Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 37 : Keadaan Makin Memanas



"Ada apa Haku?"


Sejak kapan dia bisa memunculkan dirinya sendiri sebelum aku panggil ya. Tidak apa-apa lah, asalkan saja dia tidak muncul di tempat dan waktu yang tidak tepat nanti.


"Hamba mau melaporkan bahwa kami sudah berhasil menangkap lima ratus orang yang mencoba memasuki ibukota."


"Penyusup!? Siapa yang mengirim mereka sekarang?"


Saat aku menanyakan pertanyaan itu, Haku membalikkan tubuhnya yang masih melayang di udara itu untuk menatap Kaisar.


"Yang mengirim mereka semua adalah Kaisar Slave, Tuanku."


Dengan mata tajamnya, Haku masih tetap menatap mata Kaisar yang mulai gemetaran di atas tahtanya itu.


"Dan ada satu hal lagi tuanku."


"Apa itu Haku?"


"Ada sekitar dua ratus orang penduduk yang terluka akibat penyerbuan itu."


" Terluka!?" Mendengar ada yang terluka membuatku kaget.


"Apa yang kau lakukan terhadap pendudukku?" Ujarku sambil menahan amarah.


"An-anda pasti salah orang Raja Glory." Bantah kaisar.


"Apa yang dikatakannya benar, Haku?"


"Dia berbohong Tuanku. Hamba menemukan kalung yang sama seperti yang dipakai pelaku penyebar rumor dulu."


"Kalung!?"


"Dan pelaku itu sendiri yang mengatakan kalau dia adalah anggota organisasi bawah tanah Golden, Kekaisaran Slave."


"Golden!?"


Jadi Golden itu organisasi bawah tanah Slave ya. Aku tidak menduganya sama sekali.


"Ma-mana mungkin saya yang seorang Kaisar ini melakukan kejahatan serendah itu."


"Apa anda pikir saya akan percaya lagi sekarang. Anda telah melukai rakyatku, dan sekarang hubungan kita sudah berakhir sampai disini."


"Ti-tidak bisa seperti itu. Kak, tahan dia kak, jangan biarkan ketiga wanitaku pergi."


"D-dia terlalu kuat adikku."


"Ak-aku tidak peduli lagi. Yang penting mereka jangan di biarkan pergi dari sini. Ksatria, kepung kembali mereka!"


Puluhan kaatria baru mulai berdatangan dari pintu masuk dan mengepung kami semua lagi.


Kami memandangi sekeliling. Tidak ada jalan keluar sama sekali karena seluruh tempat telah dipenuhi oleh ksatria yang berdiri maupun yang pingsan.


"Kak. Tunjukkan saja kekuatanmu disini supaya mereka tidak macam-macam lagi."


"Tidak bisa Shin. Kami tidak bisa menggunakan keilahian kami di dunia fana."


"Hmmm. Kalau begitu jangan pakai keil_keila.....Hah. Aku lupa. Yang penting pakai saja aura kalian sedikit."


"Bagaimana ini Viola dan Safira?"


"Kalau tidak melanggar hukum alam Dewa sepertinya tidak apa-apa." Jawab Viola.


"Saya juga setuju." Safira juga menyuarakan persetujuannya.


Kami yang berbicara dengan nada kecil sepertinya membuat Van marah.


"Kalian!! Beraninya kalian berbisik-bisik di depanku seperti tidak terjadi apa-apa."


"Kami hanya ada rapat keluarga mendadak." Jawab Miku dengan tenang.


"Hahaha. Sepertinya itu akan menjadi rapat terakhir kalian di sini. Ksatria, tangkap bocah dan bawa wanita jalang itu kehada_"


"Aughht."


Semua ksatria yang mengepung kami langsung terpental ke belakang dan pingsan seketika saat mereka menabrak dinding.


"Ap-apa yang terjadi lagi!?"


Saat dia menatap ksatria yang sudah terkapar di sekitarnya. Tiba-tiba.


"Bruukk."


Dia juga aku lumpuhkan menggunakan mantra [Gravity].


"Ap-apa kamu baik-baik saja adikku?"


"Sa-sakit. Apa-apaan ini."


Dengan tubuh yang tertekan ke lantai, dia sama sekali tidak bisa bergerak. Aku berjalan mendekat, dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.


"Tidak hanya melukai pendudukku. Kalian juga mengejek keluargaku"


"Kauu!?" Katanya saat melihat wajahku.


"Apa yang bisa anda lakukan sekarang Putra Mahkota?" Ujarku sambil menyeringai.


"Maafkan adikku, Yang Mulia. Sebagai permintaan damai dari kami, bagaimana kalau anda memberi kami Giant Knight yang anda miliki itu." Ujar Kaisar dengan santainya.


Giant Knight. Apa yang dia maksud itu adalah Frame Rescue.


"Jadi itu yang kalian incar dari awal ya. Bisa-bisanya kalian meminta kami memberikannya setelah kalian melakukan sesuatu yang paling tidak ku sukai."


"Walaupun awalnya kami tidak berniat seperti itu, tapi sekarang mau bagaimana lagi." Sambung Kaisar.


"Kalau itu yang kalian inginkan, sepertinya lebih baik kami permisi saja." Kataku sambil berdiri yang juga diikuti oleh ketiga kakakku.


Kami berempat berjalan ke arah pintu keluar dengan melewati ksatria yang masih pingsan di lantai.


