
"Meskipun aku harus mengaku, aku juga memiliki minat pribadi padamu, Shin. Aku ingin tahu pria seperti apa yang diimpikan Hilda kecilku. Aku hanya ingin menilai karaktermu saja."
"K-Kakek." Ujar Hilda sambil menatap kakeknya dengan mata terharu.
"Selama beberapa bulan terakhir, setiap kali Hilda berbicara, itu hanya tentangmu, Yang Mulia. Dia akan menghela nafas dan mulai membayangkanmu. Dia pikir kita tidak akan memperhatikan, tetapi bagaimana aku bisa mengabaikan fakta bahwa dia akan selalu bertanya kepada pedagang keliling tentang Glory."
"Kamu juga, kak."
Aku melirik ke arah Hilda yang kebingungan, tetapi aku lebih tertarik pada pedang Lestin.
Pedangnya sudah tua. Dan ada yang tampak seperti huruf kuno terukir di permukaan bilah itu. Ada juga kristal yang tertanam di gagangnya.
"Keberatan kalau aku memegangnya?"
"Silakan."
Aku mencengkeram gagangnya dan mengangkatnya, memperhatikannya dengan baik. Aku hampir bisa merasakan sisa sihir di dalamnya.
"Apakah pedang ini diberikan efek khusus?"
"Hah. Aku kagum kamu bisa tahu hanya dengan melihat. Pedang itu memiliki efek regeneratif untuk pengguna pedangnya. Ini bisa menambal luka kecil, dan bahkan luka dalam sekalipun."
Begitu. Jadi kemungkinan terpesona oleh sihir semacam [Recovery] atau sesuatu yang lebih lemah.
"Pandai besi terbaik di Lestin juga tidak dapat melakukan apapun. Aku diberitahu bahwa bahan pedang ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak dikenalnya. Saat ini kemampuan regenerasi hilang. Dan aku khawatir pedangnya sudah benar-benar hancur."
"Apa arti kalimat ini?" Kataku sambil memandangi sebuah kalimat yang terukir di atas bilah pedang.
"Ah, aku tidak tahu. Tidak ada disebutkan tentang hal itu dalam sejarah keluarga kami. Bahasa itu tampaknya merupakan bahasa yang digunakan oleh peradaban kuno, Fortune."
Fortune ya.
Mendengar sebuah bahasa yang aku kenali membuatku sangat bersemangat untuk mengetahui arti dari tulisan kuno itu.
"[Translate] Bahasa Fortune."
Ketika aku membaca tulisannya, mendadak semangat membacaku menghilang dan digantikan dengan nada suara yang naik.
"Apaaa!?" Begitulah teriakanku.
Bahuku langsung merosot seperti kehabisan tenaga.
Tulisan pada bilah pedang itu adalah sebuah tanda tangan. Tanda yang dipahat seseorang pada benda ciptaan mereka untuk membuktikan bahwa itu adalah milik mereka.
Dan, dengan [Translate], aku bisa melihat apa itu. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku harapkan, tapi yang jelas bukan ini.
"Dirancang oleh Regina Babylon." Gumamku.
Kenapa harus ada di sini. Mengapa Dokter gila itu membuang bendanya segala. Apa dia sudah bosan menjadi penemu saat itu.
Secara singkat aku merenungkan apakah ini merupakan takdir atau malapetaka.
"Apakah ada yang salah, Shin?"
"T-Tidak. Hanya saja pedang ini dibuat oleh orang yang sama yang membuat Frame Rescue."
"Apa!?" Mata mantan Raja itu juga terbelalak.
Aku tidak tahu mengapa pedang ini ada di sini, aku juga tidak berharap untuk menemukannya. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa menyebutnya sebagai pedang Horny daripada Pedang Suci, mengingat kecenderungan Dokter mesum itu.
"Sudah lebih dari sepuluh ribu tahun, jadi mungkin kekuatan sihirnya pasti terkuras. Anda telah menyegelnya selama ini dan hanya menggunakannya untuk upacara? Mungkin saja pedangnya melemah sedikit demi sedikit karena terputus dari sisa sihir di udara." Aku mengatakan itu sambil mengunuskan pedang patah itu kedepan.
