
"Apa kita akan membuat perumahan disini shin?"
"Menurutku ini tempat yang bagus."
Saat ini aku sedang berdiskusi dengan Liora di babel tentang rencana pembangunan perumahan di ibukota.
"Dari daftar yang aku dapatkan, sepertinya kita akan membuat rumah yang sangat banyak." Gumamku.
"Kalau begitu. Ayo kita mulai desain rumahnya." Liora dengan semangat mulai bekerja.
Perlu waktu beberapa jam untuknya mendesain perumahan untuk ribuan orang itu.
"Wow. Desain perumahannya sangat bagus."
"Benar. Bosan kalau bentuknya sama. Jadi aku membuat model rumah yang beragam?"
Kami berdua mulai bekerja di sore harinya untuk membangun perumahan yang bagus berharap semua penduduk suka.
"Ahh. Aku kelelahan."
Saat aku melihat jam. Hari sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Kita bahkan baru menyelesaikan seperempat nya."
"Kalau Shin mau tidur silakan saja biar aku yang menyelesaikannya " Liora yang prihatin langsung mengutarakannya padaku.
"Tidak!? Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja sendiri."
"Terima kasih atas perhatiannya, kamu memang tuan yang baik." Liora tersenyum manis padaku.
Aku akhirnya menemani Liora membuat perumahan. Saat aku melihat jam, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Shin. Kamu bisa istirahat sekarang, biar aku yang mengurus sisanya."
"Baiklah. Tapi jangan memaksakan diri."
Aku membuka gerbang ke Kastil.
Saat tiba. Aku melihat para gadis sedang mengobrol sambil menungggu sarapan.
Laim sudah mencarikan pelayan untuk mengisi posisi seluruh pelayan di Kastil ini, jadi sekarang ada yang memasak untuk kami semua.
"Hai Shin. Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Belum. Masih ada beberapa yang harus dikerjakan."
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Miku menatap serius padaku.
"Mengatakan apa?"
"Aku, Hana dan Airi telah memutuskan kalau kami menerima mereka bertiga sebagai salah satu dari kami." Miku mengatakan itu sambil menunjuk Rin, Ryou dan Kyou.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku kami menerima Rin, Kyou dan Ryou sebagai tunangan mu."
"Hah!?"
"Apa kamu tidak setuju."
"Bukan itu. tapi kenapa mendadak, mereka bahkan tidak mencintaiku."
"Apa yang kamu bicarakan, dari awal mereka bertemu denganmu mereka sudah menyukaimu tahu kamu aja yang tidak peka"
Miku sedikit marah padaku saat mengatakan itu.
"Dari mana kamu tahu itu?"
"Dari awal aku bertemu mereka. aku melihat ekspresi mereka yang bersedih saat tahu kalau kamu sudah memiliki tunangan, jadi aku berbicara dengan mereka. Hana dan Airi juga menyetujui nya."
"Tidak mungkin."
"Apa kamu tidak mencintai mereka?"
"Tidak-tidak. Aku mencinta__ Opsss." Aku langsung membungkam mulutku sendiri saat aku hampir keceplosan.
Saat aku melihat mereka semua, Rin, Kyou dan Ryou langsung memerah dan Miku, Hana dan Airi malah tersenyum padaku.
"Kalau begitu telah diputuskan ya, kalian sekarang adalah bagian dari kami."
Mereka langsung berpelukan bersama tanpa mempedulikan keberadaan ku.
"Apa suaraku tidak mempunyai ruang disini?"
Aku bergumam begitu tapi tidak ada yang mendengarkannya.
"Baiklah kalau kalian inginnya begitu. tapi aku sampaikan lagi kalau aku tidak akan menikah sebelum waktunya, apakah tidak masalah? "
"Kami tidak masalah" Mereka langsung menjawab ku dengan semangat.
"Baiklah"
Terserah mereka saja.
Saat mereka masih mengobrol. Kyou melihatku yang masih sangat kelelahan.
"Apa kamu baik-baik saja Shin?"
