Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 63 : Roadmare Union



"Paling luar biasa."


"Seorang pria dari dunia lain, teknologi seperti itu, budaya seperti itu, pengetahuan yang tidak terlihat, sejarah yang tidak hidup. Tidak ada yang lebih membangkitkan mentalku dari ini. Bawa aku, Shin. Menikahlah denganku!"


"TIDAK MUNGKIN!!" Para gadis yang kaget mulai meneriakkan penolakan mereka dengan suara serentak.


Mereka juga mulai berjalan mengelilingiku seolah-olah ingin melindungiku dari binatang buas bernama Regina babylon ini.


Itu agak menakutkan, tapi aku bisa mengerti kenapa sikap mereka menjadi seperti ini.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan menjadi selir saja. Tubuh saya tidak berevolusi, jadi dia tidak akan bisa melakukan apapun kepada saya. Bukankah itu pilihan bagus." Saran lain keluar dari mulut monsternya.


"Baik."


"Tunggu. Apa!?"


Apa-apaan. Jangan setujui dia sebagai wanita simpanan. Hentikan itu, kalian seharusnya tidak baik-baik saja dengan itu kan.


"Kami memutuskan bahwa kami tidak menginginkan istri lagi karena alasan cukup sederhana. Pertama, kami tidak ingin keluarga Kerajaan di seluruh dunia mencoba untuk menggadaikan anak perempuan mereka kepadamu, Shin."


"Kami juga tidak ingin menciptakan krisis suksesi. Itulah sebabnya kita dapat dengan mudah membedakan antara pengantin dengan selir."


Miku dan Kyou mencoba untuk menjelaskan situasinya sebaik mungkin. Tapi tetap saja aku tidak mengerti.


"Maaf memotong. Tapi sepertinya krisis suksesi yang kalian bicarakan itu benar-benar akan terjadi di masa depan."


"Apa maksudmu?"


"Saya sedikit mengintip masa depan Shin dan melihat kalau Shin nantinya akan memiliki dua belas istri bersamanya."


"APAA!?"


Sekali lagi, teriakan mereka berhasil mengguncang taman dan seisinya.


Aku. Dua belas. Pria brengsek macam apa aku sampai-sampai bisa memiliki istri sebanyak itu.


Seluruh tunanganku langsung menatapku dengan tatapan penuh dengan amarah.


"Shin. Apa yang kamu perbuat di masa depan?" Tanya Ryou dengan tatapan dingin di matanya.


Ryou biasanya hanya gadis yang pendiam dan pemalu, tapi sekarang dia berubah menjadi monster hidup.


"Ak-aku tidak tahu." Jawabku sambil mengambil langkah mundur.


"Tenang gadis muda. Itu hanyalah masalah di masa depan. Lebih baik kalian nikmati saja kehidupan di masa ini terlebih dahulu." Kalimat baik dari Dokter ternyata bisa membuat mereka semua kembali ke mode tenangnya.


Tapi itu semua berakhir dalam sekejap mata oleh ulah Dokter gila itu sendiri.


"Izin sudah saya dapatkan. Semoga kita menjadi keluarga yang bahagia ya Shin. Hmm. Oh?, jangan khawatir soal pewaris tahta atau apapun itu. Semua anak Shin adalah perempuan kecuali satu."


"APA!?" Dengan mata penuh putus asa, para gadis mulai berteriak seakan-akan menolak untuk menerima kenyataan ini.


Wah-wah. Bicara tentang spoiler besar nih. Apa sih yang kamu lakukan, Dokter.


"Kamu ingin memberitahu kami kalau kamu jujur, Dokter?" Tanyaku dengan sedikit nada bercanda.


"Hanya pemberitahuan kecil. Lebih baik jangan dipikirkan. Masa depan itu bisa berubah, jadi itu tidak terlalu akurat."


Dokter yang merasakah hawa dingin di punggungnya langsung meralat kembali kalimat yang baru saja dia katakan di depan kami semua.


➖➖➖➖➖


"Yang Mulia."


Suara pelayanku, Laim memenuhi seisi ruangan tempatku bekerja.


"Ada apa Laim?"


"Saya tadi bertemu dengan kepala Guild di depan gerbang. Beliau meminta izin untuk ingin bertemu dengan Yang Mulia."


"Apa yang Relisha inginkan?"


"Katanya ada keadaan darurat. Ini menyangkut tentang Failer."


Darurat Failer.


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Tanpa memikirkannya lebih jauh, aku juga sudah tahu apa yang dia inginkan. Aku langsung berdiri dan berpindah menggunakan (Gate) dalam sekejap ke depan gerbang.


"Yang Mulia!?" Begitulah respon penjaga gerbang saat melihatku datang tiba-tiba.


"Dimana Kepala Guild?"


"Beliau ada di pos penjagaan."


Mengucapkan terima kasih kepada penjaga, akupun langsung menuju ke pos penjagaan.


"Ada keadaan darurat apa?"


"Yang Mulia!? Oh, y-ya. saya baru mendapatkan kabar dari Guild cabang Roadmare kalau disana saat ini sedang ada serangan Failer."


"Roadmare diserang Failer!?"


Maklum saja kalau mereka sudah mulai menyerang kembali, mengingat ini sudah dua bulan lebih semenjak serangan Slave dulu.


Tapi ini terlalu mendadak.


Dan juga, bagaimana cara Guild bisa mendapatkan informasi secepat ini. Hmm. Ahh. Nanti saja aku tanyakan, situasi saat ini jauh lebih penting.


