
Di lapangan utara saat ini sedang ada banyak sekali tugas yang dilaksanakan oleh Ksatria.
Mereka semua bekerja menuntun para penduduk yang tidak bisa dikendalikan menuju ke tengah lapangan utara.
Lapangan utara awalnya merupakan sebuah daerah luas yang kosong, tapi saat ini lapangan itu digunakan sebagai lapangan uji coba Frame Rescue.
Di tengah kesibukan para Ksatria, aku dan Komandan Lain tiba di lapangan utara. Nikola dan Norn yang tengah sibuk memantau langsung berlari ke arahku setelah menyadari keberadaanku.
Wajah mereka tegang, itu menunjukkan kalau ada sesuatu yang membuat mereka khawatirkan.
"Yang Mulia."
"Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti itu."
Awalnya Nikola dan Norn saling bertatapan atas pertanyaanku, tapi pada akhirnya Nikola lah yang angkat bicara.
"Ada kabar buruk, Yang Mulia."
".........."
"Memperkirakan dari jumlah penduduk ibukota yang bermasalah, sepertinya kita kekurangan Ksatria untuk membantu."
"Disaat Ksatria yang lain masih membawa penduduk kesini, para penduduk yang disini malah memberontak dan kabur."
Berdasarkan laporan Nikola dan Norn, aku mulai memandangi sekeliling lapangan. Memang benar, terlihat beberapa Ksatria yang sedang berusaha menangkap penduduk yang berusaha melarikan diri.
Karena lawan mereka itu cuma penduduk biasa, para Ksatria tidak bisa berbuat seenaknya kepada mereka. Jadi situasi pengawasan penduduk sedikit mengalami kesulitan.
"Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?" Komandan Lain yang dari tadi hanya diam saja sekarang bertanya kepadaku.
"Hmm. Baiklah, aku akan membuat dinding di sekitar lapangan utara agar penduduk tidak bisa kabur."
Mereka bertiga mengangguk atas saran yang aku berikan. Aku kemudian berjalan mendekati tepian lapangan utara. Menatap dan memfokuskan manaku.
~Wahai perlindungan bumi, lindungilah kami semua dari ancaman apapun (Earth Wall)~
Tanah tiba-tiba bergetar hebat. Beberapa Ksatria yang sedang bertugas mulai berjatuhan karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh mereka sendiri.
Beberapa dari mereka yang jatuh juga telah menyadari penyebab tanah bergetar saat mereka menatapku berdiri sendirian.
Tepat di depan mata mereka, sebuah dinding mulai keluar dari dalam tanah, tingginya sekitar lima meter dan itu mulai tumbuh mengelilingi lapangan utara, meninggalkan sebuah lubang untuk akses keluar masuk semua orang.
Disaat dindingnya sudah terpasang, tiba-tiba saja dadaku terasa sedikit aneh.
"Ughrr... Apa yang terjadi." Aku bergumam sambil sesekali memegangi dadaku yang terasa sesak.
Lain dan kedua wakil yang menyadari keanehan dariku mulai berlarian kearahku.
"Anda kenapa, Yang Mulia?" Tanya Lain.
"T-tidak apa apa. A-aku baik-baik saja. Ayo lanjutkan pekerjaan kita." Kataku kepada mereka dengan sebuah senyuman yang sedikit di paksakan.
Komandan Lain dan dua wakilnya tidak bisa menyembunyikan wajah cemas mereka saat mereka berjalan meninggalkanku, mereka sesekali menatap kebelakang seakan ingin memastikan kalau aku baik-baik saja.
Aku yang menyadari itu hanya memberikan sedikit senyuman untuk memberi mereka tanda kalau aku baik-baik saja
Walaupun tubuhku terasa lebih baik dari beberapa saat yang lalu, tapi tetap saja ada yang berbeda dariku saat ini, dan itu adalah.
Sihirku melemah. Walaupun tidak terlalu berpengaruh, tapi disaat aku menggunakan sihir, dadaku akan sedikit sakit.
Karena dari tadi perhatianku hanya berfokus pada keadaan kota, aku sampai tidak menyadari kalau sihirku melemah.
Kenapa aku tidak menyadarinya.
Dengan pikiran yang masih kalau balau seperti keadaan di sekitarku, aku memutuskan pergi ke tenda darurat yang telah disiapkan di lapangan utara.
Banyak tenda yang telah didirikan Ksatria guna untuk mengamankan penduduk tanpa menyakitinya. Di tengah-tengah tenda itu, terdapat sebuah tenda besar dengan bendera Glory berkibar di puncaknya.
Bendera yang berkibar diatasnya menandakan kalau itu merupakan tenda utamanya.
Saat memasuki tenda utama, akupun duduk di kursi yang sepertinya telah disiapkan.
Entah kenapa, aku merasa kursi ini untukku.
Bentuk kursinya memang berbeda dari tahta di ruang audiens, tapi dibandingkan dengan kursi disekitarku, yang ini lebih mencolok.
Dengan sedikit helaan nafas, aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi.
Banyak sekali pikiran yang masuk di kepalaku, mulai dari penyebab dari tragedi di ibukota sampai penyebab dari sihirku yang melemah. Semuanya masuk ke kepalaku tanpa jeda.
