Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 68 : Kemenangan Erotis



Hilda yang tampaknya masih ragu-ragu di dalam hatinya memberanikan diri untuk bertanya.


"A-Apa kalian semua baik-baik saja dengan ini?"


"Tentu saja. Jika tidak, kami pasti akan mengangkat tangan."


"Sejauh yang kami ketahui, kamu sama dengan kami. Kami juga ingin kamu bergabung di dalam keluarga. Sama sepertimu, kami semua juga mencintai Shin dengan cara kami sendiri." Kyou dan Ryou meyakinkan Hilda.


Kenapa mereka bisa sangat percaya dengan Hilda ya. Apa karena Miku sudah memastikan niat murninya.


"Ini jelas merupakan kesempatan baik bagi kami. Airi dan aku adalah putri, tetapi kami berasal dari barat. Miku memang berasal dari timur, tapi dia hanya seorang diri. Dengan masuknya Hilda, keseimbangan ini akan bisa teratasi. Apalagi setelah insiden Slave, Lestin saat ini merupakan Kerajaan terkuat di timur. Ini akan menjadi peluang besar dalam menyatukan barat dan timur." Airi menggumamkan tentang masalah politik di usianya yang masih sangat muda.


Jujur. Airi rasanya mulai agak berbahaya.


Menjalin aliansi yang kuat dengan Lestin akan berguna, tetapi aku tidak ingin melakukan ini hanya karena alasan politik.


"Tapi, maksudk_"


"Shin, kamu perlu berbicara dengan dirimu sendiri. Lebih percaya dirilah pada keputusanmu. Seperti kata kakakmu, kamu itu pria yang populer!"


"Apakah aku benar-benar sepopuler itu?"


"Tentu saja! Semua orang di sini sangat mencintaimu!" Kata-kata Chika membuat pipiku terbakar merah.


Gah! Aku tidak tahu apakah aku senang atau hanya malu!


Ugh. Sialan, aku lebih suka tidak begitu plin-plan di dalam pembicaraan ini.


Aku memandangi Hilda, dan matanya yang gugup juga menatapku kembali. Aku menjadi sedikit khawatir, karena sepertinya dia akan menangis.


"Huhh. Baiklah. Jika semua orang setuju, tidak apa-apa."


Semua orang tiba-tiba berkumpul di sekitar Hilda dan bersorak untuknya.


Ketika aku mendengarkan tawa nyaring dan feminin mereka, aku sekali lagi diingatkan bahwa aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka.


Denyut gelisah kembali muncul ketika aku memikirkan akan seperti apa nasibku di masa depan.


"Hei, Hilda. Bagaimana dengan pertandinganmu dengan mantan Raja?"


"Aku baik-baik saja, terima kasih. Mulai sekarang aku adalah tunanganmu, dan juga ksatria pertamamu." Hilda menoleh padaku sambil tersenyum.


"Baiklah, Hilda. Jadi, tentang pertarungan dengan mantan Raja. Apakah kamu bisa mengalahkannya?"


"Jika kamu ingin mendengar pikiranku yang sebenarnya, aku berpikir itu sedikit mustahil. Kemungkinan aku bertarung dan menang melawan kakekku adalah sekitar satu dari sepuluh."


Peluang itu sangat rendah. Tapi itu yang aku harapkan darinya. Orang tua itu pasti kuat.


Namun, satu dari sepuluh, peluang masihlah merupakan peluang.


"Dan saat aku menang melawannya, aku harus mengatakan itu bukan karena keahlianku. Itu hanya kasus keberuntungan saja."


"Hah. Jadi kamu mengatakan kemenanganmu hanya ada pada keberuntungan?"


"Y-Ya."


Ayolah, Asha. Jangan mengatakan hal seperti itu. Dia terlihat cukup depresi akibat perkataanmu.


"Shin. Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?"


"Hmm. Yah, kita selalu bisa memberi senjata Hilda dengan racun yang menyakitkan, atau membuat gagang pedangnya meledak. Atau mungkin aku bisa memberi berbagai efek sihir pada senjata dan armornya Hilde."


"Kemenangan seperti itu akan agak hampa, dan itu sedikit melawan kode etiket ksatria."


Maksudku, kurasa memang ya. Tapi ada banyak cara supaya kita bisa menang dengan mudah di sini. Aturan mengatakan kalau sihir tidak boleh digunakan secara langsung selama duel, jadi yang kita lakukan itu bukan curang secara teknis namanya. Heheheheh.


"Kamu mulai membuat wajah jahat lagi, Shin."


"Kamu pasti memikirkan sesuatu yang kejam dan curang, bukan? Aku tidak tahu apakah itu hal yang baik atau bukan."


"A-aku sedikit khawatir."


Jangan kejam! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang jahat atau curang, aku berjanji.


Hmm yah, begitulah. Paling tidak kali ini saja.


➖➖➖➖➖


Pertempuran dilangsungkan di arena bawah tanah. Penonton hanya aku dan para gadis saja.