"Ya. Aku hanya kelelahan, aku mau tidur dulu. Kalian sarapan saja dulu ya."
"Baiklah. Tapi apa kamu bisa berjalan ke kamarmu, sepertinya kamu sangat kelelahan." Sepertinya Kyou menghawatirkan ku.
"Sepertinya aku tidak bisa. Kakiku sudah lemas?"
"Kalau begitu panggil saja Laim untuk membantumu." Miku memberi saran yang bagus untukku.
"Laim."
Aku yang tidak memiliki tenaga memanggil Laim dengan menggunakan seluruh sisa tenagaku yang ada.
"Ya tuan." Laim menanggapi panggilanku dan berlari ke arahku.
"Bisa tolong bantu aku untuk ke kamar. Aku sangat lelah dan tidak bisa berjalan ke kamar."
"Baik tuanku, aku akan mengantar tuan ke kamar."
Saat kami menuju ke kamar, di lorong kami berselisih dengan empat orang.
Saat mereka melihatku, salah satu dari mereka langsung menyapaku.
"Hai Shin. Apa kamu baik-baik saja?" Wanita itu menyapaku sambil menanyakan keadaanku.
"Apa itu Leen. Ya, aku hanya kelelahan." Aku yang sangat kelelahan tidak bisa menjawab pertanyaan Leen dengan biasa.
Ketika aku yang masih di gotong Laim sambil mengobrol dengan Leen. Salah satu dari ketiga orang yang di belakangnya bertanya pada Leen.
"Nona Leen. Siapakah gerangan?" Dia bertanya kepada Leen sambil menatapku.
"Ohh ya. Aku lupa. Shin, perkenalkan lah dirimu pada mereka." Dia dengan semangat mengatakan itu tampa mempedulikan keadaanku.
Apakah dia tidak punya perasaan malah menyuruhku memperkenalkan diri di saat kondisiku seperti ini.
"Aku tidak punya tenaga sekarang untuk memperkenalkan diri, apakah kamu bisa menggantikan ku Leen? "
"Baiklah. Perkenalkan namanya Tatsuya Shin, salah satu dari dua peringkat emas di dunia ini dan Raja dari Kerajaan Glory ini." Leen memperkenalkanku dengan sedikit berlebihan.
"Apaaa!?"
"Apakah dia adalah petualang yang di rumorkan itu." Perempuan yang bertelinga kelinci itu bertanya.
Dirumorkan.
"Maafkan kelancangan kami Yang Mulia." Perempuan itu langsung menunduk kan kepalaku.
"Tidak apa-apa. Tapi maafkan aku, aku izin untuk istirahat. Nanti kita bicara lagi."
"Baiklah." Wanita itu langsung menjawab perkataan ku.
"Kalau begitu aku permisi."
Aku kembali digotong Laim menuju kamarku dan tidur sampai siang hari.
Saat bangun, aku pergi ke meja makan untuk makan siang karena tadi pagi aku tidak sempat sarapan.
Aku juga tadi menyuruh Laim mengatur tempat tinggal penduduk sesuai daftar yang Liora berikan padanya.
Perumahannya sudah selesai.
Sepertinya Liora sedikit memaksakan dirinya lagi.
"Yah makanannya enak sekali. siapa yang memasak ini?"
"Aku yang memasaknya Shin " Suara wanita tiba-tiba terdengar dari dapur, saat aku melihatnya.
"Kamu yang membuatnya ya Airi. Kamu sangat pandai memasak ya."
"Khusus untuk Shin. Aku belajar memasak supaya bisa membuatkan Shin sarapan tiap hari saat kita me__" Belum selesai dia berbicara, wajahnya langsung memerah..
"Oh ya Airi. Kemana yang lainnya?"
"Mereka sedang melihat perumahan yang kamu buat sambil membantu Laim mengatur penduduknya. Aku disini menunggumu sampai kamu bangun tidur." Airi yang awalnya merah langsung menjawab pertanyaan ku.
"Apakah kamu sudah makan siang Shin?"