Dari semua masalah itu, saat ini hanya ada satu yang terpikirkan olehku. Aku dengan cepat mengeluarkan smartphoneku, mencari kontak dan menghubunginya.
"Halo, Shin."
"Miku, apa kamu dan yang lainnya baik-baik saja?"
Huhh, syukurlah kalau mereka baik-baik saja.
"Tetap disana Miku, jangan pernah keluar dari istana. Ok!"
"Huh. Ba-baiklah, tapi kenapa?"
"Akan aku kirim Lain kesana, dia yang akan menjelaskannya nanti. Baiklah, jangan kemana-mana."
Tanpa menunggu suara balasan dari Miku, akupun langsung menutup sambungannya. Mungkin itu terdengar sedikit kurang supan, tapi semakin banyak Miku bertanya padaku, akan semakin sulit bagiku untuk berbohong, itu lah yang aku pikirkan.
Huhh.
Setelah mengkonfirmasi keamanan para gadis, akupun kembali mencari kontak untuk menghubungi seseorang.
Kali ini yang ingin aku hubungi itu adalah Komandan Lain.
"Halo, Yang Mulia."
"Lain!"
"Apa ada yang saya bantu, Yang Mulia?"
Suara Lain terdengar sedikit berat, jadi aku hanya dapat menyimpulkan kalau dia sedang kelelahan.
"Maaf, tapi bisakah kamu kembali lagi ke istana. Tolong lindungi para gadis dan orang-orang di istana. Jangan lupa juga untuk membawa beberapa Ksatria bersamamu!"
"Baik, Yang Mulia. Akan saya laksanakan."
"Terima kasih."
Kata itu merupakan kata penutup antara aku dengan Lain. Setelah memberikan perlindungan bagi para gadis, aku tanpa sadar kembali merenung.
Apa yang terjadi dengan sihirku.
Bagaimana bisa sihirku melemah disaat seperti ini. Apa yang harus aku lakukan.
Ahh, tenanglah Shin. Berpikir jernihlah, apa ada sesuatu yang aku lewatkan disini.
Pertama. Beberapa jam yang lalu keadaan masih terlihat normal, tapi sekarang.
Kedua. Ketiga Dewi itu kembali tanpa alasan yang jelas.
Ketiga. Sihirku melemah.
Ini semuanya pasti ada hubungannya dengan sesuatu yang aku lewatkan.
"Cih. Ini semua membuatku kesal." Gumamku sambil menggigit kuku jariku.
Kejadian yang terjadi secara serentak ini membuat kepalaku sakit. Aku mencoba berpikir dengan keras tentang penyebab kejadian ini yang sama sekali tidak dapat diduga.
Tapi. Seberapa banyakpun aku mencoba, pada akhirnya pikiranku pasti menemui jalan buntu.
Merasa otakku sudah mulai panas, akupun keluar dari tenda utama. Angin sepoi-sepoi malam menghantam seluruh tubuhku, tapi saat ini dinginnya angin malam berhasil dikalahkan oleh panasnya otakku.
Sekali lagi, aku menggunakan mantra pemanggilan dan memanggil Haku.
Memang benar, sihirku memang melemah.
Perkataan itu dibuktikan saat aku sadar kalau aku tidak bisa memanggil Haku dan yang lainnya sama sekali.
Jadi aku hanya bisa memanggil burung kecil seperti yang tadi aku lakukan.
Menatap ke langit yang disinari bulan, aku memerintahkan burung itu untuk terbang. Burung itu mulai mengepakkan sayapnya dan melesat terbang ke langit.
Begitu penglihatanku tersambung dengan mata burung itu, aku melihat hal-hal yang tidak ingin aku lihat.
Sebagian besar kebakaran memang sudah berhasil dipadamkan. Para Ksatria juga masih terlihat menuntun penduduk ke lapangan utara, tapi apa yang tidak ingin aku lihat itu adalah.
"Aku seperti orang yang tidak berguna disaat seperti ini." Gumamku dengan mata yang masih terfokus pada pemandangan itu.
Kota yang begitu indah di bawah sinar bulan sekarang sudah seperti kota mati, kegelapan dimana-mana, yang berhasil menerangi kota hanyalah api yang masih berkobar di beberapa titik dan obor yang dibawa Ksatria saat berkeliling.
Melihat keadaan kota yang seperti itu membuat dadaku perih, dan tanpa kusadari air mata mulai memenuhi kelopak mataku.
Semenjak menginjakkan kaki di dunia baru, aku belum pernah menangis sama sekali, tapi sekarang mataku mengkhianatiku, tanpa aku minta, air mata mulai berjatuhan membasahi pipiku.
Disaat tetesan itu mulai memenuhi pipiku, akupun langsung tersadar dan mencoba menghapus air mataku sebelum seseorang melihatnya.
"Apa ini. Air mata? Kenapa aku menangis, aku tidak boleh menangis disaat seperti ini." Gumamku sambil terus mencoba menghilangkan air mata.
Setelah semua air mataku menghilang, akupun menatap jam yang ada di smartphone ku, jam saat ini menunjukkan pukul setengah satu malam.
Dengan mata yang pastinya tidak bisa tertutup, akupun memutuskan untuk berjalan menelusuri lapangan utara untuk memantau keadaan penduduk dan Ksatria yang bertugas.