
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan.
"Etto. Maksudnya?"
"Setiap makhluk pasti bereingkarnasi setelah dia mati. Jadi bisa dikatakan kalau struktur sihir Tuan itu adalah reingkarnasi dari struktur sihirnya Dokter."
"Aku reingkarnasi Dokter!?"
"Benar." Gumamnya sambil mengangguk pelan.
Walaupun dia menjelaskannya dengan detail, tapi tetap saja aku tidak mengerti.
"Bagaimana caraku untuk membangunkannya?" Tanyaku sambil menatap tabung itu.
"Kalau bisa Tuan bunuh saja dia sekarang."
"Ehh!?" Karena kaget, aku secara tidak sadar mundur beberapa langkah kebelakang.
Apa-apaan tatapan pembunuh itu. Belum pernah aku mendengar sebuah robot yang memberontak kepada majikannya.
"Hanya bercanda Tuan." Ujarnya dengan diiringi senyuman jahat di wajahnya.
"Huhh."
"Kalau Tuan tadi berpikiran kalau saya berusaha melawan majikan saya, itu salah. Karena sekarang majikan saya adalah Tuan."
"Ehhh." Sekali lagi aku terkejut akan perkataannya.
Bagaimana bisa dia membaca pikiranku.
"Ma-maaf." Dengan keringat dingin yang bercucuran, aku mencoba meminta maaf.
Mengatakan kalimat maaf kepada seseorang dengan alasan yang tidak jelas membuat kepalaku sakit.
Dia hanya tersenyum saat melihatku berusaha meminta maaf kepadanya. Mungkin dia berpikir kalau majikannya yang sekarang jauh lebih baik daripada penciptanya sendiri.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan pada tabung ini?" Tanyaku sekali lagi.
"Tuan hanya perlu memegang dan menyalurkan sedikit sihir ke tabungnya."
Memegangi ya.
"Tapi Tuan harus cepat, karena kita sudah kehabisan waktu."
"Kehabisan waktu!? Kenapa?"
"Tabung ini dirancang untuk terus mengawetkan otak Dokter selama ribuan tahun. Tapi semenjak kita memasuki ruangan ini, sistem pengawetannya secara otomatis akan dimatikan."
"Ehhh!? Kenapa dia membuat sistem seperti itu? Bukannya sama saja dengan bunuh diri."
"Dokter berpikir, untuk apa hidup lebih lama lagi kalau Tuan saja tidak berniat untuk menghidupkannya."
Dasar Dokter gila, mesum, cabul.
Beraninya dia memutuskan hal seperti itu.
Sekarang apa yang harus aku lakukan. Kalau dibiarkan, ilmunya akan sia-sia. Tapi kalau dihidupkan, dia pasti akan menyebabkan banyak masalah bagiku.
Gumamku sambil berjalan mendekati tabung itu kembali. Saat sudah berada tepat di dalam jangkauan tanganku, aku langsung memegangnya tanpa pikir panjang.
Semoga saja ini bukan jebakan Dokter sialan itu.
Dengan sedikit kurang percaya diri, aku terus berguman dengan tangan yang masih menempel di tabung.
Nah. Kucoba sekarang.
Setelah energi sihir dilepaskan, samar-samar cahaya mulai keluar dari sela-sela jariku dan menyebar menyelimuti seluruh bagian tabung.
Beberapa saat kemudian, air di dalam tabung mulai mendidih seolah-olah airnya menanggapi sihirku.
"Prosesnya sudah selesai Tuan." Katanya
"Sudah ya."
Mendengar perkataan dari Liora membuatku langsung melepaskan tanganku yang masih menempel.
Perlahan-lahan humanoid yang ada di dalam tabung itu mulai bergerak. Di waktu yang bersamaan, air di dalamnya juga mulai menyusut. Disaat airnya sudah habis, pintu tabung terbuka secara otomatis.
Seorang gadis berusia sekitar empat belas tahun mengambil langkah pertamanya untuk keluar dari tabung.
"Akhirnya saya bangun juga."
Itu adalah kalimat yang pertama kali dia ucapkan di depanku. Tapi aku tidak senang sama sekali saat melihatnya bangun, melainkan saat ini wajahku memerah total dengan asap yang keluar dari mana-mana.
"A--ap-apa-apaan ini!? Pakai bajumu."
Melihat ekspresiku membuatnya memandangi tubuh bawahnya dengan santai.
"Ohh. Maaf-maaf. Saya kelupaan."
Tawanya yang tetap tenang seperti tidak terjadi apa-apa menambah kekhawatiranku dengan nasibnya di masa ini.
Dengan tubuh yang tidak di tutupi apa-apa, dia berjalan dengan santai menuju ke sebuah dinding, mengambil baju laboratoriumnya yang tergantung disana.
"Apa itu masih bagus?" Tanyaku.
"Ya, masih. Saya menanamkan sihir pelindung untuk melindungi baju dan semua perlengkapan yang ada di ruangan ini." Katanya sambil mencoba memakai baju yang kebesaran itu.
Walaupun bajunya sudah terpasang, tapi tetap saja penampilan tidak senonohnya masih terlihat. Baju laboratorium didesain dengan depannya yang tidak memiliki kancing, jadi bagian depan tubuhnya yang polos tetap terlihat jelas olehku.
"Ti-tidak ada bedanya tahu."
"Oh. Bukannya saya sudah menutupinya."
"Itu menutupi namanya? Pakai ini!" Ujar Ku sambil menyodorkan tali yang terbuat dari kain itu kepadanya.
Sebenarnya tali ini akan aku gunakan untuk mengikatnya kalau seandainya dia mulai menggodaku. Tapi sepertinya kekhawatiran ku sedikit berlebihan.