"Aku belum makan siang."
"Kalau begitu ayo kita makan siang bersama."
"Hah!? Makan siang berdua dengan Shin." Dia tambah merah padam.
"Apakah kamu tidak mau?" Tanyaku.
"Tidak-tidak. Tentu saja aku mau?"
"Kalau begitu ayo kita makan."
"Baiklah."
Kami berdua makan siang dengan santai.
Tapi aku sekali-sekali melihat Airi melirikku dan saat aku menatap balik dia langsung memalingkan wajahnya dan memerah.
Saat selesai, kamu memutuskan untuk menyusul yang lainnya melihat perumahan itu.
Saat aku tiba, Laim dan para para gadis dibantu tiga manusia kelinci sedang mengatur para penduduk.
Saat sedang memperhatikan mereka. Seorang pria mendekatiku dari kejauhan.
"Yang Mulia."
Saat aku melihatnya, aku menyadari siapa dia.
"Oh. Pak Banri ya, apa yang membawamu kesini di hari yang cerah ini?"
"Aku kesini karena ingin meminta izin mendirikan toko baju cabang Glory."
"Kenapa ingin mendirikannya disini?"
"Katakan saja aku melihat keuntungan besar disini." Dia tertawa kecil saat mengatakan itu.
Aku hanya tertawa canggung mendengar jawabannya.
Dia bisa berpikir seperti itu. Pemikiran pedagang sangat berbeda dari manusia biasa ya.
"Karena itu aku kesini meminta izin."
"Hmm. Baikl__"
"Aku juga." Suara lain terdengar dari kejauhan. Saat aku melihatnya, aku juga tahu siapa dia.
"Apakah kamu pemilik penginapan di Freedom itu?"
"Ya. Itu aku. Namaku Lora."
"Apa maksudmu aku juga tadi."
"Itu. Sebenarnya aku juga minta izin mendirikan penginapan cabang Glory disini." Gadis itu sangat bersemangat saat mengatakan itu.
"Aku tidak masalah dengan itu."
"Terima kasih Yang Mulia." Mereka berdua menundukkan kepala mereka dan mulai pergi meninggalkan ku.
Sekarang aku pergi menuju ke para gadis yang sedang sibuk.
"Semuanya. Apakah disini baik-baik saja?"
"Disini baik-baik saja, Yang Mulia." Laim menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
"Baguslah kalau begitu."
"Yang Mulia."
Saat melihat sumber suara itu. Ternyata mereka adalah manusia setengah binatang yang aku temui sebelum tidur.
"Oh kalian bertiga ya. Hmmm. Siapa nama kalian tadi?"
Sepertinya aku lupa menanyakan mana mereka tadi.
"Perkenalkan namaku Lain." Pria bertelinga kelinci memperkenalkan dirinya.
"Hmm. Dilihat dari gaya berdiri mu, Apakah kamu Ksatria Halman?" Gayanya sangat mencerminkan gaya seorang ksatria.
"Dulu. Tapi sekarang aku sudah mengundurkan dari Ksatria Halman."
"Kenapa?"
"Saat aku mendengar kabar Yang Mulia membunuh naga dan menghentikan kudeta, hatiku jadi tergerak dan saat tahu kamu mendirikan Kerajaan, aku langsung meminta non__"
"Tenangkan dirimu kak. Kamu membuat yang mulia takut." Pria bertelinga kelinci lainnya menghentikan kakaknya.
"Perkenalkan namaku Norn. Aku adiknya Lain." Wanita yang menghentikan Lain itu memperkenalkan dirinya juga.
"Dan namaku Nikola. Aku kakaknya Norn dan adiknya Lain." Pria bertelinga kelinci lainnya juga memperkenalkan dirinya.
"Ohh. Jadi kalian bersaudara ya?"
"Ya begitulah. Saat aku mengatakan kepada adikku kalau akan berhenti menjadi Ksatria Halman dan ingin menjadi Ksatria Glory, mereka bersemangat dan mengatakan kalau mereka juga mau ikut." Lain mengatakan itu sambil menatap adiknya.