➖➖➖➖➖


"Sudah. Jadi intinya kamu mau pergi ke Roadmare untuk menjelaskan situasi dan meminta izin untuk berperang di wilayah mereka. Dan setelah izin didapatkan, kamu langsung mengirim pasukan kita kesana." Ujar Raja Halman saat menjelaskan kembali tentang apa yang akan aku lakukan.


Saat ini kami sedang melakukan rapat perang di gedung Glory. Para anggota aliansi yang mendapatkan pemberitahuan darurat langsung bergegas berkumpul di Glory.


Jumlah musuh juga sudah aku konfirmasikan, secara total ada sekitar lima ribu empat ratus tiga puluh dua Failer. Terdiri dari seribu seratus lima Failer tingkat menengah dan sisanya adalah tinggi rendah.


Mereka muncul dari celah yang sobek tepat di perairan Roadmare. Butuh waktu untuk Failer supaya bisa mencapai kota terdekat.


Syukurlah tidak ada Failer tingkat tinggi yang muncul. Sepertinya akan lumayan sulit menghadapi mereka.


"Kalau begitu rapat akan aku tutup. Setelah ini aku akan langsung pergi menuju Roadmare dan mendiskusikannya bersama pemimpin mereka."


Semua pemimpin dunia menganggukan perkataanku dan rapat pun berakhir.


Setelah aku mengirim suluruh pemimpin dunia pulang untuk menyiapkan ksatria mereka dan menantikan aba-aba dari ku, aku pun langsung berpindah menggunakan (Gate) menuju Roadmare.


➖➖➖➖➖


"Sudah cukup lama aku tidak pergi sejauh ini." Gumamku sambil berjalan dari gang sepi menuju ke arah jalan utama.


Biasanya aku tidak akan bisa berpindah ke tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, tapi berkat penglihatan dari bawahan Kougyoku, akupun dapat menghafal setiap tempatnya.


Setibanya di Jalan Utama. Pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah Barisan Ksatria berkuda yang berjejer memenuhi jalan.


Sepertinya mereka bersiap-siap untuk hadapi Failer. Tapi itu tidak akan berguna sama sekali.


Mengabaikan kekaguman penduduk saat melihat barisan Ksatria, aku pun mulai berlari menuju ke arah Istana untuk menemui pemimpin mereka.


Dan seperti yang aku alami biasanya ketika pergi ke tempat asing, aku pun langsung dihadang oleh penjaga gerbang istana


"Siapa anda? mohon maaf tapi anda tidak boleh masuk lebih dari ini."


Sial. Kebiasaan burukku.


"Maaf tapi aku ingin menemui Raja kalian."


"Menemui Yang Mulia. Ada urusan apa?"


"Ini menyangkut monster yang menyerang Roadmare."


"Monster!?"


Ketika aku masih panik. Tiba-tiba sebuah suara yang tidak aku kenali terdengar oleh telinga ku.


Ketika aku menatap sumber suara itu, suara itu ternyata berasal dari seorang pria berusia lima puluhan, menggunakan baju mewah berhiasan emas dengan sebuah embel yang menggantung di dadanya.


"Yang Mulia!?"


Para Ksatria yang kaget akan kedatangan Rajanya langsung membungkuk dihadapannya.


"Silakan masuk. Kita bicarakan di dalam!"


Mengabaikan ekspresi bawahannya, kamipun berjalan memasuki istana.


Interiornya biasa layaknya sebuah istana Raja. Desainnya berbeda dari istana Glory, tapi tetap saja ini adalah sebuah istana Raja.


"Maaf atas gangguannya tadi."


"Tidak apa-apa."


"Pertama, silakan perkenalkan diri anda dan maksud kedatangan anda kesini?"


"Perkenalkan nama saya Tatsuya Shin, Raja Kerajaan Glory."


"Hohoho. Raja Glory yang sedang dibicarakan orang-orang itu ya."


Dibicarakan. Ya, terserah. Itu bukannya masalah saat ini.


"Y-ya. M-mungkin saja." Jawabku dengan nada dan ekspresi canggung.


"Jadi apa maksud kedatangan Yang Mulia Glory kesini?"


"Maksud kedatanganku kesini adalah untuk menawarkan bantuan dalam menghadapi Failer."


"Failer!? Apa itu nama dari monster yang sedang menyerang kami?"


"Ya." Jawaban singkatku ternyata tidak membuatnya takut, malah dengan suara yang mulai naik dan ekspresi yang merubah drastis, diapun menatapku.


"Maaf sebelumnya. Tapi kami memiliki sebuah senjata dalam menghadapi monster itu, jadi anda tenang saja."


"Ta-tapi. Ini akan menjadi masalah nasional kalau penanganan anda salah."


"Itu tidak akan terjadi."


Setelah kalimat itu, tanpa lagi mempedulikanku, diapun berdiri.


"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, silakan anda pergi."


Dengan lancangnya dia mengusirku dari istana. Tapi aku yang memang tidak ada kuasa disini hanya dapat pergi dengan perasaan menyesal.


Namun perasaan itu seketika hilang saat seorang wanita berusia sekitar empat puluhan berlari kearahku. Dibelakangnya juga ada wanita lain yang menyusulnya, tapi kelihatannya dia jauh lebih muda darinya. Mungkin sekitar dua puluh lima tahun.


"P-permisi." Dengan berbicara kepadaku dengan nafas yang masih belum teratur.