Dia hanya cemberut saat menerima tali dariku dan mulai mengikat bajunya dengan tali itu.
Ehh. Tubuhnya terikat. Ujung-ujungnya sama saja dengan tujuan awalku.
"Sudah. Apa kamu puas sekarang?" Ujarnya dengan wajah yang masih tidak sudi tubuh indahnya di tutupi.
"Lumayan."
"Hmm."
Mendengar jawaban acuhku membuatnya tambah marah.
"Maaf-maaf. Kenapa tidak mencoba memperkenalkan diri saja lagi" Ucapku untuk menenangkannya.
"Hohhh. Ide bagus."
Hah. Gampang bener mengecohnya, dasar anak-anak.
Sambil memegangi pinggang dengan kedua tangannya, dan sedikit membusungkan dadanya kedepan, dia berkata.
"Perkenalkan. Nama saya Regina Babylon. Dokter paling terkemuka di dunia."
"Ya-ya."
"Hah. Kenapa responmu seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa kok."
"Huh. Kamu memang tidak sopan seperti biasa ya Shin."
"Terserah anda saja. Sekarang yang aku ingin tahu itu adalah alasan kenapa anda memilih untuk bangkit kembali?"
"Untuk memantau reingkarnasiku di zaman ini."
"Hanya itu!?"
"Bukan itu saja. Tujuanku yang lain itu adalah untuk bisa membantumu kalau seandainya Failer itu muncul lagi."
"Membantuku menghadapi Failer!?"
"Ya. Tentu."
"Terlambat tahu."
"Apanya yang terlambat?"
"Dua bulan lalu sudah ada serangan Failer ke dunia."
"Hah!? Ada berapa banyak?" Dengan sangat antusias, dia berlari mendekatiku untuk meminta jawaban.
"Sekitar dua puluh ribu." Ujarku dengan wajah kesal saat kembali mengingat momen serangan itu lagi.
"Itu banyak sekali!?"
"Ya. Begitulah."
"Apa jangan-jangan dunia sekarang sudah hancur? Liora, perlihatkan padaku keadaan dunia saat ini!"
"Maaf Dokter. Tapi anda bukan lagi majikan saya, Tuan Shin yang saat ini berhak untuk memberikan perintah kepada saya."
"Hah. Saya lupa tentang itu." Ujarnya.
Apa dia bodoh ya.
"Dokter Regina tenang saja, dunia ini tidak hancur, semuanya baik-baik saja." Sambung Liora.
"Kenapa bisa. Apa Failer menghilang secara mendadak lagi?"
"Tidak. Tuan Shin sudah menghabisi semuanya."
Setelah mendapatkan jawaban yang mencengangkan dari Liora, Dokter langsung memalingkan wajahnya ke arahku.
"Ap-apa ada yang salah?" Tanyaku.
"Bagaimana caramu untuk menghabisi semuanya?"
"I-itu..."
Walaupun aku berusaha untuk tetap berpegang teguh pada apa yang aku sembunyikan, tapi tetap saja tatapan dia menakutkan.
"Tentu saja aku menggunakan Frame Rescue untuk menghabisi mereka semua."
"Aku tahu. Yang menjadi pertanyaan itu adalah bagaimana caramu menghabisinya sendirian?"
"Aku tidak sendiri. Ada sekitar lima ratus Frame Rescue dari enam Kerajaan."
"Jadi kamu berperang bersama Kerajaan lain."
"Begitulah. Tidak mungkin aku bisa menghadapi mereka sendirian."
"Hmm. Okelah."
Matanya yang tadi melotot ke arahku sekarang mulai menjauh.
➖➖➖➖➖
"Jadi dia adalah orang yang menciptakan FIB dan Frame Rescue itu?"
"Ya, begitulah."
"Gadis sekecil ini!? Kamu jangan bercanda ya Shin."
Perkataan Ryou dan Kyou memancing kekesalan dari Dokter itu sendiri.
"Kenapa semua orang tidak percaya padaku sih." Katanya sambil mencoba memukulku yang berdiri di sampingnya.
Sudah pasti tidak akan ada yang percaya. Badannya saja sekecil itu.
"Nah. Tenang-tenang. Itu bukan salahnya Dokter." Kataku sambil terus menenangkan Dokter yang sangat terpukul oleh perkataan Ryou dan Kyou itu.
Setelah beberapa menit habis hanya untuk menenangkan Dokter. Mereka semua akhirnya berbaikan dan pergi mengobrol bersama di ruang tamu.
Tidak mau mengganggu mereka yang sedang mengobrol, akupun berpindah ke Guild.
Hmm. Sepertinya ada beberapa hal yang berubah ya.
Gumamku di depan Guild sambil mencoba memasang topi untuk menutupi identitasku.
Nah, selesai. Mari kita masuk.
"Selamat datang."
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan."
"Apa Kepala Guild Relisha ada di ruangannya?"
"Apa Tuan sudah mempunyai janji?"
"Aku belum membuat janji dengannya."
"Apa Tuan bisa menunjukkan identitas Tuan?"
"Baiklah."
Aku mengambil kartu Guildku dari saku dan menyerahkannya ke staf.
Ketika Staf itu menerimanya, dia langsung kaget.
"Platinum!? maaf Yang Mul_"
"Huss!?" Gumamku sambil membungkam perkataannya.
Aku mulai menatap keselilingku.
Sepertinya tidak ada yang mendengarnya.
"Maaf. Saya akan memberitahu Kepala Guild dulu."
Dia dengan cepat berlari menaiki anak tangga untuk menemui Kepala Guild.
Sepertinya dia staf baru lagi. Kenapa Guild selalu menggantinya.