
"Wow... Kita benar-benar ada di ibukota Strom."
Rin memujiku dengan ekspresi senang.
"Kalian mau kemana?"
"Hmm.. Kami ingin mendaftar dulu ke guild." Kyou memegang dagunya untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan ku
"Guild ya. Hmm. Baiklah, aku temani."
Kami berempat berjalan ke guild untuk mendaftar. Dan saat kami sampai di sana, kami di sambut staf.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan Shin?"
"Bukan aku. Tapi mereka. Mereka mau mendaftar menjadi petualang."
Aku mengatakan itu sambil menunjuk mereka bertiga.
"Ohh. Baiklah. Kalau begitu kalian tolong isi formulir pendaftaran ini!"
"Baiklah." Mereka serentak mengatakan itu kepada staf.
Setelah mereka mengisi semua formulirnya, dan menyerahkannya kembali kepada staf.
"Ini. Kami sudah mengisi formulirnya."
"Baiklah. Coba saya lihat dulu. Ya, sudah lengkap. Kalau begitu tunggu sebentar."
Staf itu berjalan ke belakang untuk memproses berkas itu. Setelah selesai dia kembali lagi ke depan.
"maaf menunggu. ini kartu kalian bertiga." Ujar staf sambil menyerahkan kartu hitam kepada mereka.
Ryou mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. Dia seakan tidak percaya dengan itu.
"Kak. Akhirnya kita menjadi petualang."
"Iya. Kamu tenang sedikit Ryou."
Ryou sangat senang dengan kartu hitam itu sampai-sampai ia melompat kegirangan. sementara Rin hanya melihat kartu itu sebentar sebelum melihat ke arahku.
"Shin. Apakah kamu juga seorang petualang? " Rin memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Maaf. Apakah nona tidak tahu siapa itu Tuan Shin?"
Staf yang masih ada di depan kami langsung menanggapi pertanyaan Rin yang seharusnya untukku.
"Aku tidak tahu?"
"Aku juga?"
"Emangnya ada apa dengan Shin?"
Kyou, Ryou dan Rin langsung bingung dengan apa yang dimaksud oleh staf itu.
"Bukan apa-apa kok. Lupakan saja."
Aku memotong pembicaraan itu supaya tidak diteruskan, tapi staf itu malah keceplosan.
"Tuan Shin adalah orang kedua di dunia ini yang memiliki peringkat emas."
"Apaaa!?"
Mereka bertiga kaget tidak percaya dengan apa yang dikatakan staf. Tidak hanya mereka, para petualang di dalam guild yang belum mendengar kabar itu juga terkejut.
"Apa yang dia katakan benar, Shin." Kyou bertanya.
Menyusahkan.
Lama-lama aku benci dengan peringkat ini.
Supaya tidak ada lagi rasa penasaran dan pertanyaan yang tidak penting. Aku memutuskan untuk menunjukkan apa yang membuat mereka kaget.
"Wow. Emas!? Kamu benar-benar peringkat emas, Shin." Mereka menyerukan pujiannya kepadaku.
"Kapan kamu mendapatkannya?"
"Belum lama ini. Kalian tidak perlu memikirkan ini." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan supaya mereka tidak menanyakan sesuatu yang merepotkan lagi.
"Kalau kalian sudah selesai, kalian mau pergi kemana?"
"Ehh. Ohh. Ya. Kami ingin mencari penginapan." Rin yang masih tidak percaya langsung menjawab pertanyaan ku.
"Baiklah. Aku tau beberapa penginapan disini."
"Kalau begitu tolong tunjukkan jalannya."
Kami berjalan mengelilingi ibukota dari penginapan satu ke penginapan yang lainnya, tetapi kami tetap tidak menemukan yang cocok. masalahnya terkadang ada yang penuh, mahal, kurang bagus dan lain sebagainya.
Karena kelelahan, kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat di kursi taman.
"Kita sudah berkeliling, tapi tetap saja tidak menemukan penginapan yang cocok." Rin mengatakan itu sambil menghela nafas.
Sudah aku bilang kalau biar aku saja yang membayarnya, tapi kalian malah tidak mau.
"Aku sudah lelah mencarinya." Kyou menghela nafasnya juga.
Entah bisa atau tidak. Tapi harus dicoba.
Aku memanggil Haku yang ada di rumah dengan telepati.
"Haku. Apa kamu mendengarkan."
"Ada apa tuanku. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Ada tiga temanku yang tidak memiliki tempat tinggal. Coba kamu tanya Miku, apakah kita bisa memperbolehkan mereka tempat tinggal di rumah untuk sementara waktu."