Aku berpikir jika itu terputus dari sihir dan melemah, sihir mungkin yang membuatnya tetap utuh.
Pantas saja pedangnya patah.
"Sepuluh ribu tahun!? Tapi ini adalah pedang pendiri Kerajaan kami. Aku tidak percaya sejarah Lestin membentang sejauh itu."
"Kapan Lestin didirikan?" Tanyaku pada sang Raja.
"Sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Dikatakan bahwa pendiri kami menggunakan kekuatan Lestin untuk menyatukan suku-suku yang bertengkar di daerah itu, dan menciptakan Kerajaan Ksatria Lestin."
Benda ini pasti jatuh dari gudang, kemudian, seorang ksatria pengembara mengambilnya. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengakhiri perang di wilayah itu, dan akhirnya berdirinya Kerajaan Ksatria Lestin. Sangat menakjubkan.
Kenapa benda ini bisa jatuh dari gudang. Apa ada kebocoran pada FIB saat itu yang menyebabkan pedang ini jatuh. Nanti aku tanya pada Dokter itu saja.
"Yah sudahlah, aku akan memperbaikinya. Seharusnya tidak ada masalah. Aku juga bisa menambahkan mantranya kembali."
Aku langsung melemparkan mantra untuk memperbaikinya. Mantra yang sebelumnya lenyap dengan mudah dapat ditambahkan kembali.
Aku juga meningkatkan cadangan mana yang dimiliki pedangnya. Selama mereka tidak menyegelnya kembali di dalam kotak itu, mereka tidak perlu khawatir kehabisan mana.
Setelah pedangnya selesai, aku menyerahkan pedangnya kembali kepada Raja.
"Oooh!"
"Pedangnya kembali normal."
"Terima kasih. Sekarang kita bisa melanjutkan upacara. Kami berhutang padamu."
Raja mengambil Pedang Suci dengan tangan kanannya, dan mengiris lengan kirinya sendiri. Darah mengalir dari luka itu, tetapi luka itu segera menghilang dalam sekejap.
"Ini berfungsi seperti sebelumnya lagi, atau lebih tepatnya meningkat dari sebelumnya."
Ya ampun. Apakah aku tidak sengaja memberikan efek yang lebih kuat.
Pedang itu akan menyerap sihir dari udara dan kemudian menggunakan sihir itu untuk mempertahankan diri dan menyembuhkan pemiliknya.
"Mungkin pedangnya sedikit berbeda dari sebelumnya, maaf."
"Tidak, tidak. Kamu melakukannya dengan luar biasa. Terima kasih banyak."
Raja menyarungkan pedang, tetapi dia tidak memasukkannya ke dalam kotak yang tertutup rapat kali ini.
Dia tidak harus melakukan itu. Aku akhirnya menjelaskan kepadanya bahwa selama dia memaparkan pedangnya ke udara segar selama sehari penuh setiap tahun, maka itu tidak masalah. Dan setelah mengerti, akhirnya dia setuju kalau segel kotak itu akan dibuka setahun sekali, pada hari peringatan berdirinya Kerajaan Lestin.
Setelah itu, tiba saatnya merayakan kenaikan tahta Pangeran. Aku juga memutuskan untuk memberinya pedang Phrasium.
Pedang Phrasium merupakan bentuk sempurna dari pedang Mithril yang aku biasa pakai. Jadi itu akan berguna untuknya.
Aku juga mulai memakainya karena lebih efektif dari pedang Mithril. Ini juga akan membantuku dalam menghadapi Failer.
Tidak lupa aku mendesainnya dalam bentuk yang sama dengan Lestin, logo Lestin terpampang jelas di gagang pedangnya.
Pedangnya dibuat sangat ringan, tajam, dan tidak bisa dihancurkan. Itu adalah pedang yang sempurna untuk pertempuran. Tapi tidak baik untuk pertandingan latihan atau duel. Pedangnya terlalu tajam. Jika pedang lain berselisih dengan itu, bilah yang lebih lemah pasti akan hancur.
Setelah selesai, aku menyerahkannya ke Raja baru beserta keluarganya.