"Apa kalian benar-benar ingin menjadi Ksatria Glory?"
"Ya." Mereka bertiga menjawab dengan serentak.
"Tapi Kerajaan ini masih baru dan belum memiliki apa-apa lagi disini, tidak seperti Kerajaan Halman. Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Kami yakin Kerajaan ini akan menjadi Kerajaan adi daya di dunia nanti." Lain langsung bersemangat.
"Baiklah kalau kalian ingin menjadi ksatria Glory. Nanti aku juga akan membuat pengumuman tentang Glory yang mencari Ksatria baru."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Mereka bertiga dengan semangat berlari lagi ke arah Laim untuk membantunya mengatur penduduk.
➖➖➖➖➖
"Jadi kamu kesini mau bertanya cara mengatur Kerajaan ya?"
"Ya. Aku masih belum mengerti."
Saat ini aku berada di istana Kerajaan Allent dan sedang berbicara dengan Raja.
"Hmmm. Aku ada saran Shin."
"Apa itu?"
"Disini dulu ada Perdana Menteri yang sangat berpengalaman, namun dia sekarang tidak bekerja lagi."
"Kenapa dia tidak lagi bekerja?"
"Dia dulu perdana menteri dari ayahku. Namun saat ayahku meninggal dia juga mengundurkan diri dari jabatannya." Raja menundukkan kepalanya.
"Apakah dia mau membantuku?"
"Aku juga tidak tahu. Sebelum menjadi Perdana Menteri, dia adalah kepala klan tokugawa. namun klan nya dibubarkan karena masalah internal. Dia juga tidak mau menjadi Perdana Menteri lagi."
Dia sepertinya sangat berpengalaman dalam menjalankan tugas memimpin, namun apa yang menjadi masalahnya ya.
"Aku akan menemuinya"
Aku langsung pamit dengan Raja dan pergi menuju rumah yang di katakan Raja padaku.
Ketika tiba, aku melihat pria berusia sekitar empat puluhan memetik buah dihalaman rumahnya.
Saat aku mendekatinya, dia langsung menatapku.
"Siapa kamu?" Dia mengatakan itu sambil memasang kuda-kuda.
"Tidak-tidak. Aku disuruh Raja kesini." Aku langsung menenangkannya.
Saat mendengar kata 'Raja' dia langsung menghilangkan kuda-kudanya.
"Disuruh Raja. Emangnya ada urusan apa?"
"Aku Tatsuya Shin."
"Tatsuya Shin!? Apakah kamu Raja dari Kerajaan yang baru berdiri itu?"
"Itu aku."
"Ada keperluan apa dengan ku?"
"Katanya kamu dulu mantan Perdana Menteri Allent?"
"Itu dulu."
Kenapa ekspresinya berubah menjadi sedih begitu ya.
"Maaf kalau tidak sopan tapi kenapa kamu sekarang berhenti?"
"Itu karena Putriku."
Dia berjalan ke kursi terdekat sambil mengatakan itu
"Putrimu. Ada apa dengan Putrimu?"
"Dulu saat aku masih menjadi Perdana Menteri. Aku sangat sibuk dan jarang bermain dengan satu-satunya putriku, namun saat Raja meninggal aku sangat sedih dan saat aku masih bersedih aku mendapat kabar kalau Putriku diculik."
"Aku sudah mencarinya dari dua tahun lalu tapi sampai sekarang aku masih belum menemukannya."
Diculik dua tahun yang lalu.
Bukankah Renne juga diculik dua tahun yang lalu.
Apa ini kebetulan atau memang ada hubungannya.
"Apa saya boleh tahu nama Putrimu." Aku yang penasaran langsung bertanya lagi
"Namanya Renne."
Yang benar saja.
"Kamu kenapa?" Tanya Pria itu.
"Tidak ada apa-apa."
"Baiklah."
"Aku ingin memastikannya sekali lagi. namanya Renne dan di culik dua tahun yang lalu kan?"