"Ada apa, Hilda!? Apa perasaanmu pada Raja Glory hanya segini. Sangat menyedihkan."


"Aku percaya pada Shin! Jika dia berharap aku menang, maka aku pasti akan menang!"


"Seperti yang dia harapkan!? Tunjukkan padaku!"


Kecepatan serangan kakek tua itu meningkat, menyerang Hilda berulang-ulang kali dalam rentetan yang tak terbendung.


Pertahanan Hilda perlahan mulai runtuh. Dia memblokir serangannya dengan perisai, tetapi setiap serangan menyebabkan getaran di lengannya. Jika itu terus berlanjut, maka gerakannya akan melambat.


Hilda menampar pedang kayunya ke samping menggunakan perisainya untuk menciptakan beberapa ruang di antara mereka berdua. Dia jelas kehabisan energi. Napasnya acak-acakan dan tidak stabil.


Di sisi lain, pria tua itu tampak seperti masih segar. Senyum kecil juga mewarnai wajahnya.


"Hmm. Dia kuat. Gayanya kasar dan tidak dimurnikan, seperti angin puyuh. Jika Hilda merupakan orang yang kuat, maka dia benar-benar monster. Dia menggunakan senjatanya sebagai badai menakutkan yang mendukung kebrutalan daripada teknik."


"Tapi Hilda menahannya dengan sangat baik. Aku pikir mereka sangat cocok."


"Itu karena dia hanya fokus pada pertahanan sekarang. Dia tidak bisa menang jika terus seperti ini. Bahkan jika dia fokus pada pertahanannya, mereka pada akhirnya akan hancur. Saat itulah dia akan kalah."


Rin, Kyou, dan Airi. Tiga pengguna kekuatan fisik terbaik dia antara yang lainnya mengemukakan pendapat mereka.


Aku kagum dengan Airi. Dia baru saja belajar menggunakan pedang, tapi perkembangannya sangat cepat. Sulit dipercaya bahwa dia dulu gadis yang meringkuk ketakutan selama kudeta di Kekaisaran.


Dia masih belum sekuat Rin atau Kyou, tapi dia jelas lumayan terampil. Dia menggunakan senjatanya dengan cara menggabungkan teknik bertarungku dan Rin, jadi dia akhirnya bisa menciptakan tekniknya sendiri.


"Aku harap dia tidak melewatkan kesempatan sedikitpun."


"Tapi, apakah mantan Raja benar-benar akan meninggalkan celah untuknya? Dia kuat, dan dia juga merupakan lawan yang sulit untuknya." Ujar Miku.


"Dia tidak akan membuat celah. Heheheh. Tapi aku yang akan membuka celah itu."


Aku mengabaikan Miku yang kebingungan dan mulai memfokuskan sihirku.


Sebelumnya aku telah melihat-lihat internet untuk mencari foto yang bagus, dan sekaranglah saatnya untuk bertindak.


Mantan Raja menyerbu ke arah Hilda, jelas dia berniat memberikan pukulan terakhir. Itulah kesempatanku! Aku langsung menggunakan [Mirage] yang belum pernah aku uji coba sebelumnya untuk memproyeksikan gambar sekitar dua meter di belakang Hilda.


"Whuh!?" Mata mantan Raja terbuka lebar, gerakannya juga terhenti.


Hilda tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia mengambil kesempatan itu dengan baik. Dia langsung memukul pedang latihannya ke arah tubuh kakeknya sekuat tenaga.


"Ghaugh."


Jika itu benar-benar pedang, serangan itu akan membelahnya menjadi dua.


Dengan itu, pria tua akhirnya jatuh ke tanah dan pingsan.


"Shin."


"Ya?"


"Siapa wanita di belakang Hilda itu? Yang hanya memakai b-bik-bikini tadi?"


Saat ini, di smartphoneku, seorang model cabul sedang berpose dalam balutan bikini mungil. Aku tidak tahu siapa dia, tapi pakaiannya sangat cabul. Dia memiliki kulit kecokelatan, mata yang indah, dan tubuh yang menggairahkan.


"Aku melakukannya! Ini kemenanganku! Oh, Shin, aku berhasil! aku menang!"


Hilde tampak sangat gembira, jadi aku melambai kepadanya. Tunanganku yang lain juga tersenyum, tetapi aku bisa mendengar gumaman yang menakutkan dari mereka.


"Itu adalah pembukaan yang nyaman untuknya."


"Pria itu yang terburuk."


"Aku akan menanganinya, Kak."


"D-Dadanya cukup besar."


"Apakah itu jenis pakaian renang yang kamu sukai?"


"Tidak aku sangka dia menyukai pakaian yang seperti itu."


"Bentuk tubuhnya juga bagus."


"Hm? Kenapa kamu ketakutan, Shin?"


Semua orang kecuali Chika menatapku dengan mata gelap. Aku pasti tidak bisa tinggal diam setelah menggunakan salah satu dari Tiga Puluh Enam situs dewasa.