"Tu-tunggu. Hentikan dia kak, jangan biarkan wanitaku pergi!"


Langkahku berhenti dan aku membalikkan tubuhku untuk menatap mereka.


"Ohh. Saya lupa mengatakannya.... Kalian jangan macam-macam lagi terhadap pendudukku apalagi keluargaku, kalau tidak."


Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, aura ketiga kakakku bocor keluar. Saking kuatnya aura itu, bahkan bisa menghancurkan dinding dan atap ruang audiens tempat kami berada.


"Bruukk."


Kaisar dan adiknya melompat untuk menghindari puing-puing yang berjatuhan.


"K-kakiku sakit."


"Ap-apa. Apa-apaan dengan kekuatan itu tadi?" Tanya Van sambil melihat sekelilingnya.


Atap dan dinding hancur tak berbentuk lagi. Tapi puing itu tidak ada sedikitpun yang menimpa ksatria yang sedang pingsan di lantai.


Aku hanya tidak mau mereka yang hanya pingsan malah berakhirnya ke alam baka.


"Kalian sudah melihat kekuatan kakakku sekarang, jadi jangan coba-coba lagi berencana untuk memanfaatkan kakakku kalau tidak ingin mati."


Setelah mengancam Kaisar dan adik bajingannya. Kami pergi meninggalkan ruangan audiens menuju pintu keluar.


Baru saja kami berhasil keluar dari istana yang merepotkan ini, menatap cahaya matahari yang menyilaukan mata dari langit yang sangat cerah itu. Tiba-tiba, tanah tempat kami semua berpijak bergetar hebat.


"Ap-apa yang terjadi?"


"Apa ini gempa?"


Semua ksatria mulai bergumam diantaranya sendiri sambil tetap mencoba menahan tubuh mereka supaya tidak terjatuh ke tanah.


"Y-yang Mulia. Coba anda lihat dilangit!"


Menanggapi kata-kata Lain. Kami semua menarik mata ke atas melihat apa yang dimaksud oleh Lain.


"Apa itu!?" Gumamku.


Di langit terbentuk sebuah retakan yang sangat besar, retakan itu bertambah lebar setiap detiknya.


Tapi yang mengherankannya, ketika retakan itu berhenti melebar. Beberapa menit kemudian retakannya malah menutup kembali tanpa terjadi apa-apa.


Aku hanya dapat diam karena masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat berusan.


"Shin."


"Hah. I-iya, k-kita lihat apa yang sebenarnya terjadi." Jawabku saat disadarkan kak Viola.


Ketiga kakakku hanya terdiam saat aku mengatakan itu.


"Ada apa kak?"


"Maaf Shin. Tapi kami tidak bisa membantumu."


"Ke-kenapa begitu?"


"Karena ini sudah berada di luar otoritas kami, kalau kami ikut campur lebih dari ini bisa-bisa kami akan mendapat hukuman dari alam Dewa." Kata kak Kaori sambil menundukkan kepalanya.


Walaupun mereka adalah Dewa yang mendapat tugas untuk berada di dunia fana guna membantu Shin, tapi tetap saja kalau tugas ini berada di luar kemampuannya, karena mereka tidak diizinkan menggunakan keilahiannya di dunia.


Sepertinya permintaanku terlalu berlebihan ya. Bagaimanapun mereka juga telah banyak membantuku, jadi aku tidak perlu lagi merepotkan mereka.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah mau membantuku kak."


"Sama-sama Shin." Jawab serentak ketiga kakakku.


"Aku pergi dulu kak."


"Baiklah. Kami akan menunggu disini saja."


Aku mulai terbang ke arah penduduk terdekat. Kulihat tidak ada yang berubah, semuanya baik-baik saja.


Saat sedang terbang, aku tidak sengaja melihat seorang gadis bersama adiknya berlarian saat dikejar sekelompok orang.


Melihat itu, aku langsung menukik kebawah sambil mengeluarkan Glory dari [Storage]


Aku mengisi slot pistolnya dengan peluru pelumpuh dan menembak mereka semua, mereka yang tidak menyadari serangan dadakan tidak bisa menghindah dan akhirnya pingsan di tanah.


Setelah memastikan mereka semua sudah pingsan, aku berjalan mendekati kedua orang itu.


"Apa kalian tidak apa-apa?"


"Ka-kami tidak apa-apa. Terima kasih tuan." Jawabnya dengan ketakutan.


Ada apa dengan mereka. Kenapa mereka sangat takut melihatku.


"Ada apa. Kenapa kalian keliatan ketakutan?"


"Ti-tidak ada apa-apa tuan."


"Katakan saja, jangan khawatir."


"Ap-apa tuan adalah orang yang disuruh untuk menangkap lagi?"


Menangkap? Apa jangan-jangan mereka budak ya. Pantas saja mereka memakai kalung aneh.


"Tidak-tidak. Aku tidak akan menangkap kalian kok, jadi tenang saja."


"Ba-baiklah." Jawabnya dengan ragu-ragu.


"Kalian diam dulu disana ya."


"Un-untuk apa tuan?"


"Aku akan mengirim kalian ke tempat yang lebih aman daripada Kekaisaran ini."


"Ap-apakah tuan serius ingin menyelamatkan kami?"


"Tentu saja. Kalian tidak perlu khawatir." Jawabku dengan senyuman lembut.


Aku rapalkan mantra [Gate] dan mengirim mereka ke tempat yang lebih aman dan meminta harimau emas untuk menjaganya.


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...