
"Apa pekerjaan kita sudah di laporkan?"
"Iya. Sudah kulaporkannya."
"Sekarang kita tinggal menunggu apa yang akan terjadi pada raja mereka."
"Aku masih belum paham, kenapa kita di suruh menyebarkan rumor buruk tentang kakak dan tunangan raja itu?"
"Dari yang aku tahu, sepertinya raja mereka menolak proposal pernikahan yang di ajukannya."
"Jadi itu alasannya."
"Dia saja yang percaya diri, dengan tampang seperti itu mana bisa dia menikahi mereka."
"Hahaha, kau benar. Apalagi dia berniat untuk menikahi ketiganya sekaligus, apa dia sudah tidak waras."
"Pantas saja adiknya akan marah besar."
"Diamlah. Itu bukan urusan kita lagi, yang penting kita dibayar."
"Kau ada benarnya juga."
Di dalam bar itu sekarang sedang ada pesta besar untuk merayakan keberhasilan mereka menyebarkan rumor di kerajaan.
Sebanyak seratus lima puluh orang minum bir dengan gembira karena mereka tidak tahu apa yang sedang menanti mereka di luar sana.
Prakk.....
Tiba-tiba seorang pria yang satu komplotan dengan mereka terlempar dari luar ke dalam ruangan tempat mereka berpesta.
"Hah. Apa yang terjadi padamu?"
"A-ada seorang wanita yang masuk ke sini." Katanya dengan terpatah-patah.
"Wanita!?"
"Iya wanita. Apa ada yang masalah dari itu?" Ucap wanita itu.
Seorang wanita yang memakai armor berlambang Glory bersama seekor harimau emas masuk ke ruangan itu.
"Apa. Siapa kau?"
"Jahat sekali kalian. Sudah membuat kerusuhan di kerajaan kami dan sekarang kalian malah melupakannya."
"Hei. Coba kau lihat lambang di armornya." Kata temannya sambil menunjuk.
"I-itu lambang kerajaan."
"Bukan itu saja, yang di sampingnya itu juga."
Saat dia melihat apa yang di maksud oleh temannya dia pun langsung ketakutan.
"It-itu logo gelar komandan ksatria kerajaan."
"Hmmm. Sepertinya kamu sudah menyadarinya." Tawa Lain atas keterkejutannya.
"Kenapa komandan ksatria bisa ada di sini?"
"Untuk apa saja kalau bukan untuk menangkap penyebar rumor buruk di kerajaan."
"A-apa!?" Mereka mulai ketakutan saat mengetahui tujuan Lain yang sebenarnya.
"Kalian tenang. Dia hanya sendirian, kita pasti bisa mengalahkannya."
"Kau benar. Semuanya ambil senjata kalian dan habisi dia."
Semua orang mulai mengambil senjata mereka dan mengacungkannya pada komandan ksatria.
"Mati kau." Teriak pemimpin mereka sebelum melompat maju.
Lain juga menyerang kedepan, tapi bedanya dia menyerang menggunakan gagang pedang karena dia tidak diperbolehkan untuk membunuh, urusan itu akan menjadi keputusan Raja Glory.
Pemimpin mereka menebas ke arah kepala Lain namun Lain bisa menghindarinya, setelah itu Lain yang menebas dengan gagang pedang, itu tepat mengenai perutnya dan itu langsung membuatnya terpanting ke belakang menabrak dinding.
"Hah... Apa benar dia sekuat itu?"
"Kau bodoh. Dia itu komandan ksatria, tentu saja kekuatannya tidak bisa di remehkan."
"Kalau kita disini terus kita semua akan di habisi, lebih baik kita kabur."
"Iya. Semuanya, ayo kita kabur." Semua orang mulai berlarian tidak menentu, semuanya tidak lagi mempedulikan tamannya yang penting dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Hrerr...
Harimau emas yang dari tadi berada di samping Lain mencoba menyerang namun dihentikan Lain.
"Hentikan. Biarkan saja Yang Mulia yang mengurus semuanya, kita tangkap saja pemimpinnya."
Mereka yang sudah meninggalkan ruangan berlari menuju pintu keluar dengan kecepatan penuh sambil berbangga karena berhasil lolos dari Lain. Namun.
