
Di tengah ketegangan ruangan tersebut saat menunggu Ratu mereka buka suara, tiba-tiba saja Hilda menepuk pundak Miku yang sedang berpikir.
"Hah."
"Miku, tenangkan dirimu."
Walaupun orang-orang tidak menyadari kegelisahan Miku, tapi itu tidak berlaku bagi para gadis. Mereka mengetahui dengan cepat apapun yang sedang dipikirkan mereka satu sama lain.
"Maaf."
"Itu bukan masalah."
Hilda tersenyum kepada Miku sebelum dia memalingkan wajahnya dengan tatapan serius ke hadapan para anggota rapat.
"Dan mengenai keputusan yang akan kita ambil, lebih baik untuk mempertahankan apa yang kita lakukan saat ini. Para penduduk di kota utara akan tertular akan di pindahkan di sini. Apa ada yang keberatan?"
".........."
"Keputusan lain akan menyusul setelah pasukan Strom dan Gardio tiba disini, kita juga akan menunggu sampai Shin sembuh sebelum membuat keputusan. Mengerti?"
"Baik, Yang Mulia Ratu." Semua orang di ruangan tersebut berdiri serentak saat mereka menanggapi perkataan Hilda.
"Maaf menyela, Yang Mulia Ratu."
"Ada apa Kazumi?"
Kazumi yang awalnya menyela pembicaraan semua orang kini terdiam.
"Ada yang belum saya laporkan."
Semua orang heran saat Kazumi mengatakan itu. Dari awal rapat sampai ini hampir selesai, Kazumi selalu gelisah.
"Apa itu?"
"Menurut laporan pengintai, semua masalah ini ada sangkut pautnya dengan Kerajaan Felsen."
"Apa alasanmu?" Tanya Kazuo dengan wajah seriusnya.
"Kami sudah mengintai Felsen selama beberapa hari, dan kami temukan kalau pasukan yang dikirim dulu kesini bersamaan dengan kedatangan utusan Felsen lah yang melalukan sesuatu terhadap Kerajaan."
Itu memang bukan pemikiran pastinya, tetapi Kazumi sangat percaya diri akan kalimat yang diucapkannya.
"Hmm. Itu masuk akal. Teknologi sihir Felsen selama beberapa tahun ini sangat berkembang, jadi masuk akan kalau mereka bisa melakukan ini."
"Tapi apa alasan mereka?" Rin bertanya dengan cemas.
Bagaimanapun beberapa hati yang lalu, mereka mengatakan kalau dia memiliki hubungan dengan Felsen, jadi itu yang membuatnya cemas.
"Kalau masalah itu, mungkin ada kaitannya dengan hubungan kurang baik antara Yang Mulia dengan utusan mereka dulu." Kazuo menambahkan objektif baru.
Semua orang juga mengangguk akan pikiran itu. Membayangkan ekspresi Raja Felsen saat mereka menerima surat balasan membuat semua orang mulai mengerti akan akan masalah ini.
"Tapi apa yang telah mereka perbuat pada kita." Lain menggumamkan sesuatu.
Semua berpikir selama beberapa saat, saking tenangnya, mereka sampai tidak menyadari kalau matahari sudah ada di atas kepala.
"Yang Mulia Ratu."
Suara Ksatria yang memasuki ruang rapat masuk dengan cepat ke telinga mereka.
"Ada apa?" Ujar Miku.
"Pasukan Gardio dan Strom telah memasuki wilayah Glory. Lima belas menit lagi mereka akan tiba disini."
Semua orang tercerahkan setelah mendengar berita itu, bagaimanapun kesulitan mereka saat ini, yang paling mereka takutkan saat ini adalah keselamatan Ksatria yang bertugas.
Jadi ini berita yang menggemparkan.
➖➖➖➖➖
Lima belas ribu pasukan gabungan Strom dan Gardio memasuki wilayah Glory dengan bimbingan Ksatria Glory.
Sepanjang perjalanan, tidak ada seorangpun yang mereka lihat di jalanan tersebut.
"Raja Storm. Bukankah ini terlalu sepi." Tanya Kaisar.
Raja hanya mengangguk saat dia menjawabnya, kemudian dia memalingkan pandangannya ke arah Ksatria Glory yang berada di depannya.
"Maaf. Kanapa belum ada orang yang lalu-lalang sepanjang kita berjalan?"
"Semua orang diperintahkan oleh Yang Mulia untuk tetap di rumah." Jawab Ksatria.
Jawaban yang diberikan Ksatria tersebut berhasil menutup mulut Raja dan Kaisar agar mereka tidak bertanya lebih banyak lagi.
Berjalan beberapa menit dengan pasukan yang sangat banyak di belakang sedikit membuat tegang beberapa Ksatria Glory yang menuntun mereka.
Sambil terus berjalan, mereka sesekali mengeluarkan keringat dingin saat berusaha untuk tenang.
Tak lama setelah itu, pintu gerbang ibukota sudah terlihat.
Walaupun Raja dan Kaisar tidak terlalu baik dalam sihir, tetapi mereka bisa merasakan kalau ibukota saat ini disemuti oleh aura hitam.
Sesampainya mereka di gerbang, hawa tidak menyenangkan itu mulai terasa semakin kuat saat mereka melewati gerbang ibukota.
Tidak hanya itu, mata mereka juga tercengang saat melihat keadaan ibukota yang sudah berantakan.