"Baik tuanku. Akan hamba tanyakan."
Saat menatap langit cerah yang tidak berawan, tiba-tiba telepati Haku tersambung.
"Tuanku. Hamba sudah menanyakannya, kata nona Miku boleh saja."
"Baguslah. terima kasih Haku."
"Tidak masalah tuanku." Balas Haku sebelum telepati kami terputus.
"Kalian bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu kalau mau?"
"Apa benar kami boleh tinggal di tempatmu." Rin bertanya.
"Tentu. Kenapa tidak."
"Kami akan tinggal di rumahmu?"
" Tinggal di rumah seorang pria?"
Kyou dan Ryou langsung memerah saat mengatakan itu. Saat aku melihat Rin, dia juga merah padam di wajah dan telinganya.
➖➖➖➖➖
Aku dan ketiga gadis itu pergi menuju ke rumah. Saat kami sampai, kami di sambut tatapan ketiga gadis lainnya.
"Shin. Apa kamu bersenang-senang?"
"Selamat datang Shin."
"Apakah kamu kelelahan?"
Miku, Airi dan Hana langsung menatap tajam kepadaku.
"Ada apa. Apa ada yang salah?"
"Tidak ada. Lupakan saja." Jawab Miku dengan santai.
"Kalau begitu. Ayo kita masuk, kalian juga silakan masuk."
Hana dengan senyuman mempersilakan mereka bertiga masuk.
Aku juga memutuskan untuk membiarkan mereka bicara sebentar, jadi aku memilih kembali jalan-jalan di ibukota.
Saat sedang duduk di kursi taman sambil makan roti yang aku beli tadi.
Tidak sengaja aku mendengar sejumlah pedagang di tepi jalan sedang mengobrol.
"Apa kamu mendengar kabar kalau ada reruntuhan kuno di Kerajaan Halman yang mendadak muncul dari laut?"
"Iya. Aku pernah mendengarkannya, tapi aku belum pernah melihatnya."
"Aku juga belum pernah."
Percakapan mereka membuatku penasaran, jadi aku memutuskan untuk memanggil Haku.
"Haku. Apakah kamu bisa mengirim burung ke laut Kerajaan Halman?"
"Kalau berbicara tentang burung. Hamba sarankan untuk memanggil Raja burung tuanku, namanya Kougyoku."
"Raja burung Kougyoku. Baiklah, mari kita panggil."
Aku berdiri dan pergi mencari tempat sepi untuk merapalkan mantra pemanggilan.
Kuluruskan tanganku sambil terus menerima sihir dari Haku supaya bisa memanggil Kougyoku.
Aku ingin mencoba memanggilnya sekali saja, karena saat memanggil Luli dulu hanya Haku yang melakukan pemanggilan.
~Datanglah Raja Kougyoku. menghadaplah padaku sekarang~
Kabut mulai muncul dari Lingkaran sihir dan beberapa saat kemudian kabut itu mulai menghilang dan digantikan oleh seekor burung api besar.
"Bentuknya mirip phoenix." Gumamku.
Saat Phoenix itu membuka matanya, dia menatapku sebentar sebelum menundukkan kepalanya ke hadapan Haku.
"Hamba datang sesuai perintah anda, Kaisar."
"Terima kasih sudah mau datang. Tapi sekarang bukan aku yang memberi perintah, tetapi dia." Aku berbicara sambil menunjukku
"Kalau memang itu yang kamu inginkan. Tapi sebelum itu, siapakah manusia ini?"
Itu pertanyaan yang masuk akal.
"Dia adalah tuanku."
"Tuan dari Kaisar!?"
"Iya. Dan jangan meremehkannya, kekuatannya tidak terbatas."
"Tidak mungkin. Apa kekuatannya sekuat itu."
"Memang sekuat itu. Aku saja bukan tandingannya."
"Kalau begitu hamba tidak akan bertanya lagi. Tuan__"
"Namaku Tatsuya Shin."
"Tuanku. Berikan perintah untuk hamba."
"Baiklah. Aku ingin kamu memanggil beberapa burung dan mengirim mereka ke lautan Kerajaan Halman, beritahu aku kalau mereka menemukan semacam reruntuhan kuno."
"Sesuai keinginanmu."
Kougyoku mulai memanggil segerombolan burung dan meminta mereka untuk menyelusuri laut Kerajaan Halman.
Aku sekarang tinggal menunggu kabar dari burung itu.
Setelah sekian lama bekeliling tidak jelas, akhirnya Kougyoku menghubungiku kembali dengan telepati.
"Tuanku. Hamba telah mendapat kabar dari burung yang diutus ke sana."
"Apa itu?"