"Hahaha. Kau tidak akan bisa menangkap kami semua."
"Kau memang kuat tapi tidak mungkin bisa menagkap kami seorang diri."
"Sampai jumpa lagi manusia binatang."
Tawa mereka sambil berlari keluar membuat Lain sedikit senyum karena tahu apa yang akan menanti mereka semua di luar.
"Sekarang kita bebas."
"Aku tidak percaya kita bisa bebas dar__"
"Bebas kata kalian!"
Wajah mereka yang beberapa detik dulu terlihat bahagia sekarang sangat ketakutan saat melihat aku beserta ksatria dan hewan panggilan sudah mengepung di sekeliling bar itu.
"Ke-kenapa Raja dan ksatrianya berada di sini?"
"Kenapa mereka bisa tahu keberadaan kita?"
"Apa ada yang berkhianat di antara kita?"
Mereka hanya dapat membuat hipotesis nya sendiri dengan melihat kumpulan orang yang sudah mengepung mereka.
"Apa kalian pikir bisa kabur dari kerajaanku setelah menyebarkan rumor buruk tentang keluarga kerajaan?"
"Kalian sudah membuat kesalahan besar karena mencoba mencari masalah disini."
"Sekarang kalian semua kami tangkap." Ucap Nikola.
"Kaku."
"Baik tuanku."
Barisan harimau emas mulai mendekat dan mengeluarkan aura yang membuat mereka semua tak berkutik.
"Apa-apaan ini. Tubuhku tidak bisa di gerakkan sama sekali."
"Ksatria. Tangkap mereka semua!"
"Baik."
Seru tegas Nikola membuat seluruh ksatria bergerak dan mulai menangkap semua pelakunya.
"Yang Mulia. Pemimpinnya tidak disini."
"Tenang saja, pemimpinnya sudahku bereskan." Ucap Lain atas pertanyaan Nikola sambil membawa pemimpin komplotan di punggung harimau emas.
➖➖➖➖➖
Setelah menangkap semua pelaku penyebar rumor yang meresahkan itu, kami semua kembali lagi ke istana. Tunangan dan kakakku juga sudah menunggu di sana.
Kalau iya orang yang menyuruh mereka menyebarkan rumor itu adalah bangsawan yang datang melamar kakakku dulu, aku tidak akan pernah memaafkannya.
Lamunanku tiba-tiba berhenti karena disadarkan oleh Hana.
"Hei Shin. Apa kamu melamun?"
"Heh. Tidak-tidak, aku hanya sedikit lelah saja."
"Hmm.. Ba-baiklah."
Besok di pagi hari, aku dan tunanganku memilih duduk santai di gazebo yang merupakan tempat favorit mereka.
Kak Kaori juga mulai berkeliaran di ibukota mencari orang yang sedang jatuh cinta, sedangkan kak Viola sedang membantu kak Safira melatih ksatria di tempat pelatihan.
Dari beberapa hari yang lalu, kakakku mulai melakukan tugannya sendiri-sendiri. Mereka mulai tidak enak tetap berdiam di istana, kerena itu mereka mulai mencari hal yang bisa mengisi waktu luang.
"Kuda-kudamu harus lebih kuat lagi!"
"Ba-baik."
"Pegang dengan kuat pedannya!"
"I-iya."
Di lapangan pelatihan, kak Safira sedang melatih ksatria kerajaan. Walaupun dia perempuan tapi semua ksatria takut padanya karena menurut mereka kakakku adalah pengguna pedang terbaik.
"Kamu jangan terlalu tegas padanya."
"Itu demi kebaikan mereka kak." Jawab kak Safira atas pertanyaan kak Viola.
"Tapi itu membuat mereka ketakutan tahu, ia kan?" Tanya Viola sambil menatap ksatria yang mulai gemetaran di tempat.
"In-ini bukan apa-apa nona Viola."
"Kakak dengar sendiri kan. Tenang saja, aku tidak akan memaksa mereka."
"Hmmm. Terserah kamu saja."
Kak Viola hanya pasrah dengan keadaan sambil terus melihat semua ksatria itu di siksa oleh Safira.
"Hei kak. Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Oh Shin ya. Kami sedang melatih ksatriamu sekarang." Ucap kak Safira.