"Benar." Balas Kaisar.
Tidak ada bentuk kehidupan satupun yang terlihat di sepanjang jalan ibukota. Semuanya sepi, hanya ada beberapa binatang yang lalu lalang.
Melihat hal itu membuat Raja dan Kaisar sedikit tercengang, bagaimanapun Glory adalah Kerajaan kuat walaupun mereka masih baru.
'Apa yang bisa membuat Glory berubah menjadi seperti ini.' Itu yang melayang-layang di pikiran mereka berdua.
Ksatria Glory yang bertugas membawa mereka juga terlihat khawatir. Ini mungkin karena situasinya terlalu mendadak, jadi mereka belum siap untuk menerimanya.
Mengesampingkan hal itu, mereka akhirnya tiba di istana Glory. Pasukan bantuan disambut dengan senyuman oleh orang-orang istana, walaupun mereka tahu kalau sebenarnya senyuman itu sedikit dipaksakan.
Hanya gadis yang lebih besar yang bisa memaksakan senyuman mereka dihadapan Raja dan Kaisar, gadis yang lebih kecil sedikit berlinangan air mata saat menatap bantuan, bahkan Hana dan Airi yang sudah tidak tahan lagi berlari sambil menangis dan melompat ke dalam pelukan ayah mereka.
Melihat tingkah mereka berdua, gadis yang lainnya akhirnya tidak bisa lagi menahan senyuman mereka, dua baris air mata jatuh tanpa disadari di pipi putih mereka semua.
"Kamu sudah berusaha keras, Putriku." Ujar Kaisar sambil mengelus Putrinya dengan lembut.
➖➖➖➖➖
Setelah adegan pertemuan yang sedikit menyentuh, mereka semua saat ini pindah ke kamar Shin.
Berakhirnya bencana memang tidak bisa dihindarkan, tetapi yang lebih penting sekarang adalah bagaimana mengakhirinya.
Para gadis memang bisa membuat keputusan dengan bantuan Kazuo dan yang lainnya, tapi sebenarnya keputusan yang lebih tepat yang harus dibuat itu berada di tangan Shin sebagai Rajanya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Raja Strom.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi tubuh Yang Mulia semakin melemah." Balas kepala Dokter.
"Begitu ya."
Raja memalingkan wajahnya dan menatap para gadis.
"Apa kalian semua sudah istirahat?"
Para gadis hanya menggelengkan kepala mereka saat menanggapinya, itu membuat Raja Strom menghela nafas.
"Lebih baik kalian semua istirahat dulu. Nanti baru kita bicarakan apa yang harus dilakukan."
"Baiklah."
Para gadis menundukkan kepala mereka sedikit dihadapan Kaisar dan Raja sebelum mereka melangkah pergi ke luar kamar Shin.
➖➖➖➖➖
Di tempat yang jauh dan berada di dalam kegelapan, Kazumi dengan para anggotanya melanjutkan misi pengintaian mereka demi mencari bukti terakhir.
Target pengintaian saat ini difokuskan pada satu misi, jadi para anggotanya yang tersebar ke berbagai Kerajaan dipanggil di satu tempat.
"Kapten."
Salah satu anggotanya memanggilnya dengan suara rendah.
Kazumi yang mendapat tanda mulai mempertajam semua indranya untuk menangkap pembicaraan targetnya.
"Bagaimana keadaan Glory?"
"Tenang saja Yang Mulia. Alatnya berjalan lancar, pasukan kita juga sudah siap, hanya tinggal menunggu perintah Yang Mulia, kita dapat langsung menjalankannya."
"Bagus. Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, sudah lama sekali aku tidak melihat hal seindah itu. Aku harus mendapatnya apaun caranya."
Mereka berdua tertawa keras sampai-sampai Kazumi dan bawahannya merasa sangat jijik.
"Ini sepertinya sudah cukup. Semuanya, kembali ke Kerajaan!"
"Baik."
Begitu perintah diturunkan, seluruh anggota menghilang di balik bayangan.
Info yang sebenarnya sudah didapatkan, jadi Kazumi menatap keselilingnya terlebih dahulu sebelum menghilang dari tempat persembunyian.
➖➖➖➖➖
Setelah para gadis selesai beristirahat sebentar, mereka memutuskan untuk mengadakan rapat lanjutan karena sekarang pasukan bantuan telah tiba.
Raja dan Kaisar sebenarnya masih menyuruh mereka untuk beristirahat, tetapi mereka tidak bisa mengabaikan masalah ini dan memilih beristirahat di kamar yang nyaman.
"Berhubung saat ini Gardio dan Strom sudah berada disini, kita akan melanjutkan rapat yang tertunda." Ujar Kazuo sebagai pembuka kata.
Semua orang mendengarkan pembukaan Kazuo dengan cermat, karena setelah kata pembukaan itu dia akan mengatakan hal lain.
"Pasukan tambahan bantuan dari Strom dan Gardio sudah disebarkan seluruh Kerajaan untuk membantu pasukan kita saat ini. Dan masalah selanjut_"
"Maaf mengganggu."
Ketika Kazuo akan melanjutkan perkataannya. Suara lain mendadak terdengar di dalam ruangan, semua orang mengenali suara itu, jadi tidak ada satupun yang menunjukkan ekspresi keterkejutan.
"Ada apa, Kazumi?" Tanya Miku.
"Ada laporan penting." Jawab Kazumi sambil terus berlutut di depan para gadis.