"Iya."
"Baiklah"
"Ada apa?" Dia yang masih kebingungan dengan ekspresi ku langsung bertanya.
"Dia saat ini bekerja di kastil ku sebagai pelayan."
"Apaaa!? A-apakah itu benar?" Dia menerobos padaku untuk bertanya tentang kebenaran itu.
"Ya. Mungkin Renne yang ada maksud sama dengan Renne yang ada di Kastil ku."
"Apakah itu benar-benar Renne kecilku?"
"Mungkin. Dia berumur dua belas tahun dan dia juga mengatakan kalau diculik dua tahun yang lalu. Pelayan ku menemukannya dan membawanya ke Kastil dan sekarang dia bekerja sebagai pelayan di kastil ku."
Saat ceritaku selesai. Aku melihat kalau dia mulai menangis.
"Syukurlah dia masih hidup."
Dia menangis deras saat itu juga.
"Apa kamu baik-baik saja."
"Apa aku bisa bertemu dengan Renne kecilku?"
"Ya. Tentu, aku akan membawamu bertemunya."
"Terima kasih."
Aku merapalkan mantra [Gate] ke arah istanaku.
Dia yang awalnya terkejut ikut masuk saat aku masuk ke gerbang itu, dan saat kami tiba dia benar-benar terkejut.
"Kita berpindah tempat. Dimana kita sekarang." Dia bertanya apa yang membuatnya bingung.
"Kita berada di Kastil Kerajaan Glory."
"Apa. Kastil Glory!?"
"Iya."
"Dimana Renne?"
"Tunggu sebentar."
"Laim."
Saat aku memanggil Laim. Dia tiba di tempatku.
"Ada yang bisa saya bantu Yang Mulia?"
Dia menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
"Apakah kamu bisa memanggil Renne dan mengantarkannya ke ruangan ku."
"Baiklah. Saya akan memanggilnya Yang Mulia."
Laim pergi untuk memanggil Renne. Dan aku menuntun Perdana Menteri itu ke ruangan ku.
Beberapa menit kemudian tiba tiba ada yang mengetuk.
"Yang Mulia. Saya sudah membawa Renne."
"Masuklah.."
Saat pintu terbuka. Laim bersama Renne masuk.
"Ada apa memanggil saya Yang Mulia."
Dia menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
Sepertinya dia sudah belajar menjadi pelayan yang baik.
"Renne kecilku. Apa itu benar-benar kamu." Perdana menteri menangis lagi saat melihat Renne.
Renne yang mendengar ada yang menyebut namanya juga menoleh. Dan tanpa sadar air mana mulai mengalir keluar.
Dengan kaki kecil nya, dia berlari dan melompat ke pelukan pria itu
"Ayah."
"Kamu benar-benar masih hidup. Ayah benar-benar bahagia"
"Aku selalu dibawa ke tempat yang tidak ku ketahui. Aku sangat ketakutan ayah."
Renne menangis saat menceritakan apa saja yang dia alami selama dua tahun ini.
Anak sekecil ini telah merasakan kekejaman dunia. Gadis yang kuat.
"Baguslah kalau begitu ya Renne." Ujar ayahnya dengan bekas air mata yang masih mengalir.
"Orang disini sangat baik padaku ayah. Mereka mengajariku supaya bisa menjadi pelayan yang baik."
"Bahkan Yang Mulia bersedia kalau aku menganggapnya sebagai kakakku. Para Ratu juga sangat baik padaku. mereka juga menganggap ku sebagai adik mereka sendiri."
"Para Ratu!? Apa maksudmu?"
"Iya ayah. Para Ratu, disini ada enam Ratu ayah" Dia dengan polosnya mengatakan itu.
"Enam. apakah itu benar?" Dia langsung menatapku untuk meminta jawaban.
Baru calon.
"Y-ya. Seperti itulah." Aku menjawabnya dengan sedikit senyum canggung.
"Benarka__"
Ketika dia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tiba-tiba pintu ruangan ku terbuka.