"Bukan kami, tapi hanya kamu saja dan itu juga bukan melatih tetapi menyiksa namanya."
"Sudah kubilang kan, ini hanya latihan biasa kak."
"Iya-iya."
"Sudahlah, kenapa kalian berdua jadi bertengkar sih." Ujar panikku melihat mereka.
"Itu salah kak Viola."
"Kanapa jadi salahku?"
"Iya. Itu karena kakak menggangguku saat sedang melatih mereka."
"Nona, tena__"
"Diam." Ksatria yang tadinya mau menghentikan mereka langsung tutup mulut saat kak Safira dan kak Viola memarahinya sambil melotot.
"Kak, berhentilah."
"Tapi ini salahnya kak Viola."
"Ini salah kamu, Safira."
"Tenang. Kalau kalian masih terus bertengkar, akan aku laporkan ke kakek tua supaya kalian disuruh pulang."
"Hah. Tidak, ka-kamu kejam Shin." Jawab Viola sambil diiringi anggukan kak Safira.
"Kalau begitu kalian harus berbaikan sekarang."
"Ba-baiklah." Mereka berdua dengan wajah yang seperti orang tak sudi akhirnya memilih berbaikan daripada di suruh pulang.
"Itu lebih bagus." Dengan senyuman lepas aku melihat kedua Dewi itu berbaikan.
➖➖➖➖➖
"Apa mereka sudah mau membuka mulut?"
"Untuk sekarang masih belum Yang Mulia."
Di dalam penjara kerajaan saat ini ada sekitar seratus lima puluh tahanan yang di tangkap akibat menyebarkan rumor di kerajaan.
Mereka sudah di tahan beberapa hari namun tetap tidak mau membuka mulutnya tentang siapa yang memerintahkan mereka.
Dari penilaian Kazuo, sepertinya mereka adalah kelompok yang sudah profesional dalam hal yang berhubungan dengan kriminal.
"Yang Mulia. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Biarkan saja mereka dulu. Besok akan aku coba sesuatu."
"Ba-baiklah." Tawa jahatku membuat ksatria itu merinding ketakutan.
Ksatria itu menunduk dengan hormat dan pergi meninggalkan ruanganku, selang beberapa saat pintu ruangku terbuka lagi, dan sekarang yang masuk itu adalah.
"Hai Shin, apa kabar."
"Oh. Hai juga Leen, apa yang membuatmu kesini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin jalan-jalan saja, terus terkurung di dalam ruang kerja membuatku sedikit stres."
Iya juga, selama beberapa hari ini Leen hanya bekerja terus di ruangannya sebagai duta Halman untuk Glory. Pasti dia sangat terkekang di sana.
"Shin. Aku tadi tidak sengaja mendengar ksatria berbicara tentang.... Apa tadi ya. Hmmm, oh ya. Kakak. Mereka tadi sedang membicarakan tentang kakak Yang Mulia."
"Hmm. Kakakku ya."
"Iya. Dan juga tadi beberapa penduduk juga mengatakan kalau kamu sudah menangkap pelaku penyebar rumor. Apa maksudnya itu Shin?"
Apa dia benar-benar terkurung di ruangannya sampai-sampai tidak mendapat kabar yang sudah menggemparkan kerajaan itu.
"Itu hanya masalah kecil, sekarang sudah selesai."
"Hmmm. Baiklah kalau kamu tidak mau memberi tahuku." Dengan wajah cemberut dia seolah-olah pasrah, namun dimatanya terlihat jelas kalau dia sangat menginginkan jawabannya.
Dia mulai menjengkelkan menurukku sih, tapi itu sesuai dengan tubuh kecilnya.
"Iya-iya. Aku beritahu."
"Serius?" Wajah kegembiraan mulai keluar dari wajahnya dengan sendirinya.
"I-iya. Ayo ikut denganku."
Kami berdua keluar dari ruangan itu dan pergi menuju ke tempat yang paling mereka senangi.
Sesampainnya disana ternyata benar kalau mereka semua berada disana.
"Hai semuanya."
"Shin, dan Leen juga ada ya, kapan datang?"
"Baru saja, aku hanya ingin menenangkan pikiranku dari pekerjaanku saja."
"Begitu ya. Ayo sini gabung bersama kita?"
"Terima kasih."