"Kata mereka, memang ada semacam reruntuhan yang muncul ke permukaan laut, tuanku."
Jadi memang ada ya. Apakah aku harus memeriksanya dahulu.
"Apa yang harus hamba lakukan, tuanku?"
"Baiklah. Kalau begitu kirim gambarnya padaku."
Seketika sebuah gambar reruntuhan besar muncul di kepalaku.
Jadi itu.
[Gate]
➖➖➖➖➖
Saat melewati gerbang. Aku melihat sebuah reruntuhan seperti piramida mesir di depanku.
"Apakah ini piramida?"
Ketika aku masih berusaha mencerna. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku.
"Jadi benar-benar muncul ya."
Seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun yang memakai baju gothic lolita berwarna biru tua dengan rambut abu-abu mendekatiku.
"Dan dari mana kamu berasal?" Aku yang kaget langsung melompat mundur.
"Maaf. Perkenalkan namaku Leen, aku kepala penyihir Kerajaan Halman." Dia memperkenalkan dirinya dengan dewasa, berbanding terbalik dengan bajunya.
"Penyihir Kerajaan Halman!?"
"Apa yang dilakukan penyihir Kerajaan disini?" Tanyaku lagi.
"Tujuanku sebenarnya ingin menemui mu."
"Ada urusan apa ingin mencariku."
"Aku mendapat kabar kalau kamu ahli dalam sihir elemen dan spesial. Jadi aku sedikit penasaran."
"Dari mana kamu tahu itu?"
"Tidak usah memikirkan itu. Yang lebih penting, apa kamu berencana untuk masuk ke dalam reruntuhan itu?"
"Benar."
Mengabaikan tatapan dari gadis dibelakang ku. Aku memasuki reruntuhan itu dengan sedikit penasaran
Apa gadis itu tidak masuk.
Saat sampai di dalam, aku melihat ada enam pilar berjejer di depanku dan sebuah tonjolan kecil di salah satu pilar yang paling tinggi.
"Apa ini teka-teki. Bagaimana caranya."
Saat masih berpikir, aku iseng memegang tonjolan itu. Yang menyebabkan sebuah cahaya keluar dan menyilaukan mata ku.
➖➖➖➖➖
Saat membuka mataku. aku melihat bermacam-macam struktur yang menyerupai bangunan yang sangat besar.
"Apa itu? Dimana ini?"
Saat sedang melamun mencari tahu dimana lokasi ku ini. Datang seorang gadis cantik mendekatiku.
"Selamat datang di pulau terapung Babel. kalau kamu berhasil tiba di sini, itu berarti kamu adalah Tatsuya Shin?"
"Bagaimana kamu bisa tahu namaku?"
"Aku tahu karena dokter sudah memprediksinya."
"Dokter? Memprediksi?"
Aku sama sekali tidak mengerti.
"Tapi sebelum itu. Aku harus memastikannya dulu." Ujar gadis tersebut.
"Memastikan apa?"
Tanpa menghiraukan pertanyaanku, gadis kecil itu mulai menatap tajam ke arah ku, mulai dari atas sampai ke bawah.
Seperti scan barang saja.
"Baiklah."
"Aku sudah memastikannya, kalau begitu Floating Island Babel dengan kode name Preliora akan menyerahkan kendali kepada tuan Tatsuya Shin, tolong rawat aku ya." Dia tersenyum kepadaku setelah mengatakan itu.
"Tunggu. Meraw__"
Saat aku akan menanyakan apa yang dimaksudkannya. Tiba-tiba dia langsung mencium ku dengan agresif, setelah ciuman berlangsung beberapa saat, dia akhirnya melepaskan ku dan tersenyum.
"Kode genetik tuan sudah saya diterima."
"Apa-apaan tadi itu."
"Itu berguna untuk mengambil kode ginetik tuan untuk mendaftarkan tuan menjadi tuanku."
"Mendaftarkan?"
"Iya tuanku. Karena aku adalah mesin yang berjenis robot. Jadi memerlukan genetik untuk mendaftarkan."
"Mesin? Robot?."
Sejak kapan di dunia ini ada yang tahu apa itu robot.
Apakah ini kebetulan semata. Tapi ini terlalu nyata untuk dikatakan kebetulan.
Kalau dia itu robot. Bukankah teknologi robot di dunia ini lebih maju daripada duniaku.
"Ada apa tuanku?" Dia dengan polosnya bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Bukan apa-apa."
Aku duduk untuk menenangkan pikiranku yang kacau balau.
Butuh beberapa saat untukku bisa sadar, bertanya kepadanya lagi.
"Namamu tadi siapa?"
