi ada rumor dari kekaisaran Salve."
"Rumor? rumor apa?"
"Rumor yang beredar sekarang adalah bahwa Kekaisaran sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya, tapi kami juga tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan."
Merencanakan sesuatu yang berbahaya. sepertinya aku harus mengawasi tindakan mereka.
"Oh ya. Yang Mulia, bukannya bangsawan yang mengajukan proposal pernikahan kepadamu dulu dari sana?"
"Benar, memangnya kenapa?"
Bangsawan itu tidak akan pernah kulupakan. Kalau benar dia yang memerintahkan penjahat itu, aku tidak akan segan-segan terhadapnya.
"Tidak. Hanya memperingatimu kalau seandainya terjadi sesuatu."
"Terima kasih atas perhatiannya ya."
"Mengenai pelakunya, apa kamu sudah dapat petunjuk Yang Mulia?"
"Sebentar lagi aku akan mendapatkannya."
"Saya berharap semoga pelakunya dapat segera ditemukan ya."
"Semoga saja."
Setelah banyak berbicara tentang apa saja yang perlu di bicarakan, aku sekarang beranjak pergi meninggalkan guild dan kembali lagi ke istana.
➖➖➖➖➖
Di sebuah ruangan di dalam istana sedang terjadi pembicaraan serius antara tiga makhluk ilahi.
"Kenapa kamu memutuskan untuk turun tiba-tiba?"
Tatsuya Kaori, Dewi cinta, saudari yang memproklamirkan diri, berteriak kesal. Duduk di sebelahnya adalah Dewi Pedang, Tatsuya Safira dan Dewi Sihir, Tatsuya Viola, saudari lain yang memproklamirkan dirinya juga.
Mereka berada di tengah-tengah pesta teh di dalam kamar Kaori.
"Kamu adalah Dewi Cinta, Saudaraku, kamu bisa mencoba-coba urusan manusia seperti yang kamu suka. Kami sebenarnya hanya ingin melihat tempat-tempat baru sesekali." Jawab Safira yang di anggukan Viola.
"Aku bukan Dewi Cinta, aku disini sebagai kakakmu dan sedang melaksanakan tugasku sekarang."
"Melaksanakan tugas!?" Jawab heran Safira.
Safira memberikan jawaban biasa saat dia menyeruput tehnya.
"Aku benar-benar melakukan pekerjaan disini tahu."
"Kerja? Kamu jelas tidak melakukan apa-apa."
"Ugh …"
Komentar Safira dibenarkan. Sejak beberapa minggu terakhir, yang dilakukan Kaori hanyalah tidur siang, makan, menggoda Shin, masuk ke kehidupan cinta orang-orang, dan berkeliaran tanpa tujuan.
"Yah, kurasa kamu tidak bisa melakukan apa-apa sampai itu muncul dengan sendirinya." Ujar Viola.
"I-Itu benar! Tidak perlu terburu-buru! Saya hanya perlu menunggu sampai saatnya tiba." Dewa cinta menggenggam kedua tangannya, jelas dengan semangat baru.
"Bagiku, terlihat seperti kamu menggunakan pekerjaan ini sebagai alasan untuk menikmati banyak kesenangan di dunia fana." Suara Viola membuat Kaori memerah malu.
"Yah… I-ini kesempatan langka. Kamu tidak akan pernah tahu kapan kesempatan ini akan terjadi lagi."
"Oh, aku setuju… Aku turun untuk mendukungmu, bukan? Karena itu aku akan mengikuti teladanmu." Safira menyeringai.
"Heheh… Kau gadis yang sangat jahat, Safira." Tanya Viola denga senyuman jahat.
"Heheh… Tidak separah kakakku Kaori."
➖➖➖➖➖
Ketiga Dewi tertawa bersama, mereka tidak menyadari orang yang sedang mengintip pembicaraan mereka dari jauh.
