Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 85 : Pengantar Pesan




"Kerajaan berada dalam keadaan yang baik Yang Mulia."


Ksatria itu berusaha memperbaiki cara dia menjelaskan tentang situasi di hadapan Rajanya. Tapi sepertinya waktu dia melapor sedikit kurang tepat.


"Saat ini Yang Mulia akan mengadakan pertemuan dengan Kaisar Gardio. Jadi nanti saja laporannya."


"Ta-tapi."


'Sudah kuduga' Begitu yang Ksatria itu pikirkan. Dia awalnya memang sudah mengira kalau waktunya terlalu mendadak untuk menghadap kehadapan Rajanya, tetapi dia harus memaksakan diri karena dia juga tahu kalau masalah yang akan dia laporkan ini juga harus ditindaklanjuti.


Dia juga tidak mempunyai hak untuk membantah perintah Rajanya, jadi dia keluar dari ruang audiens dengan wajah tegang sambil terus menatap surat yang di pegang.


Satu jam kemudian. Kaisar Gardio akhirnya tiba di istana Kerajaan Strom. Dia disambut dengan segala hormat oleh Raja Strom itu sendiri.


Pengawalan yang diberikan oleh istana menjadi faktor kalau pertemuan ini sepertinya akan menjadi akar pengerat hubungan Kerajaan dan Kekaisaran.


Ksatria yang tadi membawa surat sekarang hanya dapat melihat Rajanya dan Kaisar memasuki sebuah ruangan dengan penjagaan yang ketat.


"Silakan duduk, Kaisar?"


"Terima kasih."


Kaisar duduk di kursi yang telah disediakan. Disampingnya berdiri komandan Ksatria yang bertugas sebagai pengawal pribadinya.


Sementara di samping Raja Strom, berdiri Perdana Menterinya sendiri.


"Bagaimana keadaan Strom?"


"Seperti yang terlihat. Strom terlihat lebih baik dari sebelumnya."


Hubungan yang cukup renggang diantara Kerajaan dan Kekaisaran menyebabkan kerugian dikedua belah pihak.


Tapi setelah Raja muda sekaligus calon menantu mereka turun tangan sebagai penengah, hubungan yang renggang selama ratusan tahun akhirnya bisa diperbaiki.


Awalnya hubungan mereka hanya diikat oleh kesamaan menantu. Tetapi setelah lama menjalin hubungan, mereka akhirnya dapat menentukan masa depan apa yang akan mereka tempuh.


"Bagaimana dengan apa yang kita bicarakan di telepon."


"Ya. Aku sudah mendapatkan balasan dari mereka, dan sepertinya ini akan berjalan dengan lancar."


"Hohoho. Baguslah."


"Ya. Itu benar. Alat yang diberikan Shin juga sangat bermanfaat ya?"


"Aku bahkan tidak pernah kepikiran kalau tugasku akan selesai hanya dengan duduk diam saja."


"Bagaimana bisa dia yang masih muda itu bisa memikirkan sesuatu yang seperti ini."


"Entahlah. Otak orang tua ini tidak akan pernah bisa menemukan jawabannya."


Mereka berbicara layaknya seorang saudara yang sudah lama terpisah. Layaknya anak kecil, mereka tertawa sambil mengingat kembali menantu mereka yang tersayang.


Dilain hal. Hal buruk yang seharusnya mereka khawatirkan malah tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.


Beberapa jam telah mereka habiskan di dalam ruangan tersebut. Diawali dengan pembicaraan santai hingga memasuki topik serius.


"Baiklah. Sesuai dengan apa yang disepakati. Kita akan melakukan secepatnya." Ujar Raja Strom.


"Semoga Kerajaan dan Kekaisaran dapat hidup damai selamanya." Balas Kaisar Gardio.


Mereka berdua tersenyum disaat pembicaraan yang mereka bicarakan ternyata memiliki alur yang searah.