"Nama saya Preliora tuanku. Panggil saja Liora."
"Liora. Ini sebenarnya tempat apa?"
"Ini adalah pulau terapung yang di ciptakan seribu tahun yang lalu oleh dokter terkenal bernama Regina Babylon. Sebelum dia wafat, dia menciptakan ku untuk menjaga babel ini sampai pewarisnya datang kesini."
"Pewaris?"
"Iya. Dan pewaris itu adalah tuan."
"Aku!?"
"Dokter tahu segala hal tentang tuan. Karena saat dia melihat ke masa depannya, yang selalu terlihat di masa depan itu adalah tuan. Jadi dia meyakini kalau suatu saat tuan akan datang, karena itu dia menciptakan babel ini dan aku sebagai penjaganya."
"Dia bisa melihat masa depan?"
Sihir untuk melihat masa depan, bukankah itu sudah terlalu gila.
Dari awal dunia ini sudah gila.
"Apa yang ada disini Liora?"
"Disini ada Bengkel, Lab alkimia, Lab penelitian, Benteng, Menara, Taman, Gudang, Perpustakaan dan Hangar."
"Banyak sekali!?"
Saat aku merenungkan alasannya. Tiba-tiba datang telepati dari Haku.
"Tuanku. Ada orang yang ingin menemui tuan."
"Siapa itu Haku?"
"Dia mengatakan kalau namanya Relisha dan sepertinya di sedang panik tuan."
Kenapa kepala guild datang menemui ku dalam keadaan panik.
"Baiklah. Aku akan kesana."
Aku merapalkan mantra [Gate] menuju rumah.
Tapi aku berhenti dan memandang Liora yang dati tadi diam.
"Liora. Apakah kamu mau pergi ke rumahku?"
"Kalau tuan mengizinkan."
"Kalau begitu aku izinkan."
"Terima kasih tuan."
Aku masih tidak nyaman dipanggil tuan olehnya.
➖➖➖➖➖
Saat kami tiba di rumah. Kami langsung disambut oleh tatapan para gadis. Dulu hanya tiga tetapi sekarang enam.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Tidak ada. Hanya saja siapa gadis itu Shin." Miku yang mewakili tatapan gadis lain langsung bertanya kepadaku.
"Namanya Liora." Aku mengatakan itu sambil menatap Liora yang berdiri di sampingku.
"Apa dia gadis barumu?" Kali ini yang bertanya adalah Hana.
"Dia bukan pacarku." Aku dengan cepat menyangkal kesalahpahaman ini.
"Terus dia siapa?"
"Dia adalah pengurus dari Floating Island Babel."
"Apa itu?" Malah Airi yang sekarang bertanya.
"Itu. Ceritanya panjang. Yang jelas ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Nanti aku akan menjelaskan."
"Baiklah."
"Kalau begitu. Katanya Relisha ingin menemui ku, dimana dia?"
"Dia ada di ruang tamu."
"Terima kasih Miku."
Aku berlari ke ruang tamu setelah pamit dengan Miku, aku meninggalkan Liora di sana juga supaya mereka bisa mengobrol berharap tidak ada kesalahpahaman di antara aku dan para gadis lagi.
Kuharap mereka tidak memperburuk keadaan dengan berbicara dengan Liora.
Saat aku tiba di ruang tamu, aku melihat Relisha sedang duduk dengan gelisah. Saat dia melihatku, dia langsung berlari dangan cepat.
"Shin. Aku baru saja mendapat kabar dari cabang guild Kerajaan Elchea. Katanya telah muncul monster kuat yang tidak diketahui."
"Mereka telah mengerahkan petualang peringkat perunggu dan perak.Tapi tidak ada yang berhasil, malahan banyak petualang yang menjadi korban."
"Monster!?"
Monster kuat yang tidak diketahui? Kalau perak dan perunggu saja kalah, pasti monster itu sangat kuat.
"Karena mereka tidak memiliki petualang yang kuat lagi, jadi mereka mengirim permintaan kepadaku untuk meminta kamu untuk membantu."
"Memintaku?"
Aku juga penasaran dengan monster yang tidak diketahui itu.
"Kalau begitu aku akan menerima permintaan itu. Beritahu aku lokasi tepatnya."
"Terima kasih Shin. Aku akan memberikan lokasi tepatnya."
Dia langsung mengeluarkan peta. Membentangkannya di meja dan menunjuk lokasi monster itu muncul.
"Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang."
"Terima kasih sekali lagi, Shin."
"Tidak masalah. Lagipula ini memang tugasku."
Aku merapalkan mantra [Gate] dan melambaikan tangan ke Relisha sebelum memasuki gerbang.