Walaupun awalnya aku ragu untuk memberikan pedang itu kepada kakek tua mesum yang hanya tertarik kepada bokong wanita, tapi pada akhirnya aku tetap memberikannya karena akan terasa tidak adil kalau dia tidak mendapatkannya juga.
"Ini hadiah yang luar biasa. Pedang yang sangat di kagumi adikku dulu sekarang aku memilikinya juga. Yang Mulia, apakah anda serius memberikan pedang ini kepadaku?" Dia dia mengatakan itu sambil memegangi pedang dengan kedua tangannya dan menatapku dengan mata yang berbinar-binar ke arahku.
"Ya. Tentu saja." Jawabku dengan sedikit senyuman.
Mendengar kalimat itu dariku membuatnya sangat bahagia, dia mulai mengangkat pedang itu ke udara, mengeluarkannya dari sarungnya dan mencoba menebas angin.
Syukurlah dia menyukainya, bagaimanapun aku ingin menjalin hubungan yang baik dengan calon saudara iparku.
Setelah perayaan kenaikan Tahta Pangeran selama 2 hari, aku pun memutuskan untuk kembali ke Glory.
Tentu saja aku kembali tidak sendirian, Aku membawa Hilda bersamaku sebagai salah satu calon tunanganku.
Aku masih belum bisa menerima Takdirku dengan dengan dua belas istri, apakah Takdirku di masa depan akan diperas oleh ke dua belas istriku sendiri. Aku sama sekali tidak mau membayangkannya sekarang.
Begitulah aku bergumam dari Kerajaan Lestin sampai ke Kerajaanku sendiri.
➖➖➖➖➖
Sesampainya di Glory, aku langsung disambut oleh kepala pelayan kami di pintu istana.
"Selamat datang Yang Mulia." Katanya sambil bersikap layaknya seorang pelayan.
"Terima kasih atas sambutannya."
Setelah perkataanku itu, Hilda yang awalnya berangkat denganku dan masih berdiri di sampingku tadi secara mendadak menghilang.
Hah. Kemana Hilda.
"Laim. Apa kamu melihat Hilda?"
"Yang Mulia Ratu Hilda tadi sudah pergi Yang Mulia."
Cepatnya dia menghilang. Bagaimana caranya. Yah, aku tanya saja nanti.
"Bagaimana keadaan istana?"
"Semua baik-baik saja Yang Mulia." Jawabnya sembil terus membungkuk di depanku.
Keliatannya dia kelelahan. Apa aku perlu mencari kepala pelayan baru dan memindahkan posisi Laim sebagai kepala pelayan menjadi pelayan pribadiku.
"Laim. Apa kamu mempunyai seseorang yang bisa menggantikanmu sebagai kepala pelayan?"
"Kalau boleh tahu untuk apa Yang Mulia. Apa saya akan dipecat?"
"Tidak-tidak. Aku berencana untuk menempatkanmu sebagai pelayan pribadiku mulai sekarang."
Dia sedikit terkejut saat mendengar itu dari mulutku, tapi dia langsung membalikkan posisinya seperti sebelumnya.
"Terima kasih atas perhatiannya Yang Mulia. Saya akan mencari orang yang cocok secepatnya secepatnya."
"Tidak masalah. Kalau kamu sudah menemukan orang yang cocok, segera beritahu aku."
"Baik Yang Mulia."
"Ngomong-ngomong, kemana yang lainnya."
"Yang Mulia Ratu sedang di ruangan tengah Yang Mulia."
"Kalau begitu kamu boleh pergi."
Laim membungkuk lagi dan mulai berjalan meninggalkanku di sana.
"Baiklah. Aku akan menemui para gadis saja."
"Kamu tidak perlu menemui kami."
Mendadak aku mendengar sebuah suara dari belakangku. Ketika aku menatapnya, mendadak aku melihat sesuatu yang tidak aku harapkan untuk dilihat.
"Apa-apaan ini."
Ini terlalu menakutkan.
"Apa yang terjadi kepada kalian, siapa yang melakukan ini kepada kalian." Begitulah nada panikku saat melihat para gadis yang berdiri di tepat depanku.
Sesuatu yang buruk mulai menghampiri mereka bersembilan saat ini.