➖➖➖➖➖


Sementara di depan gerbang istana Kerajaan Strom. Ada seorang Ksatria yang mondar-mandir dari tadi, sesekali dia akan berhenti dan menatap pintu masuk ke dalam istana. Kalau tidak ada yang muncul, dia akan mondar-mandir kembali.


"Apa yang kau lakukan? Mondar-mandir, mondar-mandir."


Seorang Ksatria yang bertugas bersamanya di depan gerbang menegurnya. Tapi Ksatria tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan berhenti dari aktivitas yang sedang dia lakukan.


Tidak ada yang bisa menghentikan kekhawatirannya akan sesuatu. Yang dapat di pikirkan saat ini hanyalah cara menyampaikan pesan darurat yang dia terima kepada Rajanya.


Merasa diabaikan, temannya berjalan kearahnya dengan sedikit amarah terpampang di wajahnya.


"Hei. Apa yang sedang kau lakukan?"


Di memegang pundak Ksatria tersebut hanya untuk membuatnya sadar. Memang benar kalau Ksatria itu sadar dari lamunannya, tapi itu tidak berlangsung lama. Dia kembali memalingkan wajahnya dari temannya dan melamun.


"Hei. Katakan, apa yang kau pikirkan."


Teriakan temannya yang dia abaikan kembali terasa. Teriakan itu juga mengundang perhatian Ksatria yang berada di dekatnya. Ksatria Strom dan Ksatria Gardio yang tengah mengobrol menyadari keributan dan mendekati mereka berdua.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" Salah satu Ksatria yang mendekati mereka bertanya.


Ksatria yang marah itu menyadari kalau dia berhasil menarik perhatian.


"Bukan aku yang salah, tapi dia." Ujarnya sambil menunjuk ke arah temannya yang terus melamun.


Semua orang menatap Ksatria yang ditunjuk olehnya. Sementara itu dia, bukannya menyadari kalau dia sedang diperhatikan, dia malah terus-menerus menatap pintu masuk istana.


"Lihat, dari tadi dia terus seperti itu. Bagaimana mungkin aku tidak akan marah."


Salah seorang Ksatria yang menyadari masalahnya mendekati Ksatria yang melamun tersebut.


"Hei, kawan. Apa yang terjadi padamu?"


Temannya yang bertanya itu menghalangi penglihatannya saat dia sedang menatap pintu. Karena tindakan itu, dia akhirnya menyadari kehadiran orang lain.


"A-apa yang terjadi. Kenapa kalian berkumpul?"


Dengan polos dan tanpa penyesalan dia bertanya kepada orang-orang. Semua Ksatria yang mendengar pertanyaan itu hanya dapat menggelengkan kepala mereka.


"Kami bertanya padamu. Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Apa ini. Surat?"


"Ini memang surat. Tapi apa yang ada di dalamnya yang membuatku khawatir."


Mereka semua tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan.


"Melihat fisiknya. Ini memang surat biasa." Ujar Ksatria lainnya.


"Apa yang membua_"


"Bukan itu. Lihat stempelnya?" Ujarnya kembali.


Ksatria tersebut merasa kalau temannya tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan, jadi dia memberikan petunjuk yang semua orang pasti pahami.


"Glory. Ini stempel Kerajaan Glory."


Mendengar itu membuat orang-orang heran dan bertanya-tanya akan sesuatu yang ingin Raja itu katakan.


Semua orang di aliansi tahu kalau setiap Raja Glory ingin mengatakan sesuatu, dia akan memilih untuk pergi ke Karajaan tersebut secara langsung.


Tapi sekarang, sebuah surat dari Kerajaan Glory tiba-tiba saja tiba di sini. Itu yang membuat semua orang heran.


"Melihat tingkahmu. Apa kau sudah melihat isinya?"


Dia hanya mengangguk kecil saat temannya bertanya.


Sekarang semua orang tahu penyebab Ksatria tersebut terlihat gelisah.