"Ya ampun… Apa yang mereka lakukan sekarang?" Seorang lelaki tua duduk di mejanya. Dia perlahan-lahan minum teh, mengambil beberapa kue untuk dimakan. Di layar TV nya juga terlihat gambar ketiga gadis itu.
"Hoho… Yah, sepertinya mereka bertiga sedang liburan, jadi itu baik-baik saja."
"Yah, Dewa Semesta? Apakah Anda akan membiarkan kami turun ke dunia fana juga?" Seorang gadis berambut hijau dengan kuncir kuda berbicara. Dia adalah Dewi musik.
"Yah… kita semua memiliki tugas untuk saat ini, tapi aku mungkin telah memikirkan sesuatu."
"Apa rencananya, saudaraku?" Seorang pria paruh baya berbicara. Dia adalah dewa pertanian.
"Ketika anak muda itu sadar akan kekuatan Dewa yang dia miliki dan menjadi lebih sadar akan rencanaku untuknya, dia akan membutuhkan seseorang untuk mengajari dan membimbingnya ke arah yang benar.”
"Benar sekali. Anda tidak dapat mengharapkan tiga dewa tingkat rendah seperti Cinta, Pedang dan Sihir untuk mengajarinya tentang perannya yang tepat." Dewa pertanian mengangguk.
"Jadi, ketika saatnya tiba. Bagaimana kalau kita tamasya kelompok ke alam fana?"
"Aha, begitu. Kedengarannya bagus."
Dewa Musik menyeringai sendiri sambil membayangkannya, sementara Dewa Pertanian hanya mengangguk santai.
"Tapi sebelum itu, kita punya tugas untuk dilakukan. Jika itu belum selesai sebelum kekuatannya bangkit, maka kamu tidak bisa ikut dengan kami." Ujar Dewa Semesta.
Mereka hanya mengangguk atas perkataan Dewa Semesta dan pergi meninggalkannya untuk memulai pekerjaan mereka sendiri.
Sekarang hanya tinggal Dewa Semesta sendiri disana. Dia mengambil kue di atas meja dan menatap layar.
"Ya ampun, peristiwa yang sangat menarik."
Pria tua itu menyeruput tehnya sekali lagi saat dia mengganti saluran. Digambarkan di layar sekarang adalah seorang anak muda yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. Dia membuat kesalahan dan mengirim ke dunia itu.
"Mungkin, suatu hari nanti, sesuatu yang lebih menarik akan terjadi karena perbuatannya."
Dewa Semesta hanya tersenyum lembut sambil terus mengawasi perkembangan Shin di dunia.
➖➖➖➖➖
Di istana, aku duduk bersama kakak dan tunanganku di tambah Leen di meja makan untuk sarapan pagi.
Beberapa menu hidangan kerajaan telah di keluarkan dari dapur dan di letakkan di atas meja.
Airi yang tadi membantu koki memasak juga keluar dari dapur dengan membawa sepiring penuh menu yang keliatan menggiurkan.
Hampir seluruh menu yang ada di meja adalah menu yang ada di dunia lamaku yang telah aku berikan resepnya kepada koki kerajaan untuk dibuatkan.
"Makanan apa ini, aku belum pernah melihatnya?" Tanya Leen keheranan.
"Ini adalah masakan khas istana Glory, silakan dicoba saja." Kata Miku sambil menawarkan masakan itu.
"Terima kasih, aku akan menikmatinya."
Dia mulai mengambil masakan itu satu-persatu menggunakan sendok dan garpu dengan gaya ilegan kedewasaannya.
Berguna juga garpu yang aku buat di dunia ini ternyata.
Setelah kami selesai makan, tunanganku bersama Leen pergi ke gazebo dan aku kembali ke ruanganku.
"Saya kembali Yang Mulia."
"Apa kamu sudah mendapatkan informasinya?'
"Sudah Yang Mulia."
Kazumi, kapten dari agen ninjaku saat ini berada di ruanganku untuk melapor tentang hasil penyelidikannya.
"Apa hasil dari penyelidikanmu?"