"Apa isi pesannya. Yang jelas itu bukan sesuatu baik kan?"


"Dikatakan disana kalau sa_"


Belum selesai kalimat yang ingin dia katakan. Mendadak semua Ksatria yang berada di depan gerbang mendengar sebuah suara.


Suara angin akibat kepakan sayap seekor burung menyadarkan semua orang. Semuanya menatap burung yang masih berputar-putar di udara sebelum burung tersebut memilih turun kebawah.


Di depan semua saat ini berdiri seekor burung yang lumayan benar, warna hijau dengan gradasi biru menambah keindahan burung tersebut.


"Bukannya itu binatang pengantar pesan dari Guild."


Dia mengatakan itu karena dia melihat kalau di leher burung tersebut terpasang kain berlogo Guild.


Setiap binatang panggilan yang menjadi binatang pengantar pesan akan memiliki logo Guild di lehernya. Itu adalah pengetahuan umum yang diketahui semua orang.


"Apa yang ada diparuhnya itu surat?"


"Kenada Guild mengirimkan surat kesini."


"Apa Guild meminta bantuan."


"Mereka mungkin sedang kekurangan petualang untuk misi."


"Hahaha. Itu mungkin saja."


Beberapa Ksatria mengutarakan kebingungan mereka, tetapi ada juga yang mengejek surat tersebut dengan tawaan yang menghina.


Karena tidak ada yang mau mengambil surat tersebut, salah seorang Ksatria Strom menghampiri binatang tersebut dan mengambil surat yang digantung di lehernya.


Dia memperhatikan surat itu sekilas dan menyadari kalau surat ini dan surat yang tadi memiliki satu kesamaan.


"Ini bukan surat dari Guild. Ini surat dari Kerajaan Glory." Ujarnya dengan nada tinggi.


Ksatria yang mendengar fakta itu terdiam dengan cepat, tidak ada yang berani melanjutkan ejekan mereka karena mereka tahu seperti apa kekuatan Raja Glory tersebut.


Keheningan yang diciptakan oleh teman-temannya memicu keinginannya untuk melihat isi surat itu. Dia menatap temannya sebentar hanya untuk mendapat persetujuan mereka.


Glukk


Dia menelan ludah sebentar sebelum mulai membuka surat itu dengan sangat hati-hati, seakan kalau dia merusak suratnya, itu akan menjadi akhir bagi hidupnya.


➖➖➖➖➖


"Baiklah. Aku setuju." Ujar Kaisar.


"Kalau usulanku disetujui, maka kita akan melanjutkannya."


Seperti apa yang mereka katakan, masalah yang mereka bicarakan saat ini sudah mendapat jalan keluarnya


"Perdana Menteri. Atur jadwal kami untuk menemui mereka setelah ini."


"Sudah, Yang Mulia. Saya sudah menyiapkan kereta kuda diluar." Jawab Perdana Menteri.


"Hohoho. Perdana Menterimu sangat sigap seperti biasanya?"


"Ya, begitulah. Aku bahkan sampai kaget."


"Baiklah, mari kita beran_"


"Woi. Kalian dilarang masuk!"


"Biarkan kami masik. Ini masalah darurat!"


Suara keributan di luar pintu menghentikan kalimat yang ingin disampaikan Kaisar Gardio. Kaisar, Raja, Komandan Ksatria dan Perdana Menteri menatap pintu sumber keributan.


Setelah beberapa saat, suara keributan berhenti dan digantikan oleh geseran pintu tanda seseorang akan masuk.


"Yang Mulia." Teriak Ksatria yang tadi ingin melapor.


Ksatria itu menatap kedalam ruangan, dia mungkin sedikit takut karena telah menerobos pertemuan. Tetapi sekarang dia tidak sendirian. Ada beberapa Ksatria Strom dan Gardio di belakangnya.


Bahkan Ksatria yang tadi ditugaskan untuk menjaga pintu masuk juga ada di antara mereka semua.